Jumat, 09 Agustus 2013

Untuk Melihat LukisanMu

Menurut saya setiap orang memiliki momen-momen tertentu yang membuat mereka merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Momen tersebut dapat hadir dalam beragam cara dan bentuk, ada yang menemukannya ketika dia berdoa, ketika menangis dan mencurahkan semua perasaannya dalam gerakan salat, saat membaca kitab suci, saat bersedekah, atau saat membelai lembut rambut anak-anak yatim piatu di panti asuhan sembari menghibur mereka dengan cerita dongeng. Sedangkan saya menemukan momen tersebut ketika melakukan sebuah perjalanan. Ketika menjelajah sebuah tempat asing yang begitu jauh dari rumah sehingga yang terasa hanya ada saya, Tuhan, dan alam yang berbicara dengan bahasanya masing-masing.

Seperti malam ini, ketika saya duduk termangu di salah sofa ruang duduk rumah Feli dan memandang bayang-bayang pemandangan kota kecil dari balik jendela. Secangkir teh yang tak lagi mengepul tergeletak di samping jurnal yang baru selesai ditulis, rekap catatan perjalanan yang dilakukan seharian ini. Feli sudah pamit tidur lebih awal sementara saya masih ingin menutup hari dengan menunggu langit berubah warna menjadi gelap sempurna. Perlahan dingin mulai merayap menembus pertahanan sebuah kabin musim panas yang seharusnya hangat. Bunyi berkelatakan timbul bukan karena langkah kaki di atas lantai kayu, tetapi karena perubahan cuaca dari hangat ke dingin sehingga kayu memuai lalu menyusut. Angin membawa aroma dingin yang bercampur dengan wangi daun, bunga liar, ranting kayu, dan tanah yang tertinggal di ujung hidung. Aroma khas yang menyadarkan bahwa saya sedang berada di salah satu negara yang terletak di ujung utara bumi ini. Sebuah negara yang masuk dalam lingkaran Kutub Utara.

Sofa di ruang duduk rumah Feli

Konon di negara yang masuk dalam lingkaran Kutub Utara matahari dapat terbit selama 24 jam. Midnight sun kebanyakan orang menyebut fenomena tersebut. Dan saya termangu menatap pemandangan di luar jendela untuk mengamati warna langit yang terangnya perlahan meredup, mencoba tidak mengidahkan dingin yang menelusup dari celah-celah kayu, menahan kantuk karena jarum jam telah bergerak melewati angka 10. Matahari memang telah menghilang sama sekali namun saya tetap penasaran ingin melihat sampai kapan terang dapat bertahan sebelum gelap menelan seluruh cahayanya.

Langit malam Oslo di musim panas

'Tuhan, izinkan aku melihat lukisanMu di bumi Skandinavia.' Saya ingat, doa itu yang dahulu terucap ketika saya mulai merancang semua perjalanan gila ini. Dan entah bagaimana caranya semesta tiba-tiba memuluskan jalan saya menuju negara ini. Seakan Tuhan dan semesta berkonspirasi untuk mengabulkan pinta saya dan mengirim saya ke bagian lain dari dunia ini. Dan disinilah saya sekarang, menatap langit dengan mata berat untuk memperkirakan dengan pasti kapan langit benar-benar menggelap kelam. Merasakan langsung kuasaNya dalam mengendalikan semua benda di langit dan bumi sementara kita manusia hanya dapat mengagumi. Dan di titik seperti inilah saya merasa begitu dekat dengan Tuhan sekaligus merasa kecil tak berdaya melihat kehebatanNya.

Untuk melihat lukisanMu, Tuhan. Tanpa sadar saya mendesah pelan mengingat kalimat itu. Lukisan yang saya maksud adalah pemandangan alam khas Norwegia berupa fjord berdinding tebing kasar dengan air terjun hasil lelehan gletser beserta hutan hijau dan kabut yang melingkupi. Pemandangan alam fantastis itu yang membuat saya berangkat sejauh ini dari negara tropis yang hanya mengenal dua musim ke sebuah negara yang bertetangga dengan Kutub Utara. Tapi mimpi saya untuk melihat lukisan itu buyar saat melihat tiket Norway in a Nutshell sudah fully booked bahkan sampai hari kepulangan saya ke Indonesia.


Norway in a Nutshell 

Tuhan, aku sudah sedekat ini untuk melihat lukisanMu. Buatlah sebuah keajaiban agar aku sempat melihat lukisan itu dengan mata kepala sendiri. Untuk melihat kebesaranMu Tuhan. Untuk mengagumi kebesaranMu. Kalimat itu terucap dalam hati seiring dengan padamnya terang di langit kota Oslo. Doa, meminta dengan setulus hati, hanya itu yang mampu saya lakukan ketika seluruh jalan telah ditempuh dan seluruh usaha telah dikerahkan. Dan berharap semoga Tuhan berkenan menciptakan keajaiban lain untuk saya di negara ini.

***

Hari beranjak siang ketika saya terbangun. Feli sudah sibuk menyiapkan sarapan, atau mungkin makan siang, ketika saya menyeret langkah ke dapur. "Morning, kirain gue lo sakit makanya belum bangun." Kemudian dia menghidangkan teh beraroma kayu manis dan apel dengan tambahan susu cair sebagai pengganti gula. Teh favoritnya yang akhirnya menular menjadi teh favorit saya selama menumpang di rumahnya.

"Sorry, gue tidur malem banget semalem," ucap saya sambil tersenyum malu sekaligus merutuki diri sendiri di dalam hati. Udah numpang berani-beraninya bangun telat. Malu-maluin aja!

"Jadi agenda hari ini ngapain aja?" tanya Feli kemudian untuk sekedar memastikan ulang agenda kami di hari tersebut. Kegiatan ini menjadi semacam rutinitas pagi kami sebelum berangkat meninggalkan rumah.

Saya mengingat-ingat sebentar lalu membuka jurnal, "Ke Munch Museet, Holmenkolen, terus malamnya berangkat ke Bergen." Saya tidak dapat menyembunyikan rona wajah kecewa bercampur kebingungan saat menyebut kata Bergen. Seharusnya saya mengikuti tur Norway on a Nutshell di kota itu untuk mengagumi panorama alam khas Norwegia di sepanjang aliran fjord yang membentang. Untuk melihat pulasan warna-warni lukisan Tuhan di Norwegia.

"Tenang aja, lo pasti suka dengan Bergen walau nggak bisa ikutan Norway in a Nutshell. Kotanya cantik kok." Feli yang sepertinya mengetahui kekecewaan saya berusaha menghibur.

Saya tersenyum mengiyakan. Bagaimanapun juga saya harus berangkat ke Bergen. Hanya saja saya tidak yakin harus menulis apa tentang Bergen di buku panduan Skandinavia yang harus saya tulis sepulangnya saya ke Indonesia nanti. Bergen membanggakan dirinya sebagai The Gateway to the Fjords of Norway, di kota inilah tempat yang paling tepat untuk melihat fjord dan panorama menawan Norwegia. Mengarang? Ah bagaimana bisa saya mengarang sesuatu sehebat lukisan Tuhan jika saya tidak pernah melihatnya secara langsung.

***

Jam 6 pagi keesokan harinya kereta NSB yang membawa saya dan Feli dari Oslo sampai di Bergen Railway Station. Feli tidak salah saat mengatakan saya tidak akan menyesali keputusan untuk tetap datang ke Bergen. Pemandangan kereta dari Oslo menuju Bergen (The Bergen Railway) sangat menakjubkan, bahkan rute ini disebut-sebut sebagai salah satu jalur kereta dengan pemandangan tercantik di dunia. Bagaimana tidak, ketika matahari pukul 4 pagi menampakkan dirinya terlihat pemandangan pegunungan kasar yang ditutupi gundukan salju tebal. Seumur hidup baru kali itu saya melihat salju dengan mata sendiri. Pemandangan selanjutnya tidak kalah mencengangkan, danau sebening kristal memantulkan pemandangan di atasnya. Persis seperti cermin. Feli bilang itu bukan danau melainkan fjord. Jantung saya terasa berdebar keras melihat semua keindahan itu dari dalam kereta yang bergerak cepat.


The Bergen Railway 

Percayakah kalian kalau Tuhan bekerja dengan caranya yang misterius? Saya percaya itu. Terkadang saya merasa Tuhan tidak pernah mendengar doa saya, betapa Dia terasa begitu jauh sehingga tidak dapat teraih. Tapi tak jarang juga dia terasa dekat, terasa lebih dekat dibanding urat leher sendiri dan mewujudkan keajaiban-keajaiban yang terasa mustahil. Di pagi yang terasa membeku itu saya duduk melamun sambil mengunyah sandwich yang menjadi menu sarapan. Sementara itu Feli menyeruput teh panasnya sambil mengecek email melalui handphone. Tak berapa lama kemudian dia melonjak-lonjak kegirangan seperti anak kecil, tak dapat berhenti walau beberapa pasang mata di kafe kecil stasiun itu melihat ke arahnya. Saya memandang keheranan, apakah jadwal kepulangan T, suami Feli, dari Amerika dipercepat sehingga dia mendapat serangan kegembiraan seperti ini?

"Yes, yes, yes!!!" Kalimat itu menyertai setiap lonjakan senangnya. "Visit Bergen menyetujui permintaan tiket Norway in a Nutshell kita. Tiketnya bisa langsung diambil hari ini juga di kantor mereka."

Untuk sejenak saya hanya terbengong mencerna kata-kata tersebut. Detik selanjutnya saya sudah ikut melompat-lompat gembira dan menjerit kecil bersama Feli, tak memperdulikan orang-orang yang semakin memandang aneh kepada kami.

Beberapa hari sebelumnya kami memang mengajukan permintaan tiket Norway in a Nutshell pada Visit Bergen saat melihat tiket tersebut sudah fully booked. Dengan menyebutkan bahwa saya akan menerbitkan buku panduan perjalanan dan menulis tentang Bergen di dalamnya serta koneksi yang dimiliki oleh T mereka menyanggupi permintaan tersebut, namun dengan tenggat waktu minimal dua minggu. Entah bagaimana tenggat waktu tersebut tiba-tiba menciut dan disetujui hanya dalam waktu dua hari. Visit Bergen memberi tiket Norway in a Nutshell tepat di jadwal yang telah saya atur sebelumnya. Di hari kedua saya di Bergen, untuk tiket Norway in a Nutshell yang berangkat dari Bergen menuju Oslo (sekalian untuk tiket pulang ke Oslo), dan gratis!!!

Tiket Norway in a Nutshell pemberian Visit Bergen

Terkadang Tuhan menyapa kita di tempat dan waktu yang sama sekali tidak pernah terpikirkan. Seringkali saya menemukan momen tersebut dalam perjalanan, seperti kali ini ketika dia lagi-lagi memberi satu keajaiban kecil dengan mengabulkan permintaan saya. 

Sabtu, 18 Mei 2013

Rendezvous

Masih inget sama Tante Theresia? Tante berusia 60 tahun yang mau solo traveling ke Skandinavia!!! Saya sempat ketemu dengan beliau untuk membahas itinerary dan menjawab beberapa pertanyaan yang belum sempat dia tanyakan di email.

Saya terharu saat Tante Theresia bilang dia tergerak untuk berangkat ke Skandinavia karena buku saya. "Buku kamu jelas banget. Rute bus, turun dimana, naik apa, rekomendasi tempat wisata, penginapan, dan tempat makan semua ada disana. Baca buku kamu rasanya menjelajah Skandinavia seakan mudah. Jadi tante berani untuk berangkat sendiri." Duh, siapa yang nggak melting denger karyanya dapat pujian seperti itu?

Tante Theresia berangkat ke Skandinavia tanggal 21 Mei ini. Rute yang dia tempuh nantinya di Skandinavia adalah Stockholm - Gothenburg - Oslo - Bergen (persis seperti rute perjalanan saya sebelumnya) ditambah Denmark sebagai penutup. Setelah rute Skandinavia selesai dia akan melanjutkan perjalanannya selama 3 minggu di Belanda.

Have a wonderful journey on Scandinavia tante. Pleasure to introduce the beauty of Scandinavia to you :)

Minggu, 05 Mei 2013

Di Balik Kopi Darat


Kalau boleh jujur saya itu tidak pernah pede kalau masuk dalam satu lingkungan baru atau memulai basa-basi dengan seseorang yang asing. Biasanya saya akan menarik diri dan hanya menjadi pengamat sebelum akhirnya bisa berbaur dan beradaptasi. Itu pun kalau saya merasa nyaman dengan lingkungan baru atau orang asing tersebut. Sifat seperti ini menjadi masalah ketika saya harus berhadapan dengan kata 'kopi darat,' satu hal yang acapkali terjadi dalam dunia yang serba maya ini.

Kecuali saya kenal baik dengan orang yang mengajak kopdar ini, saya lebih memilih untuk menghindari kopdar one on one. Alias kopdar hanya dengan seorang blogger. Bagaimana kalau saya merasa tidak nyaman? Bagaimana jika tiba-tiba saya kehabisan topik pembicaraan? Bagaimana jika acara kopdarnya menjadi garing karena kebanyakan diisi dengan dead air? Duh, ngebayanginnya aja saya udah mules. Jadi jangan heran kalau acara kopdar saya partisipannya pasti dia-lagi-dia-lagi (refer to Mila, Cipu, Exort), atau malah kopdar rame-rame sekalian dengan teman-teman blogger baru *bisa ngumpet kalau kehabisan topik pembicaraan*.

Sewaktu di Jogja, saya sempat keroyokan kopdar dengan Rio, Fuji, Maya, dan mas Ari. Semalam suntuk kami mengobrol di angkringan ditemani berpiring-piring camilan dan aneka macam minuman yang terus mengalir ke dalam gelas masing-masing. Tidak ada kata bosan. Tawa terus mengalir di malam itu. Tidak ada dead air karena masing-masing berhasrat untuk berbincang. Entah karena kami semua sudah saling mengenal dengan baik di dunia maya, entah karena itu merupakan kopdar keroyokan, yang pasti itu adalah salah satu kopi darat yang paling menyengkan.

Kopdar Jogja

Kalau dihitung-dihitung, tidak sedikit blogger yang berdomilisi di Bogor. Bogor sendiri memiliki satu komunitas blogger yang memiliki banyak partisipan. Namun kembali ke sifat awal saya tadi, saya lebih memilih untuk tidak bergabung dalam komunitas tersebut. Saya lebih nyaman untuk menjadi blogger independen dan membuat jaringannya sendiri sesuai dengan passion dan kesukaan saya. Tidak hanya sekedar berkumpul dalam satu komunitas dan dipersatukan atas nama blogger.

Dan Pagit adalah blogger asal Bogor yang namanya sering saya dengar karena dia berteman baik dengan Mila dan Cipu. Saya dan Pagit tidak sering bertukar sapa di dunia maya, pun kami jarang berkunjung dan meninggalkan komentar di blog satu sama lain. Tapi satu waktu saya iseng meninggalkan komentar di blog Pagit mengajakknya pinjam meminjam koleksi novel. Komentar saya ditanggapi positif dan berlanjut pada tukar-menukar list koleksi novel masing-masing hingga akhirnya kami bertemu di salah satu kedai kopi ternama membawa novel yang akan saling dipinjamkan. Bohong kalau saya tidak nervous menghadapi kopdar one on one ini, namun kekhawatiran saya tidak terjadi. Banyak hal menyenangkan yang saya dan Pagit obrolkan sore itu, mulai dari pekerjaan masing-masing, novel favorit, cerita perjalanan. Di beberapa titik memang sempat terjadi dead air dan terasa canggung, namun tak berapa lama obrolan kembali mengalir.

Diambil dari blog Pagit ;)

Kopdar saya lainnya yang tergolong nekat adalah dengan Rhein Fathia. Baik saya dan dia sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Saya jarang membaca postingan di blog Rhein begitupun dengan dia. Pertemanan kami terjadi ketika Rhein menerbitkan novel terbarunya di lini Bentang Pustaka dan semesta membelit pertemanan kami karena saya bergabung dengan Mizan dimana beberapa novel Rhein sebelumnya diterbitkan disana. Kami saling bertanya beberapa hal mengenai dua penerbit besar tersebut.Saya bertanya tentang Mizan dan Rhein bertanya tentang Bentang.

Saya dan Rhein sama-sama berdomisili di kota Bogor. Rasanya konyol jika kami tidak pernah bertatap muka langsung. Maka lagi-lagi, kedai kopi itu yang menjadi tempat pilihan untuk bertemu. Dengan sofa-sofa besar, kopi enak, dan hujan yang terus mengguyur Bogor, ah mengapa yang kopdar dengan saya di suasana seromantis itu adalah blogger perempuan? Dan lagi-lagi saya nervous dengan kopdar kali ini. Saya dan Rhein benar-benar dua orang yang asing. Mau ngobrol apa nanti? Jawabannya adalah enam jam ngobrol non stop dan berpindah ke kedai makan tak jauh dari kedai kopi tersebut. Gosip sesama penulis, seluk beluk dunia penerbitan, hal-hal yang jarang saya dengar dan saya bagi itu membuat waktu berlalu tanpa terasa *sampai lupa foto bareng malah*

Belajar dari kesuksesan kopdar one on one dengan blogger yang cukup asing ini ternyata semua kekhawatiran saya tidak terbukti *syukurlah*. Secara tidak langsung hal ini meningkatkan rasa percaya diri saya untuk bertatap muka langsung, one on one, dengan teman blogger lainnya.

Canggung saat pertama bertemu adalah hal yang pasti terjadi, namun setelah beberapa obrolan ringan sebagai ice breaking semuanya akan mengalir lancar. Bertemu dengan teman baru memang selalu menyenangkan. Tidak perlu menjadi seorang yang sempurna di depan seseorang yang sama sekali baru, cukup menjadi diri sendiri apa adanya. Dead air adalah satu hal yang wajar terjadi, tidak perlu cemas. Topik pembicaraan tersedia banyak di luar sana. Kita hanya perlu membuka hati dan pikiran terhadap segala sesuatu hal yang baru, termasuk teman baru.

Dan perlahan demi perlahan, cangkang selaput tipis yang biasanya otomatis menyelubungi saya sebagai bentuk pertahanan diri dari sebuah lingkungan yang asing, menghilang. 

Giveaway Free Blog Design and Free Portrait Drawing by Artika Maya

Hai, udah tau dengan avatar blog Merry go Round kan? Yang bikin adalah Artika Maya. Jeng cantik yang satu ini berbakat banget menggambar dan mendesain. Hasil desain dan gambarnya bisa dilihat di blog ini, dari template blog, header blog, avatar, sampai fave icon semua hasil karya dia.

Kalau mau pesan langsung ke yang bersangkutan bisa menghubungi dia di email artika_maya@yahoo.com. Silahkan nego harga. Kalau mau yang gratisan bisa ikutan giveaway yang lagi dia buat sampai tanggal 25 Mei 2013 nanti. Infonya bisa dibaca disini: http://artikamaya.blogspot.com/2013/05/join-my-giveaway.html

Aku posting illustrasion self portrait yang dia bikin untuk aku ya, biar kalian tambah ngiler sama karya-karyanya ;))

copyright by Artika Maya

copyright by Artika Maya