Jumat, 18 Desember 2009

Bunga pukul empat

Kemarin saya pulang melewati rute baru, dan tidak menyangka ternyata rute ini masih menyimpan sepenggal memori akan masa kanak-kanak saya; gang-gang kecil tempat saya bermain, pohon yang sering dipanjati bersama adik tersayang, dan petak kecil taman bunga itu.

Kalau ditanya wangi bunga apa yang paling berkesan? Pasti jawaban saya bukanlah mawar, melati, atau anggrek, atau apalah nama bunga lain yang terkesan indah dan mahal. Bunga pukul empat, itu jawaban saya. Mungkin di kota besar bunga ini sudah jarang, jadi mungkin kalian yang membaca postingan ini tidak bisa membayangkan bentuk bunga tersebut.
 
 Bunga pukul empat berbentuk terompet dengan bermacam warna (merah, putih, jingga, kuning, dan kombinasi belang-belang). Yang paling khas adalah, bunga ini mekar di sore hari dan kuncup kembali pada pagi hari menjelang fajar. Sore hari pukul empat bunga ini bermekaran, demikianlah nama bunga ini diambil.


Nama latinnya adalah Mirabilis Japala L. Lebih sering dikenal dengan nama bunga pagi sore, bunga pukul empat, bunga paranggi, dan dalam nama asing, Beauty of the night.

Masa kecil saya lebih banyak dihabiskan di rumah almarhumah nenek di daerah Bogor. Disana banyak sepupu dan teman sebaya, sungguh menyenangkan karena di rumah kami hanya bisa bermain berdua saja. Karena kompleks rumah nenek tidak terlalu besar dan peserta yang bermain cukup banyak, maka permainan petak umpet sering dijadikan pilihan. Tempat persembunyian favorit saya dan adik adalah di sebuah rumah tua bergaya belanda yang teduh. Di taman kecil tempat bunga pukul empat bergerumul kami diam, sesekali terkikik, menunggu untuk ditemukan. Ketika teman-teman sudah menyerah mencari, kami malah asik memainkan bunga pukul empat, dan akhirnya nenek lah yang harus turun tangan mencari kami. Aroma khas dan keindahan bunga pukul empat saat itu tidak bisa digantikan dengan bunga tercantik mana pun.


Di rumah, karena tak ada teman sebaya, terkadang adik menemani saya bermain boneka, saya pun tidak ragu menemaninya bermain layangan atau memanjat pohon (walau dengan resiko luka di kaki akibat jatuh dari pohon membekas ketika beranjak dewasa). Saya masih ingat, ketika kami menghancurkan biji bunga pukul empat untuk dijadikan bedak dan menggunakan bunganya sebagai anting-anting, tetangga yang lewat memandang aneh ke adik saya, "anak lelaki kok bermain hal seperti itu". Tetapi mama tidak ambil pusing dengan perkataan mereka, malah mama bangga anak-anaknya bisa bermain dengan akrab dan kompak. Aahh...kalau ingat itu semua saya merasa sangat bahagia, betapa kami sangat dekat, tidak mempermasalahkan permainan apa yang pantas untuk laki-laki dan perempuan. Dan sekali lagi, bunga pukul empat menemani kami melewati masa kecil.

Dan sekarang, diantara kesibukan kerja yang semakin tidak bisa ditolerir, dan diri ini terasa jauh dari keluarga, semerbak harum bunga pukul empat yang khas mampu mengembalikan saya ke masa lampau. Masa dimana saya bisa tertawa lepas bersama adik tersayang, bermain dengan riang, sementara nenek atau mama mengawasi dari kejauhan. Bunga kecil ini memang sangat sederhana, kalah cantik jika dibandingkan dengan bunga lain, namun berarti banyak untuk saya. Dia melambangkan masa kecil saya, selalu mengingatkan saya dengan keluarga.


"Nek...di surga ada bunga pukul empat nga?"

Aaahh...saya jadi kangen nenek.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar