Tampilkan postingan dengan label Scandinavia Europe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Scandinavia Europe. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Januari 2015

You Can't Have Everything You Want

"Best time to visit (nama kota atau negara yang akan dikunjungi)" adalah keyword utama saya di mesin pencarian Google sebelum memutuskan membeli tiket pesawat. Timing memang memegang peranan utama ketika saya merencanakan sebuah perjalanan. 

Saya belajar dari pengalaman. Dulu, waktu saya menjadi seorang pejalan amatir, dengan percaya diri saya mengemas celana pendek, kaus, dan beberapa mini dress saat akan berangkat ke Macau. Tidak terbersit sedikitpun untuk mengecek cuaca di Macau di awal Desember sebelum berangkat. Hasilnya? Hujan rintik, angin kencang, dan suhu drop di bawah angka 20 derajat celcius menyambut begitu saya keluar pesawat. Mamam tuh dingin. Selama tiga hari liburan. Mana sama sekali nggak bawa baju hangat lagi. 

Semenjak kejadian 'liburan-sampai-hampir-mati-kedinginan-di-Macau' saya jadi riwil dengan masalah timing ketika akan berangkat ke Skandinavia. Tanya punya tanya, cuaca di Skandinavia itu moody minta ampun. Bahkan teman saya yang tinggal di Oslo bilang salju masih sesekali turun saat musim semi dan suhu bisa anjlok di bawah 10 derajat celcius. Yah, cuaca memang tidak bisa diakali, tapi waktu perjalanan bisa disiasati. Jadilah saya berangkat ke Skandinavia di awal bulan Juni. Masa ketika musim semi berakhir dan musim panas baru dimulai. Tapi itu pun saya tidak berharap banyak dengan matahari musim panas Skandinavia. Musim panas di Skandinavia termasuk musim panas abal-abal. Bagaimana bisa suhu 23 derajat celcius dikatakan panas untuk seseorang yang datang dari negara tropis. Pengennya sih menyambangi Skandinavia saat puncak musim panas dimana suhu menjadi lebih bersahabat dan sederet festival menunggu giliran tampil. Yang terpaksa menjadi angan-angan belaka saat mengingat membludaknya turis dari berbagai pelosok diikuti dengan naiknya harga penginapan ketika musim panas mencapai puncaknya. 

Tahun 2015 ini saya kembali dibayangi pertanyaan yang sama: best time to visit Japan. Pilihan saya jatuh pada musim gugur yang menjadi waktu terbaik kedua setelah musim semi. Walau tidak dapat melihat keindahan bunga sakura saat musim semi, musim gugur menawarkan warna-warni alam yang tidak kalah cantik. Masalahnya adalah, kemungkinan terjadinya topan yang mengawali datangnya musim gugur. Oktober akhirnya menjadi waktu pilihan dengan pertimbangan angin topan sudah mereda dan suhu belum terlalu dingin. Namun ternyata saya melewatkan satu poin penting disini. Warna-warni musim gugur baru akan mulai tampak di awal November! Mati-matian saya googling warna musim gugur di bulan Oktober dan yang terlihat hanya warna hijau blas. Tanpa ada warna kuning atau merah pepohonan khas musim gugur. Fix salah pilih waktu, sodara-sodara...

Togetsukyo Bridge in autumn 
Photo courtesy: Japan-guide.com

Sedih sih. Yang membuat musim gugur di Jepang itu menarik kan, warna-warni musim gugurnya. Dan bisa dipastikan warna-warni tersebut belum akan nampak saat saya kesana. Tapi saya ingat satu petuah bijak: you can't have everything you want. Mau lihat warna-warni musim gugur tapi nggak kuat dingin, ya nggak bisa. Saya harus memilih, dan untuk hal ini saya lebih memilih cuaca hangat. Mau jalan-jalan ke Eropa murah tapi nggak mau unyel-unyelan? Ya berangkat sewaktu musim semi baru berakhir dengan konsekuensi cuaca masih lumayan dingin. Kalau mau dapat semua ya harus siap-siap keluar budget lebih. As simple as that. You just can't have everything you want, darling.


Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi yang diadakan di blog pergidulu.

Jumat, 09 Agustus 2013

Untuk Melihat LukisanMu

Menurut saya setiap orang memiliki momen-momen tertentu yang membuat mereka merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Momen tersebut dapat hadir dalam beragam cara dan bentuk, ada yang menemukannya ketika dia berdoa, ketika menangis dan mencurahkan semua perasaannya dalam gerakan salat, saat membaca kitab suci, saat bersedekah, atau saat membelai lembut rambut anak-anak yatim piatu di panti asuhan sembari menghibur mereka dengan cerita dongeng. Sedangkan saya menemukan momen tersebut ketika melakukan sebuah perjalanan. Ketika menjelajah sebuah tempat asing yang begitu jauh dari rumah sehingga yang terasa hanya ada saya, Tuhan, dan alam yang berbicara dengan bahasanya masing-masing.

Seperti malam ini, ketika saya duduk termangu di salah sofa ruang duduk rumah Feli dan memandang bayang-bayang pemandangan kota kecil dari balik jendela. Secangkir teh yang tak lagi mengepul tergeletak di samping jurnal yang baru selesai ditulis, rekap catatan perjalanan yang dilakukan seharian ini. Feli sudah pamit tidur lebih awal sementara saya masih ingin menutup hari dengan menunggu langit berubah warna menjadi gelap sempurna. Perlahan dingin mulai merayap menembus pertahanan sebuah kabin musim panas yang seharusnya hangat. Bunyi berkelatakan timbul bukan karena langkah kaki di atas lantai kayu, tetapi karena perubahan cuaca dari hangat ke dingin sehingga kayu memuai lalu menyusut. Angin membawa aroma dingin yang bercampur dengan wangi daun, bunga liar, ranting kayu, dan tanah yang tertinggal di ujung hidung. Aroma khas yang menyadarkan bahwa saya sedang berada di salah satu negara yang terletak di ujung utara bumi ini. Sebuah negara yang masuk dalam lingkaran Kutub Utara.

Sofa di ruang duduk rumah Feli

Konon di negara yang masuk dalam lingkaran Kutub Utara matahari dapat terbit selama 24 jam. Midnight sun kebanyakan orang menyebut fenomena tersebut. Dan saya termangu menatap pemandangan di luar jendela untuk mengamati warna langit yang terangnya perlahan meredup, mencoba tidak mengidahkan dingin yang menelusup dari celah-celah kayu, menahan kantuk karena jarum jam telah bergerak melewati angka 10. Matahari memang telah menghilang sama sekali namun saya tetap penasaran ingin melihat sampai kapan terang dapat bertahan sebelum gelap menelan seluruh cahayanya.

Langit malam Oslo di musim panas

'Tuhan, izinkan aku melihat lukisanMu di bumi Skandinavia.' Saya ingat, doa itu yang dahulu terucap ketika saya mulai merancang semua perjalanan gila ini. Dan entah bagaimana caranya semesta tiba-tiba memuluskan jalan saya menuju negara ini. Seakan Tuhan dan semesta berkonspirasi untuk mengabulkan pinta saya dan mengirim saya ke bagian lain dari dunia ini. Dan disinilah saya sekarang, menatap langit dengan mata berat untuk memperkirakan dengan pasti kapan langit benar-benar menggelap kelam. Merasakan langsung kuasaNya dalam mengendalikan semua benda di langit dan bumi sementara kita manusia hanya dapat mengagumi. Dan di titik seperti inilah saya merasa begitu dekat dengan Tuhan sekaligus merasa kecil tak berdaya melihat kehebatanNya.

Untuk melihat lukisanMu, Tuhan. Tanpa sadar saya mendesah pelan mengingat kalimat itu. Lukisan yang saya maksud adalah pemandangan alam khas Norwegia berupa fjord berdinding tebing kasar dengan air terjun hasil lelehan gletser beserta hutan hijau dan kabut yang melingkupi. Pemandangan alam fantastis itu yang membuat saya berangkat sejauh ini dari negara tropis yang hanya mengenal dua musim ke sebuah negara yang bertetangga dengan Kutub Utara. Tapi mimpi saya untuk melihat lukisan itu buyar saat melihat tiket Norway in a Nutshell sudah fully booked bahkan sampai hari kepulangan saya ke Indonesia.


Norway in a Nutshell 

Tuhan, aku sudah sedekat ini untuk melihat lukisanMu. Buatlah sebuah keajaiban agar aku sempat melihat lukisan itu dengan mata kepala sendiri. Untuk melihat kebesaranMu Tuhan. Untuk mengagumi kebesaranMu. Kalimat itu terucap dalam hati seiring dengan padamnya terang di langit kota Oslo. Doa, meminta dengan setulus hati, hanya itu yang mampu saya lakukan ketika seluruh jalan telah ditempuh dan seluruh usaha telah dikerahkan. Dan berharap semoga Tuhan berkenan menciptakan keajaiban lain untuk saya di negara ini.

***

Hari beranjak siang ketika saya terbangun. Feli sudah sibuk menyiapkan sarapan, atau mungkin makan siang, ketika saya menyeret langkah ke dapur. "Morning, kirain gue lo sakit makanya belum bangun." Kemudian dia menghidangkan teh beraroma kayu manis dan apel dengan tambahan susu cair sebagai pengganti gula. Teh favoritnya yang akhirnya menular menjadi teh favorit saya selama menumpang di rumahnya.

"Sorry, gue tidur malem banget semalem," ucap saya sambil tersenyum malu sekaligus merutuki diri sendiri di dalam hati. Udah numpang berani-beraninya bangun telat. Malu-maluin aja!

"Jadi agenda hari ini ngapain aja?" tanya Feli kemudian untuk sekedar memastikan ulang agenda kami di hari tersebut. Kegiatan ini menjadi semacam rutinitas pagi kami sebelum berangkat meninggalkan rumah.

Saya mengingat-ingat sebentar lalu membuka jurnal, "Ke Munch Museet, Holmenkolen, terus malamnya berangkat ke Bergen." Saya tidak dapat menyembunyikan rona wajah kecewa bercampur kebingungan saat menyebut kata Bergen. Seharusnya saya mengikuti tur Norway on a Nutshell di kota itu untuk mengagumi panorama alam khas Norwegia di sepanjang aliran fjord yang membentang. Untuk melihat pulasan warna-warni lukisan Tuhan di Norwegia.

"Tenang aja, lo pasti suka dengan Bergen walau nggak bisa ikutan Norway in a Nutshell. Kotanya cantik kok." Feli yang sepertinya mengetahui kekecewaan saya berusaha menghibur.

Saya tersenyum mengiyakan. Bagaimanapun juga saya harus berangkat ke Bergen. Hanya saja saya tidak yakin harus menulis apa tentang Bergen di buku panduan Skandinavia yang harus saya tulis sepulangnya saya ke Indonesia nanti. Bergen membanggakan dirinya sebagai The Gateway to the Fjords of Norway, di kota inilah tempat yang paling tepat untuk melihat fjord dan panorama menawan Norwegia. Mengarang? Ah bagaimana bisa saya mengarang sesuatu sehebat lukisan Tuhan jika saya tidak pernah melihatnya secara langsung.

***

Jam 6 pagi keesokan harinya kereta NSB yang membawa saya dan Feli dari Oslo sampai di Bergen Railway Station. Feli tidak salah saat mengatakan saya tidak akan menyesali keputusan untuk tetap datang ke Bergen. Pemandangan kereta dari Oslo menuju Bergen (The Bergen Railway) sangat menakjubkan, bahkan rute ini disebut-sebut sebagai salah satu jalur kereta dengan pemandangan tercantik di dunia. Bagaimana tidak, ketika matahari pukul 4 pagi menampakkan dirinya terlihat pemandangan pegunungan kasar yang ditutupi gundukan salju tebal. Seumur hidup baru kali itu saya melihat salju dengan mata sendiri. Pemandangan selanjutnya tidak kalah mencengangkan, danau sebening kristal memantulkan pemandangan di atasnya. Persis seperti cermin. Feli bilang itu bukan danau melainkan fjord. Jantung saya terasa berdebar keras melihat semua keindahan itu dari dalam kereta yang bergerak cepat.


The Bergen Railway 

Percayakah kalian kalau Tuhan bekerja dengan caranya yang misterius? Saya percaya itu. Terkadang saya merasa Tuhan tidak pernah mendengar doa saya, betapa Dia terasa begitu jauh sehingga tidak dapat teraih. Tapi tak jarang juga dia terasa dekat, terasa lebih dekat dibanding urat leher sendiri dan mewujudkan keajaiban-keajaiban yang terasa mustahil. Di pagi yang terasa membeku itu saya duduk melamun sambil mengunyah sandwich yang menjadi menu sarapan. Sementara itu Feli menyeruput teh panasnya sambil mengecek email melalui handphone. Tak berapa lama kemudian dia melonjak-lonjak kegirangan seperti anak kecil, tak dapat berhenti walau beberapa pasang mata di kafe kecil stasiun itu melihat ke arahnya. Saya memandang keheranan, apakah jadwal kepulangan T, suami Feli, dari Amerika dipercepat sehingga dia mendapat serangan kegembiraan seperti ini?

"Yes, yes, yes!!!" Kalimat itu menyertai setiap lonjakan senangnya. "Visit Bergen menyetujui permintaan tiket Norway in a Nutshell kita. Tiketnya bisa langsung diambil hari ini juga di kantor mereka."

Untuk sejenak saya hanya terbengong mencerna kata-kata tersebut. Detik selanjutnya saya sudah ikut melompat-lompat gembira dan menjerit kecil bersama Feli, tak memperdulikan orang-orang yang semakin memandang aneh kepada kami.

Beberapa hari sebelumnya kami memang mengajukan permintaan tiket Norway in a Nutshell pada Visit Bergen saat melihat tiket tersebut sudah fully booked. Dengan menyebutkan bahwa saya akan menerbitkan buku panduan perjalanan dan menulis tentang Bergen di dalamnya serta koneksi yang dimiliki oleh T mereka menyanggupi permintaan tersebut, namun dengan tenggat waktu minimal dua minggu. Entah bagaimana tenggat waktu tersebut tiba-tiba menciut dan disetujui hanya dalam waktu dua hari. Visit Bergen memberi tiket Norway in a Nutshell tepat di jadwal yang telah saya atur sebelumnya. Di hari kedua saya di Bergen, untuk tiket Norway in a Nutshell yang berangkat dari Bergen menuju Oslo (sekalian untuk tiket pulang ke Oslo), dan gratis!!!

Tiket Norway in a Nutshell pemberian Visit Bergen

Terkadang Tuhan menyapa kita di tempat dan waktu yang sama sekali tidak pernah terpikirkan. Seringkali saya menemukan momen tersebut dalam perjalanan, seperti kali ini ketika dia lagi-lagi memberi satu keajaiban kecil dengan mengabulkan permintaan saya. 

Sabtu, 18 Mei 2013

Rendezvous

Masih inget sama Tante Theresia? Tante berusia 60 tahun yang mau solo traveling ke Skandinavia!!! Saya sempat ketemu dengan beliau untuk membahas itinerary dan menjawab beberapa pertanyaan yang belum sempat dia tanyakan di email.

Saya terharu saat Tante Theresia bilang dia tergerak untuk berangkat ke Skandinavia karena buku saya. "Buku kamu jelas banget. Rute bus, turun dimana, naik apa, rekomendasi tempat wisata, penginapan, dan tempat makan semua ada disana. Baca buku kamu rasanya menjelajah Skandinavia seakan mudah. Jadi tante berani untuk berangkat sendiri." Duh, siapa yang nggak melting denger karyanya dapat pujian seperti itu?

Tante Theresia berangkat ke Skandinavia tanggal 21 Mei ini. Rute yang dia tempuh nantinya di Skandinavia adalah Stockholm - Gothenburg - Oslo - Bergen (persis seperti rute perjalanan saya sebelumnya) ditambah Denmark sebagai penutup. Setelah rute Skandinavia selesai dia akan melanjutkan perjalanannya selama 3 minggu di Belanda.

Have a wonderful journey on Scandinavia tante. Pleasure to introduce the beauty of Scandinavia to you :)

Minggu, 31 Maret 2013

Keep Your Travel Passion Burning, Tante!!!

Subject : Travelling ke Scandinavia
Date     : Sunday, 30 Des 2012 6:22 PM
From    : Theresia Lay
To        : Rossa Indah K.

Hi Rossa,

Kenalkan saya Theresia. Sudah baca buku kamu tentang travelling ke Scandinavia. Asyik sekali dan kelihatannya nggak sulit. Cuma mau nanya nih, tante kan sudah berumur 60-an, bisa nggak ya kalau mau solo traveling tapi nggak pakai ransel backpack? Lalu untuk orang seusia tante boleh nggak nginep di dorm? Karena katanya ada batasan usia. Terus di buku kamu kayaknya kamu nggak sendirian, ada beberapa teman yang kamu punya seperti di Oslo, Goteborg, Stockholm, dan Bergen. Ada sih niat untuk pergi di bulan Mei tahun depan. Tolong infonya yang komplit.

Thanks ya,

Salam Theresia.

***

Subject : Re: Travelling ke Scandinavia
Date     : Sunday, 30 Des 2012 7:29 PM
From    : Rossa Indah K.
To        : Theresia Lay

Hai Tante Theresia, 

Wow, saya salut banget sama tante yang masih semangat jalan-jalan (apalagi solo backpacking) walau sudah berusia 60 tahun. Keep your travel passion burning tante!!!!

Tante, waktu saya ke Scandinavia nggak sedikit kok anak-anak muda yang traveling dengan menggeret koper berodanya, di hostel juga banyak koper yang disimpan di samping ranjang atau di tempat penitipan barang. Saya yang waktu itu bawa ransel backpack sempat iri karena bawa koper kan lebih ringkas dan lebih mudah mengatur barang di dalamnya. Jadi kalau tante mau pakai koper dan bukan backpack silahkan saja, tidak ada larangan seorang traveler harus menggunakan backpack dan bukan koper.

Untuk menginap di hostel dengan kamar dorm sepertinya nggak ada masalah tante, asal tante nggak milih hostel dari jaringan youth hostel yang memang ditujukan untuk remaja sampai kisaran umur tertentu. Untuk lebih memastikan tante bisa kirim email ke hostel pilihan dan konfirmasi lebih lanjut. 

Waktu saya traveling ke Scandinavia kemarin saya memang sempat bertemu dengan teman-teman blog dan teman-teman baru hasil korespondensi dari teman-teman blog ini. Tujuannya untuk lebih mengenal Scandinavia dari pandangan orang yang telah lama bermukim disana jadi buku saya bisa lebih real menggambarkan beberapa kota yang sempat dikunjungi di Scandinavia. 

Semoga jawabannya bisa menjawab semua pertanyaan tante. Selamat menjelajah Scandinavia ya Tante :)

Regards,

Rossa.


***

Subject : Re: Travelling ke Scandinavia
Date     : Monday, 31 Des 2012 4:01 PM
From    : Theresia Lay
To        : Rossa Indah K.

Thanks ya Rossa sudah ngebales email tante.

Kayaknya kamu surprise banget ya ada nenek-nenek yang mau solo travelling. Abis gimana, kalau ngajak teman atau saudara pasti lama ketemu waktunya. Sedangkan waktu tidak pernah menunggu. Pengen sih kalau ada yang bareng. Ada nggak ya.

Kalau Rossa suatu saat mau travelling hemat boleh ajak-ajak tante. Kalau jalan mah sanggup asal jangan hiking, tapi naik ke lantai 18 masih ok. Waktu November kemarin tante ke Belitung, naik mercusuarnya 18 lantau pakai tangga masih oke.

Selamat tahun baru 2013. Semoga lebih sukses dan fun.

Salam Theresia.

***

Subject : Re: Travelling ke Scandinavia
Date     : Monday, 31 Des 2012 4:27 PM
From    : Rossa Indah K.
To        : Theresia Lay

Iya tante, aku excited banget baca email-email dari tante. Abis baru sekarang ada email masuk dari pembaca yang walau sudah tidak muda tapi masih bersemangat untuk jalan-jalan. Semoga semangat aku untuk mengeksplorasi dunia bisa seperti tante ya. Selalu bertahan dan menyala sampai tua nanti. 

Semoga kapan-kapan kita bisa ketemu dan travel bareng juga ya tante. Sukses dan lancar untuk rencana travel ke Skandinavianya nanti. 

Happy new year tante, semoga semakin banyak tempat yang tante jelajahi di tahun berikutnya. 

Regards,

Rossa.

Minggu, 07 Oktober 2012

Repost: Young & Talented

Repost wawancara dari blog tetangga :)


"Young & Talented" kali ini akan berbincang2 dengan Rossa Indah yang buku perdananya, "Skandinavia" telah beredar di toko buku :)

Bagi pembaca CHIC magazine, mungkin pernah melihat blog "Merry Go Round : Hidupku terus berputar" yang muncul dalam blogreview CHIC periode 23 Maret - 6 April 2011.

Berbicara mengenai Rossa, tidak lepas dari yang namanya passion. Apa saja passion seorang Rossa, dan bagaimana passion itu membawanya menghasilkan sebuah karya?

Yuukk.. Mari mengenal Rossa lebih lanjut, siapa tahu kamu jadi terinspirasi untuk menghidupi passion kamu dan menjadikan hidup lebih berwarna

Selamat ya atas terbitnya buku kamu. Bisa cerita kisah "Skandinavia" hingga menjadi buku?

Awalnya Bentang membuka lomba Keliling Dunia Bersama Bentang, peserta cukup membuat proposal budget traveling ke destinasi di Eropa dan peserta yang proposalnya lolos akan dibiayai perjalanannya dan catatan perjalanannya akan dibukukan.  Saya memilih destinasi negara Skandinavia karena publik masih asing dengan negara di utara Eropa itu.

Apa arti terbitnya "Skandinavia" ini buat kamu?

My next baby after Merry go Round blog :)
Bagi saya kegiatan ngeblog maupun menulis buku seperti merawat seorang baby. Blog maupun buku memerlukan perhatian, kesabaran, konsistensi, dan cinta yang terus menerus tumbuh. Saat memutuskan untuk ngeblog maupun nulis buku saya harus sadar dengan konsekuensi bahwa saya harus mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran yang tidak sedikit untuk mereka. Saya harus merawat mereka berdua sehingga karya yang saya tuangkan di dalamnya layak untuk dibaca, dijadikan referensi, bahkan dijual dalam bentuk buku. Saya yang mempersiapkan arah dan tujuan blog Merry go Round dan buku travel Skandinavia, ke depannya mau jadi seperti apa. Apa yang mau ditulis, apa yang mau di share ke pembaca, bagaimana membuat sebuah tulisan yang menarik, bagaimana membuat pembaca buku saya puas dengan buku yang berada di tangannya sehingga mereka tidak merasa sia-sia telah mengeluarkan sejumlah uang untuk membelinya.

Mengapa memilih Norwegia & Swedia sebagai tempat tujuan travelling? Apa keistimewaan kedua negara tersebut yang membedakannya dengan negara2 lain di daratan Eropa?

Negara-negara Skandinavia masih asing di telinga masyarakat dibanding destinasi terkenal lain di Eropa seperti Paris, Belanda, Jerman dan lainnya. Saat pertama kali mengenal kecantikan alam Norwegia saya selalu berjanji pada diri sendiri untuk melihat lukisan Tuhan itu langsung dengan mata kepala sendiri, pun saya ingin menyebarkan kemolekan lukisan Tuhan itu pada masyarakat melalui buku panduan traveling ke Skandinavia. Tentu saja dengan harapan semakin banyak lagi orang yang mengetahui dan mengenal kecantikan alam di bumi Skandinavia.

Bagaimana ritme kehidupan di kedua negara tersebut? Apa bedanya dengan ritme kehidupan di Indonesia?

Masyarakat Swedia super stylish dibanding negara-negara Skandinavia lainnya. Masyarakat Norwegia pecinta alam dan petualangan di alam bebas. Negara Skandinavia adalah negara yang paling ramah terhadap kaum LGTB (Lesbian, Gay, Transgender dan Biseksual), perkawinan sesama jenis dilegalkan disini, bar khusus kaum gay maupun lesbian dengan mudah dapat ditemui di kota, kaum LGTB tidak perlu malu untuk mengemukakan identitas mereka terhadap publik, dan festival tahunan LGTB menyedot perhatian turis mancanegara. Persamaan hak dan minimnya rasisme terhadap kaum LGTB di negara Skandinavia membuka mata saya bahwa kaum LGTB pun memiliki hak yang sama dengan masyarakat lainnya, dan hal ini dijunjung tinggi di Skandinavia.

Dari 4 kota yang kamu kunjungi (Stockholm, Goteborg, Oslo dan Bergen), kota mana yang paling berkesan? Mengapa? Ada pengalaman menarik yang tidak terlupakan ketika mengunjungi kota2 tersebut?

Bergen. Banyak kejutan-kejutan yang Tuhan berikan saat saya berada di Bergen. Saat berada di Bergen saya kehabisan tiket Norway in a Nutshell karena terlambat membooking. Tur tersebut baru kosong seminggu setelah tanggal kepulangan saya ke Indonesia. Impian saya untuk melihat langsung fjord Norway yang legendaris langsung hancur berantakan, padahal tujuan utama saya pergi ke Skandinavia adalah untuk menikmati keindahan alamnya. Untuk melihat lukisan Tuhan di bumi Skandinavia. Kemudian tiba-tiba permohonan tiket Norway in a Nutshell saya diluluskan pihak Visit Bergen hanya dalam waktu dua hari saja (normalnya memakan waktu minimal seminggu). Secara ajaib saya bisa ikut tur Norway in a Nutshell yang sudah fully booked secara gratis. Saat itu saya merasa rencana Tuhan indah banget.

Hal2 apa yang harus dipersiapkan sebagai solo traveller? Apa tips2 yang wajib menjadi catatan, terutama bagi mereka yang baru pertama kali berpergian ke luar negeri?

Hal utama yang harus dipersiapkan solo traveler: Keberanian. Kalian nggak akan pernah bisa pergi jalan-jalan sendirian kalau dicekoki rasa takut yang tidak ada habisnya. Terkadang nekat dan berani hanya dibatasi dengan garis tipis. Kalau kalian tidak cukup berani, cobalah untuk nekat dan temukan banyak kejutan yang akan mewarnai perjalanan nanti.
Yang wajib menjadi catatan saat melakukan perjalanan: cari informasi sebanyak-banyaknya tentang negara, kota, maupun destinasi tujuan kita. Semakin banyak informasi yang dikumpulkan kita akan semakin mengenal negara ataupun kota tersebut. Sisanya, jangan lupa untuk menikmati perjalanan dan setiap langkah yang diayunkan.

Apa kelebihan "Skandinavia" dibanding buku travelling lainnya?

Banyak foto-foto yang menampilkan kecantikan alam dan kota Skandinavia ;) Dijamin akan jatuh cinta dan mupeng pengen pergi ke Skandinavia setelah kenal lebih dekat negara itu lewat buku Travel Skandinavia.

Harapan ke depan, apa kamu mau menerbitkan buku travel lainnya? Minat berkarier di bidang travel writing?

Kalau ada yang mau sponsorin saya jalan-jalan dan nulis buku lagi pasti mau banget ;) Berkarir di bidang travel writing? Kenapa enggak. Saya suka nulis dan saya cinta jalan-jalan. Travel writing adalah pekerjaan menyenangkan yang dapat menggabungkan keduanya. Untuk sekarang saya lagi fokus menyelesaikan proyek 4 Hari Untuk Selamanya. Sebuah travel journey yang menceritakan perjalanan saya ke Toraja.

Saya sempat membaca postingan kamu yang berjudul "Poporin", yang menceritakan tentang kucing kamu, gaya berceritanya itu menarik lho. Ngga tertarik menerbitkan novel fiksi?

Format penulisan Poporin itu sebenernya nyontek teknik penulisan RadityaDika di Cerita Alfa (buku Marmut Merah Jambu). Waktu itu kucing saya baru hilang, jadi feelnya mungkin berasa banget dan sampai ke pembaca.

Apa sih arti menulis buat kamu? Sejak kapan kamu mulai ngeblog? Dan hal2 apa saja yang kamu dapatkan dari ngeblog?

Writing is my passion. Menulis adalah sebuah pekerjaan yang tanpa digaji pun saya bersedia melakukannya. Menulis adalah bentuk aktualisasi diri saya pada dunia, membuat diri saya merasa  berarti dan berguna di jagat raya yang luas ini.
Saya mulai ngeblog sekitar tiga tahun yang lalu. Dari blog saya banyak ketemu teman-teman baru dari berbagai belahan dunia yang menarik. Saya bisa melihat dunia dari cara pandang yang lain, belajar banyak hal dari tulisan orang lain, memacu diri sendiri menjadi orang yang lebih baik lagi setelah bercermin melalui cerita teman-teman blogger. Lewat blog juga saya dapat menyelami semua hal yang menjadi passion dalam hidup ini.

Biasanya kamu suka ngeblog soal apa saja?

Semua hal yang saya suka dan menarik perhatian saya. Biasanya itu seputar film, musik, buku, jalan-jalan, dan serpihan hidup untuk direnungkan kembali.

Membaca postingan2 di blog kamu, ada beberapa hal yang sering sekali kamu tuliskan, yaitu menyangkut film, musik dan juga buku. Sejak kapan kamu menyukai ketiganya?

Sejak dahulu kala. That’s why I called them passion of my life :)

Jenis film apa yang kamu sukai? Apa film favorit kamu? Apa film yang paling menginspirasi kamu? Ada kutipan atau adegan favorit dari film yang paling kamu suka?

Saya suka semua genre film, tapi paling nggak bisa nonton film horor dan slash movie. Bisa sampai muntah atau nggak tidur beberapa hari. Biasanya saya suka pergi ke Festival Film karena memutarkan film selain genre film Hollywood. Mungkin dari semua genre film saya paling suka film kartun dari Pixar karena mereka membuat kartun yang bermuatan pesan yang matang dan cerda.
Karena saya movie holic sejati, saya kesusahan menyebutkan film yang bener-bener jadi favorit dan yang menginspirasi. Bejibun film yang sudah menginspirasi hidup saya, nggak cukup dibahas satu-satu. Mungkin sebagai gambaran beberapa film yang sempat saya review di blog merupakan bentuk apresiasi saya terhadap film tersebut.

Kalau buku, ada topik tertentu yang menjadi favorit kamu dalam membaca buku? Dan apakah kamu suka membandingkan antara versi buku dan versi film andai film itu diangkat dari buku berjudul sama? Apa film terbaik yang diangkat dari buku menurut kamu?

Saya lebih suka baca novel dalam negeri dibanding novel terjemahan. Saya suka kata-kata yang mengalir dan Indonesia banget yang penulis dalam negeri gunakan. Kata-kata Indonesia banget itu bisa dalam arti sastra banget, nyeni banget, kocak banget, melankolis banget, dll. Saya merasa lebih ‘dekat’ dengan bendahara kata Indonesia saat membaca buku yang ditulis oleh penulis Indonesua. Topik yang saya suka biasanya seputar perjalanan atau jalan-jalan.
Membandingkan film dan buku mungkin wajar, tapi saya sadar betul tidak mungkin mengangkat sebuah cerita sama persis dengan bukunya. Film terbaik yang berhasil diangkat dari buku menurut saya Jomblo dan Testpack.

Rencana kamu ke depannya apa?

Rencana saya ke depannya simpel: nyelesein proyek 4 HariUntuk Selamanya. Semoga baby saya nomor tiga ini bisa cepet lahir.

Mengapa memilih "Merry Go Round : Hidupku Terus Berputar" sebagai judul blog kamu? Apa semboyan ini sudah ada sejak kamu pertama ngeblog?

Saya pengen keliling dunia (nggak nyambung). Saat mikir judul blog dan cita-cita saya untuk keliling dunia tiba-tiba saja nama Merry go Round keluar. Alasan lainnya saya suka komidi putar, dengan lagu-lagu ceria, kuda yang terus naik turun dan berputar dalam satu lingkaran sempurna. Seperti hidup kan :)

Apa arti passion buat kamu?

Passion adalah napas saya. Passion adalah bahan bakar dalam hidup saya. Membuat saya untuk terus melangkah maju dan menemukan kejutan-kejutan di depan sana.

Apa impian kamu yang masih belum terwujud?

Nerbitin novel perjalanan ;)

Ada pesan yang ingin kamu sampaikan bagi pembaca blog kamu?

Life for your passion. Hidup ini singkat banget, rasanya sayang banget kalau setiap detiknya tidak dilakukan untuk melakukan hal-hal yang kita sukai atau cintai.

~.*.~

Minggu, 08 Juli 2012

We’re Young and Wild and Free


.....

“Selagi sibuk memperhatikan kerumunan ada seorang bule nyolek-nyolek tangan gue, ‘Sorry, did you see two drunk guy crossing this street?’ Dia terlihat panik mencari-cari dua temannya yang menghilang. Tapi belum juga sempat gue jawab pertanyaannya tiba-tiba ada yang menarik lengan gue dan seorang bule lain mendekatkan tubuhnya sambil memonyongkan bibirnya. Mukanya merah dan nafsu abis. Sontak gue teriak dan berusaha menjauh, ‘Aaaarrrgghhh….’”

“What???”

.....

(4 Hari Untuk Selamanya, wait for further stories)

Minggu, 08 April 2012

Merry go Round 1st Giveaway

Kalau diingat-ingat, sejak saya membuka akun di blogspot dua tahun silam saya belum pernah mengadakan giveaway untuk teman-teman blogger maupun pembaca Merry go Round. Hihihihiii... Bukannya pelit, tapi saya pengen banget bisa bikin giveaway dari hasil karya sendiri (nggak mau kalah sama Tante Elsa ceritanya). Jadi, berhubungan buku saya (ehm) sudah terbit, saya mau bikin giveaway niiihhh. Hadiahnya jelas dong buku saya yang bulan Februari kemarin (akhirnya) rilis juga: Skandinavia: Traveling Aman, Hemat, dan Nikmat. 


Dari awal penulisan buku ini saya udah niat banget, someday waktu buku ini terbit saya mau bikin giveaway berupa buku tersebut untuk teman-teman blogger dan pembaca Merry go Round. Karena sesungguhnya semangat, dukungan, dorongan, dan doa dari kalianlah yang membuat saya terus bertahan menghadapi semua rintangan dan berbagai pikiran negatif yang kerap menghantui sejak proses penulisan proposal, berangkat ke Eropa, sampai pada proses penulisan buku yang menguras emosi. Pertanyaan "Kapan bukunya terbit Cha?" yang terus memberondong saya lewat kotak komentar blog Merry go Round, pesan di Facebook, email, sampai SMS meneguhkan saya untuk terus berjuang menyelesaikan proyek gila penulisan buku ini. Saya terharu karena kalian dengan setia menunggu proses kelahiran buku saya yang pertama ini, saya juga merinding mengingat kalian tidak kalah bersemangatnya dengan saya ketika menanti karya saya menempati salah satu rak di toko buku. 

Giveaway ini sebagai bentuk apresiasi saya kepada kalian semua yang telah mendukung saya dengan berbagai macam cara. Pengennya sih bisa ngasih masing-masing satu buku untuk setiap orang, tapi berhubung saya masih menyandang status pekerja kantoran kere jadi saya hanya mampu menyediakan dua buku saja. Akan ada dua orang pemenang dan setiap pemenang bisa mendapatkan satu buah buku Skandinavia: Traveling Aman, Hemat, dan Nikmat yang sudah saya tanda tangani (berasa artis gini).

Cara ikutannya gampang! Kalian tinggal berfoto ala backpacker seseru mungkin. Perlihatkanlah semangat dan rasa antusias kalian karena akan atau sedang berkelana ke negeri orang dalam foto tersebut, berikan juga caption singkat  sebagai keterangan foto. Tidak perlu berfoto narsis di luar negeri atau suatu objek wisata, yang saya inginkan adalah keseruan dari melakukan kegiatan backpacking, seperti kebingungan membaca peta, keberatan menyandang ransel, kerepotan membawa beberapa tas sekaligus selama berpetualang, hitung-hitung budget saat mencari tempat makan, dan lainnya. Be creative, tampilkan keunikan masing-masing dari kalian dan beraksilah seseru mungkin. Foto yang paling fun akan menjadi pemenangnya.

Contoh fotonya bisa seperti ini:

Coba-coba hitchhike
Photo courtesy of Denny Irawan



Nyari makanan halal dalam bahasa China

Beda antara porter dan traveler itu tipis

Foto tersebut dapat kalian post dalam blog masing-masing lalu tinggalkan alamat blog kalian dalam postingan ini, nanti saya akan mampir ke tempat kalian untuk melihat fotonya. Jika kalian tidak memiliki blog, foto dapat di-tag ke halaman Facebook saya (Rossa Indah K. Matari), di-mention lewat akun twitter saya: @rossa_indah, atau kirimkan foto tersebut via email ke: rossaindah.k@gmail.com. Giveaway ini dibuka selama 10 hari dan ditutup tanggal 18 April 2012. Pengumuman pemenang akan diadakan pada tanggal 22 April 2012. Sementara itu, diantara jeda penutupan giveaway sampai pengumuman saya akan membuat satu postingan berisi semua foto yang masuk agar kalian dapat memastikan ulang apakah foto kalian sudah saya terima atau belum (plus sekalian numpang beken lewat blog saya, hihihihii...).

Jadi, ambil kamera kalian, berpose ala backpacker seseru mungkin, pilih satu foto terbaikmu dan kirimkan ke saya. Saya tungguuu.... *dadah-dadah ala Miss Universe*.

PS: diperpanjang sampai 21 April 2012

Minggu, 19 Februari 2012

Skandinavia: Traveling Aman, Hemat, dan Nikmat

Buku Skandinavia: Traveling Aman, Hemat, dan Nikmat akhirnya terbiiiiiiitttt....... Yeaaayyy :D

Skandinavia: Traveling Aman, Hemat, dan Nikmat
Selama ini Skandinavia lekat dengan predikat negara mahal sehingga tak jarang para travelers mengurungkan niatnya untuk berkunjung kesana. Padahal ada beberapa celah yang dapat disiasati untuk menekan budget perjalanan. Tidak perlu ragu lagi menjelajah Skandinavia setelah kamu membaca buku ini (cieee promosi). 

Buku ini akan membawa kamu jalan-jalan ke Eropa Utara, tepatnya ke dua negara di daerah Skandinavia. Dari Stockholm dan Goteborg di Swedia, sampai ke Oslo dan Bergen di Norwegia, semuanya menawarkan pengalaman traveling yang menyenangkan.

Book display on Gramedia Plaza Semanggi
Beberapa yang excited beli buku Skandinavia dan minta tanda tangan saat jumpa fans berlangsung, ihiiiiyyy ;)

Mila Said
Cipu
Photo courtesy of Mila Said
Photo courtesy of Mila Said
Skandinavia: Traveling Aman, Hemat, dan Nikmat 
Penerbit: B First
Penulis: Rossa Indah
Harga: Rp. 54.000


Ayo ayo dibeli dibeli :)

Sabtu, 14 Januari 2012

Narsis di Negara Monarki Konstitusional

Sistem pemerintahan monarki konstitusional adalah sistem pemerintahan dimana Raja memegang peranan sebagai kepala negara sedangkan kepala pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri. Dengan kata lain Perdana Menteri memegang peranan untuk menjalankan pemerintahan suatu negara sedangkan Raja lebih merupakan ketua simbolis negara tersebut. Negara apa yang sampai saat ini masih menjalankan sistem monarki konstitusional? Jawaban pertama yang terlintas di kepala saya adalah Inggris. Jawaban alternatif tambahan? Eeerr... saya nggak tahu *kalau ikutan cerdas cermat pasti saya kalah telak*. Yeah, dengan jumlah total 33 negara di dunia yang memakai sistem monarki konstitusional, saya cuma tahu Inggris sebagai negara yang menganut sistem pemerintahan (nyaris) kuno seperti ini. Maafkanlah, nilai Geografi saya memang jelek.

Kenapa sih Inggris segitu terkenalnya dengan sistem monarki konstitusional dibanding negara-negara lain yang menganut paham serupa. Well, siapa juga yang nggak pernah denger berita tentang keluarga kerajaan Inggris, mulai dari kematian Lady Diana, Ratu Elizabeth II yang menampilkan kesan antipati, gosip-gosip di seputar lingkungan kerajaan Inggris, sampai berita terbaru adalah royal wedding Pangeran William yang (lagi-lagi) menyita perhatian dunia. Nggak heran lah kalau legenda kerajaan Inggris ini begitu mendunia dan langsung menempel di otak saya saat membicarakan sistem pemerintahan monarki konstitusional. Khusus untuk pecinta jalan-jalan, Inggris menjadi begitu fenomenal sekaligus menjadi negara destinasi impian karena menawarkan berbagai atraksi yang berkaitan dengan 'remeh-temeh' kerajaan. Mau jalan-jalan ke kediaman keluarga kerajaan di Buckingham Palace, desek-desekan dengan sesama turis demi bisa melihat atraksi changing guard, sampai mampir ke Westminster Abbey yang menjadi tempat Pangeran William nikah kemarin. Salah satu highlight pariwisata Inggris yang mengedepankan 'remeh-temeh' kerajaan ini secara tidak langsung membuat dunia dengan mudahnya mengingat Inggris sebagai negara monarki konstitusional.

Haruskah saya ke Inggris demi bisa merasakan atmosfir dari sebuah negara dengan sistem monarki konstitusional, demi bisa melihat langsung atraksi pergantian penjaga yang menyedot perhatian seluruh turis di berbagai belahan dunia, dan demi bisa berfoto dengan salah satu penjaga yang (ehem) good looking tersebut? Ternyata tidak. Eropa sendiri memiliki 12 negara dengan sistem pemerintahan monarki konstitusional, dan Skandinavia yang terdiri dari Swedia, Norwegia, dan Denmark masuk ke dalamnya. Seperti layaknya Inggris, negara-negara Skandinavia juga menjadikan berbagai 'remeh-temeh' kerajaan sebagai salah satu jualan pariwisata mereka.

Seperti semua wisatawan lain yang merencanakan perjalanan ke negara yang masih memfungsikan Raja sebagai kepala negara, maka saya pun memasukkan agenda 'remeh-temeh' kerajaan ke dalam itinerary saat berkesempatan datang ke Skandinavia. To do list yang harus dilakukan antara lain mampir ke Royal Palace untuk melihat kediaman keluarga kerajaan, melihat prosesi pergantian penjaga di halaman Royal Palace, dan tentu saja berfoto bersama penjaga istana yang oh-so-cute itu. Jalan-jalan ke sebuah negara dengan sistem monarki konstitusional rasanya belum lengkap jika melewatkan kesempatan berfoto dengan penjaga istana yang sedang bertugas di halaman istana. Berpose narsis dan menggoda para penjaga yang berdiri dengan sikap sempurna dan pandangan tegak lurus ke depan, sekedar untuk membuktikan bahwa mereka tidak akan bergeming dari posisi sikap sempurnanya, menjadi momen yang pantang untuk dilewatkan. 

Sebagai seorang solo traveler, saya cukup beruntung bertemu dengan beberapa teman yang berbaik hati menemani saya berkeliling pusat kota dan mengantarkan saya ke Royal Palace yang menjadi magnet utama pariwisata di Skandinavia. Hari pertama menjejakkan kaki di tanah Swedia saya sudah bersemangat untuk mengeksplorasi negara ini. Tidak peduli dengan kata jetlag dan penampilan kuyu karena telah menghabiskan waktu selama 18 jam di dalam pesawat, setelah check in ke hostel yang telah dipesan, menaruh ransel, dan cuci muka-gosok gigi ala kadarnya, saya siap berkenalan dengan Stockholm. Sisa sore itu saya habiskan dengan berjalan-jalan di taman utama kota dan pusat perbelanjaan yang sudah mulai sepi. Walaupun musim panas dan matahari memperpanjang sinarnya sampai jam 10 malam, para pemiliki toko di Stockholm tetap konsisten menutup toko mereka saat jarum jam masuk ke angka 7 atau 8 malam. 

Cukup disayangkan, saat kebanyakan wisatawan masih banyak berkeliaran di pusat kota, kebanyakan toko sudah tutup. Padahal kesempatan ini bisa mereka gunakan untuk buka lebih lama dan menjual souvenir lebih banyak lagi. Namun seperti itulah jam kerja yang diterapkan di Stockholm dan para pemilik toko maupun pegawai taat dengan peraturan yang ada. Jadilah di sore yang beranjak ke malam itu saya berjalan-jalan di pusat Gamla Stan (kota tua) yang sepi dari hiruk-pikuk keramaian pengunjung kafe dan toko souvenir. Gamla Stan hanya dipenuhi beberapa wisatawan lainnya yang masih ingin mengelilingi kompleks kota tua ini ditemani dengan cahaya matahari dan angin dingin yang mulai bertiup. 

Malam masih terang saat saya melangkahkan kaki ke kompleks Royal Palace. Beberapa penjaga istana nampak berjaga di posnya masing-masing dan beberapa wisatawan berkeliaran untuk mengamati kompleks istana maupun berfoto dengan latar Royal Palace. Tiba-tiba terdengar sebuah hardikan yang cukup keras dengan bahasa yang tidak saya kenal. Dengan sebuah isyarat tangan dan raut wajah tegas seorang penjaga istana dengan langkah tegap memerintahkan seorang wisatawan yang berjalan terlalu dekat dengan kompleks istana untuk mundur. Saya kaget sekaligus jiper dengan ketegasan yang mereka tampilkan. Damar yang menemani saya kala itu memperlihatkan garis-garis hitam yang dibuat di beberapa tempat, pengunjung tidak diperbolehkan untuk melewati garis tersebut. Wisatawan yang ditegur tadi ternyata melewati garis hitam sehingga mendapat teguran oleh penjaga istana. Kalau saja Damar tidak memberitahukan hal penting ini pasti saya akan menjadi orang selanjutnya yang terkena teriakan dari salah satu penjaga istana. 

Selain mengitari beberapa tempat yang dianggap sentral di halaman Royal Palace, garis hitam ini juga melingkari pos-pos tempat penjaga istana berdiri. Untuk saya hal ini secara tidak langsung menyampaikan pesan 'Dilarang Berfoto Terlalu Dekat Dengan Penjaga Istana'. Tanpa diminta Damar langsung berinisiatif mengambil kamera saya dan menyuruh saya berpose di salah satu pos penjaga. Dengan garis hitam selebar itu tidak mungkin saya bisa berpose terlalu dekat dengan penjaga apalagi sampai menggoda mereka yang berdiri kaku dengan sikap sempurnanya. Di bawah tatapan tajam penjaga istana yang memperhatikan gerak-gerik saya dan diantara angin dingin Stockholm yang mulai menusuk kulit dan meniup rambut saya ke segala penjuru arah, Damar mengambil foto perdana saya dengan penjaga istana di sebuah negara monarki konstitusional yang kali pertama saya kunjungi.

Jauh beneeerr jaraknya..
(Photo courtesy of Damar

Beranjak dari Swedia, saya pergi ke negara monarki konstitusinal selanjutnya: Norwegia. Matahari musim panas bersinar dengan cerah dan langit biru menjadi latar yang melengkapi keanggunan bangunan Oslo Royal Palace. Halaman istana nampak ramai dengan wisatawan yang antusias berfoto dengan penjaga istana sekaligus menunggu momen changing guard yang akan berlangsung satu jam ke depan. Sambil berlari-lari kecil saya menuju salah satu pos penjaga yang tepat berada di pintu utama istana, di depan pos tersebut para wisatawan telah membuat sebuah kerumunan dan bergantian berfoto dengan penjaga istana. Saat akhirnya tiba giliran saya untuk berfoto, saya baru menyadari satu hal. Berbeda dengan Stockholm Royal Palace, di Oslo Royal Palace tidak ada garis hitam yang membatasi jarak antara penjaga istana dengan pengunjung yang ingin berfoto. Jadi seberapa jauh atau dekatkah jarak yang harus saya ambil? Tidak ada aturannya. Saya tinggal pinter-pinter atur jarak aman, jangan terlalu dekat, jangan juga terlalu jauh. Sip, lalu pasang gaya andalan dan cheers...

"How is it?", tanya saya ke Felicity yang bersedia menjadi fotografer dadakan sambil tetap berdiri di samping si penjaga istana. Kalau hasilnya kurang oke saya bisa foto lagi tanpa harus antri dari awal. "Muka penjaganya ketutupan bulu", jawab dia sambil mengecek hasil foto. Saya refleks melihat wajah si penjaga istana. Benar saja, wajahnya tertutup bulu yang berasal dari topi bulu yang melambai-lambai di atas kepalanya. Iseng-iseng saya mencoba meniup bulu tersebut agar menepi ke pinggir wajah. Tanpa diduga, sang penjaga mengibaskan kepalanya ala model iklan shampo untuk menyingkirkan bulu tersebut dari wajahnya demi hasil foto yang lebih oke lagi. Saya kaget terpana dan mendadak speechless. Ternyata dia bisa bergerak!!! Saat kesadaran saya kembali dan mengucapkan "Thank you", sekilas saya melihat senyum tipis terulas di wajah penjaga istana itu, dan tanpa menglihkan pandangan matanya yang tegak lurus ke depan dia membalas, "You're welcome". Ternyata dia bisa bicara!!! Ya ampun mas penjaga istana, kamu sudah ganteng, baik hati dan ramah pula. Ikut aku ke Indonesia yuk ;)

Cheers...
(Photo courtesy of Felicity

Hufff.. Pergi kau bulu!!!
(Photo courtesy of Felicity

Whoaa... He's talking to me!!!
(Photo courtesy of Felicity

Beda lagi ceritanya saat saya bertandang ke Bangkok. Saya baru tahu kalau negara ini juga menganut sistem monarki konstitusional saat datang ke Grand Palace (saya sudah bilang kalau nilai Geografi saya jelek kan?). Setelah berkeliling kompleks Grand Palace yang besar dan mengagumi arsitekturnya yang luar biasa detail dan rumit saya menemukan sebuah kerumunan wisatawan. Usut punya usut ternyata mereka sedang antri foto dengan seorang penjaga istana yang berdiri pasrah dan mati-matian mempertahankan wajah seriusnya. Kalau mau foto dengan penjaga istana ini harus sabar antri karena peminatnya banyak banget. Saya sih seneng-seneng saja antri menunggu giliran, sambil bersyukur ternyata saya bisa menambah koleksi foto dengan penjaga istana lagi di sebuah negara monarki konstitusional. Lama-lama saya jadi kepo pengen datang ke negara monarki konstitusional lainnya di dunia ini demi bisa menikmati 'remeh-temeh' atraksi kerajaan sekaligus menambah koleksi foto dengan penjaga istana, hehe ;)

Mas mas, ini senjatanya tajem beneran nggak?
(Photo courtesy of @KniaSafitri) 

Penjaga istana di kompleks Grand Palace ternyata cukup banyak dan tersebar di beberapa titik. Saya bisa bebas berfoto sepuas mungkin tanpa harus antri atau merasa tidak enak dengan wisatawan lain yang menunggu giliran. Bukan bermaksud rasis, kalau saya perhatikan penjaga istana di Grand Palace ini kurang ganteng, hehehee... Hanya seragam yang mereka kenakan dan jabatannya sebagai penjaga istana membuat mereka nampak berkilauan dan menjadi sorotan oleh pengunjung. Mungkin karena saya juga datang dari negara Asia jadi sudah familiar dengan karakteristik ras Mongoloid sehingga saya tidak terlalu asing dengan penampilan fisik masyarakat dari negara tetangga di seputaran Asia lainnya, seperti rambut hitam, warna kulit coklat ataupun kuning, dan ukuran badan yang cenderung kecil dan pendek. Berbeda saat saya traveling ke Eropa yang didominasi oleh ras Kaukasoid, semua orang seperti terlihat lebih ganteng dan cantik berkat warna kulit pucat, warna kornea mata dan warna rambut yang lebih terang. Dengan penampilan ras Kaukasoid yang jarang saya temui di masyarakat sehari-hari, mereka terlihat begitu berkilauan di mata saya yang awam ini. Kalau ras Kaukasoid seperti ini ditambahkan dengan seragam penjaga istana tentu saja peringkat gantengnya jadi bertambah berkali-kali lipat :p

Setiap negara memang memiliki karakteristik dan keunikannya masing-masing. Hanya dari hal konyol yang berawal dari kenarsisan saya untuk mengabadikan diri bersama penjaga istana dari setiap negara monarki konstitusional yang dikunjungi saya mendapat pengalaman yang berbeda-beda. Di Stockholm saya dipelototin oleh penjaga istana saat berfoto sambil menginjak garis hitam yang melingkar di sekitar pos tempatnya berjaga. Diam-diam saya ingin merasakan hardikan penjaga istana, namun di saat yang bersamaan saya juga takut mendapat omelan keras darinya. Di negara serba mahal seperti Oslo saya mendapat keramahan luar biasa oleh penjaga istananya. Mereka seperti sadar betul kalau secara tidak langsung mereka menjadi salah satu aset dan jualan dari dunia pariwisata Oslo dan berusaha 'menjamu' wisatawan yang telah bertandang ke negaranya sebaik mungkin. Sedangkan di Bangkok penjaga istananya antara cuek dan rikuh dengan arus wisatawan yang ramai-ramai menghampiri sekaligus menggoda mereka saat berfoto bersama. Mereka seperti pasrah menjadi manekin hidup yang dipajang di halaman istana untuk melengkapi aura kemegahan kompleks Grand Palace. 

Dan semua pengalaman ini pada akhirnya hanya membuat saya semakin meneguhkan hati untuk terus dan terus mengunjungi negara lain yang masih menerapkan sistem pemerintahan kuno bernama monarki konstitusional. 

Senin, 05 September 2011

Heading to Oslo

Gerbang kayu hitam besar itu dihiasi dengan tempelan puluhan kupu-kupu kertas, beberapa pos penjaga menandakan tempat ini merupakan perbatasan antara Swedia dan Norwegia. Saya menahan napas saat bus berhenti di salah satu pos dan seorang petugas imigrasi menghampiri supir bus untuk meminta daftar nama penumpang, secara tak sadar tangan saya meraba tas kecil yang berada di balik baju untuk memastikan paspor bersama barang berharga lainnya tetap berada aman disana. Pemeriksaan imigrasi selalu membuat saya berdebar-debar, tidak mau membuat kesalahan sekecil apapun yang menyebabkan saya bermasalah di negara orang. Petugas tersebut sepertinya cukup puas dengan memeriksa daftar nama penumpang dan bus dipersilahkan melaju masuk ke kawasan Norwegia, atau mungkin dia bosan dengan banyaknya kendaraan yang hilir mudik perbatasan ini dan notabene didominasi warga Uni Eropa sehingga pemeriksaan imigrasi berjalan cukup longgar. Entahlah, saya hanya fokus kepada satu fakta penting, saya berada di Norwegia sekarang.

 Pemandangan di sepanjang jalan menuju Oslo




Memandangi langit biru Swedia di belakang sana dari balik kaca jendela bus yang besar, mengingat kembali hari-hari menyenangkan bermandikan hangat sinar matahari musim panas bersama teman-teman baru, mencoba membaui udara yang sudah berubah dengan udara Norwegia dan bersyukur kepada Tuhan akan pencapaian perjalanan saya sejauh ini. Bahkan dalam mimpi saya yang paling gila sekalipun tidak pernah saya membayangkan pergi menjelajah Eropa seorang diri. Hutan hijau lebat melintas dengan cepat di balik jendela saya, cuaca mulai berubah menjadi lebih dingin dan gelap, barometer udara di dalam bus semakin lama menampilkan angka yang semakin rendah sejak kami melewati perbatasan Swedia - Norwegia. "Pasti di Norwegia nanti dingin", pikir saya sambil melirik jaket tipis yang setia menemani sejak boarding di Bandara Soekarno - Hatta, Jakarta. Rintik hujan mulai turun membasahi jalanan di luar sana, dingin mulai merasuk ke dalam bus dan angka barometer udara bus semakin anjlok lagi, saya teringat ramalan cuaca saat berada di Göteborg sore tadi, "Suhu akan mencapai titik tertingginya hari ini, 27 derajat Celcius namun sore hari diramalkan hujan akan turun". Saya memang sangat bergantung dengan prakiraan cuaca selama berada di benua biru ini, selama di Swedia ramalan cuaca dapat diandalkan kebenarannya. Sepertinya cuaca di zona perbatasan ini mirip dengan ramalan cuaca di Göteborg, pasti di Göteborg juga hujan sedang turun membasahi taman-taman kota.

Perjalanan Göteborg - Oslo memakan waktu selama empat jam, Swebus yang saya tumpangi sore hari dari Göteborg akan sampai di terminal Oslo pukul sembilan malam. Pemandangan sepanjang perjalanan tidak terlalu menarik minat saya, setelah tertidur beberapa lama saya terbangun dengan langit gelap dan awan kelabu yang menggantung di luar sana. Rumah-rumah penduduk mulai terlihat di sisi jalan, mobil pribadi juga mulai memenuhi sudut jalanan, sepertinya saya sudah sampai di pinggiran kota Oslo. Sambil merenggangkan badan untuk menghilangkan pegal karena tertidur di kursi bus yang keras saya menyiapkan diri karena jam di pergelangan tangan menunjukkan waktu setengah sembilan malam, sebentar lagi saya sampai ke Oslo. Bus menikung tajam dan memberi saya pemandangan baru yang menakjubkan, perairan Oslo terhampar lebar di bawah sana, yacht-yatch pribadi bersandar kalem dan memenuhi tepian perairan, tebing cadas tinggi kasar menjulang melingkupi perairan sekitar sekaligus menjadi background yang melengkapi pesona tempat ini. Awan kelabu menggantung rendah dan kabut yang mulai turun memberikan suasana magis yang langsung terekam dalam memori otak saya, beginilah cara Norwegia menyambut saya, dengan pesona alamnya yang memukau dan cuaca dingin tanpa ampun yang siap menyapa di luar sana. Dalam diam syahdu menikmati segala pesona alam ini saya tidak bisa membendung haru yang merasuk tanpa ampun, haru yang membuat saya mati-matian menahan air mata yang mulai menggenang di sudut mata. Saya sampai ke Norwegia, saya berhasil datang ke negara ini, semua kenekatan yang saya lakukan mengantarkan saya ke tempat ini, ucapan konyol saya yang berucap "Kalau nanti saya main ke Oslo" di kolom komentar salah satu teman blogger ternyata menjadi kenyataan. Mimpi ini terlalu indah untuk jadi kenyataan...

Langit kelabu Oslo dengan yatch di tepian perairan

***

Sepuluh menit menuju pukul sembilan malam bus memasuki terminal Oslo S, semua penumpang turun dan mengeluarkan bagasinya. Dengan jaket tipis yang melindungi badan dan ransel kecil tersampir di bahu saya siap menjejakkan kaki di Oslo, wuussh angin dingin langsung menerpa begitu saya keluar dari bus, cepat-cepat saya mengeluarkan ransel lainnya dari bagasi dan segera masuk ke dalam terminal yang hangat. Sesaat saya bingung, harus kemana dari sini? Saya sudah janjian dengan Felicity yang bersedia memberikan tumpangan di rumahnya selama saya berada di Oslo, dia akan menjemput di terminal pukul 21.10 sesuai dengan jadwal kedatangan bus saya. Ketepatan jadwal transportasi di Eropa memang selalu bisa dipercaya kebenarannya, hanya saja jadwal kedatangan saya ternyata lebih cepat 10 menit. Dengan dua ransel berat tergeletak di bawah bangku yang sedang diduduki saya mencoba mengirim sms untuk Feli dan mengabarkan saya sudah sampai di terminal Oslo S. Kartu Simpati di dalam ponsel telah berganti sinyal menjadi N NetCom namun sepertinya sms saya nyangkut entah dimana, waduh bagaimana cara mengabarkan Feli kalau saya sudah sampai dan menunggu di Gate 3 tempat bus saya tadi berhenti, bagaimana kalau dia menunggu di gate yang lainnya, daripada menunggu sampai bosan lebih baik saya berkeliling terminal ini, siapa tahu nanti ketemu Feli. Satu ransel besar tersampir di punggung sedangkan ransel day pack saya kaitkan ke bagian depan badan, aih saya terlihat begitu kurus dihimpit oleh dua ransel tebal ini, sip terminal ini siap untuk dijelajahi.

Menaiki eskalator saya langsung sampai di lantai dasar terminal, hanya dengan berkeliling sebentar saja saya bisa menyimpulkan kalau terminal ini mungil banget, tidak banyak yang bisa dilihat selain beberapa kedai makan yang sudah tutup. Lantai bawah tempat saya menunggu tadi lebih banyak didominasi dengan loker tempat penumpang dapat menitipkan barangnya, tarifnya 40 NOK (Norwegian Kronor, 1 NOK = Rp 1.650) untuk sewa loker selama 24 jam. Beberapa restoran dan mini market sepertinya buka sampai malam, perut mulai keroncongan saat teringat dari Göteborg tadi saya tidak sempat makan siang. Sial, saya tidak memiliki uang Norwegian Kronor karena belum menukarkannya di money changer, namun saat melihat harga-harga yang tertera untuk sebuah muffin atau kue lainnya yang dapat mengganjal perut mendadak saya hilang selera, mahalnya nggak nahaaann :(( Huff, sekarang bagaimana, apa yang harus saya lakukan? Mungkin sebaiknya saya tetap menunggu di gate kedatangan tadi dan mencoba mengirim sms lain untuk Feli, bersamaan dengan itu saya melihat seorang perempuan berkulit coklat berbalut jaket kulit melambaikan tangannya dan tersenyum kepada saya. Aah, itu pasti Feli...

***

Flashback. Semuanya berawal dari perkenalan kami lewat dunia blogger, blog Feli banyak bercerita tentang Norwegia, negara yang menjadi tempat tinggalnya sekarang. Awalnya hanya sedikit yang saya ketahui tentang Norwegia, perbendaharaan pengetahuan saya tentang negara yang terletak di Eropa Utara itu  hanyalah fjord (lautan yang menjorok ke dalam daratan) namun tulisan-tulisan Feli membuat saya mengenal Norwegia lebih baik lagi. Keindahan alam Norwegia seringkali menjadi suguhan utama dari postingan-postingan blognya, membuat siapapun yang membaca dan melihat foto-foto yang dipajang ingin pergi mengunjungi Norwegia dan mencicipi petualangan di alam bebasnya. Saya pun ikut tergoda untuk pergi mengunjungi Norwegia dan seringkali menulis "Kalau nanti saya main ke Norwegia..." di kolom komentar untuk tulisannya.

Feli tidak hanya mengenalkan saya kepada Norwegia, tapi dia pun memberi banyak dukungan dan bantuan sejak proses pembuatan proposal, pengajuan visa, sampai saya berangkat ke Eropa dan menghabiskan waktu di benua itu. Saya sudah menunggu-nunggu momen ini, saat dimana akhirnya saya bisa bertemu Feli di dunia nyata, di sebuah negara yang begitu jauh dari rumah, mewujudkan kata "Hugs" yang selalu menjadi penutup emailnya menjadi sebuah pelukan hangat sahabat yang dipertemukan oleh dunia maya. 

Hugs.... Pelukan hangat itu benar-benar membuat haru kembali menyeruak, saya berada di Oslo sekarang. 

Feli dan saya :)