Kamis, 20 November 2014

Unexpected Carita

Waktu teman-teman kantor memutuskan outing tahun ini ke pantai Carita, saya pasrah saja. Walau sama sekali tidak berminat dengan pantai sekelas Anyer maupun Carita, paling tidak tahun ini pilihan teman-teman kantor sudah beralih dari 'gunung' ke 'pantai.' Untuk saya yang anak pantai sejati, ini adalah berkah!

Adalah hal yang wajar jika pantai wisata seperti Carita dan Anyer menjadi salah satu pilihan utama penduduk Jakarta dan sekitarnya untuk menghabiskan waktu bermain di pantai. Dengan jarak tempuh hanya kurang lebih empat jam dari Jakarta membuat dua tempat wisata ini menjadi ramai. Saya sebenarnya paling malas datang ke pantai wisata yang terlalu komersil dan ramai, belum lagi kondisi pantai Carita sendiri sudah tidak begitu cantik karena mendapat terlalu banyak 'sentuhan tangan' pengunjung, pengelola, maupun masyarakatnya sendiri. Namun lagi-lagi saya pasrah. Paling tidak saya bisa melepaskan kerinduan pada laut setelah beberapa trip sebelumnya yang selalu ke gunung. Dan saya mengeset ekspektasi serendah mungkin karena yakin benar pantai Carita tidak akan mampu mengejutkan saya. 

Dalam perjalanan menuju pantai Carita, bis melewati pantai Anyer terlebih dahulu. Seperti perkiraan saya, warna air lautnya sama sekali tidak biru, cenderung hijau sedikit kecoklatan. Namun terlihat barisan karang tersembul dekat tepian pantai memecah ombak yang datang. Karang-karang ini mampu membuat fotogenik suasana pantai yang terlihat biasa saja. Hm, not bad.

Semakin memasuki kawasan pantai Anyer barisan hotel, villa, guest house dan semacamnya memenuhi bibir pantai. Menutup pandangan saya dari laut yang membentang di baliknya. Tuh, betul kan, daerah Anyer terlalu penuh dan komersil. Pemandangan jadi berselang-seling, sebentar pantai, banyak hotel, lalu sebentar pantai, kemudian banyak hotel, begitu terus hingga bus sampai ke Villa Mutiara Carita tempat rombongan saya menginap. Selesai check in dan memasukkan ransel saya langsung menuju bibir pantai. Penasaran dengan pemandangan laut dari tempat ini. Dan apa yang saya lihat cukup mengejutkan hingga mampu membuat saya tersenyum lebar. 

Tidak hanya terdapat karang dan batu besar untuk dijadikan objek foreground foto, tetapi juga ada sebuah dermaga tua yang tidak difungsikan lagi. Mendadak pantai Carita menjadi beberapa derajat lebih fotogenik dari lensa kamera. Air pantai siang itu sedang surut sehingga memungkinkan saya untuk turun dan mengeksplorasi bibir pantai lebih luas lagi. Dan lagi-lagi saya dikejutkan dengan warna air laut yang jernih bening tanpa sampah. Untuk ukuran pantai wisata yang terlalu komersil dan ramai, ini merupakan sebuah prestasi! 






Sekembalinya saya dari pantai menuju villa, beberapa ibu-ibu mendekati dan mewarkan jualannya. Mulai dari pakaian, sendal, ikan asin, sampai jasa lulur dan pijat pun ada. Semua saya tolak dengan halus. Sampai di villa ternyata beberapa ibu-ibu lain sudah nangkring di halaman villa yang kami sewa dan bersemangat berjualan. Nah, inilah alasan lain saya malas berlibur di pantai wisata. Selain ramai pengunjung juga terlalu banyak penduduk sekitar yang berjualan. 

Aktivitas yang ditawarkan di pantai Carita tidak banyak. Pilihannya adalah snorkeling atau banana boat. Saya pilih snorkeling, walau tidak ada terumbu karang yang dapat dilihat tapi aktivitas berenang di laut tetap menyenangkan. Terjadi hal menyebalkan saat rombongan saya hendak snorkel, tiba-tiba saja harga yang disepakati di awal berubah menjadi lebih mahal. Ketua rombongan saya sampai gondok karena hal ini sudah terjadi berulang kali. Mulai dari fasilitas villa yang berubah-ubah dan biaya tambahan yang mendadak ada. Oh well, resiko liburan di pantai wisata *sigh* 

 Ceritanya mau under water selfie, tapi takut soft lense kebawa ombak :))



Sorenya saya siap hunting sunset. Lagi-lagi saya terkejut mendapati sunset di pantai Carita. Langit cerah tak berawan merona, membiaskan warna kemerahan pada permukaan air laut. Salah satu sunset terbaik yang pernah saya lihat. Cantik!





Jika sudah mendapatkan sunset apa bisa melihat sunrise sekaligus di pantai Carita? Ternyata bisa. Dengan berjalan ke arah berlawanan dari tempat sunset kemarin, garis pantai menikung dan mengantarkan saya pada warna kekuningan matahari yang baru naik. Laut berubah warna menjadi keemasan, nelayan melemparkan kail memancing, beberapa perahu terlihat mulai berlayar. Lagi-lagi saya tidak menyangka menemukan pemandangan ini di sebuah pantai wisata komersil. 





Saya belajar satu hal dari trip ini. Lebih baik berekspektasi serendah mungkin daripada berharap banyak pada satu tempat yang akan disambangi. Hal-hal kecil yang didapat saat saya berekspektasi rendah cenderung mendapat respon positif dibanding saat saya berekspektasi tinggi. Saat berekspektasi terlalu tinggi saya kurang menghargai hal-hal kecil yang menyenangkan ketika melakukan sebuah perjalanan. Selain itu saya lebih santai menghadapi masalah-masalah yang timbul saat berekspektasi rendah, paling saya hanya membatin 'emang kayak begitu' saat mendapat hal menyebalkan. Sementara saat berekspektasi tinggi saya akan ngedumel 'kok gitu sih' atau 'mustinya nggak begini' saat menemukan kondisi di lapangan tidak sesuai dengan keinginan. 

Dan diluar dari hal-hal menyebalkan yang timbul dalam trip saya ke pantai Carita, pantai ini memberikan beberapa frame terbaiknya untuk saya. 

Selasa, 04 November 2014

Karma DSLR

Alasan saya nggak suka kamera DSLR:
- Berat
- Ukurannya besar
- Ribet
- Nggak suka ngatur settingan kamera lewat view finder (jendela kecil kamera tempat ngintip sebelum motret)
Makanya saya lebih memilih kamera mirrorless yang dari segi ukuran lebih compact dibanding DSLR namun dari segi produksi foto nggak kalah dibanding DSLR.

Bagaimana jika saya, pemakai mirrorless sejati, tiba-tiba harus menggunakan DSLR untuk jalan-jalan, dan jalan-jalannya ke gunung? Ini terjadi saat saya mau berangkat trip Ranu Kumbolo - Bromo. Mirrorless kesayangan saya itu tiba-tiba rusak setelah saya ajak jalan-jalan ke kawah Ijen. Mungkin kemasukan debu halus saat saya mendaki kawah Ijen, mungkin karena saya terlalu gragas saat membuka kunci lensa sehingga sensornya putus, atau mungkin mirrorless saya lelah dan butuh istirahat di service center.

Setelah panik meminjam kamera kesana-sini dan tidak yakin ada orang yang cukup berani meminjamkan kameranya pada orang seceroboh saya, seorang Kakak Kelas Jaman Kuliah bersedia meminjamkan DSLR-nya. Heh, DSLR ya? Terbayanglah saya naik gunung manggul ransel ditambah satu tas kamera berisi DSLR. Semacam ransel saya kurang berat, masih harus ditambah pula bawa DSLR yang berat itu.

Saya makin shock saat Kakak Kelas Jaman Kuliah membawa DSLR yang akan dipinjamkan. Dulu saya pernah memakai Canon EOS 550D dan menurut saya kamera itu besar, berat, dan ribet. Banget! Sedangkan DSLR yang dipinjamkan ini, Canon EOS 60D, ukurannya lebih besar dan berat dibandingkan Canon EOS 550D saya dulu. Belum lagi lensa Tamron AF 15-50mm yang dipasang pada bodi kamera membuat DSLR pinjaman ini bertambah besar dan berat. Duh, mau motret kok ribet amat ya.

Satu hal yang membuat saya merasa terintimidasi oleh DSLR pinjaman ini adalah kode EOS 60D yang menempel pada bodi kamera. Sebuah kamera semi-pro dengan harga yang sanggup membuat tabungan saya menangis histeris dengan kemampuan produksi foto yang amat sangat mumpuni. Dengan segala kecanggihan fitur yang Canon tanamkan ke dalam kamera ini, masa iya saya stuck menggunakan menu iAuto? Saya yang gaptek banget dan udah lama nggak pegang DSLR menyempatkan diri untuk broswing penggunaan Canon EOS 60D dan kursus singkat pada Kakak Kelas Jaman Kuliah. Walau jauh dari memadai, paling tidak saya tahu bagaimana cara mengatur settingan kamera dan pengoperasian berbagai tombol ajaib yang melekat pada kamera.

Untuk saya yang udah lama nggak pegang DSLR dan mainannya mirorrless, memotret dari view finder itu susah banget! Mirrorless tidak memiliki view finder, jadi penggunanya tinggal mengatur settingan sekaligus memotret melalui LCD kamera (live view). Sementara DSLR menawarkan dua opsi: view finder dan live view. Kekurangan memotret menggunakan live view di DSLR adalah sulitnya mengunci titik fokus (atau mungkin karena saya yang kelewat gaptek), jadi mau tidak mau saya harus mengandalkan view finder. Berhubung saya benci banget ngatur settingan kamera lewat view finder, jadi saya siasati mengatur settingan di live view dulu setelah itu baru mengunci titik fokus dan memotret melalui view finder. Ribet ye? Banget. Makanya saya cinta mirrorless *teteup*. Masalah ternyata tidak berhenti sampai disitu. Mengunci titik fokus di view finder juga menimbulkan kesulitan tersendiri. Dengan mata mengintip di view finder saya harus meraba-raba bodi kamera mencari tombol-tombol yang diperlukan untuk mengunci titik fokus. Ini ribetnya jadi berasa pangkat sejuta deh :(

Dengan segala keribetan yang akan ditimbulkan oleh DSLR ini, berangkatlah saya ke Ranu Kumbolo. Tas kamera saya selempangkan di bahu karena ransel sudah tidak bisa menampung barang lagi. Awal perjalanan saya masih semangat mendaki, namun lama-kelamaan tali tas kamera yang berat mulai terasa mengiris bahu. Gini deh, jadi anak kota yang jarang naik gunung. Manggul ransel sama tas kamera yang lebih berat dari biasanya langsung berasa dunia mau kiamat. Jangankan mengeluarkan kamera dari tas untuk memotret pemandangan yang dilewati, jalan saya aja udah miring-miring nggak jelas. Medan perjalanan juga tidak bisa dibilang mudah. Walau tanjakan yang dilewati mayoritas tanjakan landai, tapi kalau mendaki tanjakan landai selama empat jam juga kan capek. Belum lagi kadang tiba-tiba tanjakan dan turunan curam menyapa, tambah menderitalah saya merayap sambil menjaga agar kamera tidak jatuh, terbentur atau terguncang. Pokoknya ini nggak lucu banget kalau saya udah cape-cape manggul DSLR ngerayap naik gunung lalu nggak dapat foto bagus dari kamera ini.

Nyempetin motret sunset kemudian ketinggalan rombongan -__- 

Setelah mendaki selama hampir empat jam, saya dan rombongan sampai ke Ranu Kumbolo. Malam sudah jatuh dan gugusan bintang memenuhi langit di atas sana. Terakhir kali saya melihat bintang sebanyak, secantik, dan sedekat ini saat saya ke kawah Ijen. Saat itu saya mencoba memotret bintang dengan kamera mirrorless, dan hasilnya gagal total. Kali ini, dengan DSLR semi pro yang sudah membuat bahu terasa kebas saya akan kembali mencoba memotret langit. Malam semakin pekat saat tenda selesai berdiri dan kami selesai makan malam seadanya. Saatnya saya mempraktekkan ilmu memotret konstelasi bintang hasil googling. Tripod siap, settingan kamera siap, dan saya tinggal berdoa saat menekan tombol shutter. Kamera mengeluarkan bunyi klik pelan saat selesai memotret. Begitu saya melihat hasilnya rasanya semua perjuangan dan keribetan membawa DSLR ini terbayar sudah.

Magical milky way

Paginya, saat hunting foto di sekitaran Ranu Kumbolo, saya sama sekali tidak merasa direpotkan oleh pengaturan setting kamera melalui live view maupun view finder. Awalnya memang agak kaku menekan tombol untuk mencari titik fokus, namun setelah jari saya mengenal bodi kamera dan tombol-tombol yang diperlukan, saya malah lebih menikmati mengeset titik fokus melalui jendela view finder. Saya sendiri kaget menyadari mudahnya saya beradaptasi menggunakan DSLR padahal dulu saya selalu merasa diintimidasi olehnya. Mungkin karena selama tiga tahun terakhir menggunakan mirrorless membuat basic pengetahuan saya tentang kamera dan fotografi menjadi lebih terasah.

Sunrise di Ranu Kumbolo






Clear blue sky

Ranu Kumbolo as seen from top of tanjakan cinta


Puncak Semeru di balik gunung itu


Going nowhere

Setelah memotret milky way dan pemandangan alam Ranu Kumbolo, target selanjutnya adalah memotret sunrise dari viewpoint Penanjakan. Hal yang sama sekali tidak saya antisipasi adalah membludaknya pengunjung yang ingin melihat dan mengabadikan sunrise dari tempat ini. Dari jam empat pagi pengunjung sudah memadati dan menempati tempat-tempat strategis untuk memotret maupun sedekar menikmati sunrise. Beruntung teman serombongan saya sudah pernah ke Penanjakan dan tahu betul tempat terbaik untuk memotret sunrise. Dengan badan kecilnya dia menyelip diantara para turis bule dengan kamera DSLR yang siap membidik ke arah terbitnya matahari. Setelah mengamankan spot tersebut dia memanggil saya yang masih sibuk memasang kamera ke tripod.

Satu hal yang tidak saya prediksi sebelumnya saat akan memotret sunrise di Pananjakan. Selain harus berebut spot foto dengan ratusan pengunjung lain, pagar pembatas yang didirikan tidak memberi keleluasaan untuk menempatkan tripod. Hampir seluruh pengunjung yang menguasai bibir pagar memanjat pagar dan berdiri disana untuk mendapat pemandangan yang lebih luas dan tidak terbatas. Sementara saya kebingungan bagaimana cara mendirikan tripod di celah pagar yang tidak seberapa luas tersebut. Masa iya motret sunrise tanpa tripod. Dengan teknik slow speed untuk menangkap cahaya lebih banyak, mustahil saya bisa menahan kamera selama 30 detik tanpa bergerak.

Jadilah saya nekat. Di celah pagar sempit tersebut saya memasang tripod dengan lebar bukaan tidak sampai 30 cm. Kalau kamera pinjaman ini sampai tersenggol pengunjung lain yang lagi nongkrong di pagar, tamatlah riwayatnya terjun bebas ke jurang. Maka setiap menekan shutter dan kamera memotret dalam slow speed, saya hanya berdoa. Berdoa agar kamera tidak goyang, apalagi jatuh. Berdoa agar pengunjung lain tidak ceroboh menyenggol kamera saya. Berdoa agar foto yang dihasilkan tidak mengecewakan.

Yang menyebalkan dari acara hunting sunrise ini adalah seluruh pengunjungnya gragas memotret. Terutama turis bule! Mereka heboh banget memotret ke penjuru arah, seperti tidak mau melewatkan momen sunrise sedetik pun! Masalahnya, cara memotret mereka yang gragas itu merusak hasil foto saya. Di beberapa frame foto yang susah payah saya hasilkan terlihat kilatan blitz karena bule di samping saya memotret menggunakan blitz. Di beberapa frame foto lainnya malah terdapat bayangan samar lensa panjang kamera karena bule di samping saya memotret dengan terlalu gragas hingga lensa kameranya memasuki area foto saya.

Sunrise

Gunung Bromo, gunung Batok, dan gunung Semeru dilihat dari satu titik

Di akhir trip, entah bagaimana asal mulanya, saya merasa jatuh cinta dengan DSLR. Melihat hasil produksi fotonya yang luar biasa memuaskan, cara pengoperasiannya yang walau sedikit lebih repot namun tetap menyenangkan, membuat saya mentolerir segala keribetan yang kerap menyertai DSLR.

Mungkin ini karma, tapi kini ku jatuh cintaaaa....  

Senin, 27 Oktober 2014

Java Soundsfair 2014

Tahun ini Java Production mengkreasikan satu festival musik baru yang mengkombinasikan genre pop, rock, R n B, urban, dan electronic dance sekaligus. Publik sempat mengira Java Soundsfair sebagai festival musik yang merupakan gabungan antara Java Rockin’ Land dan Java Soulnation, mengingat kedua event tahunan tersebut gagal diselenggarakan tahun ini. Namun Java Production dengan tegas menampik hal tersebut dan mengatakan Java Soundsfair merupakan festival musik yang berbeda dengan festival musik yang pernah ada sebelumnya. Apakah kedepannya Java Production akan menyelenggarakan empat festival musik (Java Jazz Festival, Java Rockin’ Land, Java Soulnation, Java Soundsfair) sekaligus setiap tahunnya? We will see.

Seperti festival musik yang digelar Java Production sebelumnya, Java Soundsfair juga menghadirkan puluhan artis dalam dan luar negeri untuk meramaikan acaranya. Java Soundsfair sendiri diadakan selama tiga hari berturut-turut dengan JCC sebagai venue yang dipilih kali ini. Dilihat dari line up artisnya, Java Soundsfair sepertinya dapat mewujudkan genre yang diusung sebagai tema dasar festival. Sebutlah MAGIC! yang beraliran reggae fusion, Sophie Ellis Bextor yang identik dengan lagu disko feminim nan ceria, belasan DJ yang namanya tidak familiar di telinga namun siap menghentak penonton dalam nada upbeat. Line up artis dalam negeri sendiri cukup mengejutkan dengan hadirnya Mocca dan Float yang sudah cukup lama vakum. 

Java Soundsfair dengan cerdasnya memasang artis-artis andalan dari beragam genre ke dalam tiga hari yang berbeda. Membuat saya kebingungan menjatuhkan pilihan, hari mana yang sebaiknya dihadiri. Pilihan akhirnya jatuh ke hari pertama festival dimulai. Alasannya simpel, karena di hari tersebut Sophie Ellis Bextor dan MAGIC! perform.

Hop On Hop Off Stage

Satu jam sebelum performance Sophie Eliis Bextor saya gunakan untuk keluar masuk beberapa stage berbeda. I called this as hop on hop off stage. Mampir ke beragam stage berbeda. Kalau betah saya akan menghabiskan waktu lebih lama disana, kalau bosan tinggal pindah ke stage lain. Inilah salah satu kelebihan festival gelaran Java Production, beberapa artis perform dalam waktu yang sama di panggung berbeda. Penonton tinggal memilih dan mengkobinasikan sendiri mau menonton yang mana.

Pilihan pertama, stage Cendrawasih 3 dimana CTS sedang perform. Whatever CTS means for, saya datang ke stage Cendrawasih 3 karena mayoritas semua DJ perform disana. Benar saja, saya langsung disambut lagu Kokoro No Tomo yang di-remix sedemikian rupa sehingga menghentak stage yang lebih mirip dengan dance floor. Penonton terlihat menikmati ramuan musik CTS dan menghentakkan badan mengikuti irama. Andai saja ada bar area, stage ini tak akan berbeda dengan tempat dugem. 

Dari panggung terlihat tiga orang mengenakan topeng dengan layar LED di bagian wajah. Layar LED menampilkan tiga gambar berbeda pada ketiga orangnya: lingkaran, segitiga, dan kotak. Belakangan saya baru tahu kalau CTS merupakan representasi dari ketiga bentuk tersebut dalam bahasa Inggris: Circle, Triangle, Shape. Ada perasaan aneh yang timbul saat melihat CTS. Dengan kostum serupa astonot dan kepala ditutup helm ber-LED, saya seperti melihat alien sedang ber-DJ. Aneh banget!

Dari stage Cendrawasih 3 saya pindah ke Plenary Hall yang menjadi main stage. RAN sedang perform disana. Walau termasuk artis andalan, namun penonton yang memadati Plenary Hall tidak membludak. Dengan mudah saya dapat menyelip ke baris tengah untuk memotret. Penampilan RAN sendiri cukup menyenangkan, mereka membawakan lagu andalan Pandangan Pertama dan Dekat di Hati sebagai dua lagu terakhir sebelum menutup acara. Mampu membuat seluruh penonton ikut bernyanyi bersama dan larut dalam suasana.

Gorgeous Tante Sophie

Selesai performance RAN stage akan dipakai untuk performance Sophie Ellis Bextor. Penonton yang memiliki niatan sama untuk mendapat front row memadati pintu masuk stage yang masih ditutup. Kompetisi lari dimulai saat pintu dibuka dan seluruh penonton berhamburan memasuki Plenary Hall. Belum pernah rasanya saya berlari secepat dan segragas itu demi mendapatkan front row. Perjuangan itu terbayar saat tante Sophie keluar dari back stage. Napas saya serasa tertahan dan berulang kali berucap ‘oh my God, oh my God’ berulang kali. Jarak saya dan tante Sophie tidak sampai 10 meter! Dari jarak sedekat itu, kecantikan tante Sophie yang anggun terlihat jelas.

Dengan standing mike tepat di tengah panggung beserta band pendukungnya, tante Sophie menyanyikan lagu pembukanya. Suara tante Sophie yang jernih mengalun menghipnotis seisi Plenary Hall. Tante Sophie kebanyakan membawakan lagu-lagu dari album barunya, Wanderlust, yang rilis tahun ini. Sayangnya saya, seperti mayoritas penonton lain, kurang familiar dengan lagu-lagu tersebut. Tidak enaknya menjadi penonton front row adalah saat lirikan maut tante Sophie menangkap basah saya beserta penonton lainnya tidak ikut bernyanyi bersamanya. Duh tante, pengen ikut nyanyi tapi saya nggak tau liriknya.





Thanks for looking to my camera, tante :*

Setelah menyanyikan beberapa lagu tante Sophie menyapa penonton dan berkata “why are guys so quite? Come on, sing along with me.” Namun setelah itu tante Sophie juga mengatakan dia maklum jika penonton tidak familiar dengan lagu-lagu yang dibawakan karena dia ingin memperkenalkan album barunya kepada penonton Indonesia. Tenang tante, walau lagunya baru pertama kali saya dengar tapi saya suka banget. Dan walau lagunya tidak familiar, seisi Plenary Hall ikut berdansa mengikuti irama musik tante Sophie yang menghentak.

Menurut tante Sophie albumnya kali ini berbeda dengan album sebelumnya. Jika di album sebelumnya dia lebih identik dengan nada-nada disko, di album kali ini dia ingin bercerita tentang khayalannya akan penyihir, rumah di puncak bukit, dan berbagai fantasi kanak-kanak. Sedikit bereksperimental menurut saya, dan eksperimental tersebut berhasil! Lagu Love is a Camera cukup merangkum ekperimental fantasi tante Sophie ke dalam aransemen lagu yang apik, menghentak dalam lirik yang penuh fantasi.

Setelah menyanyikan Love is a Camera tante Sophie melambaikan tangan dan masuk ke back stage. Suami tante Sophie, Richard Jones, yang malam itu berperan sebagai bassist mengambil alih jeda waktu tersebut dengan memainkan nada-nada yang semakin menghentak. Tak lama kemudian tante Sophie keluar back stage mengenakan dress hijau tipis minim menggantikan dress merah berornamen gambar khas kanak-kanak yang sebelumnya dia kenakan. Lirikan mata tante Sophie terlihat nakal dan dia mulai bergoyang menarikan irama disko. Lagu Take Me Home kemudian mengalun, membuat seisi Plenary Hall ikut bergoyang dan bernyanyi. Stage mulai memanas seiring dimainkannya lagu yang familiar di telinga penonton. Tante Sophie terlihat semakin bersemangat melihat reaksi penonton. Sepertinya lagu-lagu ini memang sengaja dimainkan dibelakang sebagai klimaks dari pertunjukan.




Lagu Murder on the Dancefloor dimainkan sebagai penutup pertunjukan malam itu. Hipnotis pesona tante Sophie masih terasa melekat hingga layar panggung menutup.

Sensual Performance, MAGIC!

Keluar dari Plenary Hall saya langsung mencari antrian masuk untuk performance MAGIC! Walau MAGIC! akan perform di Plenary Hall juga namun diperlukan tiket tambahan yang mengharuskan penonton untuk memverifikasi tiket mereka sebelum masuk stage. Antrian segera mengular begitu performance Sophie Ellis Bextor selesai. Beruntung saya termasuk orang yang mendapat antrian terdepan, hanya ada tujuh orang di depan antrian saya.

Sebenarnya jeda waktu antara performance Sophie Ellis Bextor dan MAGIC! berlangsung selama 1 jam 15 menit, bisa saya gunakan untuk hop on hop off stage kembali. Apalagi saat itu Tokyo Ska Paradise Orchestra sedang perform, dilihat dari layar televisi yang menampilkan live performance mereka tampaknya begitu seru dan menyenangkan. Namun ada harga yang harus dibayar untuk mendapat front row dan waktu 1 jam 15 menit itu rela saya habiskan dengan menanti pintu masuk Plenary Hall kembali dibuka.

Segera setelah pintu stage kembali dibuka, lalu menyelesaikan verifikasi tiket, kemudian berlari kencang bersaing dengan penonton lainnya, saya mendapatkan baris ketiga dengan posisi persis di tengah panggung. Untungnya tinggi badan saya masih lebih tinggi beberapa senti dibanding dua orang penonton di depan, saya jadi mendapat akses langsung ke tengah panggung tanpa terhalang penonton lain. Jika sebelumnya jarak saya dan tante Sophie tidak kurang dari 10 meter, kali ini jarak saya dengan Nasri tidak kurang dari 5 meter! Saya jadi lemes liat Nasri dari jarak sedekat itu.

MAGIC! membuka penampilan malam itu lewat lagu Stupid Me yang mendapat sambutan hangat dari penonton lalu disusul lagu Mama Didn’t Raise a Fool dan No Evil. Nasri cukup apik membawakan nada reggae dengan penampilan yang menggoda. Dia mampu menerjemahkan aliran reggae fushion yang diusung MAGIC! lewat aksi panggung yang sederhana namun memikat sekaligus sensual. Goyangan pinggul, lirikan mata nakal, dipadu nada reggae yang santai cukup membuat seisi Plenary Hall panas!

 Seductive Nasri :p




Tapi yang menyedot perhatian saya malam itu bukan Nasri, melainkan Ben yang memainkan bass. Setiap jeda lagu dan penonton riuh memberi tepuk tangan saya selalu menjeritkan nama Ben, berharap dia menoleh ke arah saya. Sama seperti harapan kebanyakan penonton wanita lain yang juga ramai-ramai meneriakkan nama Ben. Menurut saya, diantara semua anggota MAGIC! (Nasri, Mark, Ben, Alex), Ben adalah anggota yang paling good looking. Tampangnya seperti Orlando Bloom versi gondrong dan rebel. Gemesh! Nasri yang menyadari banyaknya penonton yang histeris meneriakkan nama Ben bertanya, “you’re so hysterical calling Ben, he wouldn’t care. Right, Ben?” yang hanya dijawab Ben dengan anggukan dan senyum cool. Penonton makin histeris memanggil nama Ben, Nasri sendiri sampai mengkomando seisi Plenary Hall untuk memanggil Ben, dan masih tidak ditanggapi oleh Ben. “See?” ucap Nasri menang.

Ben!!! Uwuwuwuwuw.... 


Mark (gitar) dan Alex (drum)

Lagu-lagu dari album pertama MAGIC! mengisi sisa malam yang semakin memanas. Jika Bob Marley masih hidup, dia pasti bangga dengan MAGIC! yang mampu meramu musik reggae menjadi berkali-kali lipat menyenangkan seperti ini. Lagu pamungkas Don’t Kill The Magic menciptakan satu koor massal di Plenary Hall. Sebelum Nasri menyanyikan lagu andalan mereka, Rude, dia sempat membahas meme yang banyak beredar di twitter. “Knock, knok. Who is that?” tanya Nasri. “So I’m Wahyu?” lanjutnya sambil tertawa.

Meme yang dibahas Nasri

Lagu Rude menutup penampilan MAGIC! malam itu. Meninggalkan penonton dengan kekecewaan akan waktu konser yang hanya 1 jam 15 menit. Antiklimaks banget, setelah dua lagu andalan MAGIC! kemudian konser selesai? Come on Java Soundsfair, this is not fair at all!

Another Hop On Hop Off Stage


Masih kecewa dengan antiklimaks dari performance MAGIC! saya kembali ke stage Cendrawasih 3. Malam masih muda, hentakan musik yang diciptakan Jakarta Techno Militia mungkin dapat memperbaiki mood. Di atas panggung terlihat beberapa orang yang sibuk dengan laptop, turntable dan beragam perlengkapan lainnya meramu musik yang mengentak dan memancing tubuh untuk ikut bergerak menikmati iramanya. Menyenangkan. Tapi lama-lama kok bosan juga ya. Jadilah saya pindah ke stage sebelah dimana Asian Dub Foundation sedang perform. Dan sebelum satu lagu selesai saya memutuskan untuk pulang saja. Nampaknya keriaan malam ini memang sudah harus ditutup. 


Catatan: karena gaptek pakai DSLR pinjeman, nggak sengaja saya malah men-delete foto-foto CTS dan RAN :(

Sabtu, 21 Juni 2014

On Fine Afternoon in Belitung Timur

Selama ini Belitung Timur hanya identik dengan wisata Laskar Pelangi-nya. Tidak heran karena sebagian besar lokasi pengambilan gambar film tersebut dilakukan di wilayah ini. Sebutlah Manggar, tempat dimana Ikal membeli kapur dan bertemu Aling, juga Gantong yang menjadi lokasi sekolah Laskar Pelangi. Namun sesungguhnya Belitung Timur menyimpan pesona yang lebih besar dibanding itu semua. Di tempat ini setiap sudut seperti menyimpan pesona tersendiri. Surga bagi pecinta fotografi yang haus mengeksplorasi kecantikan alam original Belitung selain pemandangan pantainya. 

Seperti yang saya temui sore itu dalam perjalanan pulang dari pantai Burung Mandi. Sore mulai menjelang ketika mobil sewaan kami melintas sebuah rawa-rawa luas di tepian jalan. Tidak ada yang spesial dari rawa-rawa tersebut, tapi indra penglihatan tidak dapat berbohong kalau tempat itu begitu menarik untuk dilewatkan begitu saja.

Dan beberapa frame foto sepertinya cukup menjelaskan betapa bersahajanya kecantikan alam Belitung Timur.