Sabtu, 12 Desember 2009

11th Jakarta International Film Festival (JIFFest)

Yeaaayyy...for the first time in my life, I attended the biggest film festival in Indonesia (kemana aja neng....) ahahahaha....dulu kan blm ngerti Jakarta, jadi nga berani jalan sendiri, nga  punya uang sendiri juga (malu ah minta sm ortu mulu), nga ngerti sistem JIFFest itu sendiri gmn (at least skrg mah lebih pinter), dan yang paling utama adalah...nga punya temen yang satu selera untuk nonton acara kaya gini (and now I've found one).

Kali ini JIFFest digelar dari tanggal 4-12 Desember 2009 di Blitzmegaplex Grand Indonesia. Di tahunnya yang ke sebelas, JIFFest menghadirkan 15 film Indonesia: 3 Doa 3 Cinta, Babi Buta yang Ingin Terbang, Bukan Cinta Biasa, Cin(t)a, Garuda di Dadaku, Get Married 2, Identitas, Jermal, Kado Hari Jadi, Keramat, King, Merantau, Pintu Terlarang, Romeo Juliet, dan Under The Tree. Dan yang lebih membanggakan, untuk pertama kalinya JIFFest dibuka dengan film Indonesia, Sang Pemimpi. Aaaahhh....senang rasanya negeri sendiri dapat membuktikan eksistensinya di kancah perfilman dunia dan bersaing dengan film2 asing.

Sistem penayangan film JIFFest dibagi menjadi 5 bagian, premiere (by invitation only), free screening, world cinema (tiket Rp 25.ooo), world cinema documentary + madani (tiket Rp 15.ooo), dan Panels/JIFFest Events (registration required). Karena saya bukan artis dan bukan orang penting di dunia perfilman, maka tidak mungkin saya bisa menonton film premiere ( Sang Pemimpi dan New York I Love You).*crap*. Jadi saya mengincar film2 world cinema, dokumenter, madani, dan yang pasti free screening. Untuk free screening sendiri tiket akan dibagikan 1jam sebelum film diputar.

Hmmm...pengennya sih bisa ambil cuti satu minggu penuh dan dengan setia nongkrong di Blitz. Tapi karena saya hanya pegawai kantoran yang masih membutuhkan uang, jadi keinginan itu pun harus dikubur dalam-dalam.*sigh*. Saya cuma bisa meluangkan waktu di akhir pekan, jadi rencananya saya akan datang ke JIFFest di tanggal 5, 6, dan 12 Desember. Mau ambil cuti juga rasanya nga mungkin, lagi tanggal sibuk, akhir tahun pula. Hukhuks nasibkuuuuu......




5 Desember 2009

Dateng ke JIFFest bareng my partner in crime, Sagita. Beberapa hari sebelumnya kita udah ngobrolin film2 apa yang mau ditonton plus ngatur jamnya, jadi dalam satu hari bisa nonton sebanyak mungkin. Sialnya adalah, film-film yang diputer tanggal 5 itu masuk dalam daftar "must see movies" semua dan kita agak sedikit kebingungan untuk memutuskan akan nonton yang mana. Contohnya, Three Monkeys (Uc maymun, Turkey), Love and Rage , dan Swiss Shorts (kumpulan 9 film pendek asal Switzerland) diputer barengan, dan parahnya kita kekurangan resensi mengenai film2 tersebut. Akhirnya, bermodal Youtube saya coba-coba untuk cari thrillernya. Dari situ akhirnya kami memutuskan untuk nonton Love and Rage, 15 Malaysia, dan Burma VJ.



Love and Rage (Vanvittig Forelsket). Denmark. Dir: Morten Giese

Kisah klasik tentang cinta dan kecemburuan. Daniel adalah seorang pelajar di bidang musik yang jatuh cinta kepada Sofie. Rasa cintanya yang besar diikuti juga oleh tumbuhnya  rasa cemburu yang berlebihan kepada Sofie. Kecurigaannya mulai tidak terkendali dan memunculkan kepribadian lain dalam diri Daniel.

Hmm....sebenernya saya nga terlalu suka dan ngerti dengan ending film ini. "ko cuma gitu doang sih endingnya", itu yg terlintas di kepala saya setelah nonton film ini. But afterall, permainan piano David (Cyron Melville) hebat banget, dia bahkan menjadi Best Actor di Montreal World Film Festival 2009 berkat perannya di film ini. Sara Hjort Ditlevsen juga mampu membawakan karakter Sofie sebagai wanita yang ingin membawakan musik klasik dengan cara yang lebih modern.
15 Malaysia. Malaysia. Dir: Yasmin Ahmad, Khairil M, Bahar, Tan Chui Mui, Linus Chung, Yuhang Ho, Johan John, James Lee, Amir Muhammad, Namron, Desmond Ng, Kamal Sabran, Liew Seng Tat, Mussadique Sulaeman.
15Malaysia adalah sebuah proyek kumpulan film pendek yang terdiri dari 15 film pendek oleh 15 pembuat film. Film-film ini tidak hanya berkutat pada isu sosial politik saja, beberapa diantaranya juga termasuk para aktor, musisi, dan pemimpin politik terkenal. 

15 film yang mampu membuat kita lebih mengenal Malaysia, sebuah negara yang begitu dekat dengan negara sendiri. Seperti melihat kembaran Indonesia, unsur kekerabatan yang begitu dekat, bahasa melayu yang akrab di telinga, dan budaya yang dekat dengan negara sendiri.
Melalui film pendek ini, saya mengenal sosok Yasmin Ahmad, seorang genius untuk dunia perfilman Malaysia yang baru saja tutup usia di tahun ini. Beberapa film Malaysia yang diputar di JIFFest bahkan didedikasikan untuk mengenangnya.
Dari 15film yang diputar, ada dua film yang benar-benar membekas di ingatan saya, halal dan potong saga. Film ini mampu membuat saya ketawa ngakak sampe sakit perut. nga bisa ngomong banyak, lebih baik buka link nya dan silahkan berkomentar sendiri :D

Burma VJ: Reporting from a Closed Country. Denmark. Dir: Anders Ostergaard.

Hidup dalam rezim militer yang menutup diri dari media asing, kehidupan sengsara masyarakat Burma selalu luput dari perhatian dunia internasional. Sekelompok VJ yang dipimpin Joshua merekam realita kehidupan sehari-hari rakyat Burma. Video-video berisi kebrutalan polisi dan tindakan-tindakan HAM kini tersedia untuk penonton di seluruh dunia. Anders Ostergaard menyatukan video-video tersebut menjadi satu cerita tentang bagaimana warga negara Burma diperlakukan oleh pemerintahnya sendiri.

 

Melihat film dokumenter ini seperti melihat wajah Indonesia tahun 1998, ketika rezim orde baru berusaha digulingkan oleh mahasiswa. Banyak orang menghilang, entah diculik, dibunuh, atau diasingkan karena dianggap berbahaya oleh pemerintah. Di film dokumenter ini juga terekam detik-detik ketika Kenji Nagai, jurnalis asal Jepang, terbunuh oleh militer Burma saat meliput aksi unjukrasa.




Hari minggu tanggal 6 Desember saya nga dateng ki JIFFest, padahal pengen nonton A Road to Mecca dan Hold Me Tight, Let Me Go. Jadwal kedua film ini malem banget, padahal besok harus bangun pagi dan berangkat kerja (huff....nasib jadi pegawai). Yasudahlah, rencananya saya dan Sagi mau ke JIFFest hari Jumat setelah pulang kerja, dan sabtu.
Iseng-iseng hari rabu kemaren saya minta izin cuti, dan ternyata dikasih.wuuuaaahhh senangnyaaa....langsung aja nghubungin Sagi dan ngerancang jadwal untuk hari Jumat dan Sabtu nanti. Rencananya hari Jumat mau nonton Bukan Cinta Biasa, Muallaf, Departures, dan (500) Days Of Summer, sedangkan hari Sabtu giliran Little Soldiers dan Everlasting Moments.


Jumat, 11 Desember

Berangkat dari rumah dengan semangat menyala, asik bisa nonton banyak film keren hari ini. Tapiiiii....oh my....kapan sih Jakarta itu nga maceeett???ukh, sampe Grand Indonesia udah mepet banget dan keabisan tiket free screening Bukan Cinta Biasa. ukh...antri tiket aja deh. Ini percakapan saya dan penjual tiket:
"Siang mba, mau nonton film apa?", penjual tiket menyapa ramah.
"Muallaf dong", jawab saya dengan senyum manis.
"Muallaf nya udah penuh mba" jawab penjual tiket santai.
"Penuh? Departures aja deh", saya masih berusaha optimis.
"Wah, depaturesnya udah sold out", penjual tiket menjawab dengan sangat yakin tanpa melihat layar lagi.
"Hah???!!! (500) days of summer?" Saya udah hampir nangis.
"Sudah habis mba", penjual tiket menjawab prihatin.
"................................." saya nga bisa ngomong.
Lemesss rasanya lutut saya. Waduh, sia-sia amat saya ambil cuti. Saya coba hubungin Sagi, tapi sulit karena dia masih kerja. Akhirnya setelah menenangkan diri dan melihat jadwal JIFFest ulang, saya menyusun film-film lain yang akan ditonton hari itu. Iseng-iseng saya tanya ke bagian informasi, tiket untuk besok bisa dipesan hari ini nga, ternyata bisa dan saya berniat untuk memesan tiket besok sekarang juga, supaya peristiwa menyebalkan ini nga terulang lagi. Dengan wajah gembira saya kembali antri dan memesan tiket.
"Mas, saya mau pesen tiket untuk besok dong" nada suara saya terdengar sangat ceria.
"Bisa mba, mau film apa?" tanya penjaga tiket sambil membuka layar untuk jadwal film esok hari.
"Departures" saya hampir bersorak gembira karena yakin bisa mendapat tiket.
"Wah, udah penuh mba" menjawab yakin tanpa perlu membuka layar, sepertinya sudah beberapa ratus kali menghadapi pelanggan bernasib seperti saya.
"Penuh??? Everlasting Moments nya?" saya masih berusaha optimis.
Petugas tiket membuka layar sebentar, dan dia pun tak perlu menjawab pertanyaan saya, karena layar di depan saya menunjukkan seat yang penuh.
.........................................
GREAT!!!! saya cuma bisa terhenyak. Momen setahun sekali ini akan segera berakhir dan saya nga bisa nonton film-film itu??? Itu kan "must see movies" semua. yaaahhh...memang salah saya sih yang nga tau dan nga ngerti sistem pembelian tiket di Blitzmegaplex. Akhirnya hari itu kami memutuskan untuk nonton Calimucho, Gubra, dan The Damned United. Sedangkan untuk hari sabtu? yaaahh...kami memutuskan untuk nga dateng ajalaaahhh.... :(

Calimucho. Netherlands. Dir: Eugenie Jansen.
Sebuah keluarga rombongan sirkus sedang menghadapi kesulitan keuangan. Putri kepala sirkus tersebutlah yang menjalankan usaha sirkus ini. Namun di saat ia masih menjalin hubungan dengan pekerja asal Maroko, maka keutuhan keluarga sirkus tersebut akan semakin retak.

Hahahaha....hal paling konyol waktu nonton film ini adalah orang di kanan kiri saya dengan suksesnya tertidur (sagi included). To be honest, filmnya emang ngebosenin banget. Alurnya lambat, nga terbangun emosi dalam pemainnya, pengambilan gambarnya acak-acakan, banyak adegan nga perlu dan nga berhubungan dengan cerita inti. Yang membedakan film ini adalah narasinya dibawakan oleh sebuah anggota band, yang entah mereka masuk dalam anggota sirkus atau tidak. Satu lagi, saya melihat sendiri salah satu kebudayaan Belanda yang sangat kental, cipika-cipiki tiga kali. Oh dear.....


Gubra (anxiety). Malaysia. Dir: Yasmin Ahmad.
Orked menikah dengan Arif, seorang lelaki yang jauh lebih tua darinya. Ketika Orked sedang menjaga ayahnya di rumah sakit, ia bertemu dengan Alan, kakak Jason. Kenangan indahnya bersama Jason muncul kembali, apalagi setelah ia mengetahui bahwa arif berselingkuh dengan perempuan lain.


Sebenarnya Gubra adalah bagian dari trilogi (Sepet, Rabun, dan Gubra). Tapi saya cukup mengerti isi film ini walau tidak menonton dua film sebelumnya. Film ini benar-benar hebat, saya makin mengagumi sosok Yasmin Ahmad, dia sungguh seorang genius. Satu studio sampai tertawa ngakak.
Tidak hanya komedi, film ini juga menggugah perasaan, ada saat dimana saya tercenung, bahkan menangis. Film ini tidak hanya terpusat pada kisah cinta Orked, tapi orang-orang di sekitarnya, dan orang-orang di luar lingkaran tersebut. Hampir mirip Love Actually dimana dalam satu kota terdapat beberapa kisah cinta, namun orang-orang di dalamnya tidak saling berhubungan. Banyak adegan yang membuat saya tersenyum makna dan hanya mampu mengucapkan kata "so sweet". Ya, Yasmin Ahmad memang sukses membangun mood film ini dan mood tersebut sampai kepada orang yang melihat film tersebut.
Free screening ini juga dihadiri oleh adik Yasmin Ahmad (maaf...saya lupa namanya) dan panitia mengadakan diskusi singkat tentang film ini. Sungguh sebuah momen yang hanya bisa ditemukan di JIFFest.

The Damned United. UK. Dir: Tom Hooper.
Dibuat berdasarkan novel laris karya David Pearce, film ini menceritakan tentang Brian clough, mantan manager Derby Country yang disewa oleh Leeds United sebagai manajer baru. Sebelumnya Brian merupakan kritikus terbesar akan gaya permainan Leeds United, tapi sekarang dia harus mengangani tim yang dibencinya.


Sejak kapan saya suka sepak bola dan bela-belain nonton film seperti ini? Nonton film ini tergolong kecelakaan. Saya sebenernya beli tiket untuk The Beaches of Agnes, sebuah film Perancis aliran New Wave. Tapi tak disangka, ketika akan masuk studio, panitia mengungumkan film tersebut diganti dengan The Damned United. Yaaahhh...tambah kacau lah acara nonton saya hari ini, tapi karena sudah tanggung, ya saya tonton sajalah.
Berhubung film ini berbahasa Inggris, maka tak ada subtitles, dan saya harus mengandalkan indra pendengaran agar mengerti jalan ceritanya. Sulit, karena bahasa Inggris yang dipakai berlogat British. Heu...brasa lagi nonton Harry Potter. Alur cerita juga maju-mundur, dari tahun sekian loncat ke tahun sekian. Setting cerita diantara tahun 1960-1970, lengkap dengan rekaman gambar ala tahun segitu. Tambah membosankanlah film ini dan kembali orang-orang di kanan dan kiri saya tertidur nyenyak. Tapi, ending film ini cukup menarik dan semua orang dalam bioskop terbangun dari tidur nyenyak mereka untuk menonton dan tertawa bersama. Benar-benar 97 menit yang sangat menyiksa.


JIFFest...
sebuah ajang edukasi dan apresiasi film-film dari berbagai penjuru dunia.
bagaimana sebuah film dapat membuka mata dan menambah wawasan akan dunia ini.
Dimulai dari Belitong dengan Sang Pemimpi, dan berakhir di New York dengan New York I Love You. Di tengah-tengah dua belahan dunia ini ada 25 negara lain yg layak dikunjungi dgn film-film pilihan.

3 komentar:

  1. thanks sudah maen ke blog ku

    Anyway, malam pembukaan Jiffest itu aku dapat tiket dari temen buat nonton premiere nya Sang Pemimpi, tapi apa daya tiketnya harus diikhlaskan karena saya lagi di Yogya (ugh, mengingat itu rasanya jadi pengen teriak)

    Btw, udah pernah ke Loving hut gak yang di Plaza Semanggi... Lumayan tuh buat vegetarian... nice restaurant and yummy food

    Blog nya ku add yah :). Nice blog

    BalasHapus
  2. Jiaaaahhh.....pengen nangis sekarang,ngarep bgt pgn liat premiere soalna...huff tak apa laaahhh.cukup bersenang-senang di JIFFest kmrn.

    Hehe...diet vegetarian saya naek-turun niyh...tergantung mood bgt.thanks for the info yaaa...

    BalasHapus