16 Mar 2014

Crossroad: Tentang Road Trip, Toraja, dan Pilihan Hati


Awalnya Rossa dan Teddy hanya berencana menghabiskan waktu empat hari liburan dengan berwisata ke Toraja dan mengeksplorasi Makassar. Perjalanan ala backpacker seketika berubah ketika Teddy mendapat pinjaman mobil dari bosnya, dia menyarankan satu ide baru: road trip. Berkendara ke Toraja dari Makassar menggunakan mobil pinjaman.

Dalam perjalanan panjang Makassar – Toraja terentang banyak waktu yang harus dibunuh dengan obrolan. Topik tentang hidup, mimpi, cita-cita, kenakalan, dan cinta hanya beberapa hal yang dapat memancing percakapan seru, perdebatan, dan pertukaran mind set. Siapa pun tidak akan menyangka bahwa percakapan sepanjang perjalanan itu akan berujung pada sebuah kontemplasi diri. Seiring banyaknya hal yang diobrolkan, mereka semakin jujur satu sama lain. Termasuk perasaan satu sama lain yang ikut berkembang dalam jarak yang ditempuh.

Toraja ternyata bukan menjadi poin utama dari perjalanan mereka. Percakapan yang serupa awakening call itulah yang membuat liburan terasa berbeda sehingga membekas di hati dan ingatan. Cerita ini tidak hanya berkisah tentang perjalanan menuju Toraja. Dalam cerita ini pembaca diajak untuk ikut berpetualang di dalam mobil, merasakan langsung keindahan alam Sulawesi Selatan, melihat sendiri eksotisme budaya kuno Toraja yang masih bertahan hingga saat ini, dan ikut merenung sesaat mengenai hidup lewat percakapan yang mengalir antara Rossa dan Teddy. Sebagai penutup, pembaca akan ikut berdebar-debar penasaran dengan kelanjutan hubungan mereka berdua.

Crossroad: Tentang Road Trip, Toraja, dan Pilihan Hati awalnya merupakan cerita bersambung yang ditulis di blog Merry go Round dengan tema besar 4 Hari Untuk Selamanya dan sekarang diterbitkan oleh Penerbit Mizan/ Qanita.

Harga Crossroad Rp 55.000 dan mulai edar di toko buku sekitar minggu depan. Bisa pre order atau order ke saya dan free ongkos kirim (email ke rossaindah.k@gmail.com).

Ayo dibeli dibeli dibeli *jualan*

26 Des 2013

Belitung on Budget

Tidak ada transportasi umum di Belitung. Hampir seluruh penduduk Belitung mengandalkan motor sebagai transportasi utama, sedangkan kebanyakan traveler on budget biasanya menggunakan jasa sewa motor harian untuk menekan biaya akomodasi selama berlibur di Belitung. Sebagai seseorang yang selalu mengandalkan jasa transportasi umum, ditambah ketidakmampuan mengendarai motor dan juga mobil, fakta ini cukup membuat saya kebingungan. Bagaimana saya bisa menikmati Belitung dengan segala keterbatasan yang ada?

Alternatif yang saya ambil adalah menggunakan jasa tur, hanya saja saya menghindari tur Belitung yang sudah marak di internet. Saya tidak suka diatur-atur saat berlibur, apalagi jika ketua tur memberi batas waktu ketika mengunjungi tempat wisata yang saya suka. To make it simple, saya menginginkan tur dimana saya memiliki kebebasan untuk menentukan itinerary sendiri dan tentu saja dengan biaya yang masih termasuk dalam kategori on budget.

Pertanyaannya sekarang, ada gitu tur yang seperti kriteria saya itu? Ada dong. Berbekal informasi dari seorang teman yang lebih dulu ke Belitung saya berkenalan dengan Fauzi (081367306696/081373539085), dia dapat meng-arrange rencana liburan selama di Belitung sesuai keinginan saya dengan biaya yang lebih miring dibanding jasa tur lainnya. Hebatnya lagi, dari budgeting yang ditawarkan Fauzi saya bisa meminimalisir beberapa pos pengeluaran sehingga biaya tur yang dikeluarkan dapat semakin ditekan. Misalnya untuk penginapan saya lebih memilih kamar kost yang dapat disewa secara harian (Rp 100.000 per malam, dapat sharing dengan travel partner saya) dan untuk transportasi di hari tertentu saya lebih memilih menggunakan motor daripada mobil.

Untuk perkiraan budgeting di Belitung, harga sewa motor berkisar antara Rp 30.000 sampai Rp 50.000 (belum termasuk biaya bensin), sewa mobil Rp 250.000 (tambahan biaya bensin Rp 150.000 dan driver Rp 100.000), sewa kapal antara Rp 400.000 - Rp 500.000, antar jemput bandara antara Rp 100.000 - Rp 150.000, penginapan on budget Rp 100.000 - Rp 350.000 , makan Rp 20.000 (minimum budgeting untuk sekali makan), snorkeling Rp 30.000. Biaya sewa mobil dan sewa kapal dapat semakin murah jika di-sharing dengan banyak orang.

Itinerary hari pertama saya di Belitung adalah menjelajah Belitung Timur yang jaraknya cukup jauh dari kota Tanjung Pandan. Waktu tempuh sekitar 1,5 – 2 jam, mungkin setara dengan jarak Jakarta – Bandung lewat tol Cipularang. Sepanjang jalan kebanyakan didominasi perkebunan kelapa sawit dan rawa-rawa, Fauzi bahkan menunjukkan beberapa spot yang dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi dan selalu mengingatkan saya jika ingin berhenti di tempat yang saya suka untuk memotret. Selain itu dia juga mengajak saya ke beberapa tempat lokasi wisata yang belum terlalu familiar di kalangan wisatawan. Lokasi wisata di Belitung Timur berpencar-pencar dan tidak banyak petunjuk arah yang dipasang sebagai marka jalan, saya yakin jika nekat berpetualang sendiri saya pasti berakhir nyasar entah kemana.

Hari kedua sampai hari kepulangan saya ke Jakarta seorang teman Fauzi, Harry, ikut menemani kami. Harry memiliki logat Melayu yang terdengar kental dalam pengucapan kalimatnya, rasanya seolah sedang mendongeng buku Laskar Pelangi ketika dia sedang berbicara. Dan seperti kebanyakan orang Melayu yang suka mengobrol, Harry juga tak canggung bercerita tentang kisah masyarakat Belitung. Alih-alih menjadi guide, Fauzi dan Harry pada akhirnya malah menjadi teman baru yang menyenangkan di Belitung. Hingga pada akhirnya membuat liburan saya di Belitung naik peringkat menjadi kategori beyond expectation.

Pantai Serdang, Belitung Timur

Mercusuar Pulau Lengkuas

Hilarious Harry :)

Happy holiday y'all :)

7 Des 2013

Pelangi di Negeri Laskar Pelangi

Saya hanya salah satu orang yang jatuh cinta dengan Belitung setelah melihat film Laskar Pelangi. Mengunjungi Belitung sudah masuk dalam bucket list saya sejak film tersebut rilis dan baru terwujudkan pertengahan November lalu dengan bermodalkan tiket promo Citilink. Jujur saja, hati saya ketar-ketir dengan pilihan waktu yang kurang menguntungkan. November sudah masuk musim penghujan dan bahkan guide saya di Belitung pun sudah mewanti-wanti kalau pulau kecil tersebut selalu hujan sejak awal November. Saya tahu dengan pasti laut tidak pernah baik saat musim penghujan, namun toh saya tetap memutuskan untuk berangkat.  

Cuaca masih tidak mendukung sampai hari keberangkatan saya. Jakarta dirundung hujan deras sejak tengah malam buta dan menyisakan gerimis ketika pesawat saya tinggal landas. Tidak sampai satu jam kemudian saya sudah mengudara di atas langit Belitung. Matahari mulai menampakkan sinarnya dan membawa hangat yang keemasan. Dari atas terlihat jelas jejak-jejak kolam kaolin sisa tambang yang telah ditinggalkan. Warna biru hijau air yang memenuhi kolam kontras dengan putihnya tanah sisa tambang yang menumpuk. Bopeng di atas bumi Belitung ini anehnya terasa memesona sekaligus memikat. Selanjutnya barisan sejajar pohon sawit memenuhi pemandangan di bawah sana. Ah Belitung, ternyata pulau ini juga telah terinvasi proyek hutan kelapa sawit yang bahkan pemilik utamanya pun bukan orang Indonesia. Lagi-lagi masyarakat Belitung menjadi buruh di tanahnya sendiri. 

Pesawat saya kemudian mulai mempersiapkan posisi landing, bagian yang paling saya benci dari sebuah penerbangan. Setelah roda ban berdecit dan perut saya seketika terasa mual, terlihat satu sapuan kuas Tuhan dari jendela pesawat yang membuat saya terpana dan ingin loncat dari pesawat sesegera mungkin. Sebuah pelangi menghiasi langit Belitung, hadiah dari Tuhan setelah menurunkan hujan deras dari malam sebelumnya. Langit masih terlihat mendung dengan awan yang berat membawa uap air, saya tahu tak lama lagi hujan akan kembali tercurah di bumi Belitung. Namun hujan juga telah menciptakan pelangi di sebuah tempat yang disebut Andrea Hirata sebagai Negeri Laskar Pelangi. 

Haruskah saya menyesali keputusan untuk menyambangi Negeri Laskar Pelangi saat musim penguhujan tiba?

Rasanya tidak. 

Pelangi ganda di langit Belitung

27 Nov 2013

Hei, A

Hei A,

It's been a while since our last chat. Since our last fight. Lalu kemudian kita saling menghilang dari kehidupan satu sama lain. And trust my word, I'm not missing you. At all. Hehe... Dan kamu pun mungkin begitu. Ah, siapa yang peduli.

Hei A,

Kamu masih ingat dengan perkenalan pertama kita? Aku akan selalu ingat karena ketika semesta memperkenalkan kita kala itu, maka garis hidupku pun perlahan berubah arah. Tentang aku yang tergila-gila pada karyamu yang independen tapi menyihir itu. Dan tentang kamu yang merasa geli melihat sikapku yang berlebihan memuja karyamu itu. Sesederhana itu perkenalan kita terjadi.

Hei A,

Film, buku, travel, dan menulis. Hanya dibutuhkan empat topik itu untuk membuat kita larut dalam obrolan berjam-jam hingga pagi menjelang. Denganmu keempat topik itu berkembang dalam batas yang luar biasa luas. Denganmu film bukan hanya sekedar gambar bergerak, buku bukan sekedar tulisan bercerita, travel bukan hanya tentang bepergian, dan menulis adalah cara mengekspresikan diri dalam bentuk yang paling jujur. Denganmu keempat hal ini menjadi suatu hal yang selalu menarik untuk ditelisik setiap sisinya. Untuk menemukan pesona tersembunyi di baliknya.

Karena tanpamu A, film, buku, travel, dan menulis kehilangan daya pikatnya.

Hei A,

Nyaman. Hanya rasa itu yang mampu kita berikan satu sama lain. Rasa yang membuat kita menjalin hubungan tanpa ikatan, tanpa rasa memiliki, tapi saling membutuhkan satu sama lain.

Pertanyaannya adalah sampai kapan?
Entahlah. Kita tidak pernah berpikir sejauh itu. Untuk apa berpikir sejauh itu? Toh tidak ada masa depan untuk kita berdua. Kita hanya menjalani apa yang ada saat ini tanpa tendensi apapun. Semudah itu. Sesimpel itu.

Hei A,

Kamu ingat dengan salah satu kalimat favoritku? Bahwa Tuhan tidak pernah dengan sengaja mempertemukan kita dengan seseorang. Selalu ada maksud yang ingin Dia sampaikan ketika Dia mempertemukan kita dengan orang-orang yang hadir dalam kehidupan ini.

Mungkin, jika saja aku tidak pernah mendapati karya independenmu itu di rak buku, jika saja kamu menganggapku sama seperti pemuja karyamu yang lain, maka cerita kita akan berbeda. Aku hanya akan menghabiskan waktu dari balik meja kantor tanpa memiliki mimpi untuk melihat dunia. Sedangkan kamu, yah kamu akan tetap menjadi dirimu seperti yang sekarang ini yang sungguh mencintai perhatian para penggemarmu itu. Tidak akan ada banyak bedanya untuk dirimu yang mengidap penyakit narsistik tingkat akut itu, hehe...

Terima kasih A. Karenamu aku menyadari apa yang ingin aku kejar dalam hidup ini. Karenamu aku telah melewati garis-garis pembatas yang selama ini mengekang langkahku.

Hei A,

Apakah kamu heran membaca surat ini? Setelah sekian lama kita menghilang dari kehidupan masing-masing lalu kamu mendapati suratku ini. Entahlah, aku hanya merasakan sebuah dorongan untuk menulis untukmu. Tapi mungkin kamu sudah bisa menebak mengapa aku menulis surat ini. Kamu cukup mengenalku bukan?

Dear A,

Semua yang memiliki awal pasti memiliki akhir juga. Rasa nyaman itu pada saatnya juga harus mengalah pada realita. Dan kini masa itu tiba. Masa ketika akhirnya kamu mendahuluiku.

Dear A,

Terima kasih pernah hadir dalam hidupku. Memberi warna dan mengajarkan arti baru dalam hidup ini padaku. Aku tidak menangis A, pun tidak tersenyum bahagia untukmu, hehe...

A, semoga rangkaian kalimat ini cukup untuk menggambarkan rasa terima kasihku untuk semua hal yang pernah kita lalui bersama. You're not the best thing in my life, but you've painted new color in my life. Semoga itu cukup untuk menggambarkan arti dirimu dalam hidupku.

Dear A,

Then this is a good bye for us. 
The end of our story. 


PS: Terima kasih, karena sampai waktu itu pun tiba kamu masih berusaha untuk menjaga perasaanku :)