Minggu, 29 Agustus 2010

Cerita Si Uang Baru


Selain silaturahmi, maaf-maafan, baju baru, ketupat, rendang, opor ayam (nyam!), hal lain yang identik dari Lebaran adalah salam tempel. Lebih bagus lagi kalau uang yang digunakan masih kaku tanpa lecek. Apalagi tahun kemarin saat pecahan Rp2000 baru keluar, wih rasanya jadi orang paling keren kalau bisa bagi-bagi angpau dengan uang baru dan pecahannya belum banyak tersebar di Indonesia. Sepupu-sepupu saya yang ada di Bengkulu saja sampe terkagum-kagum liat pecahan Rp2000 itu, otomatis mereka lebih bangga memamerkannya ke teman-teman yang tidak memiliki uang serupa.

Menjelang Lebaran, apalagi saat THR sudah dibagikan, transaksi perbankan jadi meningkat. Kebanyakan orang datang ke bank untuk menukar uang yang dimiliki dengan uang baru dalam berbagai denom kecil. Banking hall secara otomatis jadi beraroma uang baru yang selalu sukses membuat saya bersin-bersin (debu hasil serpihan potongan kertas dalam uang baru itu jahat banget). Bank Indonesia sendiri selalu stock uang baru saat menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru Cina. Yah, kasus uang baru ini seringkali terlihat 'lucu' dari mata saya sebagai teller.

Bank Vs Inang-Inang
Percaya atau tidak, stock uang baru yang dimiliki bank jauh lebih sedikit dari yang dimiliki oleh inang-inang (orang-orang yang bergerak dalam bisnis penukaran uang kecil, dapat banyak ditemui di berbagai titik strategis seperti di jalan protokol, terminal, stasiun). Saat head teller harus adu urat leher dengan vendor untuk mendapat pecahan uang baru sebanyak mungkin, inang-inang dengan santainya menumpuk semua pecahan uang yang mereka miliki di jalan raya. Tumpukan yang mereka pamerkan jauh lebih banyak daripada yang ada di khasanah (ruang penyimpanan uang) bank. Saat kami harus putar otak agar semua nasabah mendapat jatah uang baru secara adil merata, dengan santainya inang-inang menjual uang baru tersebut tanpa takut kehabisan stock. 

Berasa sedikit miris sih, masyarakat harus 'membayar' untuk mendapatkan uang baru dari inang-inang, sedangkan bank yang dapat memberi penukaran uang secara fair malah tidak mendapat stock uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Uang dijual? Terdengar aneh dan janggal di telinga saya.

Berapa banyak?
Berapa banyak sih uang yang dibutuhkan untuk salam tempel? Saya pribadi tidak suka memiliki uang kecil terlalu banyak, ribet untuk menghitung, membayar, dan memperkirakan berapa jumlah total uang tunai yang dimiliki. Seringkali dompet saya hanya berisi selembar uang Rp100.000, saya lebih suka membayar transaksi dengan kartu debit/kredit. Praktis, cepat, plus tidak membutuhkan kembalian.

Seringkali, uang yang dialokasikan untuk salam tempel tidak habis dan mau tidak mau harus dibelanjakan oleh saya sendiri. Ini mendatangkan masalah baru lagi, saya sayang membelanjakan uang yang masih kaku tersebut, akhirnya malah mengambil uang tunai dan uang baru tersebut nangkring di dompet untuk waktu lumayan lama. Belajar dari pengalaman, akhir-akhir ini saya tidak terlalau bernafsu untuk menukar uang baru. Secukupnya saja.


Berbeda dengan teman-teman lain. Kalau dijumlahkan, satu ruangan saya yang berjumlah 23 orang saja membutuhkan uang baru berbagai denom dengan total Rp. 60juta. Hebat bukan. Seorang teman sampai menukarkan bertumpuk-tumpuk uang baru. Seorang lain yang tidak merayakan Lebaran malah lebih ribet dibanding yang merayakan, lebih ngotot untuk mendapat uang baru sebanyak mungkin. Dan pertanyaan saya adalah, untuk apa uang sebanyak itu? Apa iya untuk salam tempel semua?

Arogansi Uang Baru
Akhirnya pertanyaan saya tentang banyaknya uang yang ditukarkan di atas terjawab. Seorang teman kekeuh banget menukarkan pecahan Rp10.000, alasannya 'Ini untuk jatah beli bensin suami gue. Setiap hari 2 lembar sepuluhribuan'. Oooohh... untuk beli bensin pun butuh uang baru ternyata. Hampir semua jawaban yang diberikan masuk dalam kategori tidak memuaskan dan tidak masuk akal, yang dalam pemikiran akal sehat saya, transaksi seperti itu masih bisa dilakukan dengan uang 'biasa'.

Menjadi seseorang yang bekerja di industri perbankan ternyata terkadang menimbulkan arogansi terhadap 'wujud' uang. Beberapa rekan kerja, dengan posisi lebih tinggi dari saya tentunya, setiap hari selalu menanyakan stock uang baru, saat saya bilang 'Ngga ada uang baru mba, adanya uang layak pakai. Emang kenapa sih musti uang baru?', dijawab dengan lempeng dot com 'Abis kalo uang mbusuk nanti dompet gue jadi bau'. Jeda cukup panjang diantara kami berdua. Untuk kemudian saya termangu, speechless sejadi-jadinya. Wow, harga dompetnya pasti mahal banget.

Berbeda dengan beberapa atasan, setiap transaksi harus dikembalikan dengan uang baru, tidak boleh ada lipatan sedikitpun, sampai head teller harus membuka stock uang baru yang ada demi memenuhi tuntutan si atasan. Waktu itu saya masih anak baru, dengan polos saya memberi uang layak pakai untuk transaksi penarikan si atasan, dengan arogannya sang atasan berkata 'Masa saya dikasih uang buluk. Saya ngga pernah mau pake uang buluk. Saya cuma mau uang baru' dengan nada sedikit sinis dan membentak. Wow, saya sampai shock. Ternyata yang penting bagi para atasan bukanlah nominal yang dimiliki, tetapi lebih kepada wujud uang tersebut. FYI, uangnya layak pakai banget, bukan uang buluk.

Untuk saya, fungsi uang adalah sebagai alat pembayaran. Tak peduli uang tersebut baru atau tidak, yang penting asli dan dapat digunakan. Miris melihat beberapa teman yang segitunya sama uang baru, ngomel-ngomel kalau di ATM khusus karyawan yang menyediakan pecahan kecil tidak diisi dengan uang baru. Toh uang yang ada juga pasti akan digunakan kan, jadi kenapa sampai segitunya sih sama uang baru?

Beberapa nasabah memiliki cerita berbeda. Setiap hari saya sudah kenyang dengan pertanyaan 'Ada uang baru ngga' dan menjawab 'Uang barunya lagi kosong, adanya uang layak pakai'. Kemudian nasabah tersebut berkata, 'Kok ngga ada terus sih uang barunya, suruh BI cetak lagi dong yang baru'.

Tahukah Anda nasabah yang terhormat dan teman-teman tersayang, dengan banyaknya uang yang beredar di masyarakat (baik uang lama maupun baru) maka tingkat inflasi Indonesia akan semakin tinggi. BI tidak bisa mencetak uang baru sekehendak hati. Saat akan mencetak yang baru maka uang yang sudah tidak layak pakai atau mbusuk akan ditarik dari peredaran untuk kemudian dihancurkan. Ini ditujukan agar sirkulasi uang yang beredar di masyarakat bisa tetap dijaga. 

Dan tahukah Anda, untuk mencetak uang baru, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Sekarang saya tanya, apakah Anda sudah menjaga fisik uang sebaik mungkin? Berapa sering Anda melipat atau mungkin meremas uang yang baru karena tidak rela uang tersebut berpindah tangan? Berapa lembar uang yang pernah Anda corat-coret? Berapa tumpuk uang yang secara tidak sengaja ikut tercuci atau terendam air hujan? Padahal dengan menjaga fisik uang, uang tersebut bisa digunakan lebih lama sehingga BI dapat mengurangi kuantitas uang yang harus dihancurkan.

Lebih ngenes lagi mengingat perlakuan yang sama sekali berbeda terhadap mata uang asing. Hampir semua orang mengecek lembar demi lembar untuk memastikan tidak ada lipatan atau coretan karena nilai dari mata uang tersebut dapat berkurang. Mata uang asing juga disimpan secara hari-hati dalam amplop tebal, brankas, ataupun safe deposit box. Jadi jangan heran, berapa pun tahun pencetakan mata uang asing, dapat dipastikan kalau uang tersebut masih licin tanpa cacat sedikitpun.

Ah Rupiah... nasibmu.

30 komentar:

  1. iya, sering keboo bejek uang biar cepet aja masuk dompet.. tapi kasian juga BI, pusing antara gengsi dan nilai mata uang..
    iya, mule sekarang saya akan menjaga uang kita, masa mata uang asing aja yang dijaga...

    BalasHapus
  2. 'Abis kalo uang mbusuk nanti dompet gue jadi bau'

    aduuuuh -__-"

    saya mah uang berapa aja asal bisa dibuat beli cendol bkal sya terima dg senang hati.. (eh, tapi dulu waktu kecil juga sering koleksi uang baru ding,haha)

    BalasHapus
  3. Ocha, boleh tuker duit bulukan gua nggak dengan duit baru

    *kabuuuurrrrr*

    BalasHapus
  4. wahhh, kak rosa, minta angpao juga donk! ^_^
    buat beli dvd inception original (kan say no to piracy) nyahahaha
    *digetok*

    ayu juga jaga duitnya ayu sama kayak jaga mata uang asing kok kak, ampe tak setrika, padahal cuma 2000 rupiah, hahaha *tragis*

    call me money-complex *siapa yang nanya??* huehehe

    BalasHapus
  5. tapi uang kecil itu emang perlu banget kalo pas mo belanja. kalo gak ada kembalian kan jadi repot tuh.

    BalasHapus
  6. @ Keboo: makasih Keboo, paling tidak tulisan ini jadi lebih berarti dengan adanya aksi nyata.

    @ Viita: Wajar lah kalo anak kecil koleksi uang baru, paling cuma beberapa lembar. Tapi kalo orang dewasa yang 'kepo' dengan bertumpuk-tumpuk uang baru dan ngga jelas juga mau diapain itu uang baru kan ajaib juga.

    @ Cipu: yang ada pas Cipu balik ke Indo semua uang Rupiahnya udah ngga laku lagi :p

    @ Ayu: Wow, money complex, nyetrika uang baru. Love it. Selamat, kamu adalah orang pertama yang saya kenal yang memperlakukan Rupiah dengan sedemikian apiknya.

    @ Mba Fani: Makanya saya lebih milih pake kartu belanjanya mba. Lagipula, untuk belanja ngga perlu bertumpuk-tumpuk uang baru kan.

    BalasHapus
  7. Huwaaaaa keren banget ini tulisan... lengkap dan detail. Jadi kayak membaca majalah jadinya.

    Memang kadang orang2 ada yg lebih mengutamakan gengsi bukan substansi, kadang malah jadi balik kasihan sama orang2 seperti ini.

    *dua jempol untuk tulisannya*

    BalasHapus
  8. aduh, jadi kesindir nih..saya soalnya termasuk kalo lebaran mesti tuker duit baru. Yaa namanya mudik ke kampung *dan dikampung saya terkenal dengan duit buluk*, maka duit baru tuh jadi barang yang prestisenya tinggi.. seneng liatin anak-anak pegang dan mengagumi duit yang masih kaku itu..

    lebaran kan khas banget tuh, baju baru, hati baru, semangat baru... bahkan duit pun kudu baru

    BalasHapus
  9. Masalah uang baru, saia bukan penganut y seperti itu..yg penting angkanya msh keliatan yah diterima dan dipake ajah :)

    Sama ky mbak rosa didompet paling cuma ada selembar 100rb..

    Dan u/ inang2 itu, msh mikir "trs mereka dpt uang baru darimana mbak?" o_O

    BalasHapus
  10. aku sih lebih suka pake cash.
    emang ribet ya, bawa uang banyakb banyak, tapi entahlah... kebiasaan cash sih...

    bener banget.
    aku juga suka protes, kenapa sih... (terutama US dollar) harus liciiiin, gak boleh lecek, gak boleh dilipat...
    sementara kalo lihat perlakuan pada rupiah, emang miris banget.
    sering kan dapat uang kertas yang ada tulisannya..
    aku paling gak suka tuh, dapat uang yang ada tulisannya

    BalasHapus
  11. dija belom tau uang Tante..

    BalasHapus
  12. Uang baru...hmm...gw juga ga tlalu excited dengan keluarnya uang baru, toh ntarnya juga dapet dan udah fitrahnya uang pasti untuk dibelanjain..heheheheheh...

    BalasHapus
  13. aku mau dong cha pecahan 2000... seratus ribu aja yah ke rumah ku....
    ditunggu lho....xixixi

    BalasHapus
  14. berarti bayar ongkos angkot tinggal pake selembar uang duaribuan doang ya. simpel.
    saya juga punya rencana menukar uang dengan pecahan sepuluh ribuan. :)

    BalasHapus
  15. Hehe... Setuju banget, yang penting nilai nominalnya. Mending uang lama dengan nilai nominal tinggi daripada uang baru dengan nilai nominal rendah.

    BalasHapus
  16. Kalau uang baru.., malah biasanya sayang utk aku pakai belanja... hehehe
    Maunya disimpen terus... :)

    BalasHapus
  17. Iya sih.., kalau lebaran bagi uang pake uang baru rasanya lebih mantap.. hehehe

    BalasHapus
  18. Jeng mer, aku ga ikutan nukarin uang baru lo...
    soalnya kakak ama adikku sudah nukar:)
    tapi terus terang informasi behind tulisan uang baru ini padat karya sekali..TFS ya

    BalasHapus
  19. uang gw pernah ditolak teller bank loh pas gw mau nyetor uang hanya karena uang gw uda buluk
    eh lebaran ini gw ga dapat uang yang bar loh alesannya ditellernya uda keabisan uang bagus (mungkin uda diambil ama para atasan tersebut

    BalasHapus
  20. saya suka uang baru, tapi gk segitu mencarinya koq, yg penting ada uang ditangan, toh fungsinya tetap sama kan?? gemesss klo liat orang ngucek2 uang yg mbuluk itu, udah kusut malah tambah dikusut2kan pun...

    BalasHapus
  21. bahkan penjual sayuran ama penjual ikan pun pgn uang baru, gak mau nerima uang bonyok hhhhhh
    cape dechhh

    klo di mesir lg rame2nya memasarkan uang koin, soalnya uang kertas mudah rusak seh

    BalasHapus
  22. Klo di Indo emang uang cepet banget jadi lusuh.. abis orang-orang kita klo yang namanya duit tuh di lipet-lipet, di untel-untel malah kadang-kadang di coret2, trus sampe robek2.. menyedihkan sih emang. Pdhal sayang kan itu duit nyari nya juga sampe jungkir balik.
    Gw juga klo nemu duit yang licin dikit langsung jadi sayang make nya, b isa-bisa disimpen di dompet berhari-hari baru di belanjain hehehee

    BalasHapus
  23. menurutku uang gak harus baru yang penting laku^^...pernah kemaren saya embil duit di atm ehhh ada 1 lembar 50.000 yang sobek di bagian angka ) ketiga... aku mikir pasti duitnya tetp bisa dipake kan keluarnya dari atm..tapi sampr sekarang belum ada yang mau terima uang itu...rugiiii T.T

    BalasHapus
  24. kalo dikasih uang baru ya jelas mau, lebih rapi... tapi kalau sampai mati-matian nukerin uang lama ama uang baru kliatane enggak banget deh... kecuali emang buat nuker ama uang dengan nominal yang lebih kecil

    BalasHapus
  25. Iya, aku jg ga pernah masalah uang kinyis2 atau layak pakai, toh nilainya sama aja. Lebih heran lagi mengapa kita memperlakukan uang asing dengan segitu hati2nya ya?

    BalasHapus
  26. Hehehehe, jadi inget di Surabaya setiap tengah2 puasa di jalan-jalan sudah banyak yang jualan "uang", ini cuma ada di Indonesia, hahaha ... :D

    BalasHapus
  27. halo rossa.. nyasar ke blog ini gara2 blognya cipu, hehehe..
    ternyata menyenangkan sekali tulisan2nya.. :D
    salam kenal ya! ;)

    BalasHapus
  28. wah salam kenal yak.. makin nambah nih blogger di bogor... hayu atuh... ikutan milis blogor...

    BalasHapus
  29. kalau untuk angpao lebaran pastilah harus uang baru..karena anak-anak sukanya uang baru..
    kadang mereka suka protes kalau dikasih uang buluk... (^_^)
    tapi kalau untuk hari-hari saya mah ngak masalah, mau uang baru atau buluk..
    saya lebi suka belanja pake kartu dari uang cash..lebih simpel
    met lebaran ca.. :D

    BalasHapus
  30. Minal aidin walfaizin, maaf lahir dan batin.
    Selamat ied 1431 H.
    Salam

    BalasHapus