Sabtu, 16 Januari 2016

Japan Trip Day 1: One Warm Day in Osaka

Osaka yang notabene merupakan kota terbesar kedua di Jepang itu nyatanya hanya memiliki slot satu hari dalam rencana perjalanan saya. Untuk memaksimalkan waktu yang ada, dan meminimalisir kerepotan bolak-balik beli tiket kereta untuk jalur yang berbeda, juga untuk mengirit budget (paling penting), saya akan menggunakan kartu sakti bernama Osaka Amazing Pass. Dengan kartu ini saya bebas menggunakan seluruh jalur kereta di Osaka, free beberapa tiket masuk tujuan wisata, serta diskon untuk beberapa toko dan restoran. Harga Osaka Amazing Pass 1 day pass sebesar 2.300 Yen, sedangkan untuk tiket bundling Osaka Amazing Pass 1 day pass dan Nankai Airport Express harganya adalah 2.900 Yen. Serius, ini cara paling mudah dan murah untuk menjelajahi Osaka dalam waktu satu hari.
Jadi, subuh dini hari setelah seluruh penghuni prayer room terbangun dan bergegas pergi, tujuan utama saya adalah mencari loket Nankai Railway. Saya yang peta buta ini mengikuti arah petunjuk bertuliskan ‘train’ yang mengarah ke luar gedung bangunan. Sambil terkagum dengan kemampuan diri sendiri yang tumben-nggak-nyasar, saya lebih terkagum saat mendapati beberapa petugas sudah siap di depan loket Nankai Railway, padahal office hour normal masih sekitar dua jam lagi. “Osaka Amazing Pass Nankai-Kansai Airport edition,” ucap saya sambil membuka contekan itinerary. Petugas yang melayani saya tidak berkata apa-apa dan hanya memberi selembar kertas berisi list tiket yang dijual disitu. Sialnya semua keterangan ditulis dalam bahasa Jepang. Ini gimana saya bisa tau yang mana Osaka Amazing Pass Nankai-Kansai Airport edition? Untungnya contekan itinerary saya dilengkapi estimasi harga tiket, jadi saya tinggal menunjuk sebuah gambar tiket dengan harga yang persis sama seperti yang ditulis dalam itinerary. Petugas hanya mengangguk-angguk sebelum memproses pembelian saya, dia juga tetap mengangguk-angguk saat saya berkali-kali bertanya “to Namba station and for Osaka Amazing Pass 1 Day?”
 Loket Nankai Railway

Osaka Amazing Pass

Saat akan masuk kembali ke dalam gedung airport, sejumlah besar arus manusia berjalan tergesa-gesa keluar dari palang stasiun. Rush hour pertama saya di Jepang! Dan sungguh, arus manusia Jepang yang berjalan cepat tergesa-gesa itu sangat mengerikan. Seakan mereka tak segan menabrak semua rintangan yang menghalangi jalan. Satu-satunya alasan saya kembali ke dalam airport dan bukan langsung pergi ke stasiun Namba adalah demi semangkuk udon halal yang namanya begitu terkenal di kalangan traveler muslim. Kansai Airport adalah salah satu airport di Jepang yang di-desain moslem friendly. Tidak hanya menyediakan prayer room, bandara ini juga memiki tiga restoran yang sudah berserfitikasi halal: The U-don di Terminal 1 2F, Sojibo di Terminal 1 3F, dan Oragasoba di Aero Plaza 3F.


Rush hour
The U-don buka tepat jam delapan pagi. Beberapa orang langsung memasuki restoran, diikuti saya yang melangkah ragu karena tidak familiar dengan cara pemesanannya. Ternyata mudah saja, seperti makan di gerai Hoka-Hoka Bento. Ambil nampan, geser ke stall pertama dimana saya harus memilih jenis udon yang akan dipesan dan petugas dengan cekatan segera membuat semangkuk udon, kemudian saya menggeser nampan ke stall kedua yang berisi beragam tempura (gorengan), tersedia piring kecil dan capitan untuk mengambil tempura dengan sistem self service, kemudian saya menggeser nampan melewati stall lain berisi minuman kaleng dan menuju kasir yang menghitung total pesanan saya. Ocha panas dan dingin tersedia di sebelah kasir dengan sistem self service. Sejujurnya saya bukan penggemar udon karena ukuran mie yang besar-besar dan tekstur yang terlalu kenyal. Dan entah saya yang makannya lelet banget, atau porsinya memang banyak, atau orang Jepang makannya cepet banget, yang pasti saya adalah orang yang duduk paling lama di dalam restoran itu. Udon di piring saya baru habis setelah tiga orang Jepang yang datang dalam waktu berbeda selesai menghabiskan makanannya dan segera meninggalkan tempat. Saya jadi penasaran, orang Jepang kalau makan udon nggak dikunyah, ya? Masa iya dalam waktu kurang dari sepuluh menit semangkuk udon bisa langsung ludes.



Tampilan bagian dalam The u-don
Selesai makan saya segera kembali menuju stasiun. Perjalanan Kansai Airport – Namba station menggunakan Nankai Airport Express memakan waktu 44 menit. Tujuan pertama saya adalah ke hostel yang terletak di daerah Shinsaibashi. Dari Namba Station saya harus berganti kereta di jalur Midosuji Line menuju Shinsaibashi station. Pindah jalur kereta seperti ini mengharuskan saya berganti peron. Dengan mengikuti papan petunjuk bertuliskan Midosuji Line saya mencari peron yang benar. Bagi saya pribadi, mencari jalur kereta yang benar di Jepang merupakan tantangan tersendiri. Dengan banyaknya jalur yang terintegrasi dalam satu stasiun, ditambah toko-toko yang memenuhi stasiun, arus manusia dari berbagai arah, dan petunjuk yang harus diikuti dengan benar, semuanya terkadang membingungkan sekaligus menyenangkan untuk dijalani. Pusing, ruwet, tapi menantang. Apalagi untuk saya yang baru pertama kali jalan-jalan di Jepang. Menemukan jalur kereta yang benar itu rasanya seperti menang lotere!


Nankai railway di Kansai station. Kereta berpenampilan futuristik di sebelah kiri tipe Limited Express Rapi:t yang harganya lebih mahal dari kereta Airport Express di sebelah kanan yang tampilannya seperti kereta Commuter Line Jabodetabek
Akomodasi
Walau Namba station dan Shinsaibashi station hanya berjarak satu stasiun, saya memilih menggunakan kereta daripada berjalan kaki. Kartu Osaka Amazing Pass saya terbukti sakti saat melewati portal stasiun dari jalur kereta yang berbeda. Dari Shinsaibashi station saya mengikuti  petunjuk yang diberikan hostel: keluar dari exit no. 7, jalan diantara Nikko Hotel dan OPA, belok kiri setelah melewati 7 eleven yang berada di kanan jalan, Osaka Hana Hostel berada di sebelah kanan jalan. Di web dikatakan hanya membutuhkan waktu lima menit dari stasiun, nyatanya saya nyasar muter-muter nggak karuan. Saya yang memang nggak bisa baca peta malah nyasar ke depan Daimaru Department Store dan akhirnya harus balik ke titik awal keluar stasiun untuk menuju ke hostel. Jadi, waktu saya keluar dari exit no. 7 itu sebenarnya saya sudah ada diantara Nikko Hotel dan OPA. Tinggal jalan ke arah kiri menjauhi jalan besar. Kalau nggak pakai nyasar, Osaka Hana Hostel memang mudah ditemukan, lokasinya juga kece karena berada dekat dengan Namba yang merupakan salah satu dari dua pusat kota Osaka.


Osaka Hana Hostel

Seorang resepsionis mungil menyapa hangat ketika saya memasuki hostel. Sapaannya ceria disertai senyum yang selalu mengembang. Setelah mengecek nama saya, dia mengatakan bahwa saya baru bisa check in jam dua siang nanti. Walau demikian saya dapat menitipkan ransel, menggunakan ruang rekreasi, dan menumpang mandi. Kamar mandi bersama terletak di lantai tiga dan kerennya hostel ini memiliki lift! Lift yang rasanya Jepang banget, alias kecil banget. Hanya muat maksimal empat orang. Walau ukurannya kecil, menurut saya lift ini cute banget. Di dalamnya ditempel beberapa foto yang memuat kegiatan staf Osaka Hana Hostel dengan tamunya, gambar floor guide sederhana yang dibuat dari coretan pensil, dan sejumlah foto tempat wisata yang tiket masuknya dapat dibeli di resepsionis. Layar kecil yang menunjukkan angka di dalam layar lift juga unik, selain mengeluarkan informasi lantai yang sedang dituju, juga terdapat tulisan seperti: “The car is watched around the clock” saat lift mulai bergerak naik, “The car is landing. Be careful of the doors,” dan “Be careful, doors are opening” ketika lift sampai di lantai yang dituju.


Common area

Floor guide yang dibuat dengan tulisan tangan

Foto-foto di dalam lift



 Perhatikan tulisan di bawah angka
Selesai mandi saya mengobrol dengan resepsionis Osaka Hana Hostel, mengucapkan terima kasih karena saya banyak mengirim email bertanya ini-itu sebelum keberangkatan. Mulai dari email berisi permintaan penggantian kamar (hingga akhirnya kamar saya di upgrade dari 8 female dorm bed ke 4 mixed dorm bed), jenis plug in yang dapat digunakan (saya bisa rental kalau international charger yang dibawa tidak dapat digunakan), apakah tersedia detergen karena saya akan mencuci baju sendiri (tersedia detergen, sabun mandi, juga shampo untuk tamu), sampai permintaan frustasi saya untuk bantuan pemesananan tiket bus Kyoto – Tokyo karena saya tak kunjung berhasil memesan online (akhirnya saya pesan sendiri setelah sadar ada field yang masih kosong). Semua email selalu mendapat balasan cepat dan saya dapat merasakan kehangatan hati staff Osaka Hana Hostel dari cara mereka menjawab email. I already feel welcomed when I booked the room in Osaka Hana Hostel. Oh ya, saya juga mengatakan bahwa saya memesan kamar di Kyoto Hana Hostel namun respon staf di Kyoto Hana Hostel terhadap email saya tidak secepat, seramah, dan sehangat staff Osaka Hana Hostel.
Shitennoji Temple (fee 300 yen, no closing days, hours 8.30 – 16.00)
Saya baru meninggalkan hostel menjelang pukul 11 siang setelah menghabiskan secangkir kopi dan puas mengobrol dengan staff Osaka Hana Hostel. Saya sungguh sangat jatuh hati dengan hostel ini, juga pada stafnya yang sangat membantu. Udara cerah menyambut saat saya keluar hostel, memompa semangat petualangan di hari pertama. Energi terisi penuh dan itinerary saya dapat dibilang cukup padat. Free ticket entrance dan dapat puas mengelilingi Osaka menggunakan kereta membuat saya ingin memanfaatkan semaksimal mungkin Osaka Amazing Pass yang tersimpan dalam saku tas. Tujuan pertama saya adalah Shitennoji Temple, kompleks kuil tertua di Jepang. Dari hostel ke Shitennoji Temple saya harus menggunakan tiga jalur kereta yang berbeda, dari Shinsaibashi station menggunakan Midosuji Line ke Namba station, kemudian berganti kereta di jalur Sennichimae Line menuju  Tanimachi 9-chome station, lalu berganti kereta ke jalur Tanimachi line menuju Shitennoji-mae Yuhigaoka station. Di stasiun terakhir saya mengambil pintu exit nomor 4 yang mengantarkan saya pada jalan lurus panjang dengan bangunan dua-tiga lantai yang memadati kanan-kiri jalan.


Petunjuk jalan persis di depan exit nomor 4

Menuju ke jalan ini
Hanya ada satu petunjuk jalan menuju Shitennoji Temple yang dipasang tepat di depan pintu exit nomor 4, selebihnya tidak ada petunjuk apapun saat saya menyusuri jalan lurus panjang tersebut. Setelah berjalan beberapa menit, terdapat sebuah kompleks pemakaman yang sedikit menjorok di sisi kiri jalan. Pemakaman itu dipenuhi batu nisan dengan sebuah kuil kecil di ujung, sepi menghantarkan atmosfir yang terasa tidak nyaman. Saya kembali melanjutkan perjalanan dan tak berapa lama mendapati sebuah gerbang besar teduh di kiri jalan lagi. Bentuk gerbangnya mirip seperti gerbang di pemakaman sebelumnya, rangka kayu kokoh berwarna hitam dengan atap lebar berwarna senada. Beberapa wisatawan tampak memasuki gerbang, mobil juga hilir mudik bergantian masuk dan keluar. Seorang Ibu yang hendak memasuki gerbang membenarkan bahwa Shitennoji Temple berada di dalam kompleks ini.


Kompleks pemakaman
Tak berapa jauh dari gerbang masuk terdapat barisan patung kecil menggunakan kain merah yang terlihat ganjil. Beberapa orang terlihat menyalakan dupa, berdoa, dan mengeluskan tangannya ke sebuah patung. Atmosfir tidak nyaman terasa kembali saat saya memperhatikan jejeran patung kecil ini, yang saya ketahui belakang ternyata patung ini mewakilkan penjaga anak-anak yang meninggal sebelum orangtuanya, penjaga jiwa bayi yang gugur dalam kandungan, juga sebagai pelindung ibu yang sedang mengandung. 



Semakin memasuki kompleks besar ini terlihat beberapa tempat berdoa yang ditujukan untuk kepentingan berbeda. Di sebelah tempat berdoa terdapat sumber mata air untuk membersihkan diri sebelum memasuki kuil dan melakukan ritual doa. Saya selalu tertarik dengan cara orang Jepang berdoa di kuil. Jika tertarik mencoba, seperti ini urutannya:



1. Membersihkan diri: ambil gayung bambu berisi air dengan tangan kanan lalu basuh tangan kiri, lalu pindahkan gayung ke tangan kiri kemudian basuh tangan kanan, kemudian tuang kembali air ke tangan kiri untuk membasuh mulut. Ingat, hanya dibasuh, bukan diminum. Setelah itu basuh kembali tangan kiri. Terakhir sisa air digunakan untuk membersihkan gayung dengan cara gayung ditegakkan dan sisa air tumpah mengenai batang gayung. Simpan kembali gayung yang telah digunakan dalam posisi menelungkup.
2. Berdoa: lemparkan koin lalu bunyikan lonceng kemudian membungkuk dua kali, setelah itu menepuk tangan dua kali. Setelah itu berdoa dan tutup dengan membungkuk satu kali. 
Untuk saya pribadi, mencoba melalukan cara berdoa seperti ini adalah bentuk menghargai kepercayaan dan ritual yang dilakukan masyarakat Jepang, bukan berarti saya mengkhianati kepercayaan saya sendiri. Cara berdoa masyarakat lokal yang saya perhatikan di setiap kuil yang banyak tersebar di kompleks ini ternyata berbeda-beda. Perlu diingat bahwa tidak semua ritual berdoa dapat dipotret. Hormati cara beribadah orang lain.
Berkeliling kompleks besar ini dan memperhatikan cara masyarakat lokal beribadah ternyata menghabiskan cukup banyak waktu. Sebelum saya memutuskan pergi ke tujuan selanjutnya, saya baru tersadar satu hal penting: pagoda Shitennoji Temple yang menjadi icon kuil belum saya temukan. Pun sebetulnya saya tidak melihat sosoknya walau sudah kelelahan mengitari kompleks besar ini. Setelah bertanya, saya sampai ke satu kompleks yang tertutup oleh tembok rapat. Saat memasuki area Shitennoji Temple petugas mengecek kartu Osaka Amazing Pass untuk mendapatkan tiket masuk. Dan disanalah pagoda lima lantai yang tersohor itu berada. Tertutup sempurna oleh batang-batang besi yang menopang karena sedang dalam renovasi total. Saya speechless. Rasanya zonk banget. Di website yang menjadi panduan membuat itinerary tidak menyebutkan bahwa pagoda Shitennoji Temple sedang direnovasi. Sungguh saya merasa telah menyia-nyiakan waktu yang berharga untuk sesuatu yang, dapat dikatakan, not worth it.
Lagi direnovasi :(

Salah satu gerbang di Shitennoji Temple

Saya keluar dari kompleks Shitennoji Temple melalui gerbang utama (torii) yang terbuat dari beton. Dari situ saya berbelok ke kanan, kembali menyusuri jalan panjang lurus dan kembali ke Shitennoji-mae Yuhigaoka station.
Osaka Castle (fee 600 yen, closed December 28 to January 1, hours 9.00 – 17.00)
Tujuan saya selanjutnya adalah Osaka Castle. Shitennoji Temple dan Osaka Castle hanya berjarak tiga stasiun. Dari Shitennoji-mae Yuhigaoka station saya menggunakan Tanimachi Line dan turun di Tanimachi 4-Chome station. Kebodohan saya adalah salah mengambil jalur keluar underground, bukannya menggunakan exit 1B atau exit 9 seperti yang tertera dalam booklet Osaka Amazing Pass, saya malah mengambil exit yang tertera dalam itinerary pribadi dan keluar entah di daerah mana. Kehilangan arah dan tidak dapat berbahasa Jepang, saya akhirnya merasakan sulitnya bertanya pada orang Jepang yang mayoritas tidak dapat berbahasa Inggris. Orang pertama yang saya tanya, seorang pelayan toko, menunjukkan arah dalam bahasa Jepang yang tidak saya mengerti dan akhirnya saya tambah nyasar. Orang kedua yang saya tanya, anak muda 15 tahunan memakai sepeda, mengatakan dia bukan dari daerah situ dan tidak tahu dimana Osaka Castle (seriously, kiddo. You don't know that famous castle?). Orang ketiga yang saya tanya, laki-laki usia 30 tahunan menggunakan sepeda dan dapat berbahasa Inggris (yay!), membuka google maps untuk menemukan arah menuju Osaka Castle.
Dalam perjalanan menuju Osaka Castle, saya melewati exit 1B seperti yang tertera dalam booklet Osaka Amazing Pass, dan exit 1B ini memang sangat berdekatan dengan kawasan Osaka Castle. Jalan menuju Osaka Castle sendiri dipenuhi dengan gedung-gedung bertingkat, yang paling mencuri perhatian adalah gedung NHK Osaka yang terlihat futuristik dengan bola kaca transparan berukuran gigantis menyelip diantara dua gedung. Perjuangan menuju Osaka Castle ternyata masih sangat panjang. Kawasan Osaka Castle merupakan kawasan hijau yang luas, bangunan Osaka Castle itu sendiri berada di tengah kawasan dengan jalan yang terus menanjak. Di garis luar terdapat batu-batu besar membentuk dinding pertahanan di sekeliling parit yang mengelilingi area Osaka Castle, dari titik ini pula saya dapat melihat pucuk Osaka Castle yang sungguh sangat tinggi di ujung sana.


Gedung NHK Osaka
Tidak hanya penduduk lokal dan wisatawan yang mendominasi kawasan Osaka Castle, anak-anak sekolah dengan seragam khas mereka; rok kotak-kotak, dasi kupu-kupu, kerah sailor, kaos kaki panjang, sepatu pantofel, dengan mudah saya jumpai disini. Kejutan menyenangkan untuk saya ternyata sedang diadakan pertandingan kendo di salah satu bangunan yang terdapat di dalam kawasan Osaka Castle. Anak-anak usia sekolah dasar tampak berlatih di halaman bangunan, mempraktekkan beberapa gerakan dengan pedang kayu. Duh, bisa ngepoin seragam sekolah anak-anak Jepang aja saya udah seneng banget, sekarang dapat bonus melihat ekskul mereka juga. Bahagia, karena apa yang selama ini cuma saya lihat di manga, dorama, dan anime tiba-tiba menjelma nyata!



Puas kepoin seragam sekolah dan latihan kendo dedek-dedek luwchu, saya menuju atraksi utama dari tempat ini. Dari kejauhan saja bagunan Osaka Castle terlihat sangat megah. Berdiri tegak di atas benteng batuan besar kokoh, bagunan ini didominasi warna putih pada dinding bangunan, hijau pada atap yang melengkung di setiap lantai, dan sentuhan warna emas untuk ornamen yang menghiasi. Tidak salah jika menobatkan Osaka Castle sebagai istana terbesar di Jepang pada masanya. Osaka Castle yang sekarang berdiri adalah rekonstruksi dari bangunan kastil yang telah terbakar habis. Saat ini Osaka Castle difungsikan sebagai museum.


Osaka Castle
Antrian masuk Osaka Castle cukup mengular, terdapat dua pilihan untuk menjelajahi isi museum: manual menaiki tangga atau menggunakan lift. Saya tentu memilih menggunakan lift. Terdapat seorang pemandu di dalam lift, saat pintu lift tertutup dia akan bertanya apakah ada yang menggunakan bahasa Jepang di dalam lift dan memberi penjelasan dalam bahasa Jepang terlebih dahulu, setelah itu dia bertanya apakah ada yang menggunakan bahasa Cina, dan terakhir bahasa Inggris. Penjelasan dalam setiap bahasa cukup cepat dan jelas. Lift hanya mengantarkan pengunjung ke lantai 8 dan pengunjung dapat turun menggunakan tangga hingga ke lantai dasar sambil melihat-lihat isi museum.
Lantai 8 merupakan observation deck dimana pengunjung dapat melihat pemandangan luas kota Osaka. Setiap sisi kastil berbentuk segi empat ini menawarkan pemandangan kota yang berbeda. Angin bertiup lumayan keras di setiap sisi observation deck yang dipenuhi pengunjung. Ketika asik memotret seseorang menepuk pundak saya, ternyata seorang kakek minta tolong dipotret menggunakan ponselnya. Ponsel yang diberikan sang kakek sangat ketinggalan jaman namun sudah memiliki fitur kamera di dalamnya. Sayang, saat saya akan memotret layar ponsel tertutupi garis abu-abu pekat yang memenuhi nyaris tiga-perempat layar. Alhasil foto si kakek hanya terlihat setengahnya. Susah payah saya menjelaskan mengapa hasil foto di ponselnya tidak sempurna. Kakek itu tertawa sambil menggoyang-goyang ponsel yang berada di tangannya. Dia mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang yang saya tidak mengerti, namun sepertinya dia berkata tidak apa-apa hasil fotonya tidak sempurna karena ponselnya memang rusak. Saya yang tidak puas dan ingin sang kakek mendapat kenang-kenangan foto yang cukup baik menggunakan bahasa tarzan untuk meminta dia menutup dan membuka ulang kamera ponselnya. Berhasil! Kali ini tidak ada garis abu-abu yang menutupi layar ponsel dan saya mengambil beberapa foto sang kakek. Dia terlihat senang sekali dengan hasilnya dan menunjuk kamera yang tersampir di leher saya, dengan isyarat tangan dan kata “you? picture?” dia ingin membantu saya mengambil potret diri menggunakan kamera sendiri. Saya menolak halus sementara si kakek bersikeras. Untuk menengahi, saya mengajak dia untuk selfie bersama.


Tidak puas dengan hasil selfie, sang kakek meminta bantuan pengunjung lain untuk memotret kami
Perkenalan yang unik ini akhirnya membuat saya mengobrol dengan sang kakek. Dia bisa beberapa kata dalam bahasa Inggris, ditambah dengan bahasa tarzan cukup untuk kami mengobrol hal standar seperti negara asal saya dan kota asal dia, hingga fakta bahwa dia mengetahui Indonesia juga nama presiden pertama Indonesia. Walau terbatas oleh bahasa ibu masing-masing, saya merasa puas dapat bercakap-cakap dengan si kakek. Saya juga senang, tidak biasanya orang Jepang mau membuka percakapan dengan orang asing, terlebih jika dia tidak dapat berbahasa Inggris. Namun kakek ini seperti ingin menghilangkan hambatan bahasa dan menunjukkan bahwa tidak semua orang Jepang kaku dan dingin. 
Saat akan pamit karena akan beranjak ke lantai berikutnya, sang kakek menawarkan untuk menemani saya menjelajahi Osaka Castle. Dengan senang hati dia akan memberi penjelasan kepada saya terkait isi museum. Tawaran yang sangat menguntungkan sebenarnya, seorang guide pribadi yang pasti lebih mengenal sejarah Osaka Castle. Sayangnya saya dikejar waktu, hari semakin sore sementara masih banyak tempat yang harus dikunjungi. Saya hanya dapat berkeliling singkat di setiap lantai sebelum akhirnya beranjak ke destinasi selanjutnya.
Eksibisi yang ditawarkan Osaka Castle cukup menarik, setiap lantai menceritakan rangkaian kejadian dan peristiwa terkait Toyotomi Hideyoshi (pendiri Osaka Castle). Benda pameran ditampilkan secara apik dan tidak membosankan. Di salah satu lantai terdapat cerita bersambung yang ditampilkan dalam layar monitor yang berbeda, jadi saat cerita dalam satu monitor habis akan berlanjut ke layar monitor di sebelahnya dan saat cerita berakhir tidak terasa kita telah mengelilingi satu lantai. Di lantai berbeda ditampilkan pedang, alat-alat perang, dan pakaian perang khas pada masa itu. Koleksi yang ditampilkan cukup membuat saya merinding membayangkan keganasan perang di masa lalu.
Downtown Osaka (HEP Five Ferris Wheel, Osaka Station (Carillon Plaza, Yawaragi no Niwa, Kaze no Hiroba), Umeda Sky Building)
Dari Osaka Castle saya melanjutkan perjalanan ke Osaka. Sesuai dengan perannya sebagai pusat kota, daerah ini didominasi dengan gedung pencakar langit. Osaka memanfaatkan dengan baik gedung-gedung pencakar langit sebagai ruang publik maupun sebagai tujuan wisata. Untuk mencapai pusat kota Osaka saya kembali ke Tanimachi 4-Chome station, lalu menggunakan Tanimachi line dan turun di Higashi-Umeda station. Dari stasiun Higashi Umeda saya dapat mencapai stasiun Osaka maupun stasiun Umeda dengan berjalan kaki. Ketiga stasiun besar ini saling terintegrasi dan terhubung melalui jalur underground yang tidak hanya digunakan sebagai jalur pejalan kaki, tapi juga dipadati dengan shopping mall, restoran, juga convenience store. Denyut kesibukan masyarakat Osaka begitu terasa di dalam urat nadi yang bersalur di jalur underground. Sibuk, ramai, cepat.
Semua orang dalam stasiun besar ini tahu kemana mereka harus pergi. Semua orang, kecuali saya. Menilik dari posisi saya yang berada di Higashi-Umeda Station, HEP Five Ferris Wheel menjadi tujuan pertama dari rangkaian destinasi wisata di area Osaka ini. Dalam booklet Osaka Amazing Pass disebutkan HEP Five Ferris Wheel hanya berjarak lima menit berjalan kaki dari stasiun Higashi-Umeda. Yeah, lima menitnya orang Jepang itu berapa puluh menitnya saya. Sebelum saya keluar dari portal stasiun, saya menghampiri station master yang ruangannya terletak persis di sebelah portal keluar masuk stasiun. Setelah menunjukkan gambar HEP Five Ferris Wheel dalam booklet, station master itu mengangguk mengerti dan mengambil selembar kertas yang merupakan peta sederhana area sekitaran Osaka. Dia melingkari Higashi-Umeda station yang menjadi posisi kami sekarang, lalu menarik garis lurus menuju gambar HEP Five dan menulis angka H-30. Di pintu inilah saya harus keluar nanti.
Peta pemberian station master. Warna biru adalah rute dari Higashi-Umeda station ke HEP Five

Petunjuk yang diberikan station master terbukti sangat berguna karena jalur underground yang saling terintegrasi antara tiga stasiun besar ini semakin lama semakin mirip labirin. Saran saya jika tidak yakin harus menggunakan pintu exit yang mana, sebaiknya tanya station master. Mereka dengan senang hati akan membantu. Walau mereka tidak mengerti bahasa Inggris cukup tunjukkan gambar atau tulisan Jepang dari tempat yang akan kita kunjungi. Petunjuk kecil seperti itu akan membantu mereka untuk mengerti pertanyaan yang coba kita sampaikan.
Persis di exit H-30 gedung HEP Five berdiri. HEP Five sendiri merupakan shopping mall, daya tarik utamanya terletak pada ferris wheel yang terletak di lantai ketujuh dan tampak menyembul di atas gedung. Jujur, saya tidak berharap banyak dari ferris wheel ini. Toh, mumpung bisa naik gratis menggunakan Osaka Amazing Pass dan kebetulan berada di area Osaka. Nyatanya espektasi saya yang rendah itu terbukti salah. HEP Five Ferris Wheel sangat menyenangkan! Warna merah menyala kincir, adrenalin yang perlahan menderas seiring semakin tingginya saya dari permukaan tanah, pemandangan luas kota yang tersaji saat kincir perlahan-lahan naik, melihat sekeliling kota Osaka yang sibuk, jalur rel tumpang tindih, orang-orang menyemut, matahari yang perlahan tenggelam. Sungguh, semua pemandangan yang tersaji selama 15 menit dalam kabin kecil kincir raksasa ini akan terasa sempurna dengan jika ditemani seorang kekasih *tiba-tiba baper*.


Info: HEP Five Ferris Wheel (fee 500 yen, no regular closing days, hours 11.00 – 23.00 (last boarding at 22:45))

Pemandangan dari atas HEP Five Ferris Wheel
Dari HEP Five saya menuju Osaka Station melalui jalur underground. Walau memiliki peta pemberian station master, saya lebih memilih menggunakan jalur underground karena disana terdapat banyak papan informasi berisi nama stasiun dan jalur kereta, lengkap dengan tanda panahnya. Paling tidak ini dapat meminimalisir potensi nyasar.
Seorang teman saya pernah berkata, penampilan orang Jepang itu modis semua. Bahkan sebuah artikel tentang travel menyebutkan: ketika berada di Jepang, sangat mudah membedakan orang Jepang dengan orang Asia lainnya. Selain dari kecepatan jalannya, orang Asia tidak akan bisa mengikuti gaya berpakaian orang Jepang. Mode selalu beberapa langkah lebih maju di negara ini. Dan menjelang rush hour di sore hari dalam jalur underground yang semakin dipadati pejalan kaki, saya puas mengamati gaya berpakaian penduduk Osaka yang ditemui sepanjang perjalanan menuju Osaka Station. Mereka terlihat chick dengan pilihan fashion yang dikenakan. Seolah jalur underground menjelma menjadi runway. Tidak perlu menghabiskan uang melihat teater AKB48 di Tokyo sana, penampilan anak-anak usia SMP dan SMU yang sama temui disini tidak kalah kawaii dengan idol group itu.
Saya sampai di Osaka Station ketika sore sudah sangat tua. Menaiki eskalator, saya sampai di Carillon Plaza yang cukup luas. Osaka Station sendiri memiliki delapan plaza atau ruang terbuka dimana orang-orang dapat berkumpul dan bersantai sejenak. Carillon Plaza ini tidak sengaja saya “temukan” saat saya mencari jalan menuju Yawaragi no Niwa (healing garden) dan Kaze no Hiroba (wind plaza) yang sama-sama berada di North Gate building Osaka station. Dengan letaknya yang berada di lantai bawah, Carillon Plaza menawarkan pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi mengapit bagunan Osaka Station. Icon utama Carillon Plaza adalah sebuah menara jam yang dikelilingi lonceng.
Carillon Plaza


Senja yang perlahan jatuh membuai saya untuk berlama-lama duduk di Carillon Plaza, sampai saya sadar bahwa pemandangan senja akan jauh lebih indah jika dilihat dari Yawaragi no Niwa (healing garden) atau Kaze no Hiroba (wind plaza) yang berada di lantai atas. Cepat-cepat saya menuju lift, yang sayangnya selalu penuh. Mengejar senja, saya menggunakan eskalator menuju lantai 10. Angin kencang menerpa wajah ketika saya sampai di Yawaragi no Niwa, senja hampir usai saat langit jingga kemerahan perlahan menggelap. Segera saya mengatur shutter speed kamera dalam posisi rendah, dan saat kamera memotret dalam kecepatan lambat antiklimaks pun terjadi. Baterai kamera saya habis!
Kadang, pemandangan paling indah dalam hidup bukan untuk dipotret, tapi untuk dinikmati dengan mata kepala sendiri. Dan sungguh, senja yang saya lihat dari Yawaragi no Niwa akan menjadi salah satu senja terindah dalam ingatan. Menggunakan eskalator ke lantai 11 saya duduk-duduk di Kaze no Hiroba, melihat langit kota Osaka perlahan menggelap sampai hitam pekat. Bangunan pencakar langit memenuhi pemandangan garis kota. Lampu-lampu di jendela gedung mulai menyala, mengganti kerlip cahaya yang menghiasi Osaka. Kota ini semakin cantik kala malam tiba.
Menjelang malam, angin yang berhembus semakin kuat dan dingin. Sialnya saya tidak membawa jaket. Saat berangkat dari hostel tadi cuaca sangat cerah dan cenderung terik. Siapa sangka menjelang malam dingin mulai merasuk. Saya melanjutkan perjalanan menuju Umeda Sky Building. Kali ini saya menggunakan peta pemberian station master karena tidak yakin jalur underground stasiun Osaka mencapai daerah Umeda Sky Building. Dari North Gate building Osaka station saya melewati jalan yang diapit bangunan Grand Front Osaka dan Yodobashi-Umeda, kemudian berbelok ke kiri melewati jalan yang sama-sama diapit gedung Grand Front Osaka (south building dan north building). Di ujung jalan itu terdapat underground passage yang langsung mengarah ke Umeda Sky Building.
Rute menuju Umeda Sky Building (garis merah)

Bangunan Umeda Sky Building terdiri dari menara kembar setinggi 173 meter, kedua bangunan dihubungkan dengan Floating Garden Observatory di lantai 40. Floating garden observatory populer tidak hanya untuk wisatawan asing, juga untuk penduduk Osaka. Ini terbukti dari antrian lift menuju floating garden observatory yang cukup mengular. Lift yang mengantarkan menuju lantai 39 bergerak sangat cepat, telinga saya sedikit terasa pegang saat menyesuaikan ketinggian dalam kecepatan seperti itu. Kotak lift yang transparan membuat perjalanan singkat ini terasa berbeda, saya dapat melihat pemandangan kota Osaka yang berangsur-angsur berubah seiring semakin tingginya lift bergerak. Dari lantai 39 saya menaiki eskalator berpenampilan futuristik menuju floating garden observatory di lantai 40.
Area floating garden observatory yang saya masuki berupa sebuah ruang melingkar luas berpenerangan minim dengan kaca besar lebar sebagai pengganti tembok untuk melihat pemandangan kota. Bangku-bangku berupa balkon tinggi yang diletakkan dekat dinding kaca dipenuhi pasangan. Pemandangan Osaka di malam hari sungguh sangat spektakuler dilihat dari tempat ini. Kerlip lampu dari gedung pencakar langit yang notabene memenuhi Osaka membuat kota seolah bersinar. Saya tidak akan bosan menghabiskan waktu disini hanya untuk duduk termangu menatap lautan warna-warni Osaka kala malam.
Info: Umeda Sky Building Floating Garden Observatory (fee 700 yen, no closing days, hours 10.00 – 22.00 (last entrance 30 minutes before closing))
Dari floating garden saya menaiki tangga menuju rooftop. Lumi Sky Walk, nama yang disematkan untuk rooftop ini, dan sungguh berjalan disini seolah berjalan di angkasa. Lantai lumi sky walk berpendar biru, hijau, dan ungu membentuk pola milky way, andromeda, aurora, dan bahkan meteor. Sementara itu langit dibiarkan terbuka tanpa atap. Langit di atas kepala juga di bawah kaki, seakan melemparkan saya ke dimensi yang berbeda. Di area lumi sky walk juga terdapat Lumi Deck dimana pasangan dapat menggantungkan gembok dengan ukiran nama mereka di pagar yang mengelilingi. Lantai lumi deck terbuat dari lampu LED yang terus berubah warna menyerupai aurora kala malam. Tepat di tengah lumi deck diletakkan bangku untuk pasangan berfoto diantara sinar lampu LED.


Pemandangan dari Floating Garden Obervatory (source)

Lumi Sky Walk (source) 
Ah, setelah sebelumnya bianglala HEP Five membuat saya baper, sekarang floating garden observatory dan lumi sky walk di Umeda Sky Building membuat saya nelangsa. Osaka sungguh bukan kota yang ramah perasaan untuk para singles.
Kunjungan ke Umeda Sky Building tidak menjadi penutup day trip saya di Osaka. Walau malam semakin larut saya kembali menuju Higashi-Umeda station untuk pergi ke destinasi selanjutnya. Perjalanan menuju Higashi-Umeda station ternyata tidak semudah perkiraan saya. Walau melewati jalan yang persis sama seperti sebelumnya, nyatanya saya sukses nyasar dalam jalur underground. Entah mengapa papan petunjuk menuju Higashi-Umeda station dan jalur Tanimachi line tiba-tiba menghilang. Mengapa ada papan petunjuk menuju Osaka station dan Umeda station tapi tidak untuk Higashi-Umeda station? Setelah beberapa puluh menit frustasi sendiri berusaha menemukan jalan, akhirnya saya bertanya pada seorang pelayan di salah satu toko. Pelayan itu mengerti bahwa saya mencari jalan menuju Higashi-Umeda station, namun dia hanya menggerakkan tangannya dan tetap berkata dalam bahasa Jepang, seolah kebingungan sendiri mencari padanan kata dalam bahasa Inggris. Saat saya akan menyerah terdengar suara seorang wanita dari belakang saya berkata dalam bahasa Inggris, “can I help you?” Sungguh, rasanya seperti oase bertemu seorang Jepang yang dapat berbahasa Inggris dan menawarkan diri untuk membantu.
Wanita paruh baya itu tidak hanya menunjukkan arah, dia bahkan mengantarkan saya menuju Higashi-Umeda station. Bahasa Inggrisnya cukup bagus, dia berada di Osaka untuk urusan pekerjaan dan sebenarnya letak hotel yang dia tempati berlawanan arah dengan stasiun Higashi-Umeda. Walau demikian dia tetap mengantarkan saya menuju Higashi-Umeda station. Menurut dia jalur underground ini memang cukup rumit karena beberapa jalur saling bersinggungan antara satu sama lain. Dia juga berkata, cukup sulit bertanya panduan arah kepada orang Jepang karena tidak banyak yang dapat berbahasa Inggris. Saya tersenyum lebar mendengarnya dan berkata, justru karena mayoritas penduduk Jepang tidak dapat berbahasa Inggris, perjalanan saya menjadi lebih seru dan banyak cerita yang saya dapat dalam perjalanan, termasuk bertemu dengan Anda dan mendapat bantuan dari Anda. Kami berpisah di lorong stasiun Higashi-Umeda, saya membungkukkan badan dalam-dalam dan berkata “hontou arigatou gozaimasu.” Sungguh saya sangat berterima kasih atas bantuannya dan hanya ini cara yang saya tahu untuk menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. Wanita paruh baya itu membalas tertawa kecil dan melambaikan tangan sambil sedikit membungkukkan badannya, entah dia tertawa karena tidak menyangka saya yang demikian berterima kasih, atau karena ucapan yang saya pilih ternyata salah.
Natural Hot Spring Naniwa no Yu (fee 800 yen, Monday to Friday 10.00 – 25.00, Saturday/Sunday 08.00 – 25.00 (last entrance at midnight))
Tujuan terakhir saya adalah sebuah onsen bernama Natural Hot Spring Naniwa no Yu. Iya, saya penasaran banget pengen nyobain onsen, dan kebetulan Natural Hot Spring Naniwa no Yu dapat diakses gratis menggunakan Osaka Amazing Pass. Dari Higashi-Umeda station saya menggunakan Tanimachi Line dan turun di Tenjimbashisuji 6-chome station dan keluar di exit 3 sesuai panduan dalam booklet.
Area Tenjimbashisuji 6-chome bukan merupakan destinasi turistik sehingga tidak banyak petunjuk jalan tersedia, selain itu kondisi jalan cukup sepi saat malam. Saya sangat kesulitan menemukan Natural Hot Spring Naniwa no Yu, nyaris lima orang yang saya tanyai namun tidak mengetahui tempat tersebut. Petunjuk penting yang saya dapat adalah Natural Hot Spring Naniwa no Yu terletak dalam gedung Pachinko and Slots, gedungnya besar dan ramai dengan warna-warni lampu. Masalahnya, kebanyakan gedung yang saya temui selama nyaris satu jam berjalan adalah gedung apartemen atau perkantoran biasa. Kaki saya mulai terasa pegal luar biasa, berpikir saya harus kembali berjalan selama itu untuk kembali ke stasiun menambah frustasi. Suasana kota juga semakin sepi dan sangat sedikit orang yang lalu lalang. Saya mulai menyesali keputusan pergi ke Natural Hot Spring Naniwa no Yu, review di situs tripadvisor memang banyak mengatakan pemandian air panas ini sulit ditemukan.
Rasanya sungguh lega saat akhirnya saya menemukan gedung Pachinko and Slots. Seperti namanya, gedung ini memang digunakan untuk permainan pachinko. Lantai 1 gedung dipenuhi mesin pachinko dengan kaum lelaki yang mendominasi serta kabut tipis asap rokok yang menguar, Natural Hot Spring Naniwa no Yu terletak di lantai 8. Sebelum memasuki onsen saya menyimpan sepatu di loker kecil di luar onsen, kemudian ke meja registrasi untuk menunjukkan kartu Osaka Amazing Pass. Petugas menyodorkan kotak kecil berisi karet rambut, karena rambut saya melewati bahu maka harus diikat sebelum memasuki onsen. Setelahnya saya memasuki onsen khusus wanita dan langsung disambut oleh puluhan wanita telanjang yang akan dan baru selesai mandi. Sumpah, saya pengen muntah melihat melihat tubuh wanita telanjang sebanyak itu. Saya sudah tahu kalau mandi di onsen harus menanggalkan semua pakaian di tubuh, tapi mengalami sendiri rasanya risih banget.
Bagian dalam onsen dibagi menjadi beberapa ruangan. Ruang pertama semacam loker sekaligus tempat berganti baju, pakaian dan tas diletakkan disini. Saya celingak-celinguk sebelum melepas pakaian, tapi yasudahlahya, mau gimana juga memang harus naked. Setelah itu saya masuk ke ruangan selanjutnya yang fungsinya seperti semacam ruang transisi antara kolam onsen dan ruang loker, uap panas mulai terasa pengap disini. Ruang selanjutnya barulah terlihat kolam-kolam onsen yang dibagi berdasarkan khasiat dan manfaatnya, di ruangan ini juga terdapat tempat mandi berupa barisan shower yang harus digunakan sebelum pengunjung masuk ke dalam kolam onsen. Menggunakan bangku kecil yang tersedia, saya ikut mandi di bawah pancuran. Sampo dan sabun ukuran besar tersedia disini. Air yang mengalir cukup deras dan panas, kulit saya langsung terlihat memerah. Setelah membersihkan diri, saya dapat berendam di onsen.
Natural Hot Spring Naniwa no Yu memiliki kolam onsen indoor maupun outdoor. Kolam outdoor lebih romantis karena pengunjung dapat berendam sambil memandang langit. Sebelum berendam sebaiknya merendam kaki di dalam kolam dulu untuk menyesuaikan tubuh dengan suhu air panas, setelah itu baru berendam. Berendam di onsen lebih enak bersama teman-teman, jadi nggak basi sendiri berendam sambil bengong. Salah satu etiket di onsen adalah pengunjung tidak boleh terang-terangan menatap tubuh pengunjung lain. Tapi melihat banyaknya tubuh telanjang yang lalu lalang, mau tidak mau, sengaja tidak sengaja, saya jadi mengamati (dan mengomentari dalam hati) apa yang saya lihat.


kolam outdoor (source)
Selama berada di onsen saya gonta-ganti mencoba beberapa kolam yang tersedia. Setiap kolam memiliki warna, khasiat, dan temperatur yang berbeda. Yang paling mantap adalah kolam dengan tekanan air tinggi sehingga badan seperti dipijat. Masalahnya, bagi saya tekanan air terlalu tinggi, dan badan saya cukup sakit-sakit terkena arus kencangnya. Sedangkan seorang nenek di sebelah saya nampak begitu menikmati pijatan yang dihasilkan dari tekanan tinggi arus air. Tidak sampai 30 menit saya berendam dalam onsen, kepala saya mulai terasa pusing dan pandangan berkunang-kunang, detak jantung saya juga terasa meningkat. Saya tidak memaksakan diri untuk berendam lebih lama lagi dan keluar dari onsen. Saat selesai berendam tidak perlu mandi lagi karena mineral yang terkandung dalam onsen akan terbuang sia-sia, jangan lupa keringkan tubuh sebelum kembali ke ruang ganti.
Di ruang ganti saat akan berpakaian, rasa pusing di kepala saya semakin hebat hingga rasanya saya ingin muntah. Duh, gimana bisa pulang pakai kereta kalau kondisi badan seperti ini. Masa iya naik taksi ke hostel, bisa hancur budget perjalanan saya nanti. Jadilah saya duduk sebentar di kursi yang tersedia di ruang ganti dan menghirup napas dalam-dalam untuk meredakan detak jantung. Setelah pusing mereda, saya minum air banyak-banyak. Pusing di kepala saya akhirnya berangsur-angsur menghilang. 
Badan saya rasanya lelah sekaligus rileks setelah berendam di onsen. Rasanya pengen cepat-cepat kembali ke hostel dan tidur. Saat akan pulang, saya bertanya arah stasiun pada petugas keamanan di depan gedung Pachinko and Slots. Arah yang diberikan berbeda dengan arah kedatangan saya dan cukup jelas untuk diikuti. Namun tetap saja, saya harus bertanya arah pada dua orang lain dalam perjalanan menuju stasiun. Dari Tenjimbashisuji 6-chome station saya menggunakan Sakaisuji line ke Nagahoribashi station, dari situ saya berganti kereta di jalur Nagahori Tsurumi-ryokuchi line dan turun di Shinsaibashi station. Nyaris tengah malam saat saya akhirnya sampai di hostel, niat saya mengunjungi area Dotonburi harus dibatalkan.
Notes:

- IMHO, Shitennoji temple tidak semenarik itu. Lebih baik di-skip dan pilih destinasi wisata lain
- Jangan lupa bawa handuk sendiri jika ingin ke Natural Hot Spring Naniwa no Yu
- Osaka Amazing Pass seharga 2.900 yen saya gunakan untuk: tiket Nankai Airport Express (920 yen), Shitennoji temple (300 yen), Osaka castle (600 yen), HEP Five Ferris wheel (500 yen), Umeda sky building (700 yen), Natural Hot Spring Naniwa no Yu (800), dan biaya kereta keliling Osaka
Itinerary:

Shitennoji Temple - Osaka Castle - HEP Five Ferris Wheel - North Gate building Osaka Station (Carillon Plaza, Yawaragi no Niwa, Kaze no Hiroba) - Umeda Sky Building (Floating Garden Observatory, Lumi Sku Walk) - Natural Hot Spring Naniwa no Yu

Rincian biaya:

Sarapan The U-don: 670 yen
Osaka Amazing Pass: 2.900 yen
Osaka Hana Hostel: 3.000 yen
Sushi Family Mart: 298 yen
Air minum: 160 yen
Total pengeluaran: 7.028 yen

Minggu, 08 November 2015

Japan Trip: An Intro

Oktober adalah bulan yang saya pilih untuk menyambangi Jepang untuk kali pertama. Alasannya sederhana, suhu Jepang sudah relatif bersabahat, tanpa badai yang acapkali melanda saat terjadi pergantian musim, ditambah harapan warna-warni musim gugur akan mulai bermunculan. Sayangnya perhitungan saya sedikit meleset, musim gugur baru akan benar-benar tiba di akhir Oktober dan awal November, sedangkan jadwal perjalanan saya adalah awal Oktober. Oh well, seperti kalimat andalan saya, “you can’t have everything you want,” paling tidak saya masih mendapat suhu yang relatif mild untuk melakukan perjalanan *menghibur hati* 

Untuk perjalanan ini saya memulai dari kota terbesar kedua di Jepang, Osaka, dan akan mengakhiri perjalanan di Tokyo. Open-jaw ticket, kebanyakan traveler menyebutnya. Dengan demikian saya tidak perlu menghabiskan waktu kembali ke Osaka untuk menempuh perjalanan pulang ke Jakarta nanti. Hemat waktu, uang, dan tenaga tentunya.  

Kebanyakan persiapan perjalanan di Jepang sudah saya siapkan dari Indonesia. Membuat itinerary dan estimasi biaya harian, juga mem-booking penginapan, tiket bus, dan tiket wisata secara online maupun lewat agen travel. Dengan persiapan seperti ini setibanya saya di Jepang nanti saya bisa langsung jalan mengikuti itinerary yang sudah dibuat, tidak perlu repot buka-buka buku panduan perjalanan lagi. Sedikit drama yang terjadi sebelum keberangkatan adalah kurs Dollar Amerika yang terus meroket, yang tentu saja berpengaruh juga pada nilai tukar Yen. Dengan kurs 1 Yen = 123 Rupiah, estimasi biaya yang saya buat jadi membengkak melebihi budget awal *nangis di pojokan*

Pengajuan visa saya lakukan satu bulan sebelum keberangkatan, yang mengejutkan adalah panjangnya antrian apply visa di Konsulat Jenderal Jepang di Jakarta. Animo masyarakat untuk traveling ke Jepang sepertinya sedang meningkat pesat. Untuk pengajuan visa Jepang, harap perhatikan domisili wilayah masing-masing karena pengajuan visa Jepang dibagi ke dalam beberapa wilayah yuridiksi berbeda. Misal, teman saya bekerja di Jakarta namun KTP-nya masih beralamat di Padang, maka dia harus mengurus visa di Konsulat Jenderal Jepang di Medan karena Padang masuk dalam wilayah yuridiksi Konsulat Jenderal Jepang di Medan. 

Menurut saya pribadi persyaratan visa Jepang tidak seribet visa Schengen, paling tidak saya merasa lebih PD saat pengajuan. Saya mengajukan visa kunjungan sementara untuk tujuan wisata dengan biaya sendiri. Dokumen yang diperlukan adalah:
1. Paspor
2. Formulir permohonan visa [download (PDF)] dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram)
3. Foto kopi KTP atau Surat Keterangan Domisili
4. Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa). Jika sudah bekerja dapat diganti dengan surat keterangan kerja.
5. Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
6. Jadwal Perjalanan [download (DOC)] (rinci semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang)
7. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dan lain sebagainya jika pemohon lebih dari satu
8. Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan. Bila pihak Pemohon yang bertanggung jawab atas biaya diperlukan fotokopi bukti keuangan, seperti rekening Koran atau buku tabungan tiga bulan terakhir (bila penanggung jawab biaya bukan pemohon seperti ayah/ibu, maka harus melampirkan dokumen yang dapat membuktikan hubungan dengan penanggung jawab biaya). Saran saya untuk bukti keuangan ini, paling tidak selama tiga bulan terakhir cash flow tabungan terbilang normal, tidak ada dana besar yang tiba-tiba masuk karena akan membuat curiga. Untuk nominal tabungan minimal yang mengendap, saya selalu melakukan perhitungan seperti ini: (Biaya hidup harian di Jepang X Lama tinggal di Jepang + Harga tiket pesawat) + 10% dari jumlah total perhitungan awal. 

Dokumen diatas harus disusun sesuai urutan dari nomor 1 – 8 sebelum diserahkan di loket. Biaya visa sebesar Rp 330.000 dibayar saat mengambil visa, visa dapat diambil dalam tiga hari kerja. Saat menyerahkan dokumen, petugas sama sekali tidak mewawancarai ataupun memeriksa dokumen saya. Dia hanya mengecek kelengkapan dokumen, memberi stempel lalu memberi saya tanda terima. Beberapan jam setelahnya saya mendapat telepon dari Konsulat Jenderal Jepang yang mengatakan dokumen saya tidak lengkap dan diharuskan kembali. Saya kembali ke Konsulat Jenderal Jepang sambil mengingat-ingat, rasanya semua dokumen sudah saya isi dan lengkapi. Di Konsulat Jenderal Jepang, ternyata saya belum memberi tanda contreng pada beberapa pernyataan di formulir pengajuan visa. Hhhh, hal kecil yang membuat saya jadi bolak-balik dan membuang waktu. Memang, saat pengajuan visa semua dokumen harus dicek dan diteliti kembali untuk menghindari buang-buang waktu dan tenaga seperti ini. 

Saya menggunakan Air Asia untuk penerbangan menuju Jepang dengan transit selama tiga jam di Kuala Lumpur. Harus diakui, saya cukup terkejut saat sampai di bandara KLIA 2. Sebuah bandara yang besar dan megah! Sunggup saya tak habis pikir bagaimana Tony Fernandes begitu serius menggarap Air Asia dan membangung KLIA 2 sebagai markas utamanya. Tiga jam di KLIA 2 saya habiskan untuk bekeliling singkat bandara dan menemukan spot-spot menyenangkan untuk menghabiskan waktu: movie room, kid zone, bahkan ada beberapa spot yang dikhususkan untuk tidur.

 Movie room

 Jadwal keberangkatan yang cukup padat

 Bisa santai-santai, tiduran, atau baby sitting disini




Penerbangan Kuala Lumpur – Kansai Osaka memakan waktu enam jam. Mengingat ini adalah penerbangan berbudget rendah, jangan harap mendapat fasilitas bantal, selimut, dan in-flight entertainment. Semua memang tersedia, namun dengan biaya tambahan. Jadi, siapkan bantal leher, selimut tipis/ sarung bali/ jaket untuk menghalau dingin, dan penuhi perangkat elektronik dengan film atau buku kesayangan. Make yourself as comfortable as you can. Walau demikian semua persiapan itu bagi saya akhirnya sia-sia. Tidak ada yang mampu membunuh rasa jenuh dan bosan selama berada di dalam pesawat. 

Enam jam mati gaya di pesawat sungguh bukan pengalaman menyenangkan. Saya buru-buru keluar pesawat dan menuju imigrasi setibanya di Kansai Airport. Proses imigrasi berjalan cepat dan efisien. Tidak ada pertanyaan aneh-aneh dan paspor saya mendapat cap dengan mulus. Melihat ke sekeliling, dengan orang-orang asing, bahasa asing, dan bentuk tulisan yang tidak familiar, am I already in Japan? Rasanya masih sulit untuk percaya bahwa saya sudah berada di Jepang. Sedikit gemetar saya membuka itinerary untuk mencari tempat salat, ada tiga prayer room di Kansai Airport: Gate 16 dan Gate 26 yang berada di area keberangkatan internasional, yang terakhir berada di lantai 3 persis di belakang UNIQLO. Ketiga prayer room ini berada di terminal 1. Masih jet lag dengan kondisi bandara, saya memutuskan ke prayer room yang berada di lantai tiga dengan asumsi akan lebih mudah ditemukan. Saat menuju lantai tiga, saya melihat di lantai dua bandara sudah banyak orang yang menempati bangku bandara untuk tempat bermalam. 

 Arah prayer room

 Bagian dalam prayer room. Hanya berisi sajadah sebagai perangkat salat

Tempat wudhu

Menjelang pukul 11 malam mayoritas semua toko di Kansai Airport sudah tutup. Suasana sepi dan sedikit gelap saat saya mencari prayer room. Letak prayer room sedikit terpencil, walau demikian ukurannya cukup luas dan nyaman. Selesai salat saya kembali ke lantai dua untuk mencari bangku kosong sebagai tempat bermalam. Sialnya, seluruh bangku di lantai dua sudah penuh terisi. Bermalam di Kansai Airport memang menjadi pilihan favorit kebanyakan orang. Saran saya jika berencana bermalam di Kansai Airport, secepat mungkin selesaikan urusan imigrasi dan bagasi, setelah itu segera cari tempat duduk yang nyaman untuk bermalam. Jika ingin ke toilet atau salat, titipkan tempat duduk kepada ‘tetangga sebelah,’ jangan lupa simpan ransel yang kira-kira aman untuk ditinggal di atas kursi agar kursi tidak terlihat kosong. 

Tidak memiliki pilihan lain akhirnya saya kembali ke prayer room untuk bermalam disana. Untungnya prayer room wanita dan pria dipisah, jadi masih nyaman untuk merebahkan diri di atas karpet. Beberapa orang terlihat sudah mengambil posisi untuk tidur. Dengan bermodalkan sajadah sebagai alas tambahan dan mukena sebagai lapisan tambahan penghalau dingin, saya melewatkan malam pertama di Jepang. Ah, what an intro to start my journey in Japan. 

Minggu, 01 November 2015

Blogging Because Sharing is Caring

Setelah sekian lama hiatus (dan tidak bisa memilih kalimat pembuka yang cukup baik), saya akan mengawali postingan ini dengan sebuah pertanyaan? Untuk apa kalian nge-blog? Pertanyaan yang cukup berat dan mendasar yang bahkan para blogger pun enggan untuk menjawabnya. Namun nyatanya pertanyaan ini mampu membangunkan saya dari tidur panjang. 

Saya pernah menyebut blogging sebagai passion. Hal yang bahkan tidak dibayar pun saya mau melakukannya. Hal yang saya bahagia melakukannya. Tapi ternyata kata sakti bernama passion juga dapat dipatahkan oleh dalih kesibukan. Tambahkan pula kata malas maka sehebat apapun sebuah passion, dia akan mati dengan mudahnya. 

Nyaris sepuluh bulan saya total hiatus. Bulan-bulan sebelumnya pun hanya sedikit sekali postingan yang saya muat dalam laman ini. Seorang teman pernah berkomentar, “Cha, jarang nge-blog tapi travel jalan terus.” Iya, saya memang melakukan banyak perjalanan, yang niatnya akan saya tuliskan di blog seperti biasa, namun niat itu hanya mengendap lalu akhirnya terlupakan. 

Sebut saya idealis, namun beberapa tahun belakangan ini saya ingin membuat catatan perjalanan yang lebih mengarah pada travelogue, bukan sekedar panduan perjalanan yang semata membagikan itinerary, rincian biaya, berbagai tips ‘how to…’ Saya ingin melakukan pendekatan personal, yang ternyata lebih menguras pikiran saat menuangkannya dalam bentuk tulisan sehingga saya tidak pernah puas dengan hasilnya. Saya berpikir terlalu rumit, terlalu mengejar kesempurnaan, terlalu ingin terlihat berbeda dengan travel blogger lain. Dan ujungnya malah tidak ada postingan sama sekali…

Saya pernah malu sekali saat seorang travel blogger mengirim email, “Cha, aku cari-cari tulisan kamu tentang Lombok di blog kok belum ada ya? Bisa minta link-nya? Aku mau ke Lombok akhir bulan ini.” Malu sekaligus sedih, karena saya hanya sekedar share foto-foto Lombok dalam social media dan blog tanpa ada tulisan sedikitpun. Padahal ternyata, tulisan itu akan dapat membantu blogger lainnya. Pada akhirnya, saya meminta maaf dan mengirimkan itinerary serta beberapa pengalaman serta tips di Lombok lewat email. 

Dari kejadian itu seharusnya saya sadar, beberapa travel blogger yang mengetahui record perjalanan saya dari social media ternyata masih mengandalkan saya dalam mencari informasi. Seharusnya ini melecut saya untuk kembali menulis dan berbagi, namun nyatanya saya masih tetap tenggelam dalam hiatus panjang. 

Salah satu kejadian yang cukup menampar saya terjadi di Osaka, Jepang beberapa waktu yang lalu. Salah seorang roommate saya ternyata orang Indonesia yang juga solo traveling. Kami berbicara banyak tentang rencana selama di Jepang dan dia mengatakan betapa terbantunya dia saat menyusun itinerary dari tulisan para blogger. Kata saya, “pasti kamu baca blognya mbak Vicky ya,” karena tulisan si mbak ini memang super detail dan saya pun banyak terbantu olehnya. Ucapan saya di-iya-kan oleh dia, dan dibalas oleh pertanyaan, “kenal mbak Vicky darimana?” Dari blog, tentu saja. Dengan mudah dia menyimpulkan, “oh, travel blogger juga ya? Nama blognya apa? Nanti aku mampir ya.”

Saya tertegun sebelum menjawab, “Merry go Round, tapi udah lama hiatus…”

Malu. Sedih. Merasa menyia-nyiakan sekian pengalaman yang seharusnya bisa saya bagi pada orang lain. 

Beranjak ke Kyoto, di tempat saya menginap ternyata banyak sekali orang Indonesia. Usut punya usut, tempat saya menginap mendapat banyak review positif dari travel blogger Indonesia sehingga mereka memutuskan untuk menginap disana. Beberapa nama travel blogger yang disebutkan pun tidak asing di telinga saya. 

Terakhir, dalam pesawat pulang dari Tokyo menuju Kuala Lumpur. Penumpang sebelah saya, seorang ibu-ibu yang duduk terpisah dari rombongannya senang sekali bertukar cerita selama di Jepang. “Kami jalan sendiri, nggak pakai tur jadi lebih bebas. Itinerary-nya dari hasil baca-baca blog orang-orang yang pernah ke Jepang. Kamu suka travel begini juga pasti nge-blog juga ya?” tembaknya langsung. 

Lagi-lagi saya merasa tertampar. “Iya, nge-blog, tapi udah lama nggak nulis,” aku saya.

“Wah, nulis dong, itu ngebantu orang-orang awam seperti saya loh.” Kemudian dia meminta alamat blog saya dan saya pun berjanji akan menulis lagi. 

Kembali lagi pada pertanyaan saya di atas. Beberapa orang nge-blog karena passion, idealisme, uang, imbalan, kuis, lomba, event, sebagai buzzer, materi bukunya kelak, pamer, narsis, bentuk eksistensi diri, dan beribu motif lain yang dapat dijadikan alasan. Apapun maksud mereka menulis di blog, toh pada akhirnya tulisan itu akan menemukan ‘fungsinya’ sendiri. Saat saya akan membeli make up, tak jarang saya membaca review dari pada beauty blogger yang mengerti benar produk yang mereka bahas. Ketika saya ingin mencoba kuliner di suatu daerah, saya merujuk pada tulisan para food blogger. Dan saat akan melakukan perjalanan, saya membaca pengalaman travel blogger. Tanpa disadari, tulisan yang dibuat para blogger ini sebenarnya sangat membantu manusia awam seperti saya. 

Jadi, berhentilah berpikir terlalu rumit,berhenti mengejar kesempurnaan, berhenti berusaha terlihat berbeda dengan travel blogger lain. Kembali pada motif dasar: menulis untuk berbagi, karena sharing is caring. Menulis, membagi cerita kepada dunia, apapun latar belakang yang mendasarinya. Sharing is caring. Kalian tidak akan pernah tau bagaimana tulisan yang ter-publish di laman internet akan membantu orang lain. Sharing is caring, karena itu saya kembali menulis. 

Selasa, 24 Februari 2015

Regret?

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seseorang dari masa lalu. Seseorang yang pernah menyatakan perasaannya pada saya, namun saya tolak karena saya tidak merasa nyaman pacaran dengan orang yang bekerja di kantor yang sama. Dia... berubah. Auranya terasa berubah. Terlihat lebih matang, lebih dewasa, badannya terlihat lebih berisi. Mau tidak mau saya membayangkan bagaimana rasanya dipeluk oleh dada bidang tersebut. Ah, mengapa lelaki yang sudah menikah cenderung terlihat menarik dan lebih yummy, sih? Kalau saja dulu saya tidak menolak perasaannya, dada bidang itu pasti sekarang jadi milik pribadi saya. Kalau saja dulu saya membalas perasaannya, mungkin saya sudah menikah dengannya. 

Bertemu dengan seseorang dari masa lalu cenderung memacu otak saya untuk memutar berbagai memori. Berbagai kenangan diputar tanpa saya mampu mencegahnya. Kali ini, otak saya dengan teganya memilih untuk mengingatkan saya pada sederet kisah kasih yang gagal dengan mengenaskan. Dimulai dengan mantan pacar saat kuliah dulu. Iya, mantan pacar yang sering banget saya bahas setiap bulan Mei, yang saya drama banget selama proses move on dari dia. Andai saja dulu saya lebih dewasa, andai saja saya dulu tidak seegois itu, mungkin hubungan kami masih bisa bertahan. Mungkin hubungan kami bisa sampai tahap pernikahan. Mungkin....

Tapi perasaan melankolis dan drama saya dipatahkan oleh pikiran logis. Kalau saya masih bersama dengan mantan saya itu, saya tidak akan pernah tumbuh dewasa. Jalan pikiran saya tidak akan pernah berkembang. Saya akan tetap bersifat kanak-kanak yang seluruh keinginannya harus dipenuhi saat itu juga. Ya, itulah saya jaman kuliah dulu, si egois yang kekanak-kanakan. Jalan saya untuk bertumbuh dewasa adalah dengan merasakan sakit hati, yang menusuk dan meninggalkan luka dalam. *oke, mulai drama lagi*. Lalu saya mencuri pandang lagi pada seseorang dari masa lalu yang kebetulan mampir ke kantor saya. Yang dada bidangnya masih membuat saya meneteskan air liur, Kalau dulu saya memilih bersama dia mungkin sekarang saya sudah menikah dengannya. Tapi saya tidak akan sempat bertemu dengan A...

Bertemu dengan A entah harus saya sebut sebagai bencana atau anugerah. Atau mungkin keduanya. Tapi saya tahu, tanpa A hadir dalam hidup saya, saya tidak akan pernah berani untuk bermimpi. Saya hanya akan menjalani kehidupan yang monoton. Tanpa mimpi dan cita-cita. Jika A tidak pernah hadir dalam hidup saya, saya belum tentu berani pergi mengelana seorang diri ke Eropa, nekat menulis buku, bertemu dengan begitu banyak orang-orang baru.

Lalu saya ingat dengan Teddy. Lelaki yang memberi satu cerita yang mampu saya tuangkan dalam travelogue. Sebuah perkenalan singkat, perjalanan singkat, pertemanan singkat, namun tidak pernah saya sesali. 

Satu hal yang saya sadari dari 'putar ulang memori' ini, bahwa setiap keputusan akan membawa kita kepada cerita yang berbeda. Kepada hidup yang berbeda. Setiap orang yang hadir dalam hidup kita akan membawa kita pada percabangan pilihan, mana yang kita pilih akan menentukan jalan hidup kita selanjutnya. Dan apakah saya menyesal dengan segala pilihan yang saya buat sampai detik ini, sampai waktu kembali menghitung mundur usia saya, jawabannya adalah tidak. 

Have I ever regret my decision in life? 
Never!

Apa yang membuat seseorang dikatakan dewasa? Menurut saya ketika seseorang mampu memilih dan mempertanggungjawabkan pilihannya dalam hidup, maka dia dapat dikatakan dewasa. 


Happy birthday, me.