Java Soundsfair 2014

Tahun ini Java Production mengkreasikan satu festival musik baru yang mengkombinasikan genre pop, rock, R n B, urban, dan electronic dance sekaligus. Publik sempat mengira Java Soundsfair sebagai festival musik yang merupakan gabungan antara Java Rockin’ Land dan Java Soulnation, mengingat kedua event tahunan tersebut gagal diselenggarakan tahun ini. Namun Java Production dengan tegas menampik hal tersebut dan mengatakan Java Soundsfair merupakan festival musik yang berbeda dengan festival musik yang pernah ada sebelumnya. Apakah kedepannya Java Production akan menyelenggarakan empat festival musik (Java Jazz Festival, Java Rockin’ Land, Java Soulnation, Java Soundsfair) sekaligus setiap tahunnya? We will see.

Seperti festival musik yang digelar Java Production sebelumnya, Java Soundsfair juga menghadirkan puluhan artis dalam dan luar negeri untuk meramaikan acaranya. Java Soundsfair sendiri diadakan selama tiga hari berturut-turut dengan JCC sebagai venue yang dipilih kali ini. Dilihat dari line up artisnya, Java Soundsfair sepertinya dapat mewujudkan genre yang diusung sebagai tema dasar festival. Sebutlah MAGIC! yang beraliran reggae fusion, Sophie Ellis Bextor yang identik dengan lagu disko feminim nan ceria, belasan DJ yang namanya tidak familiar di telinga namun siap menghentak penonton dalam nada upbeat. Line up artis dalam negeri sendiri cukup mengejutkan dengan hadirnya Mocca dan Float yang sudah cukup lama vakum. 

Java Soundsfair dengan cerdasnya memasang artis-artis andalan dari beragam genre ke dalam tiga hari yang berbeda. Membuat saya kebingungan menjatuhkan pilihan, hari mana yang sebaiknya dihadiri. Pilihan akhirnya jatuh ke hari pertama festival dimulai. Alasannya simpel, karena di hari tersebut Sophie Ellis Bextor dan MAGIC! perform.

Hop On Hop Off Stage

Satu jam sebelum performance Sophie Eliis Bextor saya gunakan untuk keluar masuk beberapa stage berbeda. I called this as hop on hop off stage. Mampir ke beragam stage berbeda. Kalau betah saya akan menghabiskan waktu lebih lama disana, kalau bosan tinggal pindah ke stage lain. Inilah salah satu kelebihan festival gelaran Java Production, beberapa artis perform dalam waktu yang sama di panggung berbeda. Penonton tinggal memilih dan mengkobinasikan sendiri mau menonton yang mana.

Pilihan pertama, stage Cendrawasih 3 dimana CTS sedang perform. Whatever CTS means for, saya datang ke stage Cendrawasih 3 karena mayoritas semua DJ perform disana. Benar saja, saya langsung disambut lagu Kokoro No Tomo yang di-remix sedemikian rupa sehingga menghentak stage yang lebih mirip dengan dance floor. Penonton terlihat menikmati ramuan musik CTS dan menghentakkan badan mengikuti irama. Andai saja ada bar area, stage ini tak akan berbeda dengan tempat dugem. 

Dari panggung terlihat tiga orang mengenakan topeng dengan layar LED di bagian wajah. Layar LED menampilkan tiga gambar berbeda pada ketiga orangnya: lingkaran, segitiga, dan kotak. Belakangan saya baru tahu kalau CTS merupakan representasi dari ketiga bentuk tersebut dalam bahasa Inggris: Circle, Triangle, Shape. Ada perasaan aneh yang timbul saat melihat CTS. Dengan kostum serupa astonot dan kepala ditutup helm ber-LED, saya seperti melihat alien sedang ber-DJ. Aneh banget!

Dari stage Cendrawasih 3 saya pindah ke Plenary Hall yang menjadi main stage. RAN sedang perform disana. Walau termasuk artis andalan, namun penonton yang memadati Plenary Hall tidak membludak. Dengan mudah saya dapat menyelip ke baris tengah untuk memotret. Penampilan RAN sendiri cukup menyenangkan, mereka membawakan lagu andalan Pandangan Pertama dan Dekat di Hati sebagai dua lagu terakhir sebelum menutup acara. Mampu membuat seluruh penonton ikut bernyanyi bersama dan larut dalam suasana.

Gorgeous Tante Sophie

Selesai performance RAN stage akan dipakai untuk performance Sophie Ellis Bextor. Penonton yang memiliki niatan sama untuk mendapat front row memadati pintu masuk stage yang masih ditutup. Kompetisi lari dimulai saat pintu dibuka dan seluruh penonton berhamburan memasuki Plenary Hall. Belum pernah rasanya saya berlari secepat dan segragas itu demi mendapatkan front row. Perjuangan itu terbayar saat tante Sophie keluar dari back stage. Napas saya serasa tertahan dan berulang kali berucap ‘oh my God, oh my God’ berulang kali. Jarak saya dan tante Sophie tidak sampai 10 meter! Dari jarak sedekat itu, kecantikan tante Sophie yang anggun terlihat jelas.

Dengan standing mike tepat di tengah panggung beserta band pendukungnya, tante Sophie menyanyikan lagu pembukanya. Suara tante Sophie yang jernih mengalun menghipnotis seisi Plenary Hall. Tante Sophie kebanyakan membawakan lagu-lagu dari album barunya, Wanderlust, yang rilis tahun ini. Sayangnya saya, seperti mayoritas penonton lain, kurang familiar dengan lagu-lagu tersebut. Tidak enaknya menjadi penonton front row adalah saat lirikan maut tante Sophie menangkap basah saya beserta penonton lainnya tidak ikut bernyanyi bersamanya. Duh tante, pengen ikut nyanyi tapi saya nggak tau liriknya.





Thanks for looking to my camera, tante :*

Setelah menyanyikan beberapa lagu tante Sophie menyapa penonton dan berkata “why are guys so quite? Come on, sing along with me.” Namun setelah itu tante Sophie juga mengatakan dia maklum jika penonton tidak familiar dengan lagu-lagu yang dibawakan karena dia ingin memperkenalkan album barunya kepada penonton Indonesia. Tenang tante, walau lagunya baru pertama kali saya dengar tapi saya suka banget. Dan walau lagunya tidak familiar, seisi Plenary Hall ikut berdansa mengikuti irama musik tante Sophie yang menghentak.

Menurut tante Sophie albumnya kali ini berbeda dengan album sebelumnya. Jika di album sebelumnya dia lebih identik dengan nada-nada disko, di album kali ini dia ingin bercerita tentang khayalannya akan penyihir, rumah di puncak bukit, dan berbagai fantasi kanak-kanak. Sedikit bereksperimental menurut saya, dan eksperimental tersebut berhasil! Lagu Love is a Camera cukup merangkum ekperimental fantasi tante Sophie ke dalam aransemen lagu yang apik, menghentak dalam lirik yang penuh fantasi.

Setelah menyanyikan Love is a Camera tante Sophie melambaikan tangan dan masuk ke back stage. Suami tante Sophie, Richard Jones, yang malam itu berperan sebagai bassist mengambil alih jeda waktu tersebut dengan memainkan nada-nada yang semakin menghentak. Tak lama kemudian tante Sophie keluar back stage mengenakan dress hijau tipis minim menggantikan dress merah berornamen gambar khas kanak-kanak yang sebelumnya dia kenakan. Lirikan mata tante Sophie terlihat nakal dan dia mulai bergoyang menarikan irama disko. Lagu Take Me Home kemudian mengalun, membuat seisi Plenary Hall ikut bergoyang dan bernyanyi. Stage mulai memanas seiring dimainkannya lagu yang familiar di telinga penonton. Tante Sophie terlihat semakin bersemangat melihat reaksi penonton. Sepertinya lagu-lagu ini memang sengaja dimainkan dibelakang sebagai klimaks dari pertunjukan.




Lagu Murder on the Dancefloor dimainkan sebagai penutup pertunjukan malam itu. Hipnotis pesona tante Sophie masih terasa melekat hingga layar panggung menutup.

Sensual Performance, MAGIC!

Keluar dari Plenary Hall saya langsung mencari antrian masuk untuk performance MAGIC! Walau MAGIC! akan perform di Plenary Hall juga namun diperlukan tiket tambahan yang mengharuskan penonton untuk memverifikasi tiket mereka sebelum masuk stage. Antrian segera mengular begitu performance Sophie Ellis Bextor selesai. Beruntung saya termasuk orang yang mendapat antrian terdepan, hanya ada tujuh orang di depan antrian saya.

Sebenarnya jeda waktu antara performance Sophie Ellis Bextor dan MAGIC! berlangsung selama 1 jam 15 menit, bisa saya gunakan untuk hop on hop off stage kembali. Apalagi saat itu Tokyo Ska Paradise Orchestra sedang perform, dilihat dari layar televisi yang menampilkan live performance mereka tampaknya begitu seru dan menyenangkan. Namun ada harga yang harus dibayar untuk mendapat front row dan waktu 1 jam 15 menit itu rela saya habiskan dengan menanti pintu masuk Plenary Hall kembali dibuka.

Segera setelah pintu stage kembali dibuka, lalu menyelesaikan verifikasi tiket, kemudian berlari kencang bersaing dengan penonton lainnya, saya mendapatkan baris ketiga dengan posisi persis di tengah panggung. Untungnya tinggi badan saya masih lebih tinggi beberapa senti dibanding dua orang penonton di depan, saya jadi mendapat akses langsung ke tengah panggung tanpa terhalang penonton lain. Jika sebelumnya jarak saya dan tante Sophie tidak kurang dari 10 meter, kali ini jarak saya dengan Nasri tidak kurang dari 5 meter! Saya jadi lemes liat Nasri dari jarak sedekat itu.

MAGIC! membuka penampilan malam itu lewat lagu Stupid Me yang mendapat sambutan hangat dari penonton lalu disusul lagu Mama Didn’t Raise a Fool dan No Evil. Nasri cukup apik membawakan nada reggae dengan penampilan yang menggoda. Dia mampu menerjemahkan aliran reggae fushion yang diusung MAGIC! lewat aksi panggung yang sederhana namun memikat sekaligus sensual. Goyangan pinggul, lirikan mata nakal, dipadu nada reggae yang santai cukup membuat seisi Plenary Hall panas!

 Seductive Nasri :p




Tapi yang menyedot perhatian saya malam itu bukan Nasri, melainkan Ben yang memainkan bass. Setiap jeda lagu dan penonton riuh memberi tepuk tangan saya selalu menjeritkan nama Ben, berharap dia menoleh ke arah saya. Sama seperti harapan kebanyakan penonton wanita lain yang juga ramai-ramai meneriakkan nama Ben. Menurut saya, diantara semua anggota MAGIC! (Nasri, Mark, Ben, Alex), Ben adalah anggota yang paling good looking. Tampangnya seperti Orlando Bloom versi gondrong dan rebel. Gemesh! Nasri yang menyadari banyaknya penonton yang histeris meneriakkan nama Ben bertanya, “you’re so hysterical calling Ben, he wouldn’t care. Right, Ben?” yang hanya dijawab Ben dengan anggukan dan senyum cool. Penonton makin histeris memanggil nama Ben, Nasri sendiri sampai mengkomando seisi Plenary Hall untuk memanggil Ben, dan masih tidak ditanggapi oleh Ben. “See?” ucap Nasri menang.

Ben!!! Uwuwuwuwuw.... 


Mark (gitar) dan Alex (drum)

Lagu-lagu dari album pertama MAGIC! mengisi sisa malam yang semakin memanas. Jika Bob Marley masih hidup, dia pasti bangga dengan MAGIC! yang mampu meramu musik reggae menjadi berkali-kali lipat menyenangkan seperti ini. Lagu pamungkas Don’t Kill The Magic menciptakan satu koor massal di Plenary Hall. Sebelum Nasri menyanyikan lagu andalan mereka, Rude, dia sempat membahas meme yang banyak beredar di twitter. “Knock, knok. Who is that?” tanya Nasri. “So I’m Wahyu?” lanjutnya sambil tertawa.

Meme yang dibahas Nasri

Lagu Rude menutup penampilan MAGIC! malam itu. Meninggalkan penonton dengan kekecewaan akan waktu konser yang hanya 1 jam 15 menit. Antiklimaks banget, setelah dua lagu andalan MAGIC! kemudian konser selesai? Come on Java Soundsfair, this is not fair at all!

Another Hop On Hop Off Stage


Masih kecewa dengan antiklimaks dari performance MAGIC! saya kembali ke stage Cendrawasih 3. Malam masih muda, hentakan musik yang diciptakan Jakarta Techno Militia mungkin dapat memperbaiki mood. Di atas panggung terlihat beberapa orang yang sibuk dengan laptop, turntable dan beragam perlengkapan lainnya meramu musik yang mengentak dan memancing tubuh untuk ikut bergerak menikmati iramanya. Menyenangkan. Tapi lama-lama kok bosan juga ya. Jadilah saya pindah ke stage sebelah dimana Asian Dub Foundation sedang perform. Dan sebelum satu lagu selesai saya memutuskan untuk pulang saja. Nampaknya keriaan malam ini memang sudah harus ditutup. 


Catatan: karena gaptek pakai DSLR pinjeman, nggak sengaja saya malah men-delete foto-foto CTS dan RAN :(

On Fine Afternoon in Belitung Timur

Selama ini Belitung Timur hanya identik dengan wisata Laskar Pelangi-nya. Tidak heran karena sebagian besar lokasi pengambilan gambar film tersebut dilakukan di wilayah ini. Sebutlah Manggar, tempat dimana Ikal membeli kapur dan bertemu Aling, juga Gantong yang menjadi lokasi sekolah Laskar Pelangi. Namun sesungguhnya Belitung Timur menyimpan pesona yang lebih besar dibanding itu semua. Di tempat ini setiap sudut seperti menyimpan pesona tersendiri. Surga bagi pecinta fotografi yang haus mengeksplorasi kecantikan alam original Belitung selain pemandangan pantainya. 

Seperti yang saya temui sore itu dalam perjalanan pulang dari pantai Burung Mandi. Sore mulai menjelang ketika mobil sewaan kami melintas sebuah rawa-rawa luas di tepian jalan. Tidak ada yang spesial dari rawa-rawa tersebut, tapi indra penglihatan tidak dapat berbohong kalau tempat itu begitu menarik untuk dilewatkan begitu saja.

Dan beberapa frame foto sepertinya cukup menjelaskan betapa bersahajanya kecantikan alam Belitung Timur.





A Closure

Bogor, di sebuah kedai kopi pada sore yang hujan.

“I need a closure,” ucap saya pahit. Sepahit kopi hitam pekat tanpa gula yang saya pesan barusan.

Gita yang sedari tadi menemani saya menghabiskan sore berhujan di Bogor menyernyit mendengarnya. “Closure for what?” tanyanya retorik dengan nada acuh. Setelah menghirup wangi cappuccino dan mereguk sedikit isinya dia melanjutkan, “untuk hubungan lo dan Arya? Seinget gue, lo dan Arya nggak pernah mendeklarasikan ikatan apapun untuk hubungan nggak jelas kalian berdua itu. So, closure for what?

Saya tertawa kecil mendengar reaksi Gita. “Don’t be that cynical, Git. Lo yang paling tau kalau menutup cerita dengan Arya nggak pernah menjadi perkara mudah untuk gue.

“Masochist,” cibir Gita. “Segitu sukanya lo disiksa perasaan sama Arya?”

“I’m not!” Saya tertawa berderai sambil melempar bantal kursi ke arahnya.

“Then what?” tanya Gita tajam. “Dua tahun lo menggantungkan diri pada Arya. Memilih untuk menjalani hubungan tanpa ikatan, ikut tersenyum bahagia waktu Arya cerita tentang calon istrinya, sampai pada akhirnya dia ninggalin lo pergi begitu aja.”

Kata-kata Gita barusan langsung menusuk tepat di hati, walau demikian saya masih bisa melengkungkan senyum. “I’m fine with it. Itu pilihan yang gue ambil agar gue bisa menjadi salah satu chapter dalam cerita hidup Arya. Hopefully, menjadi chapter yang menyenangkan.”

Gita menggelengkan kepala tak habis pikir mendengar jawaban saya. “You truly are masochist,” ucapnya sambil memeluk bantal kursi yang barusan saya lempar lalu menatap tajam ke arah saya.


“Well, maybe I am,” ucap saya menyerah.

Gita menggeser duduknya ke sofa di sebelah saya. Sambil memegang tangan saya dia berkata lembut, “kalau lo segitu sayangnya sama Arya, kenapa nggak pernah bilang sama dia?”

Saya tersenyum hambar. “Bukan begitu jalannya untuk gue dan Arya. Kita berdua merasa nyaman saat bersama dan rasa itu yang membuat kita menjalin hubungan tanpa ikatan. Tanpa rasa saling memiliki, tapi saling membutuhkan satu sama lain.”

“Tapi mau sampai kapan lo terus dibayang-bayangi sosok Arya, Sha?” tanya Gita dengan sabar. “Arya udah memilih pendampingnya, lo sendiri juga sebentar lagi akan menikah. Jadi berhentilah hidup di masa lalu.”

Saya menggigit bibir lalu menghela napas pendek sebelum mengulang kalimat yang sama yang sudah saya ucapkan sebelumnya. “I need a closure, Git.”

“How? Ketemuan sama Arya? Jujur tentang perasaan lo ke dia? Would it be a closure for you?”

Saya menggelengkan kepala. “If I say England would be my closure, will you called me crazy?”

“Of course not,” jawab Gita sambil tersenyum tipis. “You’re insane,” sambungnya pedas.


Jakarta, Stadion Gelora Bung Karno setelah pertandingan Liverpool FC Pre-Season Tour selesai.

Kopites (sebutan untuk fans Liverpool FC) mulai beranjak meninggalkan kursinya sementara Arya masih terhenyak di tempat duduknya. Dia masih saja menggeleng-gelengkan kepala, seakan tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Entah untuk keberapa kalinya dia kembali mengucapkan kalimat yang sama. "I’ve just watched Steven Gerrard played in front of me! God, this can’t be real!”

Saya tersenyum simpul melihat semangat Arya yang masih meluap-luap. Sejak menempati kursinya Arya tidak dapat duduk tenang, dia menyanyikan anthem You’ll Never Walk Alone sampai tenggorokannya kering, melompat-lompat riang seperti anak kecil kebanyakan gula, serta bersorak paling keras saat melihat berbagai manuver yang dilancarkan pemain Liverpool. Arya seakan berada di dimensi yang berbeda dengan saya. Dia tengah tenggelam dalam dunia yang begitu dicintainya.

“Makasih tiketnya ya, Sha. Nggak nyangka kamu bisa dapet posisi sebagus ini, must be very expensive ya?” kata Arya sambil merangkul bahu saya lalu mengecup kening saya sekilas.

“No problemo mister,” ucap saya tersenyum tak kalah lebar.

“Walau belum bisa ‘naik haji’ ke Anfield dan nonton Liverpool langsung disana, LFC tour malem ini cukup memuaskan.” Mata Arya bersinar senang dan sebuah senyum lebar tersungging di wajahnya. “Suatu hari nanti aku harus nonton mereka langsung di Anfield. Pokoknya, sebelum aku mati, aku harus pergi ke Anfield.”

Dahi saya menyernyit, “kamu mau bela-belain ke Inggris cuma untuk pergi ke Anfield dan nonton Liverpool live disana?” Nada heran terselip dalam kalimat saya.

“For sure.” Arya menjawab tegas disertai anggukan kepala mantap. Menandakan dia tidak main-main dengan mimpinya tersebut.

“Eeerr.. I don’t really get the point...” kalimat saya menggantung di udara, tidak mengerti dengan jalan pikiran Arya.

Arya terdiam sejenak, seperti berusaha menyusun kata-kata yang dapat mewakili kecintaannya pada Liverpool FC. “Bagi aku, seperti jutaan Kopites lainnya, Liverpool adalah way of life,” nada suara Arya terdengar seperti menyiratkan sebuah kerinduan besar yang belum dituntaskan walau beberapa menit yang lalu dia baru menonton pemain Liverpool beraksi di lapangan hijau. “Liverpool dengan caranya sendiri mampu menginspirasi nadi kehidupan para Kopites. Kita ada tidak hanya saat klub bermain baik, tapi kita juga tetap mendukung klub di saat-saat terburuknya. Itu yang menjadikan klub LFC dan Kopitesnya solid seperti keluarga, itu juga yang membuat Kopites belajar mengambil hikmah dari semua hal yang menimpa klub maupun pemain, baik ataupun buruk.”

Saya terpana mendengar cinta yang terselip dalam setiap kata yang Arya ucapkan. Mata Arya yang berbinar indah saat mengucapkan kata Liverpool seperti menghiptonis saya. Binar itu terlihat begitu hidup, penuh dengan cinta dan passion.

“Ada sebuah pertandingan bersejarah Liverpool yang membuat semua Kopites percaya bahwa impossible is nothing.” Arya melemparkan pandangannya ke lapangan Gelora Bung Karno sebelum melanjutkan cerita, seakan membayangkan pertandingan bersejarah tersebut sedang terjadi tepat di depan matanya. “Final Liga Champion 2005, stadion Kemal Ataturk, Istanbul. Liverpool yang nggak diunggulkan maju ke babak final menghadapi klub raksasa Eropa, AC Milan. Hanya perlu satu menit untuk AC Milan berhasil membuat gol mereka yang pertama. Bahkan sampai babak pertama habis Liverpool harus menerima kenyataan kalau mereka habis dibantai 3 – 0 tanpa balas.

Bayangkan hancurnya mental pemain dan pendukung Liverpool saat itu. Peluang menang tipis, nyaris nggak ada malah. Semua Kopites di seluruh dunia hanya bisa berdoa, cuma keajaiban yang bisa membalikkan keadaan. Lagu You’ll Never Walk Alone terus dinyanyiin Kopites di stadion Kemal Ataturk sepanjang sesi istirahat, mereka menyemangati sekaligus mendoakan para pemain lewat lagu tersebut.

Walk on, through the wind
Walk on, through the rain 
Though your dreams be tossed and blown
Walk on, walk on, with hope in your heart 
And you'll never walk alone 

Dan kamu tau, Sha? Keajaiban itu terjadi 9 menit kemudian saat babak kedua dimulai. Steven Gerrard berhasil menyarangkan bola di gawang AC Milan. Gol pertama bagi Liverpool yang seakan membangkitkan semangat tim dan pendukung. Dan keajaiban nggak berhenti sampai disitu aja, dalam waktu enam menit berikutnya Liverpool berhasil menyamakan skor menjadi 3 – 3.”

Jantung saya terasa mencelos mendengarnya. Miracles do happen, batin saya.  

“Liverpool berhasil membalikkan keadaan hanya dalam waktu enam menit,” Arya menggelengkan kepalanya mengingat momen ajaib tersebut, “dan mereka berhasil mempertahankan posisi itu sampai waktu pertandingan habis. Pertandingan akhirnya ditutup dengan adu pinalti, yang dimenangkan oleh Liverpool.”

Siulan lagu You’ll Never Walk Alone mengalun pelan mengisi stadion Gelora Bung Karno yang mulai sepi. Arya kembali tenggelam dalam dimensinya, dalam dunianya, dalam kecintaannya pada Liverpool FC. Saya tercenung mengamati, perlahan mengerti alasannya.

Impossible is nothing, Sha,” ucap Arya tiba-tiba. “Kamu hanya perlu berjuang sedikit lebih keras untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang melintas di kepala.”

Saya memandang Arya dengan penuh sayang. Kamu selalu punya cara untuk menyemangati aku berani memperjuangkan mimpi ya, Ar. Pandangan saya kemudian jatuh kepada kamera mirrorless dengan lensa tele di pangkuan. Dua tahun lalu, setelah saya mengenal Arya, saya mulai berani mengambil pekerjaan freelance sebagai fotografer amatir. Arya yang pertama kali mengatakan kalau saya berbakat dan mendorong saya untuk mengembangkan diri di dunia fotografi.

Berkenalan dengan seorang Arya adalah sebuah turning point dalam hidup saya. Bagi saya, Arya adalah role model, seseorang yang menjalani hidup yang tidak pernah berani saya imipikan: bebas, lepas, tidak terikat, begitu hidup, penuh dengan mimpi. Hanya berkaca dari dirinya saya menjadi seseorang yang berani mengejar mimpinya sendiri. Hanya meminjam sedikit semangatnya, saya menjelma menjadi seseorang yang sama sekali baru. Saya ingin selalu dan selalu mengikuti jejak langkahnya. Mengekor di belakangnya. Memandangi punggungnya dari kejauhan.

Dan jika Arya berkata dia akan mengunjungi Anfield suatu hari nanti dan menonton Liverpool FC langsung dari sana, saya percaya mimpi itu akan jadi kenyataan. Karena Arya selalu memperjuangkan mimpi yang dia punya sampai dia berhasil mewujudkannya.

One day, kita ke Anfield bareng ya, Sha,” cetus Arya tiba-tiba.

Saya terkejut mendengarnya. “Kita?” tanya saya mengkonfirmasi.

“Iya, kita berdua,” kata Arya sambil menggenggam tangan saya hangat, seakan mengalirkan semangat yang meletup-letup dalam dirinya. “Kita ke Anfield bareng. Aku bisa nulis tentang Liverpool dan kamu bisa motret disana. Itu akan menjadi kolaborasi karya kita yang pertama.”

Hati saya mendadak hangat mendengar kata-kata Arya barusan. Tenggorokan saya tercekat oleh rasa haru yang menerpa. Untuk pertama kalinya Arya menyertakan saya dalam mimpinya. Sebuah mimpi besar yang telah dipendamnya lama.

Saya mengangguk dalam buncahan rasa bahagia. “One day, Ar. Kita, Anfield, dan Liverpool.”


Bogor, masih dengan hujan deras yang mendera.

Gita memutar bola matanya setelah saya menceritakan percakapan saya dan Arya setahun silam. “Kenapa musti jauh-jauh ke Inggris, sih?” ucapnya skeptis. “Kalau cuma pertandingan Liverpool sih nonton aja di TV. Selesai deh.”

Hasrat ingin menjitak wanita bermulut tajam ini rasanya naik ke ubun-ubun. “It’s not that simple, Git,” jawab saya berusaha sabar. Kalau se-simple itu pasti udah gue lakuin dari dahulu kala, rutuk saya dalam hati. “Bagi gue, chapter antara gue dan Arya itu adalah sebuah chapter kehidupan dengan cerita ‘grande,’ nggak bisa diselesaikan hanya dengan nonton pertandingan Liverpool di TV.”

“Oke, oke,” Gita tertawa kecil melihat rengutan sebal di wajah saya. “Fine, England then. Terus lo mau ngapain disana? Bengong-bengong-bego di Anfield atau nangis meraung-raung sambil manggil nama Arya?”

“HIH!” Saya tidak tahan untuk tidak menjitak kepala Gita. “I’m going to find my closure in England. In Liverpool. In Anfield. Period!” Jawab saya tegas tak bisa ditawar.

Gita mengangkat bahunya, memilih diam daripada menyulut amarah saya dengan komentar-komentarnya. Hujan kembali mengisi hening dan lamunan dengan cepat menenggelamkan pikiran saya. Mimpi dan janji yang terucap setahun silam itu masih tersimpan baik di benak saya dan terus mengusik untuk diwujudkan. Saya tahu, closure itu hanya akan saya temukan di Anfield. Closure itu baru akan terjadi jika saya menuntaskan mimpi dan janji yang terucap antara saya dan Arya.

Saya tidak bisa menahan lagi sesak yang memampat di dalam dada hingga rasanya begitu sulit untuk bernapas. “I need a closure, Git,” isak saya teredam oleh suara hujan yang memenuhi udara. “I need to go to England. I need a closure so I could continue my life,” ucap saya lirih.

“Gue nggak tau akan ngapain di Anfield nanti. Mungkin gue akan menyentuh semua barang yang akan Arya sentuh jika dia kesana, mencari-cari binar yang gue lihat di mata Arya saat dia bercerita tentang mimpinya mengunjungi Anfield pada mata Kopites yang lagi ‘naik haji’ disana, menyesap aura Anfield dan merelakan Arya yang udah nggak menjadi bagian dari chapter hidup gue lagi.”

Gita merangkul saya, berusaha menenangkan berbagai hempasan emosi yang timbul dalam diri saya. “Gimana kalau lo bikin photo essay disana?” ucapnya lembut.

Photo essay? Ya, itu akan menjadi karya tunggal saya yang memuat Arya di dalamnya. Sebuah photo essay tentang closure. Sebuah damai yang menunggu saya di Inggris. Sebuah penutupan yang ‘grande’ untuk chapter kehidupan saya bersama Arya.

Saya harus pergi ke Inggris.


Tulisan ini fiksi dan dibuat untuk mengikuti kompetisi #InggrisGratis yang diadakan oleh Mister Potato.