Minggu, 27 Juni 2010

After Graduation

Sudah 3 tahun sejak terakhir kita bersama di bangku kuliah.

Dan sekarang, kita hanya bisa menyempatkan diri berkumpul di acara pernikahan teman yang satu persatu melepas masa lajang.

Acara pernikahan selalu menjadi ajang 'pamer pencapaian': pekerjaan baru, gaji baru, gadget baru, dan pasangan hidup baru.

"Ocha kenalin...ini suami gue. Kemaren ngga dateng ke nikahan gue ya?" seorang teman menyapa saya.

"Eh iya Cha....kenalin ini suami gue" kata teman lain sambil menarik suaminya.

"Heran, ko orang-orang bawa suami masing-masing ya. Suami gue mana? Suami.... Suami.... Kamu ngumpet dimana sayang?" saya nelangsa nyariin suami calon suami :)


Pencapaian yang paling jelas terlihat tentu saja terlihat dari fisik yang semakin subur-makmur-sejahtera-sentosa.

Satu hal yang tidak pernah berubah, kecintaan kami pada dunia foto memfoto.



Tentu saja, tali persahabatan yang terjalin sejak awal masa perkuliahan tidak akan pernah putus.


Dan pertanyaan khas sebelum masing-masing pulang, 

"Nanti ngumpul lagi di nikahan siapa?"

akan dijawab dengan semangat membara

"GUE!!!"

Tetep yakin dan PD walau belum ketemu Mr. Right. Yaahh, yang namanya jodoh siapa yang tau kan *menghibur-diri-sendiri*.

Kamis, 24 Juni 2010

Dodol Pangkat Tiga

Entah ada apa dengan hari ini. Rasanya saya sial terus sepanjang hari. 10 jam lebih waktu dihabiskan di kantor dan cukup membuat kepala mumet serta perasaan naik turun. Mungkin otak saya terlalu banyak diforsir untuk bekerja sehingga melakukan kedodolan tiga kali berturut-turut.

Saya biasa nebeng dengan mba Y setiap pulang kerja. Tadi saya bertemu dia di mushola. Dengan muka kusut dan rambut awut-awutan, mba Y langsung menebak kalau saya bermasalah lagi dengan orang-orang kantor. Kerjaan mba Y sudah selesai dan saya tinggal mematikan komputer saja. Biasanya mba Y akan menjemput ke ruangan saya, jadi saya menunggu dia sambil menonton TV. 10 menit berlalu, saya melihat ruangan mba Y masih menyala. Oh, belum selesai mungkin, begitu pikir saya. 15 menit kemudian saya mulai merasa aneh dan ketika masuk ke ruangan mba Y, TARRRAAA.... mba Y sudah pulang. Panik, saya buka HP, ternyata mba Y sudah berkali-kali menelpon, mencari keberadaan saya. Mba Y kira saya sudah pulang duluan karena tidak ada di ruangan, padahal saya ada di ruangan sebelah, sedang menonton TV. Bodohnya saya, kenapa tidak menyusul mba Y ke ruangan dia dan malah menonton TV. Kenapa juga HP saya simpan di tas sehingga tidak terdengar bunyi deringnya. Hilanglah tebengan saya untuk malam ini.

Cepat-cepat saya berlari ke halte busway, berharap bisa mengejar bus arah Cibinong yang terakhir. Di dalam busway, otak saya sibuk terus berputar menghitung jarak dan waktu antara busway yang sedang dinaiki dan bus Cibinong yang akan segera datang. Tiba di halte tujuan, saya langsung turun, bergegas keluar dari halte, siap-siap berlari, dan saya baru sadar...... Ini kan halte Karet, bukan Bendungan Hilir. Maniiisss, saya turun satu halte lebih cepat. Mau tidak mau akhirnya saya berbalik, membeli tiket lagi, masuk ke dalam halte lagi, dan mengantri lagi. Wajah saya rasanya panas dihujani tatapan aneh dari penjual tiket, penjaga pintu busway, dan penumpang lain.

Bundaran HI Jakarta. Still crowded in 9:13 pm.
 
Sampai di halte Bendungan Hilir, saya langsung berlari-lari menuju Komdak, tempat bus arah Cibinong biasa lewat. Di sepanjang jalan, saya melihat beberapa perempuan berpenampilan khas pekerja Jakarta (rok selutut, kemeja tangan pendek, sandal teplek), juga sedang menunggu bus pulang. Ah, ada juga yang bernasib sama seperti saya, baru pulang semalam ini. Batin saya pun menjawab, "Iya, banyak yang seperti saya. Tapi yang sedodol saya ya cuma saya sendiri".

Tak sampai 5 menit menunggu di Komdak, bus akhirnya tiba. Alhamdulillah, Tuhan masih baik sama saya. Ketika akan memasuki tol, kenek bus berteriak "Cileungsi Cileungsi....". WHAT!!!!! Ini bukan bus arah Cibinong, tapi arah Cileungsi. OMAAIGOOOTT....!!! Saya salah naek bus (lagi).  Samar-samar saya ingat, tadi saya tidak sempat membaca rute bus, hanya membaca nomor bus, 70A, dan saya baru sadar bus Cibinong itu kan nomornya 70 saja. Hih, kenapa bikin nama bus kurang kreatif gitu sih. Gusti... dosa apa saya hari ini sampai bikin kesalahan tiga kali berturut-turut. Rute pulang saya akhirnya jadi makin jauh, makin lama dan makin ruwet. 

Memasuki daerah Cibubur, hujan turun dengan derasnya dan setia menemani saya sampai ke rumah. Di rumah, bukannya cepat-cepat mandi dan siap-siap tidur, saya malah online untuk menulis disini. Padahal sebentar lagi tengah malam, dan besok saya harus bangun jam setengah lima pagi, berangkat kerja jam setengah enam pagi, kembali bekerja lagi, dan besok tanggal gajian, dan besok kerjaan pasti numpuk banget. Ergh, haruskah judul postingan ini saya ubah menjadi Dodol Pangkat Empat ???

Senin, 21 Juni 2010

Rumah Baru

Untuk mengembalikan mood yang rusak akibat kamera rusak, akhirnya saya memutuskan untuk merombak total halaman blog ini. Beberapa waktu ini saya memang sudah bosan melihat tampilan Merry go Round. Rasanya kurang personal dan warnanya kusam menjemukan. Pengen banget memberi sentuhan personal di blog ini, tapi apa daya, saya termasuk orang yang gaptek dan tidak kreatif dalam mengotak-atik photoshop. 

Untunglah saya kenal dengan Diana. Dari kunjungan pertama ke blog Diana, saya sudah salut dengan kemampuannya. Terbukti dari tampilan blog sampai award buatan sendiri yang original dan berbeda dengan lainnya. Tambah salut lagi karena Diana baru lulus SD *yep, saya kalah sama anak SD*.

Header baru saya ini dibuat khusus oleh Diana. Walau masih berusia muda, Diana sabar dan profesional melayani keinginan saya yang selalu berubah setiap 10 menit sekali. Entah sudah berapa banyak link blog yang saya berikan kepada Diana untuk menjelaskan kemauan saya. Belum lagi saat saya kurang sreg dengan pilihan huruf dan penempatan foto. Akhirnya, setelah berdiskusi via FB chat, Diana menyelesaikan header saya dalam waktu beberapa jam saja.

Terlalu narsiskah header saya? Ah biarlah, saya memang sedang ingin bernarsis ria. Apalagi semua foto itu diambil dengan kamera saya yang baru rusak. Untuk theme background, saya memilih warna orange-peach-kuning yang ceria. Terlalu mencolok mata kah? Ah, yang penting saya ingin menyampaikan semangat saya untuk teman-teman blogger lain melalui warna-warna tersebut.

Ada beberapa hal yang baru dari tampilan blog saya. Saya menambahkan deskripsi di header: Hidupku terus berputar. Hidup memang selalu berputar bukan? Semoga saja setelah kejadian menyebalkan kemarin, saya bisa mendapatkan DSLR baru :) Tampilan slide dan efek salju juga saya hilangkan karena mengganggu mata saat membaca. Tentu saja, cbox pun ikut berganti warna jadi kuning.

Bagaimana menurut kalian? Semoga kalian suka dengan 'rumah baru' saya dan makin betah berkunjung ke blog ini :D

Untuk Diana: Berapa banyak ucapan terimakasih yang harus saya ucapkan untuk mengungkapkan betapa saya sangat menyukai header buatan kamu. Dan bagaimana saya bisa membalasnya? Thank's a lot 'lil sister :)

Minggu, 20 Juni 2010

KameraKu Sayaaaang...

Digital camera saya jatuh kemarin. Terbanting cukup keras sehingga lecet lumayan parah. Dan yang paling membuat saya sedih, sepertinya lensa kamera rusak karena guncangan yang hebat itu. Lensa tidak bisa fokus, bodi kamera rusak, dan saya tidak bisa marah kepada siapapun. Kesal? Itu pasti. Sedih? Saya menangis semalaman.

Sekarang pun saya masih kepikiran. Mungkin kalian heran, kenapa saya segitunya menghadapi itu semua, tinggal diservis dan semua akan beres. Tidak, tidak semudah itu. Harga servis hampir setengah dari harga kamera baru. Setelah diservis juga kamera saya masih carut-marut. Lecet-lecet itu tidak mungkin hilang kan? Just wondering and hoping ada ketok magic khusus kamera digital.

Yang membuat hati saya luka karena kamera ini merupakan kamera pertama yang saya beli dengan uang sendiri. Uang hasil jerih payah saya. Setelah sekian lama browsing mencari kamera yang tepat, akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada dia, si tipis Olympus berwarna merah. Warna favorit saya. Dia yang selalu setia menemani saya kemanapun. Mengabadikan semua momen dalam hidup saya. Dia juga menjadi kesayangan teman-teman karena hasil gambarnya yang cantik dan dapat diandalkan dalam berbagai kondisi. 

Sekarang saya harus kehilangan dia?
.......
.......
.......

Sepulangnya ke rumah saya langsung mengadu kepada mama. Dengan tangis sesengukan saya bercerita.
"Maaaa.....kamera aku rusak. Jatoh kebanting. Hiks...."
"Yah teh, terus gimana dong?"
"Hiks...hiks....beliin aku DSLR maaaaa...." (nangis makin kenceng supaya dibeliin)



*Beberapa momen foto bareng si merah. Ngga ada foto kamera saya yang sudah jatuh dan rusak. Saya ngga tega memfoto dan mempublikasikannya disini*