Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Februari 2015

Bandara, Pesawat, dan Cinta Papa

Bandara Soekarno Hatta awal 2010

Banyak orang memulai pengalaman pertama mereka menggunakan pesawat saat masih kecil. Saya ingat, banyak teman SD bercerita pengalaman mudik mereka menggunakan pesawat. Saya juga ingat banyak cerita pendek di majalah Bobo yang menceritakan pengalaman teman-teman pembaca saat menggunakan pesawat. "Saat aku terbang, rumah-rumah dan mobil-mobil makin lama terlihat semakin mengecil seperti semut," demikian mereka mendeskripsikan pengalaman tersebut.

Sementara saya, baru memulai pengalaman tersebut saat ini. Menggunakan budget airlines dengan tagline terkenal mereka Now Everyone Can Fly. Yah, kalau bukan karena budget airlines yang memberi harga luar biasa murah, mungkin saya tidak akan pernah merasakan pengalaman terbang dan melanglang jauh ke negeri seberang. 

Kabin pesawat bergetar halus saat pesawat meninggalkan apron. Dari jendela saya melihat gedung bandara Soekarno Hatta yang tidak jauh berbeda dengan ingatan saya berpuluh tahun silam. Ya, walau ini adalah kali pertama saya menggunakan pesawat, namun bandara bukanlah tempat yang asing bagi saya. Lalu begitu saja. Seiring dengan makin cepatnya pesawat dipacu di runway, semakin berhambur pula kenangan demi kenangan masa kecil dalam memori. Menghadirkan perasaan campur aduk yang tidak dapat terdefinisikan kata-kata. Meluap hingga tenggorokan terasa sesak dan mata ikut panas. Saya ingat Papa. 

Dulu. Dahulu sekali ketika saya masih SD, papa sering membawa saya dan Adik ke bandara. Dengan berganti angkutan umum, Papa mengajak kami ke bandara. Bukan untuk terbang, tapi untuk melihat pesawat datang dan pergi. Saat itu lantai dua Bandara Soekarno Hatta dibuka untuk umum dan kami dapat duduk-duduk disana menikmati pertunjukan pesawat langsung di depan mata. Desingan keras pesawat terdengar saat lepas landas dan terbang ke langit luas, lalu berganti dengan decitan rem saat pesawat lain mendarat. Hanya pemandangan sederhana seperti itu, namun saya dan Adik luar biasa senang melihatnya. Tak pernah bosan. Kami berlarian kesana kemari untuk mendapat tempat terbaik melihat pesawat yang datang dan pergi, tak jarang kami melambaikan tangan kepada pesawat yang pergi walau tak ada satu orang pun yang kami kenal dalam pesawat tersebut, kadang saya bertanya dalam hati, kemana pesawat tersebut pergi. 

Saat itu terbang menggunakan pesawat adalah hal mewah dan mahal. Tidak semua orang dapat mencobanya. Namun tidak pernah terbit rasa iri saat teman-teman masa kecil bercerita pengalaman terbang mereka. Mungkin karena sering melihat pesawat take off dan landing saya jadi tersugesti untuk dapat merasakan sensasi terbang. Malah saya bisa membalas cerita mereka dengan pengalaman saya saat jalan-jalan ke bandara. Melihat orang-orang yang sibuk hilir mudik kesana-kemari membawa koper besar, melihat adegan perpisahan dan sambutan kedatangan, makan donat franchise asing yang selalu Papa belikan saat kami berada di sana, dan tentu saja yang menjadi atraksi utama di bandara: melihat pesawat besar datang dan pergi. 

Sesungguhnya bandara bukan tempat ideal untuk mengajak anak-anak rekreasi. Mungkin hanya Papa seorang yang menjadikan kegiatan ini sebagai acara rekreasi keluarga. Mungkin hanya kami yang datang ke bandara bukan untuk naik pesawat. 

'Aku lagi terbang, Pa,' bisik saya dalam hati. Berharap kalimat tersebut sampai ke Papa. Berpuluh tahun berlalu dari masa kecil saya, dan kini, saat ini, saya terbang. 

Sesungguhnya bandara bukan tempat ideal sebagai tempat bermain. Namun Papa berulang kali mengajak anak-anaknya kesana. Dia menatap kami berlarian dan melambai pada pesawat yang pergi. Dalam hatinya dia berucap, 'suatu hari nanti, pergilah, terbanglah, lihatlah dunia yang luas ini dengan mata kalian.' 

Dan saat itu, di dalam kabin pesawat, saya merasa sedang mendekap salah satu impian Papa.


Boarding Room Bandara Halim Perdanakusuma Maret 2014

Tak hanya Bandara Soekarno Hatta, Papa juga suka mengajak anak-anaknya pergi ke Bandara Halim Perdanakusuma. Itu baru saya ingat saat sedang menunggu di boarding room Bandara Halim Perdanakusuma. Saya mengulum senyum, lagi-lagi teringat Papa saat sedang berada di bandara. 

Berbeda dengan Bandara Soekarno Hatta, acara jalan-jalan ke Bandara Halim Perdanakusuma ini jauh lebih menyenangkan karena kami dapat melihat atraksi pesawat tempur yang menjadi bagian dari acara ulang tahun TNI AU. Suara pesawat yang mendesing terdengar berkali-kali lebih kencang. Pesawat tempur terbang begitu rendah hingga saya berjongkok takut terkena pesawat. Belasan hingga puluhan pesawat tempur kemudian terbang membentuk beragam formasi, mengeluarkan warna-warni asap di udara, begitu meriah hingga seluruh penonton bertepuk-tangan riuh. 

Senyum saya kemudian berganti menjadi gelengan kepala mengingat kebiasaan Papa membawa anak-anaknya ke bandara ini. Betapa tidak, jarak Bogor dengan kedua bandara yang berada di Jakarta ini tidaklah dekat. Dulu Papa tidak menggunakan bus Damri, beliau mengajak anak-anaknya naik turun angkutan umum demi dapat sampai ke bandara dan melihat pesawat. Satu waktu malah kami sekeluarga terlambat sampai ke Bandara Halim Perdanakusuma dan melihat atraksi pesawat tempur dari dalam bus padat penumpang. Tetap saja hal tersebut tidak mengurangi rasa antusias saya dan Adik, berdua kami menempelkan wajah di jendela bus demi dapat melihat atraksi pesawat tempur tersebut. 

Di bandara saya selalu merasa hati saya menjadi hangat oleh begitu banyak kenangan masa kecil. Saya merasakan cinta yang begitu besar dari Papa. Seorang yang bermimpi dan bercita-cita besar untuk anak-anaknya. Seorang yang menginginkan anak-anaknya mengembangkan sayap dan terbang sejauh yang mereka bisa. 

Dan kali ini, saya ke bandara bukan untuk melihat pesawat datang dan pergi. Saya ikut pergi dengan pesawat tersebut. Saya pergi untuk melihat dunia.


Tentang Papa

Kali pertama Papa terbang adalah saat beliau pergi naik haji. Sebuah pengalaman pertama yang tentunya akan sangat membekas di benak beliau. Papa akan dengan senang hati bercerita pengalamannya saat terbang. 

"Duh, capek teh," jawab beliau heboh. "Sembilan jam kaki Papa ditekuk di pesawat. Mana jarak antar kursinya sempit banget lagi." 

Saya melirik perut buncit Papa yang mungkin menjadi penyebab jarak antar kursi menjadi demikian sempit. 

"Papa baru tau. Ada ya pesawat sekelas metromini begitu. Kayaknya jumlah kursinya sengaja dibuat melebihi jumlah kursi normal biar bisa mengangkut banyak penumpang."

Saya hanya bisa menggelengkan kepala mendengarnya. Daya imajinasi Papa ini memang luar biasa hebat! Kemudian Papa berganti tanya pada saya, "kamu ke Eropa dulu berapa jam di pesawat?"

Saya mengingat sebentar, "Jakarta - Doha delapan jam, lanjut lagi Doha - Stockholm enam jam."

"Oh, nggak jauh beda ya sama Papa," ucapnya sombong.

Papa memang tidak mau kalah jika membandingkan pengalaman terbangnya kepada siapa pun. 

Pengalaman kedua Papa menggunakan pesawat adalah saat beliau pulang kampung ke Bengkulu. Hal di luar kebiasaan karena Papa lebih sering menggunakan mobil untuk pulang kampung. Selain itu jarak dari bandara ke kampung Papa masih berjarak lima jam perjalanan. Ini akan menjadi perjalanan Papa secara mandiri menggunakan pesawat. Tanpa ada yang menemani. 

Berbusa-busa saya menjelaskan proses dan apa saja yang harus Papa lakukan di bandara dan pesawat. "Inget ya Pa, turun di terminal 1C. Di dalem cari antrian maskapai ini yang menuju Bengkulu, tas yang ini masuk bagasi, tas yang ini masuk kabin. Papa udah aku daftarin web check in, dapet duduknya di dekat jendela darurat. Kursinya lebih luas kalau di daerah itu."

Yang dibalas Papa dengan nada congkak, "ah, kalau cuma duduk sempit selama satu jam penerbangan sih nggak masalah. Kalau sembilan jam penerbangan itu baru masalah." 

Saat hari keberangkatan, Papa mengirimkan satu pesan singkat dari boarding room.

'Iya teh, jalan-jalan. Ingat waktu teteh masih kecil kita naik bis mau nonton pesawat." 


Dan Papa pun ternyata merasakan apa yang selalu saya rasakan ketika berada di bandara. 

Kamis, 01 Januari 2015

Berpindah

Tahun 2014 kemarin keluarga saya mengambil satu keputusan besar: pindah rumah. Sebenarnya sudah lama kami ingin pindah rumah tapi kendala demi kendala selalu datang dan menghambat rencana besar tersebut. Saya dan mama adalah dua orang yang sudah masuk dalam kategori 'desperately' ingin pindah rumah. Daerah rumah lama kami memang sudah tidak nyaman lagi untuk menjadi tempat tinggal. Lahan industri telah mengekspansi lahan hunian, truk-truk besar semakin sering lewat, dan macet panjang ikut menjadi rutinitas harian. Saya yang jenuh dengan suasana tersebut malah sempat mengambil satu keputusan ekstrim: pindah ke rumah nenek di Bogor dan hanya pulang ke rumah saat akhir pekan.

Di tahun 2013 papa pensiun dari pekerjaannya. Sebagian uang pensiunnya beliau gunakan untuk membeli rumah di daerah Cibinong. Rumah baru ini berada di kawasan hunian yang mayoritas adalah perumahan. Akses kereta, jalan tol, pusat perbelanjaan dapat dicapai dengan mudah dari tempat tersebut. Benar-benar sebuah rumah di lokasi impian, berbeda 180 derajat dengan kondisi lingkungan rumah kami yang dulu. Masalahnya adalah, adik dan papa saya tidak mau pindah dari rumah lama sebelum rumah lama terjual. 

Keluarga saya pun terpecah. Saya tetap tinggal di Bogor dan hanya pulang saat akhir pekan, mama membagi waktunya dalam seminggu: empat hari di rumah lama, tiga hari di rumah baru, papa yang mendapat pekerjaan baru setelah pensiun tinggal di Karawang selama hari kerja dan hanya pulang saat hari libur, sedangkan adik saya tetap tinggal di rumah lama. Keadaan ini berjalan beberapa waktu hingga akhirnya saya dan mama saling memberi tenggat pada diri masing-masing: setelah lebaran Idul Fitri tahun 2014, kami akan pindah dan menetap di rumah baru. 

Di luar dugaan, pekerjaan baru papa hanya bertahan selama satu tahun dan beliau memutuskan pensiun total. Maka penghuni rumah baru pun bertambah satu orang lagi sementara adik saya yang keras kepala tetap kekeuh tinggal di rumah lama. Dia tidak mau pindah sebelum rumah lama terjual! Hati mama terbelah dua, anaknya yang satu masih tinggal di rumah lama dan yang satu lagi tinggal di rumah baru. Maka mama pun berkunjung ke rumah lama sesering yang dia bisa. Sering mama bercerita kesedihan hatinya melihat kondisi rumah dan adik saya yang tidak terurus. Bagaimanapun, mengurus dua rumah di dua lokasi berbeda yang berjauhan adalah sebuah pekerjaan berat. Hingga akhirnya mama sakit dan nyaris dirawat di rumah sakit. 

Kondisi mama yang sakit dan kami sekeluarga tahu persis apa penyebabnya membuat kami merancang ulang rencana yang telah dibuat. Rumah lama harus segera dijual dan kami sekeluarga berkumpul di rumah baru. Proses penjualan rumah tidak dapat dibilang mudah, bahkan cederung alot dan menguras emosi. Harga jualnya pun jatuh bebas di pasaran dan kami hanya mendapat setengah harga dari penawaran awal. Sedih, sakit hati, marah, semuanya campur jadi satu. Tapi keputusan kami sudah bulat. Setelah beberapa bulan bolak-balik mengurus ini-itu, rumah lama kami pun resmi terjual. 

Dan sampailah kami ke proses tersebut: pindahan. Awalnya barang-barang besar kemudian barang yang kecil-kecil. Lama-kelamaan, tanpa kami sadari, rumah lama kami menjadi kosong dan hampa. Pernah satu kali mama mengirim sms, mengatakan betapa sedihnya dia melepas rumah lama. Bagaimana tidak, rumah itu telah beliau tinggali semenjak beliau menikah lalu melahirkan anak pertama, anak kedua, melihat anak-anaknya tumbuh besar, masuk sekolah, lulus, kuliah hingga bekerja. Rumah itu telah menopang kehidupan kami nyaris 30 tahun lamanya. Semua cerita, suka, duka, tawa, tangis, canda, terekam di dalamnya. Rumah itu telah menjadi saksi kami bertumbuh menjadi sebuah keluarga. 

Saat saya membaca curahan perasaan beliau, hati saya sama sekali tidak tergerak. "Halah, mama lagi-lagi lebai dalam mengungkapkan perasaannya. As usual," ungkap saya dalam hati. 

Saya memang tidak terlibat banyak dalam proses pindahan karena hanya membantu saat akhir pekan. Minggu lalu, di penghujung tahun 2014, saya mampir ke rumah lama dan membantu pindahan. Rumah lama kami telihat dingin. Teralis jendela sudah dilepas, beberapa kaca sudah tercabut dari rangka jendela, rumpun melati tumbuh liar tak terurus, halaman kotor oleh daun yang rontok dari pohon belimbing besar di depan rumah. Pohon daun sirih yang menjadi kebanggaan mama mati karena pagar tempatnya tumbuh telah tercerabut. Saat saya membuka kunci rumah, saya hanya mendapati satu ruang kosong yang luas. Kosong. Hampa. Tanpa perabot apapun. Sementara papa mulai bekerja melepas untaian kabel di dapur, tanpa sadar saya bersandar di salah satu dinding dan mengelusnya perlahan. Dingin. Seakan rumah tersebut marah kepada kami. "Maaf...." bisik saya.

Setelah seluruh proses pindahan dan administrasi selesai, rumah itu akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah. Pohon belimbing di halaman akan ditebang. Semua kenangan disana akan menguap dan hanya tinggal di dalam memori. Lagi-lagi saya marah dan sedih pada keadaan. Bagaimana bisa, rumah yang telah kami tempati selama ini harus dihancurkan dengan harga jual yang sangat rendah. 

Saya paham perasaan mama. 

Namun saya pun menganggap itu semua adalah 'harga' yang harus dibayar untuk rumah impian kami. Rumah yang selalu kami angankan dan inginkan. Sungguh sebuah harga yang teramat mahal. 

Berpindah saya sadari adalah salah satu bagian yang paling sulit dalam fase hidup manusia. Pindah dari SD ke SMP, dari SMP ke SMU, dari SMU ke Perguruan Tinggi, dari Perguruan Tinggi ke lapangan pekerjaan, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari rumah lama ke rumah baru, dari teman lama ke teman baru. Karena dalam prosesnya, kita telah membuat jejak kepingan hati dan serpihan kenangan yang akan hilang dan tertinggal. Tapi bukankah kita harus terus melangkah maju jika yang 'lama' memang sudah dianggap tidak nyaman dan mengorbankan semua yang pernah kita miliki dengannya untuk menyongsong satu lembar kehidupan yang baru? 

Selamat tahun baru 2015. 

In memory of 'rumah lama'

Sabtu, 02 Februari 2013

Rumah Baru (lagi)

Hello blogosphere...

It's been a while since I wrote here. Nulis cerita yang tidak berkaitan dengan kata Toraja, Makassar, Teddy, dan 4 Hari Untuk Selamanya ;) I know I know, kalian juga mulai bosen bacanya kan. Jadi saya putuskan untuk stop dulu cerita 4 Hari Untuk Selamanya sampai ada update terbaru. 

So, nyadar sama perubahan yang terjadi dengan blog ini nggak? Template baru, header baru, avatar baru, secara keseluruhan blog saya menempati rumah barunya lagi untuk kali yang kesekian (saya lupa udah berapa kali blog ini gonta-ganti template). 'Rumah baru' ini khusus saya pesan ke Artika Maya, template dasarnya dibuat mirip dengan template lama saya yang masa pakainya sudah habis. So far saya puas dengan hasilnya, kesannya segar, ceria, dan fun. Semoga kalian juga betah ya main-main ke rumah barunya merry go round ini. 

Oh ya, ngomongin rumah baru, saya juga 'pindah rumah' dalam kehidupan nyata. Well, nggak pindah rumah beneran sih, makanya kata pindah rumah itu dipakaikan tanda kutip. Jadi, saya udah nggak betah dan capek banget ngadepin macetnya Jakarta (ada yang ngerasa macetnya Jakarta itu nambah parah nggak sih?), jadi saya putuskan untuk pindah ke Bogor, ke rumah almarhumah nenek saya. 

Kenapa Bogor? Bukankah jarak Bogor - Jakarta lebih jauh daripada Cibinong (tempat berdomisili saya sekarang) - Jakarta? Karena dari Bogor saya dapat menggunakan kereta commuter line, dengan demikian saya benar-benar terhindar dari kemacetan Jakarta. Jarak tempuh kereta Jakarta - Bogor memakan waktu 1.5 jam, lebih cepat dibanding jarak Jakarta - Cibinong yang dapat menghabiskan waktu hingga 3 jam (dan molor hingga 4 jam jika macetnya masuk dalam kategori parah). 

Let me tell you a secret, dari sekian banyak mode transportasi, saya paling horor menggunakan kereta. Di kepala saya kereta itu penuh dengan pencopet, pelecehan seksual, dan rawan dengan semua bentuk tindak kejahatan. Jadi keputusan pindah ke Bogor ini seperti me-refresh kehidupan per-komuter-an saya. Saya yang dulunya setiap pagi buta dan larut malam harus lari-lari mengejar bus, tarik urat leher saat menghadapi macet dan penumpang lain yang menyebalkan, sekarang harus menjejalkan diri berdesak-desakan dengan ratusan komuter lain dalam gerbong kereta. Ternyata rasanya seru! 

Untuk seorang komuter yang sering dikecewakan dengan jadwal bus yang hanya-Tuhan-yang-tahu-kapan-bus-tersebut-sampai-halte maka saya cukup puas dengan jadwal kereta yang cukup tepat waktu (walau tidak jarang terlambat juga). Saya dapat memperkirakan dengan tepat estimasi waktu yang diperlukan untuk pulang dan pergi kantor, pun dapat berangkat kerja lebih siang dan tidak kemalaman sampai ke rumah. Dan yang paling utama dan paling penting, otak saya tidak ikut ruwet dan stress menghadapi macetnya Jakarta. 

Berbicara tentang rumah nenek, tempat ini menyimpan banyak kenangan masa kecil dan masa perkuliahan saya. Dulu saya menghabiskan sebagian besar masa kecil di rumah nenek, bersama nenek yang selalu menjaga saya. Seiring waktu, kulit nenek semakin berkeriput, jarak pandangnya tidak jauh lagi, dan dia tidak sanggup berjalan jauh walau untuk sekedar membuang sampah ke depan gang rumah. Nenek selalu menyambut ramah semua cucu yang datang mengunjunginya, walau dia harus melihat lekat-lekat dengan jarak kurang dari 20 cm untuk dapat mengenali wajah cucunya. Jika waktu kuliah sedang senggang saya selalu menyempatkan mampir ke rumah nenek, membawakannya es krim untuk dinikmati bersama, mengobrol tentang hal apapun, dan membaui wangi khasnya yang selalu membuat saya merasa nyaman.  

Rumah nenek tidak banyak berubah, lingkungan sekitarnya juga tidak banyak berubah walau rumpun bunga pukul empat tempat saya dan adik bermain petak umpet sudah tidak ada lagi. Setiap berjalan melewati gang menuju rumah nenek saya selalu teringat dengan satu janji yang tidak sempat terpenuhi, janji untuk membelikan nenek kursi roda dengan gaji sendiri. Saya ingin mengajak nenek berjalan-jalan melihat kota Bogor yang sudah banyak berubah, mengajaknya keluar dari pojokan rumah mungil dan nyaman itu. Janji itu tidak sempat terwujudkan karena nenek meninggal hanya beberapa hari sebelum saya memulai hari pertama bekerja. 

Bogor memang menyimpan banyak kenangan untuk saya. Sekarang kota itu yang menjadi pilihan saya sebagai tempat tinggal. Sebuah kota kecil dengan curah hujan tinggi yang selalu membuat saya merasa nyaman. Semoga rumah baru blog ini juga bisa membuat kalian nyaman untuk bertandang :)

Sabtu, 05 Mei 2012

Dasi Wisuda

Siapa di antara kalian yang pandai mengikat dasi? Siapa yang semasa kecilnya selalu membantu sang Ayah mengikat dasi di kerah kemejanya sebelum beliau berangkat kerja? Saya tidak. Saya, mama, dan adik saya tidak tahu cara mengikat dasi. Seumur hidup kami selalu asing dengan sehelai bahan panjang yang terikat manis di kerah kemeja pria. For simple reason cause my dad never wear tie for the rest of his life.

Papa berasal dari kelas pekerja lapang yang lebih sering bergulat dengan pekerjaan di luar ruangan. Dasi bukanlah sesuatu yang beliau butuhkan. Dia lebih memerlukan helm untuk melindungi kepala saat melakukan pekerjaan dibanding dasi sebagai atribut kerja para pekerja kantoran. Dia lebih memerlukan sapu tangan untuk menyeka keringat karena sengatan sinar matahari akan setia menemaninya bekerja seharian. Dia lebih memerlukan sebuah tempat minum mungil yang bisa membantunya melepas dahaga juga menjaga kesehatan ginjalnya karena dia tidak bisa bolak-balik pergi ke dispenser air minum di tengah pekerjaannya.

Keluarga kami bukanlah kalangan keluarga berada yang dapat memenuhi segala kebutuhan keluarga hanya dengan menjentikkan jari. Cukup. Kami merasa telah diberi cukup rezeki oleh yang Maha Kuasa. Karena pada dasarnya manusia adalah mahkluk yang tidak pernah puas maka kami lebih memilih merasa cukup dibanding terus-menerus merasa kekurangan materi. Orang tua kami selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan kedua anaknya, walau tidak bisa dipenuhi pada saat itu juga mereka akan berusaha untuk memenuhinya di kemudian hari. Atau mungkin di kemudian bulan…

Pernah suatu kali adik saya merengek ingin makan ayam di gerai cepat saji yang berjanji memberikan hadiah mainan jika kami makan disana. Si adik seringkali melihat iklan promosi tersebut dari majalah Bobo yang kami baca bersama. "Iya, nanti kita makan disana ya”, janji Papa saat anak bungsunya lagi-lagi merengek. 

Pada akhir bulan, ketika gaji beliau telah dibayarkan, Papa mengajak kami sekeluarga pergi ke Bogor tempat gerai ayam cepat saji tersebut berada. Dengan menggunakan bus karena saat itu kami hanya memiliki sebuah Vespa tua untuk menunjang mobilitas sehari-hari.

Saya dan adik duduk bersebelahan di kursi yang mengelilingi sebuah meja mungil. Adik saya terus-menerus menggoyangkan kakinya, terlalu excited karena sekarang dia berada di tempat makan yang iklannya selalu dia lihat di majalah Bobo. “Teteh sama Pipik mau makan apa?” tanya Papa sebelum beliau pergi memesan.

“Ayam”, jawab saya polos. Bukankah kami sedang berada di tempat makan yang menjual ayam? Apalagi yang bisa saya makan selain ayam?

“Mau bagian paha, dada, atau sayap?”, Papa bertanya lagi.

“Maunya ayam”, saya belum mengerti bahwa daging ayam yang dijual dibagi ke dalam bagian-bagian tertentu. Kalau dada berarti banyak daging dan tulangnya sedikit, sedangkan kalau bagian sayap terdiri dari tulang lunak ayam dengan sedikit daging yang mengitarinya.

Papa menyerah menanyai saya dan beralih ke anak bungsunya “Kalau Pipik mau apa?”.

“Pipik mau yang mainannya skuter Pa”, adik saya ini sejak awal memang tidak terlalu tertarik untuk makan ayam di gerai cepat saji sepertinya. Dia lebih tergoda dengan iming-iming hadiah yang ditawarkan dibanding makanannya. Dan kami pun menghabiskan sisa malam itu dengan makan di gerai cepat saji. Terasa canggung karena kami tidak terbiasa makan di tempat seperti itu. Sedangkan adik saya dengan ceria memainkan skuter mainannya di atas meja sementara mama memaksanya makan dan menyuapinya.

Di perjalanan pulang, adik saya tetap asik memainkan skuternya. Sambil membelai kepala anak lelaki kesayangannya ini Papa seperti bergumam, “Gimana Pik? Enak nggak ayamnya?”.

“Enggak, lebih enak ayam goreng buatan mama”.

Setan kecil ini telah mengusik pikiran Papa selama beberapa minggu terakhir dengan permintaan anehnya, mengerjai kami sekeluarga untuk pergi sedemikian jauh ke Bogor, hanya untuk sebuah mainan dari gerai ayam cepat saji. Papa hanya geleng-geleng kepala. Inilah akibatnya kalau anak kecil digoda oleh iklan.

Kejadian ini sepertinya sangat membekas di hati Papa. Ketika kami beranjak dewasa beliau seringkali bercerita tentang hal ini. Dari sudut pandang beliau tentu saja. “Papa tuh pusing dan nggak ngerti gimana caranya makan di gerai fast food. Gimana cara mesennya, berapa harganya. Papa sampai tanya-tanya sama teman yang pernah makan kesana. Kalian tahu nggak berapa uang yang Papa bawa waktu itu? Nyaris setengah gaji Papa bawa kesana karena takut uangnya nggak cukup. Eh, ternyata harganya segitu aja, ternyata rasa ayamnya segitu aja, ternyata si Pipik pengen mainannya doangan. Terus sekarang kalian udah bisa pergi sendiri ke gerai fast food”. Kemudian beliau akan tertawa ceria mengingat masa beberapa puluh tahun silam tersebut.

Keluarga kami bukanlah keluarga yang berlebih, tapi orangtua kami selalu menempatkan pendidikan di urutan nomor satu. Papa ingin anak-anaknya dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Lebih tinggi daripada yang pernah beliau dapat. Jika saya dan adik bertanya “Pa, aku pengen ikut les Bahasa Inggris. Ada dananya nggak?’. Tidak sampai satu detik setelah kami melontarkan pertanyaan tersebut Papa akan langsung menjawan “Ada!” dengan nada tegas. Seakan untuk menguatkan dirinya sendiri bahwa dia dapat menyediakan dana lebih untuk memenuhi keinginan anak-anaknya.

Di belakangan hari. Ketika saya beranjak dewasa, masa dimana saya lulus kuliah dan memiliki pekerjaan sendiri, saya baru tahu bahwa beliau jungkir balik mencari uang untuk membayar semua biaya les yang kami ambil… Pun saya baru tahu bahwa mama juga melakukan pengorbanan yang tidak kalah besarnya.

Kedua orangtua kami selalu mengalah demi kebutuhan akademik saya dan adik. Mama rela tidak memiliki rumah idamannya demi memiliki simpanan yang cukup untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Papa rela terus-terusan memakai Vespa tua yang suaranya berisik tiada tara dan menjadi sasaran ledekan anak buahnya. Beliau lebih suka melihat anak-anaknya sibuk pergi mencari ilmu dibanding mengendarai sebuah mobil baru yang deru mesinnya halus.

Saya tidak akan pernah melupakan teriakan membahana yang mengucapkan kata Hamdallah di pagi buta saat kami sekeluarga menelusuri satu persatu daftar nama peserta SPMB yang lulus ujian di koran pagi dan menemukan nama saya tertera disana. Saya selalu ingat tangisan bahagia papa dan mama ketika wali kelas adik saya mengabarkan anak bungsu mereka lolos saringan UMPTN di sebuah universitas negeri terkemuka di kota Semarang. Bahkan saya masih merasakan tangan saya bergetar saat menelpon rumah seusai sidang skripsi dan mengabarkan kelulusan saya. Di seberang sana saya dapat mendengar suara papa bergetar mengucapkan syukur kepada sang Maha Pencipta, suara saya saya pun kalah dengan isak tangis yang mengiringi saat saya mengucapkan terimakasih kepada beliau. “Makasih Pa, udah nyekolahin aku sampai setinggi ini”.

Beberapa minggu yang lalu adik saya, si anak bengal yang seringkali menyita pikiran orangtuanya itu, akhirnya menamatkan studi S1 nya. Anak kebanggaan papa itu berhasil jadi insinyur mesin. Di malam hari sepulangnya saya dari bekerja papa mengungkapkan semua perasaannya dengan linangan air mata. Betapa dia sangat bangga dengan kedua anaknya yang berhasil jadi sarjana dari universitas negeri. Papa tidak peduli dengan cibiran orang lain, papa tidak ambil pusing saat orang lain berkata buruk tentangnya di belakang punggungnya, dia bisa membalas semua itu dengan teriakan kemenangan “Kedua anak saya lulus S1 dari universitas negeri. Tak mengapa kekurangan secara materi tetapi saya berhasil mengantarkan anak saya jadi sarjana”.

Papa selalu terlihat kuat dan tegar di mata kami. Papa adalah sosok idola saya. Di belakang, saya pun tahu bahwa Papa adalah seorang sosok yang amat rapuh.

Di hari wisuda lagi-lagi masalah dasi menjadi pengingat saya akan semua pengorbanan dan perjuangan papa. Saya sengaja membelikan sehelai dasi untuk adik saya kenakan di hari kelulusannya. Sebelum bergabung dengan wisudawan lain dia menghampiri saya dengan panik, “Ini gimana cara gue ngiketnya teh”.

“Eh, mana gue tau”. Waktu mantan saya seminar pra-sidang dulu teman-temannya sibuk mengingatkan saya untuk membetulkan letak dasinya yang miring. Saya cuma tertawa-tawa dan pura-pura meyakinkan dasinya baik-baik saja sampai akhirnya seorang teman perempuan lain berinisiatif untuk membetulkan dasinya. Bahkan saya tidak bisa melihat apakah dasi itu terikat dengan baik dan benar, apakah dasi tersebut miring atau tidak, I can’t Tie a Tie for God sake!

Dasi hadiah itu akhirnya tergeletak sia-sia di kotaknya. Adik saya masuk ke gedung wisuda dengan kemeja tanpa dasi di bawah toganya. Dia berjalan bangga dan tidak peduli dengan ketidakhadiran dasi sebagai pelengkap atributnya di hari itu. Dia seakan berkata “Yeah, gue nggak pake dasi, bokap gue juga nggak pernah pake dasi seumur hidupnya. Tapi gue lulus kuliah berkat dana dari hasil jerih payah bokap gue yang pekerjaannya tidak berdasi. So what???”.


Kedua orangtua saya berjalan dengan bangga mengapit si bungsu masuk ke dalam gedung wisuda. Seremoni wisuda tidak hanya perayaan bagi para wisudawan yang berhasil lulus kuliah, tapi juga perayaan bagi semua orangtua yang berhasil mengantarkan anak-anaknya lulus kuliah. Baik para orangtua maupun para anak semuanya telah berhasil dengan caranya masing-masing.

Untuk mama dan papa paling hebat sedunia, ungkapan terimakasih kami tidak akan pernah cukup. Materi tidak akan pernah bisa membalas semua pengorbanan yang telah kalian lakukan. Yang bisa kami berdua lakukan hanyalah membuat bangga kalian dengan apa yang kami telah capai dan raih. Dan segala hal yang kami lakukan selalu berujung pada sebuah keinginan untuk membuat kalian bangga.


Tunggulah… Sabarlah… Kedua anakmu yang bengal ini masih ingin terus membuat kalian bangga. 

Selasa, 24 Mei 2011

Pejuang Mimpi

Pejuang mimpi no. 1: Mama

Sekarang mama punya kegiatan baru: belajar ngaji. "HAH.. mamanya Ocha belum bisa ngaji?", pasti itu ya pertanyaan yang langsung terlintas saat membaca kalimat barusan. Iya, mama saya memang belum bisa ngaji. Tapi menurut saya, ibadah seseorang atau hubungan seseorang dengan Tuhan tidak ditentukan dengan kemampuan mengajinya.

Mama tidak sempat mendapat pelajaran mengaji di bangku sekolah. Dulu sekolah beliau masih merupakan sekolah kristen sehinggan pelajaran agama Islam ditiadakan, malah terkadang mama harus ikut berdoa dengan jemaat gereja. Setelah lulus sekolah, menikah, punya anak, dan bla-bla-bla, dengan segala kesibukannya mama semakin tidak punya kesempatan untuk belajar ngaji. Kendala umur yang 'tidak lagi muda' juga menyulitkan beliau untuk mendapat guru ngaji dan metode belajar yang sesuai. Yah, rasanya sudah jamak di masyarakat kita kalau setiap orang Islam pasti bisa mengaji, jadi akan sangat aneh jika orang seusia mama baru belajar mengaji di usianya yang sekarang.

Walau mama tidak bisa mengaji, beliau tidak ingin anak-anaknya mengalami nasib yang sama. Beliau menekankan pentingnya pendidikan agama dan mewajibkan saya dan adik untuk ikut kelas mengaji setelah jam sekolah. Terkadang mama melihat buku Iqro milik saya atau adik dengan pandangan penasaran dan kerinduan yang mendalam. Mama juga terkadang meminta saya untuk mengajarinya mengaji, tetapi selalu menyerah di tengah jalan karena merasa kesulitan untuk mengingat berbagai huruf arab yang asing di matanya.

Jadi bagaimana cara mama beribadah jika beliau tidak bisa mengaji? Mama menggunakan bacaan latin yang sering dituliskan di bawah tulisan arab. Beliau menghafalkan bermacam surat dan doa lewat bacaan latin tersebut. Mama tidak pernah menceritakan perasaannya karena tidak mampu mengaji, tapi tanpa dia bilang pun saya tahu kalau beliau sedih. Sangat sedih.

Seperti mama yang lain, mama saya juga rajin beribadah. Pagi - siang - malam dia selalu beribadah dan mendoakan kami sekeluarga. Tuhan menjadi temannya yang paling dekat saat mama memiliki masalah, Tuhan menjadi pelariannya saat beliau merasa sedih, Tuhan adalah tempat mama mencurahkan tangis, doa, syukur, dan harapan. Mama memang tidak bisa mengaji, tapi selalu melakukan perintahNya dan berusaha menjadi umat yang taat. Lihatlah saya yang bisa mengaji tetapi sering menunda salat, lalai dalam menjalankan perintahNya, bahkan Al-Quran sepertinya hanya menjadi hiasan di atas rak buku. Apalah gunanya pintar mengaji jika tidak bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari? Apa hebatnya pintar mengaji jika kemampuan tersebut tidak pernah digunakan?


Mama sekarang belajar mengaji dengan beberapa temannya yang ternyata juga belum bisa mengaji. Buku Iqro kecil menjadi temannya yang paling setia. Malam minggu kemarin, setelah saya pulang bermain dengan teman-teman, mama meminta saya untuk mengajarinya mengaji. Sembari menyimak pelafalan abjad arab yang masih patah-patah, saya jadi merasa sangat berdosa. Dosa kepada mama karena kurang meluangkan waktu untuk mengurus dan menjaga beliau. Dosa kepada Tuhan karena saya sering melupakanNya, karena saya lebih sering meminta dan meminta daripada bersyukur.

Apa motivasi mama sehingga mau susah payah belajar ngaji? "Supaya pas berangkat haji nanti mama bisa baca ayat-ayat Al-Quran tanpa pakai terjemahan", jawab beliau setelah menyudahi pelajarannya malam itu.

Ya Allah, Kau sudah 'menamparku' dengan cara yang paling halus. Saya malu dengan diri sendiri. Malu sama mama, malu kepadaMu...

Mama tidak perlu malu dengan lingkungan sekitar yang mencemooh ketidakmampuannya mengaji, mama tidak perlu takut pembaca tulisan ini akan menjelek-jelekkan saya dan mama, mama tidak perlu minder karena tidak bisa mengaji. Yang harusnya malu justru saya dan orang-orang yang tidak bisa beribadah sebaik mama, yang tidak atau jarang mengaji padahal memiliki kemampuan membaca tulisan arab. Mama hanya boleh takut dengan Allah.

Untuk mamaku sayang yang sekarang sudah naik ke tingkat 2, terimakasih selalu menjadi inspirasi hidup dalam segala perbuatan dan perkataanmu. Love you mom.

Pejuang mimpi no. 2: Pusti

Manusia konyol yang mampu melumerkan suasana disekitarnya ini sudah menjadi office mate saya sejak dari kantor cabang. Pusti adalah tipe orang yang bisa membuat suasana menjadi meriah. Celetukan segar dan banyolan konyol yang tidak pernah terlintas di kepala saya bisa keluar dari mulutnya. Dia adalah orang yang mudah berbaur dengan lingkungan baru dan disukai banyak orang. Yang paling membuat saya salut, Pusti bisa menjadi orang yang melakukan suatu kecerobohan, ditertawai dan diolok-olok seisi kantor sampai mau mati, tapi tetap bisa tertawa dan bahkan menambahkan olok-olokan tersebut. Suatu kondisi yang tidak akan mampu saya hadapi dengan cara sesantai dia.

Saat ini kantor kami mengadakan kompetisi menyanyi yang melibatkan seluruh grup perusahaan yang tersebar di empat negara; Indonesia, Malaysia, Thailand dan Singapore. Nominal hadiahnya menggiurkan plus kompetisi grand final dan final dilakukan di negara yang berbeda (dengan kata lain bisa jalan-jalan ke negara tetangga gratis). Tahun lalu teman-teman kantor cabang merekomendasikan Pusti untuk ikut mendaftar, sayangnya dia sibuk dengan persiapan pernikahan. Tahun ini, di kantor baru dengan teman-teman yang sama sekali baru, saya merekomendasikan Pusti untuk ikut berkompetisi.

To be honest, saya tidak tahu kalau Pusti bisa menyanyi dengan baik. 'Tantangan' saya agar dia ikut berkompetisi membuat saya mendengarkan salah satu rekaman suaranya. Nggak nyangka, si manusia konyol ini suaranya bagus juga, "You've got the talent Pus, go for the competition" saya makin semangat menyemangati. Sambil nyengir nggak keruan karena berhasil membuat saya terpesona dengan bakat terpendamnya dia menjawab, "Pengen sih, tapi gue nggak PD Cha".

Hah?! Orang seperti Pusti nggak PD-an? Dengan segala kegilaan yang telah dilakukan dia masih kurang PD menghadapi juri dan bernyanyi di depan banyak orang? Mustahil! "Gue belum pernah nyanyi di depan banyak orang" salah satu alasan ini terlontar saat kami istirahat makan siang. "Lagian kan badan gue masih melar abis ngelahirin". Ya ampun, bener-bener bukan Pusti yang saya kenal. Makin gemas dan kesal kalau dia sampai tidak ikut kompetisi ini, "Just try it Pus. Paling nggak lo pernah nyoba. Urusan menang atau kalah sih belakangan, yang penting lo udah berani nyoba". Saya sudah di tahap nekat, kalau Pusti masih kekeuh tidak mau ikutan, maka saya yang akan mengisi formulir atas nama dia dan mengirimkannya.

Ternyata Pusti termakan omongan saya juga. Dua hari sebelum penutupan pendaftaran dia mengirim formulirnya. "Paling nggak gue pernah nyoba", dia mengulang kalimat yang saya ucapkan untuk meneguhkan niat. Just try it. Life is about taking chances and challenges. Make a rhyme on your life, make a splash. Rasanya sia-sia jika masa muda dilewatkan begitu saja dengan hal-hal yang monoton. Buat ritme, cari kegiatan baru, tantang diri untuk melakukan hal yang baru, make a splash on your life.




Hari minggu kemarin kompetisi diselenggarakan. Saya yang bertanggung jawab 'menjerumuskan' pusti merasa perlu untuk menemani dia. Yah, Pusti harus gagal di seleksi kedua, tapi dia menang melawan ketakutan, kepesimisan dan segala pikiran negatif yang menghadang untuk mengikuti kompetisi ini. "Maaf ya Cha gue kalah", ucap Pusti selesai acara. "Nooo, don't feel sorry because you're not win the competition. Lo udah menang melawan diri sendiri lagi dan gue sangat menghargai itu. You must proud of it". Sambil mengemasi barang bawaan tiba-tiba bijaknya saya kumat, "Lagian, kalo nggak pernah nyicipin kalah mana bisa menghargai kemenangan". Yeah, kadang saya bisa amat bijak terhadap orang lain, namun tidak untuk diri sendiri.


Pejuang mimpi no. 3: Saya

Saya. Eerr... Bukan siapa-siapa. Saya hanya orang biasa dengan segudang mimpi. Mimpi yang kalau saya bagi dengan orang lain pasti akan mendapat tanggapan "Muluk amat sih mimpi lo". Saya? Saya hanyalah seorang newbie di dunia blogging, menulis dan jalan-jalan. Mimpi saya yang paling gila: jalan-jalan ke Eropa dan nulis buku sendiri. Muluk kan? 

Dengan semua ucapan yang pernah saya keluarkan untuk menyemangati orang lain untuk mengejar mimpinya, ternyata saya seringkali keteteran juga untuk mengisi penuh baterai semangat dalam mengejar mimpi ini. Mimpi bukan sekedar khayalan atau angan-angan belaka, tetapi dia menunggu untuk diwujudkan. Butuh semangat, kerja keras dan usaha pantang menyerah untuk memperjuangkannya. Memperjuangkan mimpi. Apakah kita bersedia berjuang sepenuh hati untuk mewujudkannya atau membiarkan mimpi tersebut selalu menjadi imaji dalam kepala, it's your choice.

Si Muluk

PS: Belum ada ending untuk cerita yang terakhir, orangnya masih berusaha mewujudkan mimpinya :)

Rabu, 06 April 2011

Poporin

Perkenalkan
Haaiii… Kenalkan, namaku Poporin.

 Porin umur 3 bulan, badannya masih kecil banget bahkan untuk digendong dengan tangan saya. 

 

Aku diadopsi keluarga teh Rossa waktu umur tiga bulan. Sebenernya mama papa nggak ngijinin teh Rossa untuk pelihara kucing, tapi mungkin mama papa kasihan juga ngeliat teh Rossa yang belum punya kesibukan baru setelah lulus kuliah (baca: lagi jadi pengangguran) akhirnya mereka ngebolehin aku untuk ikut dibawa pulang deeehh...

Sebenernya teh Rossa pengen adopsi Molly, saudara kembar aku. Molly emang lebih cantik dibanding aku, bulunya warna kuning, gendut, lucuuu banget. Tapi aku nggak mau kalah dong, pas pertama teh Rossa mampir ke kandang aku langsung bermanja-manja dan ngajak dia main. Yaahh... tapi teh Rossa salah tanggep waktu itu, dia malah nganggep aku kucing SKSD... Hiks biarin deh, yang penting usaha. Lagian Molly kan udah dibeli sama orang laen, aku udah denger-denger dari majikan yang sekarang kalau aku yang akan dikasih untuk teh Rossa. Hehehee.. walau baru umur tiga bulan, aku ada bakat jadi intel juga ternyata.

 

Waktu diajak pulang sama teh Rossa aku merengkut di pangkuan dia. Naik mobil itu serem banget, aku pusing lama-lama di dalem mobil. Sabar sabar... Sebentar lagi sampe ke rumah baru. Aku seneng banget pas liat rumah teh Rossa, di depan dan samping rumah ada kavling yang belum diisi jadi tempat main aku lebih lega. Horeee...


Awalnya teh Rossa bingung mau ngasih nama aku apa. Semua nama yang dia coba nggak ada yang sreg di kuping aku dan aku emoh untuk nengok. Sampe suatu hari tiba-tiba dia manggil aku dengan manis ‘Poporiiinnn....’. Aku suka nama itu dan langsung setuju. Tapi lama-lama teh Rossa cuma manggil aku Porin, mama papa malah lebih parah manggil nama aku dengan Poling. Akhir-akhir ini malah aku lebih sering dipanggil Olin, jadi berasa punya nama Caroline.

Aku dan Keluarga
Yang butuh adaptasi di rumah baru ternyata bukan cuma aku, keluarga teh Rossa juga musti adaptasi dengan kehadiran aku. Mama nyediain tempat tidur buat aku di dapur, tapi aku takut tidur di dapur sendirian. Akhirnya aku garuk-garuk pintu dapur semaleman supaya dibolehin tidur di ruang tamu. Teh Rossa juga ngajarin aku untuk poop dan pipis di kotak pasir, cuma kadang aku suka bandel poop nggak di kotak pasir. Akhirnya teh Rossa suka marahin aku. Untung aja aku cepet belajar untuk poop dan pipis di luar rumah jadi nggak ngerepotin orang lain lagi.


Kalau mama harus ngorbanin sofa yang baru dibeli jadi penuh dengan bekas kuku-kuku kecilku. Abis aku kan masih kecil, jadi kalau naik ke kursi nggak bisa sekali loncat. Pasti harus nyangkutin kuku di pinggiran sofa terus ngerayap naik. Maaf ya ma, sofanya jadi nggak cantik lagi. Terus pas aku udah lumayan gede aku sering ngancem bakal nyakar sofa kalo nggak diijinin keluar rumah. Aku seneng keluar rumah pas malem hari. Eits, bukan berarti aku kucing malam seperti si kupu-kupu malam yang tenar itu ya. Malem-malem itu banyak binatang kecil yang keluar, terus bulannya indaaahh banget. Makanya aku betah nongkrong malem-malem di pager rumah sambil ngeliat bulan. Ah, aku memang kucing melankolis.

Waktu teh Rossa mulai sibuk sama kerjaan kantor aku kesepian di rumah. Mau nggak mau aku musti akrab-akrabin diri sama mama papa. Mama sih hatinya gampang direbut, tapi kalo deketin papa musti pake usaha ekstra. Papa yang paling nggak setuju waktu teh Rossa mau pelihara aku. Tapi lama-lama papa lengket juga tuh sama aku, malah jadi orang yang paling sayang sama aku. Hihihi... Oh iya, karena teh Rossa jarang ngabisin waktu sama aku jadi hubungan kita rada renggang, apalagi teh Rossa suka nguyeng-nguyeng aku sangking gemesnya sama badanku yang gendut. Uh, aku jadi musuhan sama dia. Abis kan diuyeng-unyeng itu bikin badan sakit dan kepala pusing.

 
Aku sayang papa :*

Yang lebih nyebelin lagi teh Rossa tuh paling rajin mandiin aku. Sebenernya enak sih dimandiin, badan aku digarukin pake shampoo wangi, terus bulu aku jadi ngembang dan haluuuss banget. Kucing model di bungkus Whiskas sih kalah. Cuma aku sebel waktu bagian ngeringin bulu pake hair dryer, berisik banget! Udah gitu panas lagi. Belom lagi teh Rossa nggak ngebolehin aku keluar rumah abis selesai mandi. Huuuhhh, siksaan batin!

Oh iya, kalo sama Aa Topik aku kurang akrab. Abis dia kan kuliah di Semarang jadi jarang pulang dan main sama aku. Tapi diem-diem dia perhatian looohh sama aku. Aa Topik sering sms mama cuma untuk nanyain kabar aku. Aaahhh too tweett.... Terus kata teh Rossa, Aa Topik bikin album yang isinya foto-foto aku gitu di Facebook nya dia. Bahkan avatar di YM nya juga foto aku. Hihihii, aku memang kucing yang lovable ya. Ini nih beberapa foto dari album Aa Topik di Facebook yang berjudul My Lazzy Cat:




Paling rusuh kalo Aa Topik lagi di rumah. Dia sama teh Rossa sering kompakan ngerjain aku. Pas aku lagi tiduran di kasur mama yang empuk dan luas tiba-tiba mereka dateng dan ikut tidur-tiduran sambil ngejailin aku. Nanti nggak lama mama dateng karena mereka berdua berisik banget, eh mama malah gabung tiduran dan jailin aku. Terus teh Rossa manggil papa untuk gabung. Udah deh, semuanya tumplek jadi satu. Berisik, ribut, iseng, akunya pusing dan stress, tapi seneng. Pokoknya aku sayang banget sama keluarga ini.

Anggota Keluarga Nomor 5 dan Predikat Anak Ketiga
Teh Rossa sering banget bilang kalo aku lebih dari sekedar kucing peliharaan. Derajat aku udah naik jadi anak ketiga dalam keluarga, abisnya aku kelewat manja dan kelewat disayang sama mama papa. Setiap ngobrol-ngobrol pasti mereka ngebahas perilaku aku yang kelewat manja; makan musti ditungguin lah, cemberut waktu ditinggal sendirian di rumah lah, ngejebol atep rumah karena aku terlalu gendut lah, tapi walau gimana mereka tetep sayang sama aku.

Aku sering nemenin mama berkebun. Ini tempat favorit aku, disini banyak taneman, rimbun, teduh dan nyamaaann banget. Biasanya kalau mama lagi sibuk ngerapihin tanaman aku ikut-ikutan sibuk. Bolak-balik hilir mudik di depan mama, mainin rumput yang baru dicabutin, nyenggol-nyenggol mama pake buntut, macem-macem deh. Biasanya mama juga ngajakin aku ngobrol sambil berkebun, padahal mama tau aku nggak bisa jawab tapi tetep aja aku diajak ngobrol. Berasa ngobrol ke anak kali ya.

Jujur nih, tempat yang paling aku hindarin di rumah adalah kamar teh Rossa. Tau sendiri kan hubungan aku sama dia kurang baik. Tapi aku tau kok teh Rossa tuh sayang sama aku, aku juga benci-benci rindu gitu sama dia. Nah, kalo malem-malem pasti pintu kamar dia yang jadi sasaran digaruk sama aku, abis mama papa udah tidur dan nggak bisa dibangunin. Kalo teh Rossa tidurnya malem banget, jadi cuma dia yang bisa diandelin pas malem-malem.

Biasanya teh Rossa cuma buka pintu kamarnya pas aku garuk-garuk pintu dia. Uh, padahal kan aku pengen minta ditemenin makan. Aku nggak suka makan sendirian. Udah tau aku kelaperan tapi dia cuek aja ngetik di depan laptop. Aku udah bunyi ngeong-ngeong dia tetep nggak peduli (FYI, aku termasuk kucing pendiem yang jarang bunyi. Kalo aku udah bunyi itu artinya udah gawat banget). Hhhhh... kalo gini sih satu-satunya cara dapet perhatian dia adalah dengan lompat menerjang laptopnya. Biasanya teh Rossa suka histeris kalo aku udah nerjang laptopnya dan lanjut merepet ngomel-ngomel sambil nemenin aku makan. Yes, misi berhasil!

Ngomong-ngomong, aku memang bukan keturunan ras angora murni. Hidung aku nggak pesek dan muka aku nggak rata seperti kucing angora yang muahal-muahal itu. Tapi keluarga ini sayaaang banget sama aku. Teh Rossa pernah bilang, peliharaan itu bukan gimana keturunan rasnya, cantik atau nggaknya, tapi gimana dia bisa mengisi posisi dalam anggota keluarga. Walau kucing kampung sekalipun, kalau dia bisa menjadi bagian dalam keluarga pasti makna kehadirannya jadi lebih bernilai.

Janji Teh Rossa
Beberapa bulan terakhir ini hubungan aku sama teh Rossa lagi akuurr banget. Nggak kerasa udah tiga tahun aku bergabung dalam keluarga ini. Sejak awal teh Rossa udah berkomitmen akan ngejadiin aku sebagai tanggung jawabnya. Mulai dari makanan, vitamin, vaksin, mandiin, pokoknya semua biaya yang aku perluin bersumber dari dia. Bahkan waktu aku musti di-caesar karena bayiku lahir prematur teh Rossa juga yang bertanggung jawab untuk semua biaya yang dikeluarkan. Sebenernya aku jadi nggak enak sama dia, bonus pertama dari kantornya langsung abis supaya aku bisa sembuh dan sehat lagi.

Karena aku udah umur tiga tahun, rencananya teh Rossa mau rutin bawa aku ke dokter untuk vaksin setiap bulannya. Katanya biar aku sehat dan jauh dari penyakit. Teh Rossa juga kan suka nulis dan foto-foto, dia janji akan bikin tulisan tentang aku dan ngambil foto dengan berbagai pose ajaib seeeebanyak mungkin. Cuma pocket camera teh Rossa yang udah pernah jatoh itu nggak bisa mengambil foto aku dengan baik, abis aku kan nggak bisa diem jadi hasil fotonya keseringan blur. Terus teh Rossa juga nggak mau nulis tanpa hasil foto yang cukup, katanya biar yang baca tulisan tentang aku bisa ngeliat gimana lucu, ngegemesin, dan kurang ajarnya aku. Teh Rossa janji kalo udah punya SLR bakal puas-puasin foto aku dan bikin tulisan dari situ. Janji ya teh...

Ikutan repot waktu saya ngerapihin lemari baju.

Notes: Poporin hilang akhir Maret kemarin. Kami sekeluarga sangat kehilangan dia. Kami bukan hanya kehilangan kucing peliharaan, tapi juga anggota keluarga yang telah memiliki posisi tersendiri di hati ini. Ah Porin, padahal seminggu setelah kamu hilang saya berhasil membeli kamera SLR. Maaf ya, banyak janji yang belum sempat terpenuhi. We love you Porin...

Sabtu, 05 Maret 2011

Nonton Java Jazz Bareng Mama :)

'Ma, kan ada Santana di Java Jazz.'

'Masa? Wah pasti bagus.'

'Mama mau nonton? Nanti aku cariin tiketnya ya.' Mama pasti pengen banget nonton Santana, beliau punya selera bagus untuk urusan musik.

'Enggak deh teh, tiketnya pasti mahal', sayangnya mama selalu mengalah dan mendahulukan kesenangan anak-anaknya.

Kantor saya termasuk dalam daftar penerima compliment ticket dari Java Festival Production yang menyelanggarakan hajatan tahunan Java Jazz Festival dan Java Rockin' Land. Divisi saya biasanya kebagian menjalankan transaksi valas yang menjelimet dan menggunung. Mendapat transaksi dari promotor ini artinya adalah pulang malam dan kerja menguras otak, tapi Java Festival selalu berbaik hati memberikan compliment ticket bagi orang-orang yang telah membantu kelancaran setiap acara yang diadakan. 

Compliment ticket Java Rockin' Land 2010 yang tidak sempat saya pakai :(

I'll do my best for Java Festival Production transactions. Keinginan saya untuk bisa mendapat compliment ticket menjadi begitu menggebu-gebu karena ingin mengajak mama menonton konser sekelas Java Jazz. Lebih bagus lagi kalau bisa mewujudkan mimpi beliau melihat aksi Santana secara live. Pulang malam dan kerjaan menumpuk menjadi agenda rutin selama sebulan menjelang perhelatan Java Jazz Festival. Satu-satunya hal yang membuat saya tetap bersemangat (dan menambah dosis kafein dalam jatah kopi harian) adalah bayangan akan menonton konser bersama mama tersayang. 

Mama sendiri mungkin tidak terlalu bersemangat untuk menonton Java Jazz tapi saya ingin mama dapat merasakan sebuah pengalaman menonton konser; bernyanyi dengan ratusan orang lainnya, menggoyangkan badan mengikuti irama yang ada dan larut dalam euforia kegembiraan. Sesuatu yang mungkin belum pernah mama rasakan. Entahlah, beberapa waktu terakhir ini rasanya saya ingin melakukan banyak hal bersama orang tua tercinta, menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka dan mengajak mereka merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan selama hidupnya. Sesuatu yang pasti akan mereka sukai. 

Sayangnya compliment ticket yang tersedia hanyalah daily ticket, untungnya bagian marketing berbaik hati  dengan memberikan saya tiket hari Jumat sehingga masih memungkinkan untuk saya mencari Santana special ticket show dengan dana sendiri. Tiket yang sangat mahal apalagi saat mendekati hari H membuat niat saya untuk mengajak mama menonton Santana harus dikubur dalam-dalam. Saya kecewa, tapi saya lebih takut mama yang lebih kecewa. Oh God, saya hanya ingin mengajak mama bersenang-senang dan lepas dari rutinitas hariannya. 

Sepertinya mama menangkap keinginan saya ini. Beliau mau ikut menonton Java Jazz walau saya sudah memberikan worst case scenario (hall yang penuh banget, berdiri sepanjang show, acara sampai tengah malam). 'Urusan cape itu sih belakangan', mama meyakinkan saya kalau dia mampu mengikuti jalannya acara. Saya juga mewanti-wanti mama untuk memberitahu saya sesegera mungkin jika beliau merasa capek atau hall terlalu penuh sehingga beliau merasa tidak nyaman. Java Jazz, here we come....

Performance artist yang saya incar adalah Glenn Fredly. Sayangnya karena kemacetan Jakarta kami harus melewatkan Glenn. Then what? Saya sendiri nggak tahu mau menonton apa saya mama. Krik krik krik..... Hal ini selalu terjadi karena kurangnya antisipasi untuk menonton konser. Di salah satu hall yang masih kosong The Groove akan tampil kurang dari satu jam lagi. Rasanya hall ini cukup 'aman' untuk didatangi bersama mama. Penonton belum berjubel dan masih bisa duduk santai di dalam hall.

The Groove ternyata memberi penampilan yang luar biasa. Outstanding! Rasanya bener-bener diajak reunian ke beberapa tahun silam dengan lagu-lagu The Groove. Untungnya juga mama kenal baik dengan semua lagu yang dibawakan The Groove malam itu. The Groove was grooving up the audience that night, including me and mom :) 

Berikutnya adalah Tompi. Antrian memasuki hall lumayan mengular. Saya dan mama masuk dari sisi yang lebih kosong. Saat pintu dibuka semua pengunjung merangksek maju, mama dan saya ikut terdorong ke depan. Saat saya mengkhawatirkan keadaan mama, beliau malah mengajak saya berlari masuk ke dalam hall dan mencari posisi enak di tengah hall. Ah mama, ternyata beliau sudah tertulari euforia Java Jazz dan tidak mau kalah bersaing dengan pengunjung yang lebih muda. 

Could you see Tompi in stage? ;)

Penampilan Tompi lebih mencengangkan! Saya salut dengan musikalitas dan kemampuannya menguasai panggung. Terlebih saat Tompi menyanyikan lagu I Know You So Well dengan nuansa jazz yang sangat berbeda. Musik jazz mungkin dirasa terlalu berat sehingga peminatnya tidak sebanyak musik bergenre pop, padahal jazz ringan yang easy listening juga menyenangkan untuk didengar. Seperti film Indonesia yang tidak jelas genrenya (horor lebih mengarah ke seks dewasa), kondisi musik Indonesia pun tidak berbeda nasibnya dengan dimonopoli irama melayu semacam ST12 dan teman-temannya. Lagi-lagi, selera masyarakatlah yang menentukan genre mana yang akan terus berkembang dan bertahan. Jika ingin musik Indonesia terus didominasi irama melayu, maka gila-gilailah musisi yang bergerak dalam jalur tersebut. Tetapi jika ingin musik Indonesia menjadi lebih berkualitas dan berkembang maka hargailah genre musik yang lain. 

Di tengah konser Tompi mama terlihat diam dan kurang menikmati acara. Beliau ijin untuk ke belakang dan duduk di luar hall. Ya, inilah tanda saya harus mengakhiri malam menyenangkan di Java Jazz. Saya tidak akan memaksa mama, jika mama merasa cukup maka itu artinya cukup. Kami sudah cukup bersenang-senang malam ini. Dan saya bisa lihat dari senyum beliau, walau tidak bisa menonton Santana namum musisi dalam negeri mampu memberi penampilan sempurna yang memukau penontonnya. 

'Lebih enak nonton yang dalam negeri ya teh, bisa ikut nyanyi dan ngerti lagu-lagunya', komentar mama ketika kami keluar dari stage Sondre Lerche.

'Jadi nggak nyesel dong nggak bisa nonton Santana ma?' goda saya.

'Nggak sama sekali', jawab mama mantap.

'Tahun depan Java Jazz lagi ya maaa....' :)

PS: Nggak ada foto saya dan mama sama sekali. Alasannya saya cape berat pulang kerja langsung ke Java Jazz sehingga mood foto jadi hilang begitu saja. Selain itu kamera saya (akhirnya) rusak berat. Hm, saatnya membeli DSLR *buka-buka katalog Canon*.

Sabtu, 08 Januari 2011

Sepenggal Kenangan Masa Kuliah

Saya masih semester 2 dan bersiap menghadapi UAS. Beberapa nilai UTS baru dibagikan seminggu menjelang UAS, tidak terlalu memuaskan sih tapi saya tidak terlalu memusingkannya. Toh masih bisa mengejar nilai saat UAS kan. Reaksi yang sama sekali berbeda muncul hasil ujian Fisika keluar, nilai saya berada di kisaran D! Butuh poin yang cukup besar agar bisa lulus mata kuliah ini. 'Mati gue!!!', cuma itu yang terlintas di kepala.

Kampus saya mengharuskan mahasiswa tingkat awal untuk tinggal di asrama. Selama satu tahun penuh kami tinggal dalam kamar kecil berisi empat orang, beradaptasi dengan dunia perkuliahan dan mengulang semua pelajaran dasar di bangku SMU. Mungkin karena baru kali ini tinggal berjauhan dari orangtua maka beberapa anak termasuk saya tidak terlalu peduli dengan urusan akademis. Lagipula kami hanya mengulang pelajaran masa SMU, apa sih sulitnya? Masa awal kuliah lebih banyak dihabiskan dengan bermain dan keluar hingga larut malam. Kami lebih memilih untuk bersenang-senang daripada belajar. Selain itu kondisi asrama juga kurang kondusif untuk belajar. Empat orang dalam satu kamar dengan gaya belajar yang berbeda-beda? Sulit.

Nilai saya tergolong pas-pasan saat semester 1 berlalu. Lagi-lagi saya tidak terlalu memperdulikannya. Saya lulus walau pas-pasan. Lalu kenapa? Yang penting lulus. Dan saya kembali menikmati masa-masa indah di bangku kuliah dan asrama. Sejelek apapun hasil UTS saya pasti bisa memperbaikinya di UAS. Tapi saya tidak berkutik sama sekali saat berhadapan dengan Fisika. I'm sucks in physics. Saya dan Fisika memang tidak pernah akur. Saya sudah membenci Fisika saat pertama kali berkenalan dengannya di bangku SMP. Sekarang dia muncul lagi dalam hidup saya, membayang-bayangi masa awal perkuliahan saya, berjanji akan merusak semua kebahagiaan yang saya dapat di bangku kuliah. Nilai Fisika saya kecil, sangat kecil. Saya harus mendapat nilai minimal B saat UAS agar dapat lulus dan terlepas dari mata kuliah ini. Dan itu sangat tidak mungkin. Saya tahu itu tidak mungkin.

Saya panik. Seumur hidup saya belum pernah gagal di bidang akademis. Nilai saya tidak pernah jelek, rapor tidak pernah dihiasi angka merah dan saya selalu menjadi anak baik-baik dan menjadi kebanggaan orangtua. Saya tidak pernah gagal dan kegagalan itu sekarang di depan mata, menunggu untuk jadi kenyataan. Saya takut. Saya tidak mau mengecewakan orangtua. Saya malu jika tidak lulus dalam satu mata kuliah. Malu terhadap orang tua, teman, dan diri sendiri. Teman-teman pasti mencibir jika saya tidak bisa lulus di mata kuliah Fisika.

Saya tidak berani cerita tapi saya butuh butuh dukungan. Saat tidak tahu harus berbuat apa tiba-tiba saya kangen mama. Sudah berapa lama saya dan mama tidak mengobrol dan bertukar kabar. Saya terlalu terhanyut dengan euforia perkuliahan dan melupakan orang rumah. Setelah memberanikan diri akhirnya saya menelpon ke rumah. Di ujung telpon terdengar suara mama menanyakan kabar dan tangis saya langsung meledak. Selama 5 menit awal saya tidak mampu berkata apa-apa, saya hanya menangis di telpon sementara mama semakin kebingungan, 'Kamu kenapa?' tanya beliau. Dengan suara yang bercampur dengan isakan, saya menceritakan keadaan saya.

Setelah pikiran sedikit tenang dan otak mulai jernih, saya mulai menyusun rencana untuk mengejar nilai Fisika. Walau kemungkinan untuk tidak lulus terlihat begitu besar tapi saya memutuskan untuk tidak menyerah begitu saja. Semua usaha akan dilakukan demi bisa lulus dari mata kuliah ini. Saya mulai mendatangi teman senasib untuk belajar bersama bahkan menginap di kamarnya, begadang semalaman untuk menghapal semua rumus sampai lingkaran di bawah mata mulai terlihat menghitam. Paling tidak saya bisa memberi sedikit perlawanan saat menghadapi soal di UAS nanti.

Sehari setelah telepon terakhir kerumah seseorang mengetuk pintu kamar dan mengabarkan orangtua saya menunggu di kantin asrama. Saya kaget, tidak biasanya mereka mengunjungi saya tanpa mengabari terlebih dahulu. Waktu itu jam setengah sembilan malam, papa masih memakai seragam kerja dan mama terlihat hanya berdandan seadanya. Ternyata papa mengajak mama menjenguk saya sepulangnya papa bekerja. Beliau menyetir mobil sendiri, menempuh jarak yang cukup jauh, menembus kemacetan, dan membawakan makanan untuk saya dan teman sekamar. Saya tidak menyangka, mereka begitu mengkhawatirkan keadaan saya.

Papa menanyakan kabar saya sedangkan mama lebih banyak diam. Dengan polos papa bertanya, 'Memang kalau kamu ngga lulus Fisika terus kamu dikeluarin dari kampus?'. Tidak papa sayang, saya tidak akan dikeluarkan dari kampus hanya karena nilai Fisika saya D. Tapi saya tidak mau nilai itu menghiasi transkrip atau harus mengulang mata kuliah ini untuk memperbaiki nilai. Papa terlihat lega, dia bilang tidak apa-apa kalau saya mendapat nilai D, papa dan mama tidak akan marah. Lagipula saya masih bisa memperbaikinya di semester lain jika mau. Papa yang tidak sempat merasakan bangku kuliah berusaha keras mengerti keadaan saya dan memberi nasehat untuk menyemangati saya.

Kunjungan itu tidak lama karena tepat pukul sembilan malam jam malam asrama habis. Sebelum pulang mama memberikan selembar surat untuk saya. Inilah kebiasaan saya dan mama, kami lebih leluasa mengeluarkan perasaan masing-masing melalui tulisan dibanding perkataan. Di kamar, diantara riuh teman-teman yang ribut menjarah makanan hantaran, saya membaca surat mama. Tidak banyak yang mama tulis disitu, beliau hanya menyampaikan bahwa dia bangga dengan semua yang telah saya raih sampai hari ini. Mama tidak menuntut banyak dari saya karena dia tahu saya selalu bersungguh-sungguh dalam melakukan segala sesuatu dan itu yang terpenting. Mama tidak mengerti arti dari angka ataupun huruf di transkrip, tapi mama melihat semua hal yang saya lakukan untuk meraihnya. Walau gagal, mama bangga karena saya tak letih untuk berusaha. Mungkin peribahasanya 'yang penting itu terletak pada prosesnya, bukan pada hasil akhirnya'.

Kejadian ini menjadi titik balik saya di masa kuliah. Saya berjanji tidak akan bermain-main lagi menghadapi masa kuliah. Masa depan ada di tangan saya dan hanya saya yang mampu mengubahnya. Walau transkrip nilai semester 1 dan 2 dipenuhi rantai karbon, saya bertekad untuk membalas semua kekalahan ini. Lulus kuliah dengan predikat Cum Laude pastinya sangat tidak mungkin, tapi saya mengejar kelulusan dengan predikat Sangat Memuaskan dengan IPK diatas 3. Hadiah untuk mama dan papa.

Dan saya berhasil...

Mama dan papa mungkin tidak sempat merasakan bangku kuliah tapi mereka adalah motivator saya nomor satu. Semua yang saya lakukan pada akhirnya ditujukan untuk membuat mereka bangga.

Tulisan ini dibuat untuk adik saya yang tengah berjuang menyelesaikan kuliahnya di Semarang. Kami selalu bangga dengan semua yang telah kamu lakukan. Dan untuk Nenes, cita-cita kita tercapai. Terimakasih karena selalu mengingatkan saya akan sebuah janji yang kita ucapkan di salah satu kamar asrama itu.

Dan kabar nilai Fisika saya? Yah, saya hanya kekurangan 1 poin untuk dapat lulus. Untungnya saya dapat mengikuti ujian ulangan dan lulus. Itu adalah terakhir kalinya saya bertemu dengan Fisika :)

Sabtu, 11 Desember 2010

Got Tangled With Mom

Have watched Tangled (Rapunzel) 3D with mom :)

I'm gonna review the movie in different version. Please, enjoy it :)


Lovely Rapunzel... Kidnapped from her parents and arrested in a tower.

Rapunzel could climb tower's wall by her hair.

Or she use it to helped her painting on the wall.

But it's bothered her a bit when she's doing the housekeeping.

Let's meet Flint, he's a thief and Flint stole the tiara of missing princess (which is Rapunzel tiara).

Flint need to find a place to hide himself and the tiara. Voila, he found a tower over there.

Oops... Flint held captive by Rapunzel.

Rapunzel makes a bargain with Flint: Flint will guide her to see the light that continuously appear on her birthday and take her back to the tower, after that Rapunzel will return the tiara.

Aaahh... Those light comes from the lantern. The kingdom sends floating lanterns into the sky longing for their lost princess to return.

Rapunzel hasn't realizes that she is the lost princess.

And already 'like' Flint.

So...
Whether Rapunzel realize that she is the lost princess?
Will Rapunzel freed from the tower and reunited with her parents?
And how about Rapunzel and Flint love story?

Well, you better watched the movie.
I ran out of the picture to continue the story, besides I don't want to be spoiler here :)

Ah ya, I watched Tangled in 3D version with mom.
Just curious about her opinion and 'reaction' of 3D technology ;)
But she could handle her excitement so well.

In the end of movie, mom told me that she likes the story.
But I'm quite sure mom loves 3D technology better than the story.
Mom loves to see the pictures popping out from screen as if she could touch it with her hand.

'Umh, another 3D movies mom?'.

'Definitely!'.