Sabtu, 27 Februari 2016

Forever 25

Bella Swan pada cerita Twilight berubah menjadi vampir di usia 18 tahun. Alasannya sederhana, dia ingin bersama lelaki yang dia cintai sampai rela mati. Dan dia, tidak ingin membeku menjadi vampir dengan usia yang jauh lebih tua dari Edward Cullen. Bella bahkan menjadi sedemikian desperate-nya saat berulang tahun ke 18 karena dia sudah jauh lebih tua satu tahun dibanding Edward, sementara Edward ingin memberi Bella waktu yang lebih banyak lagi menjadi manusia.

Kalau kalian memiliki pilihan untuk ‘membeku’ pada usia tertentu, tanpa menjadi vampir tentunya, kalian akan memilih usia berapa dan apa alasannya?

Saya memilih usia 25 tahun.

Pada usia itu saya sedang semangat-semangatnya mengejar berbagai passion sambil menjalani pekerjaan utama. Tenaga seakan tidak ada habisnya. Walau seharian harus bekerja di kantor, saya selalu dapat melakukan passion pada waktu yang tersisa. Karena Senin sampai Jumat menjalani hari sebagai company slave, saya memilih menghabiskan weekend dengan berada di festival film, mengikuti sharing session di pusat kebudayaan negara A atau B, atau sekedar kopi darat dengan teman-teman blog yang baru dikenal.

Ketika batas ruang dan waktu dimusnahkan oleh teknologi internet, saya banyak berkenalan dengan teman baru yang dikenal melalui blog. Teman-teman yang menyenangkan, yang dari mereka saya dapat melihat dunia dari perspektif baru, yang dari mereka saya dapat mendapat pengetahuan baru, yang dari mereka saya dapat mendengar cerita hidup yang begitu beragam. Teman-teman yang memiliki passion sama sehingga saya memiliki semangat tambahan untuk mengejar passion dalam hidup. Dan begitu saja, ruang lingkup pertemanan saya menjadi lebih luas dan tidak monoton.

Saat berusia 25 tahun, walau masih terkadang masih berlaku naif namun saya merasa sedikit lebih dewasa. Tetap naif mengejar mimpi dan melakukan semua hal yang saya suka tanpa peduli komentar orang sekitar. Kepala saya terasa sedikit lebih dingin dan emosi tidak lagi meledak-ledak. Lebih sering berkata “ya udah sih” untuk hal yang saya tahu tidak dapat melakukan apa-apa untuk merubahnya. “Ya udah sih, mau diapain lagi.” “Ya udah sih, urusan dia ini.” “Ya udah sih, ga usah dipikirin.”

Lebih santai menjalani hidup. Lebih banyak tertawa.

Di usia yang seperempat abad itu untuk kali pertama saya solo traveling. Ke Eropa. Negara yang selama ini hanya ada dalam angan-angan. Hasil dari jerih payah mengejar passion dan berlaku naif namun tetap rasional. Sebuah bukti nyata bahwa semua mimpi mungkin diwujudkan jika tidak hanya sekedar diangankan. Saya hanya perlu bangun dari tidur dan melakukan hal yang diperlukan untuk mewujudkannya. Eropa adalah puncak dari jerih payah saya dalam menjalani passion.

Dan kejutan hidup di usia 25 tahun tidak hanya sampai disitu. Tiba-tiba saja karya pertama saya terbit. Seumur hidup, saya tidak pernah berani bermimpi untuk memiliki buku sendiri. Melihat hasil karya saya dipajang di rak toko buku ternama. Semua itu terlalu gila untuk diangankan. Segila mengangankan berangkat ke Eropa dengan budget super terbatas. Nyatanya semua itu dapat terwujudkan.

Saya ingin ‘membeku’ di usia 25 tahun karena saya tidak ingin melupakan semangat mengejar mimpi. Semangat menjalani passion.

Saya ingin tetap senaif usia 25 tahun saat mengejar mimpi dan menjalani passion.

Jadi, walaupun waktu tidak mau berkompromi dengan usia, I am forever 25.

Happy belated birthday, me.

Mickey Mouse dilahirkan pada tahun 1928 dan tahun 2016 ini berusia 88 tahun. Berapa pun usianya dia tetap menjadi sosok yang membawa tawa dan kebahagiaan.



Notes: postingan ini bukan denial dari seorang yang berulang tahun ke-30 ;))

Minggu, 21 Februari 2016

Sejenak Nara

Bagi saya, yang menyenangkan dari sebuah perjalanan adalah begitu mudahnya saya mencairkan diri dan memulai pembicaraan dengan orang lain yang notabene adalah stranger. Tanpa ekseptasi apapun, hanya sekedar ingin menyapa dan mengobrol singkat. Pagi itu saya berbasa-basi-busuk dengan room mate hostel, mengawali dengan pertanyaan basi mengenai negara asalnya, yang ternyata teman sekampung sesama Indonesia. Kami saling membahas itinerary masing-masing, saya mengawali dari Osaka berakhir di Tokyo, sementara dia memulai perjalanan dari Tokyo dan Osaka adalah kota terakhir. Highlight tempat wisata dia selama di Jepang adalah FujiQ, DisneySea, dan Universal Studio, sementara itinerary saya masih berbentuk “standar” ala first timer di Jepang; kuil, wisata kota, sedikit tambahan taman bermain. Dari dia, saya cukup mendapat insight mengenai Nara, Kyoto, dan Tokyo yang menjadi destinasi selanjutnya. Di Kyoto dia pun menginap di Kyoto Hana Hostel, hostel yang sama dengan yang akan saya inapi malam nanti. “Jangan heran jika seisi hostel mayoritas orang Indonesia, Kyoto Hana Hostel sepertinya memang menjadi favorit traveler Indonesia.” Basa-basi-busuk pagi itu nyatanya cukup berfaedah. 

Hari kedua di Jepang ini tujuan saya adalah Nara. Selain karena sejarahnya, posisi Nara yang cukup dekat dengan Osaka dan Kyoto membuat kota itu tidak pernah sepi kunjungan. Saya, seperti kebanyakan wisatawan lainnya, berencana menghabiskan waktu seharian (day trip) di Nara. Malamnya saya akan langsung berangkat ke Kyoto.

Seharusnya pagi itu saya langsung mengemas ransel, check out, dan berangkat menuju Nara. Nyatanya saya malah menghabiskan pagi dengan berjalan-jalan mengitari area hostel, masih penasaran ingin menyambangi daerah Dotonburi yang sebenarnya sangat dekat dengan hostel. Pagi itu jalan masih sepi, satu dua pekerja kantoran berpakaian necis warna gelap menenteng tas kerja berjalan cepat-cepat, entah dia takut terlambat atau memang secepat itulah ritme berjalannya. Lalu lintas belum terlalu ramai, hanya otak saya yang belum mendapat asupan kafein menjadi macet. Tidak dapat membaca peta dan belum ada orang yang dapat ditanyai. Belum sampai satu jam akhirnya saya menyerah. Misi pagi hari itu berakhir di kedai Family Mart tempat saya membeli sarapan.

Onigiri, sushi, bento, menu bertahan hidup hemat di Jepang

Untuk menuju ke Nara saya akan menggunakan Kintetsu Nara Line yang berangkat dari stasiun Namba. Dari hostel bisa saja saya berjalan kaki melewati daerah Dotonburi ke stasiun Namba, tapi saya tidak yakin tidak akan nyasar. Dengan ransel berat dan waktu yang terbatas saya lebih memilih menggunakan subway. Di stasiun Shinsaibashi, akhirnya tiba juga saatnya saya harus berhadapan dengan vending machine untuk membeli tiket kereta. Yang saya tahu, stasiun Shinsaibashi dan stasiun Namba itu hanya berjarak satu stasiun. Dari situs hyperdia.com saya pun tahu harga tiketnya hanya sebesar 180 Yen. Masalahnya, tidak ada pilihan harga sebesar 180 Yen setelah saya memasukkan uang ke vending machine. Akhirnya saya memilih nominal terkecil yang tersedia dalam pilihan.

Di stasiun Namba, saat saya memasukkan tiket tersebut pada gate keluar, pintu kecil itu langsung tertutup menolak tiket saya. Mamiihh.. ini kenapa lagi… Kebingungan, saya menghampiri ruang Station Master yang persis berada di sebelah gate keluar. Saya memberikan tiket dan mengatakan tidak dapat keluar dari stasiun. Melihat tiket saya, station master itu mengangguk paham dan menjelaskan kalau nominal tiket saya terlalu besar. Dengan menggunakan kertas berisi rute kereta dia mengatakan bahwa tiket yang saya beli itu untuk biaya perjalanan kereta satu kali mengelilingi rute tersebut. Tapi di vending machine tadi nominal ini adalah nominal yang paling kecil, saya membela diri. Station master itu kemudian mengeluarkan kalkulator, mengetikkan nominal tiket yang saya beli kemudian mengurangkan dengan 180 Yen sebesar biaya perjalanan dari stasiun Shinsaibashi ke stasiun Namba, kelebihannya kemudian dia kembalikan cash ke saya. Kemudian saya diperbolehkan keluar melalui gate tanpa pintu yang persis berada di sebelah ruangan station master. Huaahh, baik dan helpful banget.

Padahal segala keribetan itu tidak akan terjadi seandainya saya menggunakan fare adjustment machine :))

Di stasiun Namba, kembali saya harus membeli tiket Kintetsu Nara Line menggunakan vending machine. Kali ini saya cukup percaya diri memilih harga 620 Yen. Setelah kartu tercetak dan keluar dari vending machine barulah saya sadar kalau nominal yang saya pilih adalah harga tiket dari Nara ke Kyoto, sedangkan dari Osaka ke Nara harga tiketnya adalah 560 Yen. Duh, dua kali salah di pagi hari. Memakai logika pinter-pinteran dari kesalahan sebelumnya, paling nanti juga gate di statiun Kintetsu Nara akan tertutup saat saya memasukkan tiket ini.

Dari stasiun Namba menuju stasiun Kintetsu Nara ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit, jenis kereta yang digunakan seperti kereta commuter line Jabodetabek. Sesampainya di stasiun Kintetsu Nara saya langsung mencari loker untuk menitipkan tas. Cukup banyak loker tersedia dalam stasiun ini, namun kebanyakan loker ukuran besar sudah terisi semua. Saran saya, jika membawa koper ukuran besar usahakan sampai Nara lebih awal daripada seharian harus mendorong-dorong koper keliling Nara karena tidak kebagian loker. Di pintu keluar stasiun saya sudah harap-harap-cemas saat memasukkan tiket yang nominalnya melebihi harga tiket yang sebenarnya itu. Namun gate terbuka dan tiket saya ‘ditelan.’ Logika pinter-pinteran saya tidak berhasil, seharusnya saya menggunakan fare adjustment machine tadi.

Di sepanjang pintu keluar stasiun terpampang papan petunjuk menuju sejumlah tempat wisata di Nara dalam empat bahasa (Jepang, Inggris, Cina, dan Korea). Tourist Information Center dan brosur wisata Nara juga dengan mudah ditemukan di stasiun. Pemerintah kota ini tahu benar bahwa Nara menyerap pengunjung dalam jumlah besar dan menyediakan informasi sebanyak-banyaknya untuk memudahkan wisatawan.


Keluar dari stasiun Nara saya disambut cuaca yang cerah ceria. Biru langit tertutupi awan putih yang berarak-arak hingga akhir cakrawala. Kebanyakan wisatawan, termasuk saya, memilih menjelajahi Nara on foot, alias berjalan kaki. Objek wisata Nara memang mayoritas dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Baru beberapa meter berjalan dari stasiun, kami para wisatawan sudah disambut kawanan rusa yang dibiarkan bebas. Nara memang terkenal dengan rusa liarnya, konon rusa ini adalah kendaraan para dewa sehingga sampai sekarang rusa dianggap sebagai utusan dewa. Tidak hanya para rusa yang dikerubuti wisatawan untuk ber-selfie ria, pedagang senbei (biskuit beras untuk diberikan ke rusa) juga laris manis. Jujur, saya pribadi agak takut dengan para rusa ini. Walau terlihat jinak namun mereka tetap binatang liar. Peringatan mengenai rusa ini juga terpampang di papan peringatan yang terpasang di pinggir jalan utama. Mau ber-selfie dengan rusa silahkan saja, namun tetap ingat untuk berhati-hati.

Langit biru cerah

Wisatawan dan rusa dan penjual senbei

Papan peringatan akan rusa di Nara

Tempat wisata pertama yang paling dekat dengan Kintetsu Nara Station adalah Kofukuji Temple yang sayangnya ternyata dalam renovasi. Saya melanjutkan berjalan kaki sambil memperhatikan tingkah para rusa yang aneh-aneh; ada yang menyeberang jalan, mengantri di halte bus, nongkrong cantik di toko penjual oleh-oleh, sampai memperhatikan jalan raya dengan pandangan nelangsa seakan ingin bunuh diri. Di sepanjang jalan raya utama ini juga diletakkan peta yang memuat tempat-tempat wisata di Nara, petunjuk arah beserta estimasi jarak pun jamak ditemui setiap beberapa meter. Kota ini benar-benar ramah wisatawan! Setelah beberapa menit berjalan, saya sampai di sebuah perempatan besar yang penuh dengan wisatawan, rusa, serta penarik becak tempo dulu.

Rusa nelangsa di pinggir jalan

Rusa ikut antri bus

Rusa lagi nyebrang jalan

Rusa nongkrong cantik di toko souvenir

Akhirnya selfie sama rusa

Becak tempo dulu

Todaiji temple seakan memiliki magnet sehingga semua wisatawan melangkahkan kakinya kesana. Menuju Nandaimon Gate (gerbang kayu besar yang dijaga dua patung penjaga menyeramkan yang berfungsi sebagai pintu masuk Todaiji temple) jalanan makin padat dengan toko souvenir berjejer di pinggir jalan, pasukan rusa, wisatawan, dan dedek lucu anak-anak sekolah yang sedang field trip. Di gerbang besar ini, luangkan waktu sejenak untuk mengagumi kemegahan gerbang kayu yang ukurannya luar biasa. Setelah melewati Nandaimon gate, jalan lurus terus mengikuti jalan setapak berbatu menuju Todaiji temple. Di dalam Todaiji temple terdapat Daibutsu-den yang merupakan bangunan kayu berukuran superbesar dan terlihat sangat megah, di dalamnya memuat salah satu patung Budha terbesar di dunia dan terbesar kedua di Jepang.

Nandaimon Gate

Menurut saya, keistimewaan Daibutsu-den bukan hanya pada ukuran patung Budha yang memang gigantis, arsitektur bangunan Daibutsu-den itu sendiri tidak kalah mencengangkan. Kayu yang menopang bangunan sebesar itu terlihat begitu tua dan berwarna coklat kehitaman bukti terpaan cuaca empat musim dan membentuk pola rumit di muka bangunan. Selain patung Budha, di dalam Daibutsu-den terdapat stand yang menjual genting yang dapat ditulisi nama pembeli untuk dipasang di atap. Ini merupakan usaha sponsorhip dari pengunjung untuk tetap menjaga kelangsungan bangunan Daibutsu-den. Bagian menarik lainnya dari Daibutsu-den adalah lubang kecil di salah satu pilar kayu, konon siapapun yang dapat memasukkan badannya melalui lubang kecil ini akan mendapat pencerahan. Atau menjadi bahan tawa pengunjung lain jika badan kalian stuck di dalamnya.

Daibutsu-den

Rombongan field trip


Pintu masuk Daibutsu-den

Great Budha Daibutsu-den

Tepat di pintu keluar Daibutsu-den terdapat sebuah torii merah. Melewati torii tersebut jalanan semakin menanjak dan pepohonan merapat memberi hawa dingin. Di ujung tanjakan saya berbelok ke kiri dan sampai ke Nigatsu-do Hall yang masih menjadi bagian dari Todaiji temple. Perjuangan menanjak bukit dan tangga menuju beranda Nigatsu-do Hall terbayar begitu saya melihat pemandangan yang tersaji; kompleks Todaiji temple berlatar kota Nara di kejauhan dibingkai langit biru. Rasanya damai dan tenang memandangi Nara dari atas sini. Eksterior Nigatsu-do Hall yang dihiasi lentera gantung juga sangat menyenangkan untuk dieksplorasi, sederhana namun memikat.

Torii merah


Nigatsu-do Hall

Pemandangan dari atas Nigatsu-do Hall

Lentera gantung

Eksterior Nigatsu-do Hall



Saya keluar dari Nigatsu-do hall melewati tangga yang berbeda dan menapaki jalan menurun yang berbeda dengan sebelumnya. Jalan setapak yang saya lewati sekarang rasanya ‘Jepang banget’ dengan jalan berbatu lebar dan pagar tembok tinggi sebagai pembatas rumah di kanan kiri jalan. Pepohonan menyembul dari dalam halaman rumah melewati tinggi pagar tembok, beberapa sudah berubah warna kuning jingga menandai perubahan musim. Sekumpulan orang di pinggiran jalan yang nampaknya dari klub melukis berusaha mengabadikan pemandangan dengan goresan di atas kanvas. Sampai di bawah jalan setapak tadi ternyata saya kembali ke kompleks Daibutsu-den. Dan disini saya baru sadar kalau kertas itinerary saya hilang. Sepertinya kertas tersebut terjatuh saat saya selipkan di tas.




Manalah saya ingat tempat wisata apa saja yang harus didatangi di Nara. Apalagi nama tempat tersebut sulit untuk diingat. Akhirnya saya duduk-duduk sebentar di bangku taman sambil beristirahat. Di taman luas itu beberapa pohon sudah berubah warna seluruhnya menjadi merah! Cantik sekali. Saya langsung sibuk foto-foto dan lupa dengan masalah itinerary yang hilang. Setelah puas memotret dan akan kembali ke Nandaimon Gate, saya menemukan peta area Nara yang cukup lengkap. Sambil mengingat-ingat saya memutuskan menuju Kasuga Taisha yang satu garis lurus dengan Nandaimon Gate. Memang, tidak perlu takut nyasar di Nara, kota ini memang sangat tourist friendly.






Jalan menuju Kasuga Taisha ibarat hiking di tengah hutan lebat. Kalau harus berjalan sendiri mungkin saya urung melewatinya. Cahaya matahari sulit menembus rapatnya pepohonan, hawa dingin pun terasa tidak nyaman di tengkuk kepala. Entah saya yang kelewat parno atau suasana tempatnya yang terasa magis. Jalan semakin lama semakin menanjak dan lentera batu berderet di kanan kiri jalan seperti pagar.

Rusa yang berada di jalur ini sedikit lebih liar, mungkin karena tidak banyak pengunjung yang memberi senbei. Saat ada pengunjung yang memberi senbei, dia langsung dirubung rusa yang kelaparan. Seekor rusa lain malah ada yang mengunyah rok seorang pengunjung karena tidak diberi senbei dan hampir menyeruduk saat diusir. Bukti bahwa sejinak apapun rusa di Nara, mereka tetap binatang liar yang berbahaya.  

Perhatikan apa yang dilakukan rusa dalam foto ini

Tong sake


Sampai di Kasuga Taisha saya tidak masuk ke dalam kuil, hanya duduk-duduk mengamati dan memotret beberapa lentera gantung yang terlihat dari luar kuil. Konon Kasuga Taisha memiliki 1000 lentera gantung seperti ini di dalam kuilnya.

Pintu masuk Kasuga Taisha



Seperti kebanyakan kuil pada umumnya, Kasuga Taisha juga menjual ema (papan doa) yang dapat ditulisi harapan dan doa. Uniknya ema di Kasuga Taisha berbentuk kepala rusa; kepala rusa jantan ditambahkan tanduk di atas telinganya sementara kepala rusa betina tidak memiliki tanduk. Oleh pengunjung, ema berbentuk kepala rusa ini bagian belakangnya ditulisi harapan dan doa sementara bagian depannya digambari mata, hidung, dan mulut membentuk beragam ekspresi wajah rusa. Lucu, unik, dan kreatif banget!





Dari Kasuga Taisha saya mengambil jalur berbeda untuk pulang yang terdapat di pintu keluar. Saya tidak tahu jalur tersebut mengarah kemana, saya hanya ingin mencoba jalur lain dan siapa tahu dapat melihat pemandangan yang berbeda. Walau demikian, jalur ini ternyata tidak jauh berbeda dengan jalur yang saya tempuh saat berangkat ke Kasuga Taisha. Masih berupa hutan rapat dengan sedikit sinar matahari, wisatawan yang melewati jalur ini juga tidak terlalu ramai. Di ujung jalur terdapat tea house dan anak tangga mengarah ke atas. Ada beberapa rusa berkumpul di tengah anak tangga, saya penasaran apakah mereka dapat menuruni anak tangga tersebut dengan empat kaki jenjangnya, dan ternyata bisa! Saya pikir rusa itu akan jatuh. Seorang Jepang terlihat membawa senbei untuk rusa tersebut, sebelum memberi senbei dia membungkuk dahulu dan rusa tersebut balas membungkuk anggun sebelum kemudian memakan jatah senbei-nya. Saya kembali takjub. Rusa di Nara bisa mengerti adat dan tradisi Jepang!

Jalur pulang yang saya ambil

Rusa turun tangga

Menapaki anak tangga tersebut ternyata mengantarkan saya ke Mount Wakakusayama. Walau namanya mount, namun dari jarak pandang saya lebih terlihat seperti bukit. Mount Wakakusayama hampir seluruhnya ditutupi rumput yang dipotong rapi, pagar didirikan untuk memisahkan area publik dan area berbayar. Wisatawan diperbolehkan mendaki ke puncak gunung untuk menikmati pemandangan kota Nara dari atas dengan biaya 150 Yen. Saya yang sudah kelelahan berjalan kaki sedari pagi lebih memilih duduk-duduk mengamati Mount Wakakusayama. Satu rombongan anak TK berada di dalam area Mount Wakakusayama dan guru mereka seperti sedang memberi penjelasan mengenai tempat tersebut. Kemudian guru mereka bertanya siapa yang ingin memanjat mount Wakakusayama dan anak-anak TK itu berebut mengacungkan tangan dengan semangat. Rombongan tersebut akhirnya dibagi dalam kelompok yang terdiri dari empat sampai lima orang, sebelum mendaki mount Wakakusayama mereka dipotret dalam pose melompat. Sungguh menyenangkan melihat keceriaan dan semangat anak-anak TK ini. Di area Todaiji temple tadi saya memang melihat banyak bus wisata di area parkir yang membawa rombongan wisata anak-anak TK maupun SD. Melihat, mengamati, dan memotret aktivitas mereka selalu menjadi pemandangan bonus untuk saya selama berada di Jepang.

Mount Wakakusayama




Dari mount Wakakusayama saya melanjutkan perjalanan yang ternyata kembali ke Todaiji temple. Ternyata tadi saya mengambil rute berputar. Bermodal peta wisata yang terpampang di Todaiji temple, saya memutuskan ke Yoshikien Garden yang berada persis di sebelah Isuien Garden. Bedanya, Yoshikien Garden free for foreigners sedangkan Isuien Garden memiliki fee cukup mahal sebesar 900 yen. Saat akan memasuki Yoshikien Garden seorang petugas di loket menanyakan asal saya  dan dari mana saya mendapat info mengenai Yoshikien Garden. Setelah itu dia memberi tiket dan peta Yoshikien Garden lalu memberi penjelasan dari mana seharusnya saya mulai dan mengakhiri perjalanan di Yoshikien Garden. Seperti taman Jepang pada umumnya, Yoshikien Garden memiliki pond garden, moss garden, dan tea ceremony garden. Tidak banyak pengunjung di Yoshikien Garden walau pengelola sudah membebaskan biaya masuk. Saya pribadi suka melihat moss garden yang ditanami beragam tamanan lumut yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Yoshikien Garden

Pond garden

Moss garden

Hari menjelang sore saat saya keluar dari Yoshikien Garden. Karena kehilangan itinerary saya tidak tahu lagi harus kemana. Peta wisata yang banyak bertebaran hanya mencakup secuil wilayah di sekitar peta tersebut berada, tidak menggambarkan Nara dalam skala lebih luas. Akhirnya saya memutuskan kembali ke Kintetsu Nara Station untuk menuju Kyoto. Satu pemandangan aneh saat saya berjalan ke stasiun, rusa yang tadi pagi ramai bertebaran di sepanjang jalan mendadak hilang. Seperti hilang hanya dengan jentikan jari. Ini menjadi pertanyaan besar untuk saya, dengan demikian luasnya area persebaran rusa bagaimana cara mereka ‘pulang’ ke kandangnya?

Di stasiun Kintetsu Nara saya mengambil ransel dari loker dan membeli tiket Kintetsu Kyoto Line dari vending machine. Kali ini saya tidak salah memilih harga tiket. Untuk menuju Kyoto saya harus berganti kereta sekali di Yamato-Saidaiji station. Perjalanan dari Nara menuju Kyoto ini rasanya sangat jauh dan lama. Saya hampir mati bosan karena kereta tidak kunjung sampai ke Kyoto. Untunglah dalam perjalanan banyak hal yang saya lihat. Di satu stasiun kereta saya sempat berhenti agak lama, entah mengapa. Beberapa saat kemudian satu kereta super cepat melintas dari arah kiri, disusul kereta cepat lainnya melintas ke arah berlainan, tak lama kemudian kereta saya melanjutkan perjalanan. Wah, kalau saja pengaturan dan jadwal kereta di Jakarta sebaik ini, dipastikan tidak akan ada antrian antara kereta Jawa dan kereta commuter line Jabodetabek. Sungguh saya iri. Di stasiun selanjutnya beberapa gerombolan anak sekolah yang baru pulang kegiatan klub memenuhi gerbong kereta, mereka mengobrol seru dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Namun menyenangkan melihat raut wajah, bahasa tubuh, dan obrolan mereka. Seragam yang mereka kenakan berbeda-beda, jelas bahwa mereka tidak berasal dari sekolah yang sama. Pemandangan yang saya lihat persis seperti adegan dalam manga dan anime. Saya tinggal membubuhi cerita sendiri.

Sesampainya saya di stasiun Kyoto saya langsung mencari jalan menuju Kyoto Hana Hostel tempat saya menginap. Banyak review mengatakan sangat mudah menemukan hostel ini karena letaknya yang strategis, nyatanya saya nyasar dan berputar tak tentu arah di dalam stasiun Kyoto. Saya frustasi sendiri, mengapa orang lain dapat dengan mudahnya menemukan Kyoto Hana Hostel sementara saya hampir menghabiskan waktu satu jam untuk sekedar mencari Hachijo East Exit yang menjadi patokan pertama. Pada akhirnya saya tidak menggunakan Hachijo East Exit dan menggunakan Central Exit. Lebih mudah menurut saya. Saat keluar dari Central Exit, Kyoto Tower akan menjulang persis di seberang stasiun. Dari situ saya tinggal menyeberang jalan dan berjalan lurus dengan patokan gedung Yodobashi Camera berada di sebelah kiri sampai ke minimarket Lawson yang berada di kanan jalan. Dari situ saya tinggal menyeberang, berbelok ke kanan lalu berbelok kembali ke kiri di gang pertama.  

Setelah check in dan menyimpan ransel di kamar, saya ke common room untuk membuat teh sambil mentransfer file foto dari kamera. Kyoto Hana Hostel cukup menyenangkan, disainnya tidak jauh berbeda dengan Osaka Hana Hostel namun saya masih lebih suka Osaka Hana Hostel. Di common room sepertinya ada salah satu staf hostel yang berjaga disana, dia memberitahu saya cara menggunakan peralatan dapur. Saya terbantu sekaligus merasa risih karena staf ini seolah memantau pergerakan para tamu yang berada di common room. Seolah dia takut salah seorang tamunya akan membakar hostel. Di Osaka Hana Hostel pun saya bertemu dengan beberapa staf hostel di common room, namun perlakuan mereka kepada tamu terasa lebih hangat.

Tapi yasudahlahya, saya tidak ambil pusing. Sambil menunggu semua file selesai ditransfer, saya menunggu di sofa sambil membaca beberapa majalah yang tersedia. Di sebelah saya duduk seorang nenek berusia di atas 60 tahun yang dari penampilannya akan melanjutkan perjalanan, mungkin siang tadi dia sudah check out dan menitipkan bawaannya disini. Saya yang penasaran mencoba membuka pertanyaan, “are you traveling alone?” Nenek itu terbengong dan tertawa meminta maaf mengatakan dia tidak bisa berbahasa Inggris dalam bahasa Jepang yang saya tidak mengerti. Tidak kehabisan akal, saya menunjuk dirinya, “you?”, lalu mengangkat satu jari saya, “alone?” 

Haii’, nenek itu mengerti dan mengiyakan. Sisa malam itu saya habiskan dengan mengobrol dengannya. Dengan beberapa kata bahasa Inggris dan banyak bahasa tarzan, nenek bercerita bahwa dia ke Kyoto untuk mendaki gunung dan akan kembali ke Tokyo menggunakan bus yang akan berangkat jam 10 malam nanti. Saya menggelengkan kepala kagum dengan ceritanya, di usia yang senja, dengan badan mungil yang mulai bungkuk, dia masih sanggup naik gunung dan pergi dari Tokyo ke Kyoto sendirian. Nenek balas bertanya negara asal saya dan alasan saya bertandang ke Jepang. “To meet you,” jawab saya bersemangat dan nenek tertawa mendengarnya. Saya juga bercerita bahwa hari ini saya baru mengunjungi Nara dan kelelahan karena terlalu banyak mendaki dan jalan kaki. Saya juga meminta diajari berhitung 1 – 10 dalam bahasa Jepang olehnya. Nenek bertanya saya sudah mencoba makanan apa saja di Jepang dan kesulitan menjelaskan kalau saya tidak dapat mengkonsumsi sembarang makanan karena saya seorang muslim. Rasanya menyenangkan berdialog dengan nenek. Dia ramah, ingin membantu, memiliki rasa ingin tahu yang besar, hangat, dan walau terkendala bahasa dia mencoba sebaik mungkin untuk mengerti ucapan saya seperti saya berusaha sebaik mungkin mengerti perkataannya. Saya memutuskan untuk menemani nenek mengobrol sampai tiba waktunya dia berangkat ke terminal bus. Percakapan dengan nenek ini akan menjadi cerita perjalanan lain untuk disimpan dalam memori. Sebelum berpisah dengan nenek, dia memberi saya kue yang sangat dia suka. Saya tidak memotret dia, saya ingin mengenang dia dalam memori. Dan lambaian tangan nenek yang mengucap selamat tinggal di teras hostel menutup hari kedua saya di Jepang.

Notes:
- Kondisi jalan di Nara berbukit-bukit dan menanjak, siapkan kaki untuk mendaki
- Walau dapat ditempuh dengan berjalan kaki, nyatanya jarak tempat wisata Nara antara satu dan lainnya cukup berjauhan. Jangan terlalu ambisius merancang itinerary, kamu akan terfokus mengejar tempat wisata yang harus dikunjungi dan malah lupa untuk menikmati sejenak tempat yang sedang dikunjungi. Hal-hal kecil yang terasa tidak penting dapat menambah cerita perjalanan asal kamu menghargai setiap remahnya

Itinerary:
Karena kehilangan contekan itinerary, maka susunan tempat wisata saya di Nara sedikit berantakan:
Kintetsu Nara station – Todaiji temple (Nandaimon gate, Daibutsu-den, Nigatsu-do hall) – Kasuga Taisha – Mount Wakakusayama – Yoshikien Garden – Kintetsu Nara station – Kyoto

Itinerary awal saya:
Kintetsu Nara Station – Kofukuji Temple – Yoshikien Garden – Todaiji (Daibutsu-den Hall, Nandaimon Gate, Nigatsu-do hall, Sangatsu-do hall) – Kasuga Taisha – Naramachi Koshi-no-le – Narawachi - Sarusawa Pond – Kinsetsu Nara station – Kyoto Station

Naramachi: Kota tua Nara yang dulunya kawasan pemukiman pedagang
Naramachi Koshi-no-le (free, close on Monday, Hours 9.00 - 17.00)Rumah pedagang yang dibuka untuk umum
Sarusawa Pond (free): Popular viewing spot for Kofukuji temple. Pagoda lima lantai Kofukuji temple terefleksi di air kolam

Rincian biaya
Sarapan sushi Family Mart: 399 yen
Kereta Shinsaibashi – Namba: 180 yen
Tiket kereta Osaka – Nara: 620 yen
Sewa loker: 500 yen
Daibutsu-den: 500 yen
Makan siang sushi Family Mart: 298 yen
Tiket kereta Nara- Kyoto: 620 yen
Hostel Kyoto Hana Hostel: 5.600 yen (Deluxe 8 bed mixed dorm per malam 2.800 yen)
Total: 8.717 yen