18 Mei 2013

Rendezvous

Masih inget sama Tante Theresia? Tante berusia 60 tahun yang mau solo traveling ke Skandinavia!!! Saya sempat ketemu dengan beliau untuk membahas itinerary dan menjawab beberapa pertanyaan yang belum sempat dia tanyakan di email.

Saya terharu saat Tante Theresia bilang dia tergerak untuk berangkat ke Skandinavia karena buku saya. "Buku kamu jelas banget. Rute bus, turun dimana, naik apa, rekomendasi tempat wisata, penginapan, dan tempat makan semua ada disana. Baca buku kamu rasanya menjelajah Skandinavia seakan mudah. Jadi tante berani untuk berangkat sendiri." Duh, siapa yang nggak melting denger karyanya dapat pujian seperti itu?

Tante Theresia berangkat ke Skandinavia tanggal 21 Mei ini. Rute yang dia tempuh nantinya di Skandinavia adalah Stockholm - Gothenburg - Oslo - Bergen (persis seperti rute perjalanan saya sebelumnya) ditambah Denmark sebagai penutup. Setelah rute Skandinavia selesai dia akan melanjutkan perjalanannya selama 3 minggu di Belanda.

Have a wonderful journey on Scandinavia tante. Pleasure to introduce the beauty of Scandinavia to you :)

5 Mei 2013

Di Balik Kopi Darat


Kalau boleh jujur saya itu tidak pernah pede kalau masuk dalam satu lingkungan baru atau memulai basa-basi dengan seseorang yang asing. Biasanya saya akan menarik diri dan hanya menjadi pengamat sebelum akhirnya bisa berbaur dan beradaptasi. Itu pun kalau saya merasa nyaman dengan lingkungan baru atau orang asing tersebut. Sifat seperti ini menjadi masalah ketika saya harus berhadapan dengan kata 'kopi darat,' satu hal yang acapkali terjadi dalam dunia yang serba maya ini.

Kecuali saya kenal baik dengan orang yang mengajak kopdar ini, saya lebih memilih untuk menghindari kopdar one on one. Alias kopdar hanya dengan seorang blogger. Bagaimana kalau saya merasa tidak nyaman? Bagaimana jika tiba-tiba saya kehabisan topik pembicaraan? Bagaimana jika acara kopdarnya menjadi garing karena kebanyakan diisi dengan dead air? Duh, ngebayanginnya aja saya udah mules. Jadi jangan heran kalau acara kopdar saya partisipannya pasti dia-lagi-dia-lagi (refer to Mila, Cipu, Exort), atau malah kopdar rame-rame sekalian dengan teman-teman blogger baru *bisa ngumpet kalau kehabisan topik pembicaraan*.

Sewaktu di Jogja, saya sempat keroyokan kopdar dengan Rio, Fuji, Maya, dan mas Ari. Semalam suntuk kami mengobrol di angkringan ditemani berpiring-piring camilan dan aneka macam minuman yang terus mengalir ke dalam gelas masing-masing. Tidak ada kata bosan. Tawa terus mengalir di malam itu. Tidak ada dead air karena masing-masing berhasrat untuk berbincang. Entah karena kami semua sudah saling mengenal dengan baik di dunia maya, entah karena itu merupakan kopdar keroyokan, yang pasti itu adalah salah satu kopi darat yang paling menyengkan.

Kopdar Jogja

Kalau dihitung-dihitung, tidak sedikit blogger yang berdomilisi di Bogor. Bogor sendiri memiliki satu komunitas blogger yang memiliki banyak partisipan. Namun kembali ke sifat awal saya tadi, saya lebih memilih untuk tidak bergabung dalam komunitas tersebut. Saya lebih nyaman untuk menjadi blogger independen dan membuat jaringannya sendiri sesuai dengan passion dan kesukaan saya. Tidak hanya sekedar berkumpul dalam satu komunitas dan dipersatukan atas nama blogger.

Dan Pagit adalah blogger asal Bogor yang namanya sering saya dengar karena dia berteman baik dengan Mila dan Cipu. Saya dan Pagit tidak sering bertukar sapa di dunia maya, pun kami jarang berkunjung dan meninggalkan komentar di blog satu sama lain. Tapi satu waktu saya iseng meninggalkan komentar di blog Pagit mengajakknya pinjam meminjam koleksi novel. Komentar saya ditanggapi positif dan berlanjut pada tukar-menukar list koleksi novel masing-masing hingga akhirnya kami bertemu di salah satu kedai kopi ternama membawa novel yang akan saling dipinjamkan. Bohong kalau saya tidak nervous menghadapi kopdar one on one ini, namun kekhawatiran saya tidak terjadi. Banyak hal menyenangkan yang saya dan Pagit obrolkan sore itu, mulai dari pekerjaan masing-masing, novel favorit, cerita perjalanan. Di beberapa titik memang sempat terjadi dead air dan terasa canggung, namun tak berapa lama obrolan kembali mengalir.

Diambil dari blog Pagit ;)

Kopdar saya lainnya yang tergolong nekat adalah dengan Rhein Fathia. Baik saya dan dia sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Saya jarang membaca postingan di blog Rhein begitupun dengan dia. Pertemanan kami terjadi ketika Rhein menerbitkan novel terbarunya di lini Bentang Pustaka dan semesta membelit pertemanan kami karena saya bergabung dengan Mizan dimana beberapa novel Rhein sebelumnya diterbitkan disana. Kami saling bertanya beberapa hal mengenai dua penerbit besar tersebut.Saya bertanya tentang Mizan dan Rhein bertanya tentang Bentang.

Saya dan Rhein sama-sama berdomisili di kota Bogor. Rasanya konyol jika kami tidak pernah bertatap muka langsung. Maka lagi-lagi, kedai kopi itu yang menjadi tempat pilihan untuk bertemu. Dengan sofa-sofa besar, kopi enak, dan hujan yang terus mengguyur Bogor, ah mengapa yang kopdar dengan saya di suasana seromantis itu adalah blogger perempuan? Dan lagi-lagi saya nervous dengan kopdar kali ini. Saya dan Rhein benar-benar dua orang yang asing. Mau ngobrol apa nanti? Jawabannya adalah enam jam ngobrol non stop dan berpindah ke kedai makan tak jauh dari kedai kopi tersebut. Gosip sesama penulis, seluk beluk dunia penerbitan, hal-hal yang jarang saya dengar dan saya bagi itu membuat waktu berlalu tanpa terasa *sampai lupa foto bareng malah*

Belajar dari kesuksesan kopdar one on one dengan blogger yang cukup asing ini ternyata semua kekhawatiran saya tidak terbukti *syukurlah*. Secara tidak langsung hal ini meningkatkan rasa percaya diri saya untuk bertatap muka langsung, one on one, dengan teman blogger lainnya.

Canggung saat pertama bertemu adalah hal yang pasti terjadi, namun setelah beberapa obrolan ringan sebagai ice breaking semuanya akan mengalir lancar. Bertemu dengan teman baru memang selalu menyenangkan. Tidak perlu menjadi seorang yang sempurna di depan seseorang yang sama sekali baru, cukup menjadi diri sendiri apa adanya. Dead air adalah satu hal yang wajar terjadi, tidak perlu cemas. Topik pembicaraan tersedia banyak di luar sana. Kita hanya perlu membuka hati dan pikiran terhadap segala sesuatu hal yang baru, termasuk teman baru.

Dan perlahan demi perlahan, cangkang selaput tipis yang biasanya otomatis menyelubungi saya sebagai bentuk pertahanan diri dari sebuah lingkungan yang asing, menghilang. 

Giveaway Free Blog Design and Free Portrait Drawing by Artika Maya

Hai, udah tau dengan avatar blog Merry go Round kan? Yang bikin adalah Artika Maya. Jeng cantik yang satu ini berbakat banget menggambar dan mendesain. Hasil desain dan gambarnya bisa dilihat di blog ini, dari template blog, header blog, avatar, sampai fave icon semua hasil karya dia.

Kalau mau pesan langsung ke yang bersangkutan bisa menghubungi dia di email artika_maya@yahoo.com. Silahkan nego harga. Kalau mau yang gratisan bisa ikutan giveaway yang lagi dia buat sampai tanggal 25 Mei 2013 nanti. Infonya bisa dibaca disini: http://artikamaya.blogspot.com/2013/05/join-my-giveaway.html

Aku posting illustrasion self portrait yang dia bikin untuk aku ya, biar kalian tambah ngiler sama karya-karyanya ;))

copyright by Artika Maya

copyright by Artika Maya

21 Apr 2013

'Main Air' di Bangkok

Bertandang ke satu tempat yang sedang dilanda bencana alam tidak pernah mampir dalam pikiran saya. Apalagi untuk tujuan berlibur. Tapi yang namanya bencana alam kan tidak ada yang dapat memprediksi kapan akan terjadinya. Jika bencana alam kebetulan terjadi di tempat yang akan menjadi destinasi wisata kita, pilihannya adalah mau tetap melanjutkan rencana liburan atau membatalkannya.

Bencana banjir yang melanda Thailand di tahun 2011 bersamaan dengan tanggal liburan saya di negara Gajah Putih itu. Media massa menyebutkan banjir telah menelan korban jiwa dan menenggelamkan beberapa kota di Thailand, namun karena Bangkok yang menjadi destinasi utama liburan saya belum terkena dampak banjir akhirnya saya memutuskan untuk tetap nekat berangkat. Yah, pokoknya apapun yang akan terjadi dalam perjalanan nanti, good things or bad things, semuanya akan ikut saya kemas masuk ke dalam ransel. 

Dan kecemasan saya ternyata tidak beralasan. Bangkok kering ring ring ring. Dan panas nas nas nas. Serta pengap ngap ngap ngap. Gila, saya yang setiap hari sudah terbiasa dengan panas dan pengapnya Jakarta ternyata semaput juga menghadapi cuaca Bangkok dengan tingkat kelembapan yang tinggi. Siklus alam pun terjadi ketika sore menjelang, panas yang mendera sedari pagi berganti dengan hujan deras yang turun secara tiba-tiba. Breesshhh....!!! Deras dan terus menderas hingga mengurung saya dan puluhan turis lainnya di dalam kuil Wat Pho selama beberapa jam ke depan.

Sebuah kejutan kecil menanti saya dan turis lain ketika hujan berhenti. Kompleks Wat Pho yang lumayan luas itu tergenang air semata kaki. Bagaimana kami dapat lanjut mengeksplorasi tempat ini? Ah cuek, saya melepas sepatu, menggulung celana dan mencelupkan kaki ke dalam genangan air hujan. Hm, enak juga seperti ini. Paling tidak saya tidak perlu repot melepas dan memakai sepatu setiap akan keluar masuk kuil. Cara lain yang lebih simple untuk berkeliling kompleks tanpa perlu melepas sepatu dan tetap kering adalah digendong travel partner sendiri hingga mengundang tatapan iri pengunjung lain. Duh, melihat pemandangan seperti ini membuat saya berharap travel partner kali itu adalah cowok gebetan, bukan sahabat yang sebentar lagi akan menikah.

Banjir semata kaki di kompleks Wat Pho



Ain't that sweet :)
Photo courtesy of @kniasafitri

Photo courtesy of @kniasafitri

Keesokan harinya saya memutuskan untuk mengunjungi Vinmanmek Mansion dan Ananta Samakhom Throne Hall yang berada di Dusit. Rasanya mubazir jika tiket lanjutan gratis yang otomatis diperoleh jika kita mengunjungi Grand Palace itu tidak digunakan. Untuk perjalanan kali ini saya akan mencoba jalur air dengan menggunakan ferry yang menyusuri sungai Chao Praya. Dari tempat menginap di daerah Khao San Road saya tinggal berjalan kaki menuju dermaga Ta Thien, menumpang ferry kemudian turun di dermaga Thewet. Dari sana nanti tinggal lanjut jalan kaki mengikuti peta. (sepertinya) Mudah!

Dermaga Ta Thien adalah dermaga yang sibuk melayani perjalanan turis yang hendak menyeberang menuju Wat Arun. Dermaga kecil ini dibagi menjadi dua jalur, satu jalur menuju ferry reguler yang selalu tersedia untuk menyebrang ke Wat Arun sementara jalur satunya lagi menuju sebuah dermaga terapung dimana para penumpangnya berdiri untuk mengunggu ferry yang akan lewat untuk mengangkut penumpang. Tidak banyak turis yang mengambil jalur yang terakhir ini, hanya saya dan Nenes yang meniti jembatan kayu menuju dermaga terapung tersebut. Dan tadaaa... di tengah jalan titian kayu itu telah tenggelam oleh air sungai Chao Praya yang meluap.

Bangkok memang belum terkena banjir, namun dilihat dari arus sungai Chao Praya yang menggelegak dan cukup kuat sepertinya hal tersebut hanya tinggal menunggu waktu. Hujan yang terus turun dengan derasnya di kota ini membuat penduduk di pinggiran sungai Chao Praya mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk dengan membuat tanggul buatan dari pasir untuk menahan air sungai yang meluap. Saya menelan ludah kecut melihat kembali jembatan yang setengah tenggelam itu. Paling tidak saya harus merelakan kaki dan sepatu basah (lagi) demi mencapai dermaga terapung tersebut. Lalu bagaimana jika saya salah langkah hingga terperosok jatuh ke dalam sungai yang dalam itu? Hih, saya nggak bisa berenang!

Seorang petugas yang berjaga di dermaga terapung berteriak-teriak dan melambaikan tangannya ke arah kami, seolah berkata "tidak apa-apa, lewati saja jembatan kayu itu." Dan Nenes, travel partner saya yang biasanya paling ogah kotor-kotoran itu dengan gagah berani memimpin jalan menembus luapan air sungai yang menenggelamkan jembatan. Saya bengong mengedip tak percaya. Perjalanan terkadang memang membuat seseorang mengeluarkan bagian dirinya yang sama sekali berbeda. Nenes yang biasanya selalu saya lindungi dalam setiap perjalanan kami sekarang mengeluarkan sisi heroiknya dengan menuntun jalan saya menuju dermaga terapung. You rock, Nes!

Jalur yang terendam air sungai

Perhatikan tinggi air dan jembatan yang tenggelam

Selama menghabiskan waktu liburan di Bangkok sepertinya cuaca di kota itu memang sangat moody. Dari yang awalnya cerah dengan panas yang terasa mencekik tiba-tiba mendung lalu hujan dengan derasnya. Yah, saya memang tidak kebanjiran di Bangkok. Hanya lebih sering merelakan sepatu dan kaki ditelan air semata kaki. Hanya lebih sering kehujanan. Hanya lebih sering tertahan di satu tempat menanti hujan reda. Namun entah mengapa semuanya terasa tak jadi masalah. Mungkin karena semangat liburan sehingga saya lebih mentolerir semua hal buruk yang terjadi. Toh kalau bukan karena cuaca Bangkok yang seperti ini saya tidak akan bertelanjang kaki bermain air hujan sambil mengitari kompleks Wat Pho. Kalau bukan karena sungai yang meluap belum tentu saya sebegitu niatnya mencelupkan kaki di dalam sungai Chao Praya yang legendaris itu. See, liburan membuat saya memandang hal negatif menjadi lebih positif. Turning bad things into a good things.

Di malam terakhir saya di Bangkok lagi-lagi hujan tumpah dengan derasnya. Dari jendela kamar yang terletak di lantai 2 terlihat air hujan telah menggenangi teras belakang hostel. Ketika hujan reda saya dan Nenes memutuskan untuk menutup liburan kali ini dengan makan malam mewah di sebuah restoran India. Saat kami keluar hostel sebuah kejutan lain menanti, Khao San Road banjir setinggi betis!!! Para turis melipir ke tempat yang lebih tinggi sementara pedagang kaki lima panik menyelamatkan barang dagangannya dan pemilik kafe sibuk memasukkan kursi-kursi di teras ke dalam ruangan. Pantas saja di sekitar kawasan Khao San Road ini banyak terlihat karung pasir ditumpuk sebagai tanggul darurat, ternyata daerah ini pun tak luput dari ancaman banjir setelah hujan deras.




Ah, suasana ini mirip seperti Jakarta sehabis hujan deras melanda. Banjir dan semrawut. Namun tidak ada omelan yang keluar dari mulut saya, malah tawa geli melihat suasana chaotic ini. Well, I'm still in holiday.