Kamis, 26 Desember 2013

Belitung on Budget

Tidak ada transportasi umum di Belitung. Hampir seluruh penduduk Belitung mengandalkan motor sebagai transportasi utama, sedangkan kebanyakan traveler on budget biasanya menggunakan jasa sewa motor harian untuk menekan biaya akomodasi selama berlibur di Belitung. Sebagai seseorang yang selalu mengandalkan jasa transportasi umum, ditambah ketidakmampuan mengendarai motor dan juga mobil, fakta ini cukup membuat saya kebingungan. Bagaimana saya bisa menikmati Belitung dengan segala keterbatasan yang ada?

Alternatif yang saya ambil adalah menggunakan jasa tur, hanya saja saya menghindari tur Belitung yang sudah marak di internet. Saya tidak suka diatur-atur saat berlibur, apalagi jika ketua tur memberi batas waktu ketika mengunjungi tempat wisata yang saya suka. To make it simple, saya menginginkan tur dimana saya memiliki kebebasan untuk menentukan itinerary sendiri dan tentu saja dengan biaya yang masih termasuk dalam kategori on budget.

Pertanyaannya sekarang, ada gitu tur yang seperti kriteria saya itu? Ada dong. Berbekal informasi dari seorang teman yang lebih dulu ke Belitung saya berkenalan dengan Fauzi (081367306696/081373539085), dia dapat meng-arrange rencana liburan selama di Belitung sesuai keinginan saya dengan biaya yang lebih miring dibanding jasa tur lainnya. Hebatnya lagi, dari budgeting yang ditawarkan Fauzi saya bisa meminimalisir beberapa pos pengeluaran sehingga biaya tur yang dikeluarkan dapat semakin ditekan. Misalnya untuk penginapan saya lebih memilih kamar kost yang dapat disewa secara harian (Rp 100.000 per malam, dapat sharing dengan travel partner saya) dan untuk transportasi di hari tertentu saya lebih memilih menggunakan motor daripada mobil.

Untuk perkiraan budgeting di Belitung, harga sewa motor berkisar antara Rp 30.000 sampai Rp 50.000 (belum termasuk biaya bensin), sewa mobil Rp 250.000 (tambahan biaya bensin Rp 150.000 dan driver Rp 100.000), sewa kapal antara Rp 400.000 - Rp 500.000, antar jemput bandara antara Rp 100.000 - Rp 150.000, penginapan on budget Rp 100.000 - Rp 350.000 , makan Rp 20.000 (minimum budgeting untuk sekali makan), snorkeling Rp 30.000. Biaya sewa mobil dan sewa kapal dapat semakin murah jika di-sharing dengan banyak orang.

Itinerary hari pertama saya di Belitung adalah menjelajah Belitung Timur yang jaraknya cukup jauh dari kota Tanjung Pandan. Waktu tempuh sekitar 1,5 – 2 jam, mungkin setara dengan jarak Jakarta – Bandung lewat tol Cipularang. Sepanjang jalan kebanyakan didominasi perkebunan kelapa sawit dan rawa-rawa, Fauzi bahkan menunjukkan beberapa spot yang dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi dan selalu mengingatkan saya jika ingin berhenti di tempat yang saya suka untuk memotret. Selain itu dia juga mengajak saya ke beberapa tempat lokasi wisata yang belum terlalu familiar di kalangan wisatawan. Lokasi wisata di Belitung Timur berpencar-pencar dan tidak banyak petunjuk arah yang dipasang sebagai marka jalan, saya yakin jika nekat berpetualang sendiri saya pasti berakhir nyasar entah kemana.

Hari kedua sampai hari kepulangan saya ke Jakarta seorang teman Fauzi, Harry, ikut menemani kami. Harry memiliki logat Melayu yang terdengar kental dalam pengucapan kalimatnya, rasanya seolah sedang mendongeng buku Laskar Pelangi ketika dia sedang berbicara. Dan seperti kebanyakan orang Melayu yang suka mengobrol, Harry juga tak canggung bercerita tentang kisah masyarakat Belitung. Alih-alih menjadi guide, Fauzi dan Harry pada akhirnya malah menjadi teman baru yang menyenangkan di Belitung. Hingga pada akhirnya membuat liburan saya di Belitung naik peringkat menjadi kategori beyond expectation.

Pantai Serdang, Belitung Timur

Mercusuar Pulau Lengkuas

Hilarious Harry :)

Happy holiday y'all :)

Sabtu, 07 Desember 2013

Pelangi di Negeri Laskar Pelangi

Saya hanya salah satu orang yang jatuh cinta dengan Belitung setelah melihat film Laskar Pelangi. Mengunjungi Belitung sudah masuk dalam bucket list saya sejak film tersebut rilis dan baru terwujudkan pertengahan November lalu dengan bermodalkan tiket promo Citilink. Jujur saja, hati saya ketar-ketir dengan pilihan waktu yang kurang menguntungkan. November sudah masuk musim penghujan dan bahkan guide saya di Belitung pun sudah mewanti-wanti kalau pulau kecil tersebut selalu hujan sejak awal November. Saya tahu dengan pasti laut tidak pernah baik saat musim penghujan, namun toh saya tetap memutuskan untuk berangkat.  

Cuaca masih tidak mendukung sampai hari keberangkatan saya. Jakarta dirundung hujan deras sejak tengah malam buta dan menyisakan gerimis ketika pesawat saya tinggal landas. Tidak sampai satu jam kemudian saya sudah mengudara di atas langit Belitung. Matahari mulai menampakkan sinarnya dan membawa hangat yang keemasan. Dari atas terlihat jelas jejak-jejak kolam kaolin sisa tambang yang telah ditinggalkan. Warna biru hijau air yang memenuhi kolam kontras dengan putihnya tanah sisa tambang yang menumpuk. Bopeng di atas bumi Belitung ini anehnya terasa memesona sekaligus memikat. Selanjutnya barisan sejajar pohon sawit memenuhi pemandangan di bawah sana. Ah Belitung, ternyata pulau ini juga telah terinvasi proyek hutan kelapa sawit yang bahkan pemilik utamanya pun bukan orang Indonesia. Lagi-lagi masyarakat Belitung menjadi buruh di tanahnya sendiri. 

Pesawat saya kemudian mulai mempersiapkan posisi landing, bagian yang paling saya benci dari sebuah penerbangan. Setelah roda ban berdecit dan perut saya seketika terasa mual, terlihat satu sapuan kuas Tuhan dari jendela pesawat yang membuat saya terpana dan ingin loncat dari pesawat sesegera mungkin. Sebuah pelangi menghiasi langit Belitung, hadiah dari Tuhan setelah menurunkan hujan deras dari malam sebelumnya. Langit masih terlihat mendung dengan awan yang berat membawa uap air, saya tahu tak lama lagi hujan akan kembali tercurah di bumi Belitung. Namun hujan juga telah menciptakan pelangi di sebuah tempat yang disebut Andrea Hirata sebagai Negeri Laskar Pelangi. 

Haruskah saya menyesali keputusan untuk menyambangi Negeri Laskar Pelangi saat musim penguhujan tiba?

Rasanya tidak. 

Pelangi ganda di langit Belitung

Rabu, 27 November 2013

Hei, A

Hei A,

It's been a while since our last chat. Since our last fight. Lalu kemudian kita saling menghilang dari kehidupan satu sama lain. And trust my word, I'm not missing you. At all. Hehe... Dan kamu pun mungkin begitu. Ah, siapa yang peduli.

Hei A,

Kamu masih ingat dengan perkenalan pertama kita? Aku akan selalu ingat karena ketika semesta memperkenalkan kita kala itu, maka garis hidupku pun perlahan berubah arah. Tentang aku yang tergila-gila pada karyamu yang independen tapi menyihir itu. Dan tentang kamu yang merasa geli melihat sikapku yang berlebihan memuja karyamu itu. Sesederhana itu perkenalan kita terjadi.

Hei A,

Film, buku, travel, dan menulis. Hanya dibutuhkan empat topik itu untuk membuat kita larut dalam obrolan berjam-jam hingga pagi menjelang. Denganmu keempat topik itu berkembang dalam batas yang luar biasa luas. Denganmu film bukan hanya sekedar gambar bergerak, buku bukan sekedar tulisan bercerita, travel bukan hanya tentang bepergian, dan menulis adalah cara mengekspresikan diri dalam bentuk yang paling jujur. Denganmu keempat hal ini menjadi suatu hal yang selalu menarik untuk ditelisik setiap sisinya. Untuk menemukan pesona tersembunyi di baliknya.

Karena tanpamu A, film, buku, travel, dan menulis kehilangan daya pikatnya.

Hei A,

Nyaman. Hanya rasa itu yang mampu kita berikan satu sama lain. Rasa yang membuat kita menjalin hubungan tanpa ikatan, tanpa rasa memiliki, tapi saling membutuhkan satu sama lain.

Pertanyaannya adalah sampai kapan?
Entahlah. Kita tidak pernah berpikir sejauh itu. Untuk apa berpikir sejauh itu? Toh tidak ada masa depan untuk kita berdua. Kita hanya menjalani apa yang ada saat ini tanpa tendensi apapun. Semudah itu. Sesimpel itu.

Hei A,

Kamu ingat dengan salah satu kalimat favoritku? Bahwa Tuhan tidak pernah dengan sengaja mempertemukan kita dengan seseorang. Selalu ada maksud yang ingin Dia sampaikan ketika Dia mempertemukan kita dengan orang-orang yang hadir dalam kehidupan ini.

Mungkin, jika saja aku tidak pernah mendapati karya independenmu itu di rak buku, jika saja kamu menganggapku sama seperti pemuja karyamu yang lain, maka cerita kita akan berbeda. Aku hanya akan menghabiskan waktu dari balik meja kantor tanpa memiliki mimpi untuk melihat dunia. Sedangkan kamu, yah kamu akan tetap menjadi dirimu seperti yang sekarang ini yang sungguh mencintai perhatian para penggemarmu itu. Tidak akan ada banyak bedanya untuk dirimu yang mengidap penyakit narsistik tingkat akut itu, hehe...

Terima kasih A. Karenamu aku menyadari apa yang ingin aku kejar dalam hidup ini. Karenamu aku telah melewati garis-garis pembatas yang selama ini mengekang langkahku.

Hei A,

Apakah kamu heran membaca surat ini? Setelah sekian lama kita menghilang dari kehidupan masing-masing lalu kamu mendapati suratku ini. Entahlah, aku hanya merasakan sebuah dorongan untuk menulis untukmu. Tapi mungkin kamu sudah bisa menebak mengapa aku menulis surat ini. Kamu cukup mengenalku bukan?

Dear A,

Semua yang memiliki awal pasti memiliki akhir juga. Rasa nyaman itu pada saatnya juga harus mengalah pada realita. Dan kini masa itu tiba. Masa ketika akhirnya kamu mendahuluiku.

Dear A,

Terima kasih pernah hadir dalam hidupku. Memberi warna dan mengajarkan arti baru dalam hidup ini padaku. Aku tidak menangis A, pun tidak tersenyum bahagia untukmu, hehe...

A, semoga rangkaian kalimat ini cukup untuk menggambarkan rasa terima kasihku untuk semua hal yang pernah kita lalui bersama. You're not the best thing in my life, but you've painted new color in my life. Semoga itu cukup untuk menggambarkan arti dirimu dalam hidupku.

Dear A,

Then this is a good bye for us. 
The end of our story. 


PS: Terima kasih, karena sampai waktu itu pun tiba kamu masih berusaha untuk menjaga perasaanku :) 

Jumat, 09 Agustus 2013

Untuk Melihat LukisanMu

Menurut saya setiap orang memiliki momen-momen tertentu yang membuat mereka merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Momen tersebut dapat hadir dalam beragam cara dan bentuk, ada yang menemukannya ketika dia berdoa, ketika menangis dan mencurahkan semua perasaannya dalam gerakan salat, saat membaca kitab suci, saat bersedekah, atau saat membelai lembut rambut anak-anak yatim piatu di panti asuhan sembari menghibur mereka dengan cerita dongeng. Sedangkan saya menemukan momen tersebut ketika melakukan sebuah perjalanan. Ketika menjelajah sebuah tempat asing yang begitu jauh dari rumah sehingga yang terasa hanya ada saya, Tuhan, dan alam yang berbicara dengan bahasanya masing-masing.

Seperti malam ini, ketika saya duduk termangu di salah sofa ruang duduk rumah Feli dan memandang bayang-bayang pemandangan kota kecil dari balik jendela. Secangkir teh yang tak lagi mengepul tergeletak di samping jurnal yang baru selesai ditulis, rekap catatan perjalanan yang dilakukan seharian ini. Feli sudah pamit tidur lebih awal sementara saya masih ingin menutup hari dengan menunggu langit berubah warna menjadi gelap sempurna. Perlahan dingin mulai merayap menembus pertahanan sebuah kabin musim panas yang seharusnya hangat. Bunyi berkelatakan timbul bukan karena langkah kaki di atas lantai kayu, tetapi karena perubahan cuaca dari hangat ke dingin sehingga kayu memuai lalu menyusut. Angin membawa aroma dingin yang bercampur dengan wangi daun, bunga liar, ranting kayu, dan tanah yang tertinggal di ujung hidung. Aroma khas yang menyadarkan bahwa saya sedang berada di salah satu negara yang terletak di ujung utara bumi ini. Sebuah negara yang masuk dalam lingkaran Kutub Utara.

Sofa di ruang duduk rumah Feli

Konon di negara yang masuk dalam lingkaran Kutub Utara matahari dapat terbit selama 24 jam. Midnight sun kebanyakan orang menyebut fenomena tersebut. Dan saya termangu menatap pemandangan di luar jendela untuk mengamati warna langit yang terangnya perlahan meredup, mencoba tidak mengidahkan dingin yang menelusup dari celah-celah kayu, menahan kantuk karena jarum jam telah bergerak melewati angka 10. Matahari memang telah menghilang sama sekali namun saya tetap penasaran ingin melihat sampai kapan terang dapat bertahan sebelum gelap menelan seluruh cahayanya.

Langit malam Oslo di musim panas

'Tuhan, izinkan aku melihat lukisanMu di bumi Skandinavia.' Saya ingat, doa itu yang dahulu terucap ketika saya mulai merancang semua perjalanan gila ini. Dan entah bagaimana caranya semesta tiba-tiba memuluskan jalan saya menuju negara ini. Seakan Tuhan dan semesta berkonspirasi untuk mengabulkan pinta saya dan mengirim saya ke bagian lain dari dunia ini. Dan disinilah saya sekarang, menatap langit dengan mata berat untuk memperkirakan dengan pasti kapan langit benar-benar menggelap kelam. Merasakan langsung kuasaNya dalam mengendalikan semua benda di langit dan bumi sementara kita manusia hanya dapat mengagumi. Dan di titik seperti inilah saya merasa begitu dekat dengan Tuhan sekaligus merasa kecil tak berdaya melihat kehebatanNya.

Untuk melihat lukisanMu, Tuhan. Tanpa sadar saya mendesah pelan mengingat kalimat itu. Lukisan yang saya maksud adalah pemandangan alam khas Norwegia berupa fjord berdinding tebing kasar dengan air terjun hasil lelehan gletser beserta hutan hijau dan kabut yang melingkupi. Pemandangan alam fantastis itu yang membuat saya berangkat sejauh ini dari negara tropis yang hanya mengenal dua musim ke sebuah negara yang bertetangga dengan Kutub Utara. Tapi mimpi saya untuk melihat lukisan itu buyar saat melihat tiket Norway in a Nutshell sudah fully booked bahkan sampai hari kepulangan saya ke Indonesia.


Norway in a Nutshell 

Tuhan, aku sudah sedekat ini untuk melihat lukisanMu. Buatlah sebuah keajaiban agar aku sempat melihat lukisan itu dengan mata kepala sendiri. Untuk melihat kebesaranMu Tuhan. Untuk mengagumi kebesaranMu. Kalimat itu terucap dalam hati seiring dengan padamnya terang di langit kota Oslo. Doa, meminta dengan setulus hati, hanya itu yang mampu saya lakukan ketika seluruh jalan telah ditempuh dan seluruh usaha telah dikerahkan. Dan berharap semoga Tuhan berkenan menciptakan keajaiban lain untuk saya di negara ini.

***

Hari beranjak siang ketika saya terbangun. Feli sudah sibuk menyiapkan sarapan, atau mungkin makan siang, ketika saya menyeret langkah ke dapur. "Morning, kirain gue lo sakit makanya belum bangun." Kemudian dia menghidangkan teh beraroma kayu manis dan apel dengan tambahan susu cair sebagai pengganti gula. Teh favoritnya yang akhirnya menular menjadi teh favorit saya selama menumpang di rumahnya.

"Sorry, gue tidur malem banget semalem," ucap saya sambil tersenyum malu sekaligus merutuki diri sendiri di dalam hati. Udah numpang berani-beraninya bangun telat. Malu-maluin aja!

"Jadi agenda hari ini ngapain aja?" tanya Feli kemudian untuk sekedar memastikan ulang agenda kami di hari tersebut. Kegiatan ini menjadi semacam rutinitas pagi kami sebelum berangkat meninggalkan rumah.

Saya mengingat-ingat sebentar lalu membuka jurnal, "Ke Munch Museet, Holmenkolen, terus malamnya berangkat ke Bergen." Saya tidak dapat menyembunyikan rona wajah kecewa bercampur kebingungan saat menyebut kata Bergen. Seharusnya saya mengikuti tur Norway on a Nutshell di kota itu untuk mengagumi panorama alam khas Norwegia di sepanjang aliran fjord yang membentang. Untuk melihat pulasan warna-warni lukisan Tuhan di Norwegia.

"Tenang aja, lo pasti suka dengan Bergen walau nggak bisa ikutan Norway in a Nutshell. Kotanya cantik kok." Feli yang sepertinya mengetahui kekecewaan saya berusaha menghibur.

Saya tersenyum mengiyakan. Bagaimanapun juga saya harus berangkat ke Bergen. Hanya saja saya tidak yakin harus menulis apa tentang Bergen di buku panduan Skandinavia yang harus saya tulis sepulangnya saya ke Indonesia nanti. Bergen membanggakan dirinya sebagai The Gateway to the Fjords of Norway, di kota inilah tempat yang paling tepat untuk melihat fjord dan panorama menawan Norwegia. Mengarang? Ah bagaimana bisa saya mengarang sesuatu sehebat lukisan Tuhan jika saya tidak pernah melihatnya secara langsung.

***

Jam 6 pagi keesokan harinya kereta NSB yang membawa saya dan Feli dari Oslo sampai di Bergen Railway Station. Feli tidak salah saat mengatakan saya tidak akan menyesali keputusan untuk tetap datang ke Bergen. Pemandangan kereta dari Oslo menuju Bergen (The Bergen Railway) sangat menakjubkan, bahkan rute ini disebut-sebut sebagai salah satu jalur kereta dengan pemandangan tercantik di dunia. Bagaimana tidak, ketika matahari pukul 4 pagi menampakkan dirinya terlihat pemandangan pegunungan kasar yang ditutupi gundukan salju tebal. Seumur hidup baru kali itu saya melihat salju dengan mata sendiri. Pemandangan selanjutnya tidak kalah mencengangkan, danau sebening kristal memantulkan pemandangan di atasnya. Persis seperti cermin. Feli bilang itu bukan danau melainkan fjord. Jantung saya terasa berdebar keras melihat semua keindahan itu dari dalam kereta yang bergerak cepat.


The Bergen Railway 

Percayakah kalian kalau Tuhan bekerja dengan caranya yang misterius? Saya percaya itu. Terkadang saya merasa Tuhan tidak pernah mendengar doa saya, betapa Dia terasa begitu jauh sehingga tidak dapat teraih. Tapi tak jarang juga dia terasa dekat, terasa lebih dekat dibanding urat leher sendiri dan mewujudkan keajaiban-keajaiban yang terasa mustahil. Di pagi yang terasa membeku itu saya duduk melamun sambil mengunyah sandwich yang menjadi menu sarapan. Sementara itu Feli menyeruput teh panasnya sambil mengecek email melalui handphone. Tak berapa lama kemudian dia melonjak-lonjak kegirangan seperti anak kecil, tak dapat berhenti walau beberapa pasang mata di kafe kecil stasiun itu melihat ke arahnya. Saya memandang keheranan, apakah jadwal kepulangan T, suami Feli, dari Amerika dipercepat sehingga dia mendapat serangan kegembiraan seperti ini?

"Yes, yes, yes!!!" Kalimat itu menyertai setiap lonjakan senangnya. "Visit Bergen menyetujui permintaan tiket Norway in a Nutshell kita. Tiketnya bisa langsung diambil hari ini juga di kantor mereka."

Untuk sejenak saya hanya terbengong mencerna kata-kata tersebut. Detik selanjutnya saya sudah ikut melompat-lompat gembira dan menjerit kecil bersama Feli, tak memperdulikan orang-orang yang semakin memandang aneh kepada kami.

Beberapa hari sebelumnya kami memang mengajukan permintaan tiket Norway in a Nutshell pada Visit Bergen saat melihat tiket tersebut sudah fully booked. Dengan menyebutkan bahwa saya akan menerbitkan buku panduan perjalanan dan menulis tentang Bergen di dalamnya serta koneksi yang dimiliki oleh T mereka menyanggupi permintaan tersebut, namun dengan tenggat waktu minimal dua minggu. Entah bagaimana tenggat waktu tersebut tiba-tiba menciut dan disetujui hanya dalam waktu dua hari. Visit Bergen memberi tiket Norway in a Nutshell tepat di jadwal yang telah saya atur sebelumnya. Di hari kedua saya di Bergen, untuk tiket Norway in a Nutshell yang berangkat dari Bergen menuju Oslo (sekalian untuk tiket pulang ke Oslo), dan gratis!!!

Tiket Norway in a Nutshell pemberian Visit Bergen

Terkadang Tuhan menyapa kita di tempat dan waktu yang sama sekali tidak pernah terpikirkan. Seringkali saya menemukan momen tersebut dalam perjalanan, seperti kali ini ketika dia lagi-lagi memberi satu keajaiban kecil dengan mengabulkan permintaan saya. 

Sabtu, 18 Mei 2013

Rendezvous

Masih inget sama Tante Theresia? Tante berusia 60 tahun yang mau solo traveling ke Skandinavia!!! Saya sempat ketemu dengan beliau untuk membahas itinerary dan menjawab beberapa pertanyaan yang belum sempat dia tanyakan di email.

Saya terharu saat Tante Theresia bilang dia tergerak untuk berangkat ke Skandinavia karena buku saya. "Buku kamu jelas banget. Rute bus, turun dimana, naik apa, rekomendasi tempat wisata, penginapan, dan tempat makan semua ada disana. Baca buku kamu rasanya menjelajah Skandinavia seakan mudah. Jadi tante berani untuk berangkat sendiri." Duh, siapa yang nggak melting denger karyanya dapat pujian seperti itu?

Tante Theresia berangkat ke Skandinavia tanggal 21 Mei ini. Rute yang dia tempuh nantinya di Skandinavia adalah Stockholm - Gothenburg - Oslo - Bergen (persis seperti rute perjalanan saya sebelumnya) ditambah Denmark sebagai penutup. Setelah rute Skandinavia selesai dia akan melanjutkan perjalanannya selama 3 minggu di Belanda.

Have a wonderful journey on Scandinavia tante. Pleasure to introduce the beauty of Scandinavia to you :)

Minggu, 05 Mei 2013

Di Balik Kopi Darat


Kalau boleh jujur saya itu tidak pernah pede kalau masuk dalam satu lingkungan baru atau memulai basa-basi dengan seseorang yang asing. Biasanya saya akan menarik diri dan hanya menjadi pengamat sebelum akhirnya bisa berbaur dan beradaptasi. Itu pun kalau saya merasa nyaman dengan lingkungan baru atau orang asing tersebut. Sifat seperti ini menjadi masalah ketika saya harus berhadapan dengan kata 'kopi darat,' satu hal yang acapkali terjadi dalam dunia yang serba maya ini.

Kecuali saya kenal baik dengan orang yang mengajak kopdar ini, saya lebih memilih untuk menghindari kopdar one on one. Alias kopdar hanya dengan seorang blogger. Bagaimana kalau saya merasa tidak nyaman? Bagaimana jika tiba-tiba saya kehabisan topik pembicaraan? Bagaimana jika acara kopdarnya menjadi garing karena kebanyakan diisi dengan dead air? Duh, ngebayanginnya aja saya udah mules. Jadi jangan heran kalau acara kopdar saya partisipannya pasti dia-lagi-dia-lagi (refer to Mila, Cipu, Exort), atau malah kopdar rame-rame sekalian dengan teman-teman blogger baru *bisa ngumpet kalau kehabisan topik pembicaraan*.

Sewaktu di Jogja, saya sempat keroyokan kopdar dengan Rio, Fuji, Maya, dan mas Ari. Semalam suntuk kami mengobrol di angkringan ditemani berpiring-piring camilan dan aneka macam minuman yang terus mengalir ke dalam gelas masing-masing. Tidak ada kata bosan. Tawa terus mengalir di malam itu. Tidak ada dead air karena masing-masing berhasrat untuk berbincang. Entah karena kami semua sudah saling mengenal dengan baik di dunia maya, entah karena itu merupakan kopdar keroyokan, yang pasti itu adalah salah satu kopi darat yang paling menyengkan.

Kopdar Jogja

Kalau dihitung-dihitung, tidak sedikit blogger yang berdomilisi di Bogor. Bogor sendiri memiliki satu komunitas blogger yang memiliki banyak partisipan. Namun kembali ke sifat awal saya tadi, saya lebih memilih untuk tidak bergabung dalam komunitas tersebut. Saya lebih nyaman untuk menjadi blogger independen dan membuat jaringannya sendiri sesuai dengan passion dan kesukaan saya. Tidak hanya sekedar berkumpul dalam satu komunitas dan dipersatukan atas nama blogger.

Dan Pagit adalah blogger asal Bogor yang namanya sering saya dengar karena dia berteman baik dengan Mila dan Cipu. Saya dan Pagit tidak sering bertukar sapa di dunia maya, pun kami jarang berkunjung dan meninggalkan komentar di blog satu sama lain. Tapi satu waktu saya iseng meninggalkan komentar di blog Pagit mengajakknya pinjam meminjam koleksi novel. Komentar saya ditanggapi positif dan berlanjut pada tukar-menukar list koleksi novel masing-masing hingga akhirnya kami bertemu di salah satu kedai kopi ternama membawa novel yang akan saling dipinjamkan. Bohong kalau saya tidak nervous menghadapi kopdar one on one ini, namun kekhawatiran saya tidak terjadi. Banyak hal menyenangkan yang saya dan Pagit obrolkan sore itu, mulai dari pekerjaan masing-masing, novel favorit, cerita perjalanan. Di beberapa titik memang sempat terjadi dead air dan terasa canggung, namun tak berapa lama obrolan kembali mengalir.

Diambil dari blog Pagit ;)

Kopdar saya lainnya yang tergolong nekat adalah dengan Rhein Fathia. Baik saya dan dia sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Saya jarang membaca postingan di blog Rhein begitupun dengan dia. Pertemanan kami terjadi ketika Rhein menerbitkan novel terbarunya di lini Bentang Pustaka dan semesta membelit pertemanan kami karena saya bergabung dengan Mizan dimana beberapa novel Rhein sebelumnya diterbitkan disana. Kami saling bertanya beberapa hal mengenai dua penerbit besar tersebut.Saya bertanya tentang Mizan dan Rhein bertanya tentang Bentang.

Saya dan Rhein sama-sama berdomisili di kota Bogor. Rasanya konyol jika kami tidak pernah bertatap muka langsung. Maka lagi-lagi, kedai kopi itu yang menjadi tempat pilihan untuk bertemu. Dengan sofa-sofa besar, kopi enak, dan hujan yang terus mengguyur Bogor, ah mengapa yang kopdar dengan saya di suasana seromantis itu adalah blogger perempuan? Dan lagi-lagi saya nervous dengan kopdar kali ini. Saya dan Rhein benar-benar dua orang yang asing. Mau ngobrol apa nanti? Jawabannya adalah enam jam ngobrol non stop dan berpindah ke kedai makan tak jauh dari kedai kopi tersebut. Gosip sesama penulis, seluk beluk dunia penerbitan, hal-hal yang jarang saya dengar dan saya bagi itu membuat waktu berlalu tanpa terasa *sampai lupa foto bareng malah*

Belajar dari kesuksesan kopdar one on one dengan blogger yang cukup asing ini ternyata semua kekhawatiran saya tidak terbukti *syukurlah*. Secara tidak langsung hal ini meningkatkan rasa percaya diri saya untuk bertatap muka langsung, one on one, dengan teman blogger lainnya.

Canggung saat pertama bertemu adalah hal yang pasti terjadi, namun setelah beberapa obrolan ringan sebagai ice breaking semuanya akan mengalir lancar. Bertemu dengan teman baru memang selalu menyenangkan. Tidak perlu menjadi seorang yang sempurna di depan seseorang yang sama sekali baru, cukup menjadi diri sendiri apa adanya. Dead air adalah satu hal yang wajar terjadi, tidak perlu cemas. Topik pembicaraan tersedia banyak di luar sana. Kita hanya perlu membuka hati dan pikiran terhadap segala sesuatu hal yang baru, termasuk teman baru.

Dan perlahan demi perlahan, cangkang selaput tipis yang biasanya otomatis menyelubungi saya sebagai bentuk pertahanan diri dari sebuah lingkungan yang asing, menghilang. 

Giveaway Free Blog Design and Free Portrait Drawing by Artika Maya

Hai, udah tau dengan avatar blog Merry go Round kan? Yang bikin adalah Artika Maya. Jeng cantik yang satu ini berbakat banget menggambar dan mendesain. Hasil desain dan gambarnya bisa dilihat di blog ini, dari template blog, header blog, avatar, sampai fave icon semua hasil karya dia.

Kalau mau pesan langsung ke yang bersangkutan bisa menghubungi dia di email artika_maya@yahoo.com. Silahkan nego harga. Kalau mau yang gratisan bisa ikutan giveaway yang lagi dia buat sampai tanggal 25 Mei 2013 nanti. Infonya bisa dibaca disini: http://artikamaya.blogspot.com/2013/05/join-my-giveaway.html

Aku posting illustrasion self portrait yang dia bikin untuk aku ya, biar kalian tambah ngiler sama karya-karyanya ;))

copyright by Artika Maya

copyright by Artika Maya

Minggu, 21 April 2013

'Main Air' di Bangkok

Bertandang ke satu tempat yang sedang dilanda bencana alam tidak pernah mampir dalam pikiran saya. Apalagi untuk tujuan berlibur. Tapi yang namanya bencana alam kan tidak ada yang dapat memprediksi kapan akan terjadinya. Jika bencana alam kebetulan terjadi di tempat yang akan menjadi destinasi wisata kita, pilihannya adalah mau tetap melanjutkan rencana liburan atau membatalkannya.

Bencana banjir yang melanda Thailand di tahun 2011 bersamaan dengan tanggal liburan saya di negara Gajah Putih itu. Media massa menyebutkan banjir telah menelan korban jiwa dan menenggelamkan beberapa kota di Thailand, namun karena Bangkok yang menjadi destinasi utama liburan saya belum terkena dampak banjir akhirnya saya memutuskan untuk tetap nekat berangkat. Yah, pokoknya apapun yang akan terjadi dalam perjalanan nanti, good things or bad things, semuanya akan ikut saya kemas masuk ke dalam ransel. 

Dan kecemasan saya ternyata tidak beralasan. Bangkok kering ring ring ring. Dan panas nas nas nas. Serta pengap ngap ngap ngap. Gila, saya yang setiap hari sudah terbiasa dengan panas dan pengapnya Jakarta ternyata semaput juga menghadapi cuaca Bangkok dengan tingkat kelembapan yang tinggi. Siklus alam pun terjadi ketika sore menjelang, panas yang mendera sedari pagi berganti dengan hujan deras yang turun secara tiba-tiba. Breesshhh....!!! Deras dan terus menderas hingga mengurung saya dan puluhan turis lainnya di dalam kuil Wat Pho selama beberapa jam ke depan.

Sebuah kejutan kecil menanti saya dan turis lain ketika hujan berhenti. Kompleks Wat Pho yang lumayan luas itu tergenang air semata kaki. Bagaimana kami dapat lanjut mengeksplorasi tempat ini? Ah cuek, saya melepas sepatu, menggulung celana dan mencelupkan kaki ke dalam genangan air hujan. Hm, enak juga seperti ini. Paling tidak saya tidak perlu repot melepas dan memakai sepatu setiap akan keluar masuk kuil. Cara lain yang lebih simple untuk berkeliling kompleks tanpa perlu melepas sepatu dan tetap kering adalah digendong travel partner sendiri hingga mengundang tatapan iri pengunjung lain. Duh, melihat pemandangan seperti ini membuat saya berharap travel partner kali itu adalah cowok gebetan, bukan sahabat yang sebentar lagi akan menikah.

Banjir semata kaki di kompleks Wat Pho



Ain't that sweet :)
Photo courtesy of @kniasafitri

Photo courtesy of @kniasafitri

Keesokan harinya saya memutuskan untuk mengunjungi Vinmanmek Mansion dan Ananta Samakhom Throne Hall yang berada di Dusit. Rasanya mubazir jika tiket lanjutan gratis yang otomatis diperoleh jika kita mengunjungi Grand Palace itu tidak digunakan. Untuk perjalanan kali ini saya akan mencoba jalur air dengan menggunakan ferry yang menyusuri sungai Chao Praya. Dari tempat menginap di daerah Khao San Road saya tinggal berjalan kaki menuju dermaga Ta Thien, menumpang ferry kemudian turun di dermaga Thewet. Dari sana nanti tinggal lanjut jalan kaki mengikuti peta. (sepertinya) Mudah!

Dermaga Ta Thien adalah dermaga yang sibuk melayani perjalanan turis yang hendak menyeberang menuju Wat Arun. Dermaga kecil ini dibagi menjadi dua jalur, satu jalur menuju ferry reguler yang selalu tersedia untuk menyebrang ke Wat Arun sementara jalur satunya lagi menuju sebuah dermaga terapung dimana para penumpangnya berdiri untuk mengunggu ferry yang akan lewat untuk mengangkut penumpang. Tidak banyak turis yang mengambil jalur yang terakhir ini, hanya saya dan Nenes yang meniti jembatan kayu menuju dermaga terapung tersebut. Dan tadaaa... di tengah jalan titian kayu itu telah tenggelam oleh air sungai Chao Praya yang meluap.

Bangkok memang belum terkena banjir, namun dilihat dari arus sungai Chao Praya yang menggelegak dan cukup kuat sepertinya hal tersebut hanya tinggal menunggu waktu. Hujan yang terus turun dengan derasnya di kota ini membuat penduduk di pinggiran sungai Chao Praya mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk dengan membuat tanggul buatan dari pasir untuk menahan air sungai yang meluap. Saya menelan ludah kecut melihat kembali jembatan yang setengah tenggelam itu. Paling tidak saya harus merelakan kaki dan sepatu basah (lagi) demi mencapai dermaga terapung tersebut. Lalu bagaimana jika saya salah langkah hingga terperosok jatuh ke dalam sungai yang dalam itu? Hih, saya nggak bisa berenang!

Seorang petugas yang berjaga di dermaga terapung berteriak-teriak dan melambaikan tangannya ke arah kami, seolah berkata "tidak apa-apa, lewati saja jembatan kayu itu." Dan Nenes, travel partner saya yang biasanya paling ogah kotor-kotoran itu dengan gagah berani memimpin jalan menembus luapan air sungai yang menenggelamkan jembatan. Saya bengong mengedip tak percaya. Perjalanan terkadang memang membuat seseorang mengeluarkan bagian dirinya yang sama sekali berbeda. Nenes yang biasanya selalu saya lindungi dalam setiap perjalanan kami sekarang mengeluarkan sisi heroiknya dengan menuntun jalan saya menuju dermaga terapung. You rock, Nes!

Jalur yang terendam air sungai

Perhatikan tinggi air dan jembatan yang tenggelam

Selama menghabiskan waktu liburan di Bangkok sepertinya cuaca di kota itu memang sangat moody. Dari yang awalnya cerah dengan panas yang terasa mencekik tiba-tiba mendung lalu hujan dengan derasnya. Yah, saya memang tidak kebanjiran di Bangkok. Hanya lebih sering merelakan sepatu dan kaki ditelan air semata kaki. Hanya lebih sering kehujanan. Hanya lebih sering tertahan di satu tempat menanti hujan reda. Namun entah mengapa semuanya terasa tak jadi masalah. Mungkin karena semangat liburan sehingga saya lebih mentolerir semua hal buruk yang terjadi. Toh kalau bukan karena cuaca Bangkok yang seperti ini saya tidak akan bertelanjang kaki bermain air hujan sambil mengitari kompleks Wat Pho. Kalau bukan karena sungai yang meluap belum tentu saya sebegitu niatnya mencelupkan kaki di dalam sungai Chao Praya yang legendaris itu. See, liburan membuat saya memandang hal negatif menjadi lebih positif. Turning bad things into a good things.

Di malam terakhir saya di Bangkok lagi-lagi hujan tumpah dengan derasnya. Dari jendela kamar yang terletak di lantai 2 terlihat air hujan telah menggenangi teras belakang hostel. Ketika hujan reda saya dan Nenes memutuskan untuk menutup liburan kali ini dengan makan malam mewah di sebuah restoran India. Saat kami keluar hostel sebuah kejutan lain menanti, Khao San Road banjir setinggi betis!!! Para turis melipir ke tempat yang lebih tinggi sementara pedagang kaki lima panik menyelamatkan barang dagangannya dan pemilik kafe sibuk memasukkan kursi-kursi di teras ke dalam ruangan. Pantas saja di sekitar kawasan Khao San Road ini banyak terlihat karung pasir ditumpuk sebagai tanggul darurat, ternyata daerah ini pun tak luput dari ancaman banjir setelah hujan deras.




Ah, suasana ini mirip seperti Jakarta sehabis hujan deras melanda. Banjir dan semrawut. Namun tidak ada omelan yang keluar dari mulut saya, malah tawa geli melihat suasana chaotic ini. Well, I'm still in holiday. 

Minggu, 31 Maret 2013

Keep Your Travel Passion Burning, Tante!!!

Subject : Travelling ke Scandinavia
Date     : Sunday, 30 Des 2012 6:22 PM
From    : Theresia Lay
To        : Rossa Indah K.

Hi Rossa,

Kenalkan saya Theresia. Sudah baca buku kamu tentang travelling ke Scandinavia. Asyik sekali dan kelihatannya nggak sulit. Cuma mau nanya nih, tante kan sudah berumur 60-an, bisa nggak ya kalau mau solo traveling tapi nggak pakai ransel backpack? Lalu untuk orang seusia tante boleh nggak nginep di dorm? Karena katanya ada batasan usia. Terus di buku kamu kayaknya kamu nggak sendirian, ada beberapa teman yang kamu punya seperti di Oslo, Goteborg, Stockholm, dan Bergen. Ada sih niat untuk pergi di bulan Mei tahun depan. Tolong infonya yang komplit.

Thanks ya,

Salam Theresia.

***

Subject : Re: Travelling ke Scandinavia
Date     : Sunday, 30 Des 2012 7:29 PM
From    : Rossa Indah K.
To        : Theresia Lay

Hai Tante Theresia, 

Wow, saya salut banget sama tante yang masih semangat jalan-jalan (apalagi solo backpacking) walau sudah berusia 60 tahun. Keep your travel passion burning tante!!!!

Tante, waktu saya ke Scandinavia nggak sedikit kok anak-anak muda yang traveling dengan menggeret koper berodanya, di hostel juga banyak koper yang disimpan di samping ranjang atau di tempat penitipan barang. Saya yang waktu itu bawa ransel backpack sempat iri karena bawa koper kan lebih ringkas dan lebih mudah mengatur barang di dalamnya. Jadi kalau tante mau pakai koper dan bukan backpack silahkan saja, tidak ada larangan seorang traveler harus menggunakan backpack dan bukan koper.

Untuk menginap di hostel dengan kamar dorm sepertinya nggak ada masalah tante, asal tante nggak milih hostel dari jaringan youth hostel yang memang ditujukan untuk remaja sampai kisaran umur tertentu. Untuk lebih memastikan tante bisa kirim email ke hostel pilihan dan konfirmasi lebih lanjut. 

Waktu saya traveling ke Scandinavia kemarin saya memang sempat bertemu dengan teman-teman blog dan teman-teman baru hasil korespondensi dari teman-teman blog ini. Tujuannya untuk lebih mengenal Scandinavia dari pandangan orang yang telah lama bermukim disana jadi buku saya bisa lebih real menggambarkan beberapa kota yang sempat dikunjungi di Scandinavia. 

Semoga jawabannya bisa menjawab semua pertanyaan tante. Selamat menjelajah Scandinavia ya Tante :)

Regards,

Rossa.


***

Subject : Re: Travelling ke Scandinavia
Date     : Monday, 31 Des 2012 4:01 PM
From    : Theresia Lay
To        : Rossa Indah K.

Thanks ya Rossa sudah ngebales email tante.

Kayaknya kamu surprise banget ya ada nenek-nenek yang mau solo travelling. Abis gimana, kalau ngajak teman atau saudara pasti lama ketemu waktunya. Sedangkan waktu tidak pernah menunggu. Pengen sih kalau ada yang bareng. Ada nggak ya.

Kalau Rossa suatu saat mau travelling hemat boleh ajak-ajak tante. Kalau jalan mah sanggup asal jangan hiking, tapi naik ke lantai 18 masih ok. Waktu November kemarin tante ke Belitung, naik mercusuarnya 18 lantau pakai tangga masih oke.

Selamat tahun baru 2013. Semoga lebih sukses dan fun.

Salam Theresia.

***

Subject : Re: Travelling ke Scandinavia
Date     : Monday, 31 Des 2012 4:27 PM
From    : Rossa Indah K.
To        : Theresia Lay

Iya tante, aku excited banget baca email-email dari tante. Abis baru sekarang ada email masuk dari pembaca yang walau sudah tidak muda tapi masih bersemangat untuk jalan-jalan. Semoga semangat aku untuk mengeksplorasi dunia bisa seperti tante ya. Selalu bertahan dan menyala sampai tua nanti. 

Semoga kapan-kapan kita bisa ketemu dan travel bareng juga ya tante. Sukses dan lancar untuk rencana travel ke Skandinavianya nanti. 

Happy new year tante, semoga semakin banyak tempat yang tante jelajahi di tahun berikutnya. 

Regards,

Rossa.

Sabtu, 16 Maret 2013

Yeah I'm Old. So What?

25 years old...
Yay, Europe! Super excited for new life experience.

26 years old... 
Launched my travel guide book. 
And started worrying about the future...

27 years old... 
Feels like 'Dude, I'm old.' 
And I couldn't even sleep on my birthday night. 

Yeah dude. It feels like I'm so much older now *cries* 

While people (and I) say age is only a number. Neighborhood and community ask kapan nikah, udah tua juga *cries even louder*

I'm totally desperate facing others comment about my age. 

Then come one line from my besties: "Umur 27 udah ngapain Cha? Kalo gue di umur 27 udah nikah."

Guess what, I'm not cry nor even desperate heard that line. Instead I got angry inside. The only line I wanna said to her was "What the heck" or maybe the rude "what the f*ck" one and continue to told her all my live achievement such as "I've been to Europe and some other places in the world, publish my travel guide book, meet many great people, bla bla bla..." 

But I swallowed it all and stay silent. 

That line. That sucks line. Made me realize, pencapaian hidup tiap orang itu berbeda. 

Bagi seorang perempuan bermental 'princess wannabe,' pencapaian hidupnya adalah menikah dengan seorang lelaki yang bekerja di perusahaan multinasional dengan gaji puluhan juta setiap bulannya sehingga dia tinggal leyeh-leyeh di rumah menikmati kucuran uang dari suami tercinta.

Bagi seorang mahasiswa adalah ketika dia lulus kuliah dengan predikat cum laude, mendapat tawaran beasiswa S2 dari berbagai universitas bergengsi sekaligus undangan untuk bergabung dalam perusahaan multinasional dengan jabatan manajer. 

Bagi seseorang yang mendambakan pendidikan tinggi adalah ketika dia mendapat beasiswa penuh S2 (dan S3 sekaligus kalau perlu) di luar negeri. 

Bagi seorang pendaki gunung adalah ketika dia berhasil menaklukkan puncak-puncak tertinggi dunia, bergabung dalam tim seven summits expedition, atau mendaki Himalaya sekalian. 

Bagi seorang penulis adalah ketika karyanya diterbitkan oleh penerbit besar, best seller, naik cetak hingga puluhan kali, dan tembus pasar internasional. 

Bagi seorang traveler adalah ketika dia berhasil menjejakkan kaki di tanah Tibet. 

What I'm trying to say is, apa yang menurut penting bagi seseorang belum tentu penting bagi orang lain. Pencapaian besar seseorang mungkin hanya terlihat sebagai pencapaian kecil di mata orang lain. Kita tidak bisa men-jugde pencapaian diri sendiri lebih hebat atau lebih besar dibanding yang lainnya, pun kita tidak dapat mengeneralisasikan pencapaian setiap orang dalam setiap fase hidupnya. 

27 years old. Belum banyak pencapaian yang saya raih dalam hidup ini. Tapi seorang teman baik pernah berkata, jangan membandingkan diri dengan orang lain, tapi kembali bandingkan dengan diri sendiri, apakah kamu sudah menjadi seseorang yang lebih baik lagi dibanding sebelumnya? Jika sudah, berarti kamu telah melakukan satu hal besar untuk dirimu sendiri. 

Start living your life with passion.

Dan ya, saya merasa sudah melakukan banyak hal besar untuk diri sendiri. Untuk passion yang terus saya kejar. Hal besar yang mungkin terlihat kerdil di mata orang lain. But who cares? Stop comparing yourself with others. And please, stop judging others life. 

Yeah dude, I'm old. So what? 

Minggu, 10 Februari 2013

Persamaan Memotret dan Memasak

Mungkin hanya saya seorang yang mengkategorikan memotret mirip dengan memasak. 

Memotret menggunakan kamera profesional membutuhkan settingan tersendiri untuk dapat menghasilkan sebuah foto yang stunning, sama seperti memasak yang juga memiliki resep untuk menciptakan masakan yang menggugah rasa. Persamaan lain dari kedua hal tersebut? Saya selalu gagal dalam keduanya *sigh*.

Memasak? Blah, mama saya sampai pernah berkata "Mama akan sujud syukur kalau kamu mau belajar masak dan nemenin mama belanja ke pasar." Memotret? Paling banter coba-coba menu A dimana saya bisa bebas mengatur bukaan aperture. Sisanya, menu S dan menu M nggak pernah saya sentuh. Tak jarang malah saya menggunakan menu iAuto dimana kamera dengan otomatis mengukur shutter dan aperture yang cocok untuk kondisi kamera dan bidang objek foto. Hadeehh, ngapain pake kamera profesional kalau masih ngandelin menu iAuto?

Beberapa waktu yang lalu mama sempat menegur saya, "coba kamera kamu itu dicek dulu, kelamaan disimpen dalam kotak." Benar juga pikir saya, sudah berapa lama semenjak saya bereksplorasi menggunakan kamera. Kasihan juga nasib Olympus EPL1 saya, lama-lama bisa jamuran walau disimpan di dalam dry box. Masalah utama saya dalam menggunakan kamera adalah saya tak kunjung menemukan settingan yang pas dalam memotret satu objek. Padahal jawaban dari masalah saya hanyalah satu, belajar dan terus mengeksplorasi kamera. 

Lalu timbullah niat iseng saya, memotret gedung kantor sepulang kerja. Kenapa tidak mencoba bermain-main dengan hobi baru? Jadilah saya bertanya settingan yang pas untuk memotret gedung dalam kondisi malam hari pada Denny Irawan, teman baik yang juga sekarang sudah menjadi suami partner in crime saya *jadi semacam curcol*. 

"Speed 30 sec, F/22, ISO 200, atau speed 30 sec, F/13, ISO 100. Pake tripod, pas mencet shutter pake timer jadi kamera ga keguncang waktu mulai ngambil gambar." Gila, bahasanya alien banget nggak tuh? Tidak lupa dia memberikan link foto yang dapat saya jadikan referensi. Dari link ini saya mendapat lebih banyak settingan yang dapat saya aplikasikan. Seru juga ternyata, dari sekian banyak kumpulan foto yang di-upload saya dapat melihat angle pemotretan yang baik plus mencatat settingan untuk dipraktekkan sendiri saat memotret. Entah mengapa semangat saya untuk memotret menjadi meningkat berkali-kali lipat. Saya ingin mengabadikan momen dengan hasil jepretan yang lebih baik lagi. Saya ingin dapat bercerita melalui foto. 

Seperti memasak, resep yang sama belum tentu menghasilkan hasil masakan yang sama saat orang yang berbeda mengaplikasikan resep tersebut dalam masakan. Memotret pun seperti itu, settingan yang sama belum tentu menghasilkan sebuah foto stunning seperti yang dicontohkan. Paling tidak itu yang terjadi pada saya. Setelah nyaris dua jam gempor mencari angle yang tepat dengan bantuan tripod, menyetel kamera dengan ukuran yang persis sama, ternyata hasilnya mengecewakan. Jauuuuhhh dengan yang dicontohkan. 

But I learned something. Bahwa mengeksplorasi kamera dengan menu M ternyata menyenangkan. Bahwa ternyata kamera profesional memungkinkan kita untuk berkreasi lebih banyak dalam menghasilkan foto-foto dengan ide fresh dan out of the box. Bahwa ternyata saya harus mulai belajar lebih banyak tentang settingan yang tepat untuk berbagai kondisi objek dan mulai melepaskan diri dari jerat menu iAuto. Dan bahwa memotret adalah pekerjaan yang cukup melelahkan, hal ini terbukti dari pinggang dan kaki yang yang berasa mau patah setelah pulang memotret. Note this: memotret serius sepulang kerja bukanlah ide yang bagus. 

Memotret sama dengan memasak. Diperlukan passion untuk mau belajar dan terus belajar untuk menghasilkan foto yang cukup baik. Diperlukan kerja keras untuk mengolah objek menjadi gambar yang dapat bercerita. Dan sama seperti berbagai passion lainnya, hati harus ikut tergerak untuk terus menyelaminya. 

Hasil fotonya saya share disini, sok mangga kalau mau dikritik dan diketawain *pasrah*.

Percobaan perdana menggunakan menu M. Trail light-nya dapet, tapi tulisan CIMB Niaga nya malah overexposure

Masih pake menu M dengan settingan sama seperti menu di atas, dan tulisan CIMB Niaga tetep aja overexposure. Itu kenapaaa???

Jeratan menu iAuto. Simple, nggak ribet, hasilnya bagus. Tapi sampe kapan pake menu iAuto terus???

Percobaan foto trail light. Mustinya dari tempat yang lebih tinggi, tapi nggak mungkin dong pake rok cantik manjat-manjat gedung.

Masih percobaan trail light. Ganggu banget liat tulisan CIMB Niaga di belakang tetep overexposure.

Location: CIMB Niaga Padjajaran Bogor. 

Sabtu, 02 Februari 2013

Rumah Baru (lagi)

Hello blogosphere...

It's been a while since I wrote here. Nulis cerita yang tidak berkaitan dengan kata Toraja, Makassar, Teddy, dan 4 Hari Untuk Selamanya ;) I know I know, kalian juga mulai bosen bacanya kan. Jadi saya putuskan untuk stop dulu cerita 4 Hari Untuk Selamanya sampai ada update terbaru. 

So, nyadar sama perubahan yang terjadi dengan blog ini nggak? Template baru, header baru, avatar baru, secara keseluruhan blog saya menempati rumah barunya lagi untuk kali yang kesekian (saya lupa udah berapa kali blog ini gonta-ganti template). 'Rumah baru' ini khusus saya pesan ke Artika Maya, template dasarnya dibuat mirip dengan template lama saya yang masa pakainya sudah habis. So far saya puas dengan hasilnya, kesannya segar, ceria, dan fun. Semoga kalian juga betah ya main-main ke rumah barunya merry go round ini. 

Oh ya, ngomongin rumah baru, saya juga 'pindah rumah' dalam kehidupan nyata. Well, nggak pindah rumah beneran sih, makanya kata pindah rumah itu dipakaikan tanda kutip. Jadi, saya udah nggak betah dan capek banget ngadepin macetnya Jakarta (ada yang ngerasa macetnya Jakarta itu nambah parah nggak sih?), jadi saya putuskan untuk pindah ke Bogor, ke rumah almarhumah nenek saya. 

Kenapa Bogor? Bukankah jarak Bogor - Jakarta lebih jauh daripada Cibinong (tempat berdomisili saya sekarang) - Jakarta? Karena dari Bogor saya dapat menggunakan kereta commuter line, dengan demikian saya benar-benar terhindar dari kemacetan Jakarta. Jarak tempuh kereta Jakarta - Bogor memakan waktu 1.5 jam, lebih cepat dibanding jarak Jakarta - Cibinong yang dapat menghabiskan waktu hingga 3 jam (dan molor hingga 4 jam jika macetnya masuk dalam kategori parah). 

Let me tell you a secret, dari sekian banyak mode transportasi, saya paling horor menggunakan kereta. Di kepala saya kereta itu penuh dengan pencopet, pelecehan seksual, dan rawan dengan semua bentuk tindak kejahatan. Jadi keputusan pindah ke Bogor ini seperti me-refresh kehidupan per-komuter-an saya. Saya yang dulunya setiap pagi buta dan larut malam harus lari-lari mengejar bus, tarik urat leher saat menghadapi macet dan penumpang lain yang menyebalkan, sekarang harus menjejalkan diri berdesak-desakan dengan ratusan komuter lain dalam gerbong kereta. Ternyata rasanya seru! 

Untuk seorang komuter yang sering dikecewakan dengan jadwal bus yang hanya-Tuhan-yang-tahu-kapan-bus-tersebut-sampai-halte maka saya cukup puas dengan jadwal kereta yang cukup tepat waktu (walau tidak jarang terlambat juga). Saya dapat memperkirakan dengan tepat estimasi waktu yang diperlukan untuk pulang dan pergi kantor, pun dapat berangkat kerja lebih siang dan tidak kemalaman sampai ke rumah. Dan yang paling utama dan paling penting, otak saya tidak ikut ruwet dan stress menghadapi macetnya Jakarta. 

Berbicara tentang rumah nenek, tempat ini menyimpan banyak kenangan masa kecil dan masa perkuliahan saya. Dulu saya menghabiskan sebagian besar masa kecil di rumah nenek, bersama nenek yang selalu menjaga saya. Seiring waktu, kulit nenek semakin berkeriput, jarak pandangnya tidak jauh lagi, dan dia tidak sanggup berjalan jauh walau untuk sekedar membuang sampah ke depan gang rumah. Nenek selalu menyambut ramah semua cucu yang datang mengunjunginya, walau dia harus melihat lekat-lekat dengan jarak kurang dari 20 cm untuk dapat mengenali wajah cucunya. Jika waktu kuliah sedang senggang saya selalu menyempatkan mampir ke rumah nenek, membawakannya es krim untuk dinikmati bersama, mengobrol tentang hal apapun, dan membaui wangi khasnya yang selalu membuat saya merasa nyaman.  

Rumah nenek tidak banyak berubah, lingkungan sekitarnya juga tidak banyak berubah walau rumpun bunga pukul empat tempat saya dan adik bermain petak umpet sudah tidak ada lagi. Setiap berjalan melewati gang menuju rumah nenek saya selalu teringat dengan satu janji yang tidak sempat terpenuhi, janji untuk membelikan nenek kursi roda dengan gaji sendiri. Saya ingin mengajak nenek berjalan-jalan melihat kota Bogor yang sudah banyak berubah, mengajaknya keluar dari pojokan rumah mungil dan nyaman itu. Janji itu tidak sempat terwujudkan karena nenek meninggal hanya beberapa hari sebelum saya memulai hari pertama bekerja. 

Bogor memang menyimpan banyak kenangan untuk saya. Sekarang kota itu yang menjadi pilihan saya sebagai tempat tinggal. Sebuah kota kecil dengan curah hujan tinggi yang selalu membuat saya merasa nyaman. Semoga rumah baru blog ini juga bisa membuat kalian nyaman untuk bertandang :)